Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Air Mata


__ADS_3

Pagi ini Alisia bangun sendiri tanpa dibangunkan oleh Irfan kakak nya, keluar dari kamar dia lansung menuju meja makan untuk sarapan. Menangis semalaman berakibat membuat matanya bengkak dan merah, sangat jelas bahwa dia sangat banyak menumpahkan airmata. Dan tentu saja itu tak laput dari perhatian mama dan papanya, membuat mereka bingung ada apa dengan anak gadis mereka.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Anggi.


Alisia hanya diam dan menjawab pertanyaan mama nya dengan gelengan kepala yang pelan, lalu dia berjalan dengan tatapan kosong menuju mobilnya. Lalu berangkat ke sekolah dengan tidak bersemangat.


Karena tidak fokus hampir saja mobilnya menabrak pembatas jalan, untung nya dia cepat sadar dan menggeleng kan kepalanya.


"Gue gak boleh sedih, gue harus bisa lupain dia demi kebaikan gue." ucap Alisia pada dirinya.


Sampai disekolah dia memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju Rooftop, tempat yang sudah sangat lama tidak dia kunjungi beberapa hari terakhir karena masalahnya dengan Jimi. Alisia duduk di bangku usang yang ada disitu dan mengeluarkan rokok lalu dia menyesapnya, sudah sangat lama dia tidak merokok karena saran dari Dokter Citra.


Alisia bsrhenti merokok berharap keadaannya bisa sedikit membaik dan bertahan sedikit lebih lama untuk orang yang dia cintai, tapi rupanya orang yang di cintainya malah mengkhianati nya. Jadi Alisia berpikir untuk apalagi dia bertahan untuk hidup, kalau orang yang membuat nya ingin bertahan hidup lebih lama malah menyakitinya. Lebih baik dia mengikuti takdirnya untuk pergi meninggalkan dunia ini.


"Tahu gini, gue gak akan berhenti merokok biar hidup lebih lama buat dia. Mending gue rusak aja diri gue tambah parah, biar gue cepat mati dan penyakit ginjal sialan ini gak bikin susah orang banyak." ucap Alisia sambil menghembuskan asap rokoknya.


Kring~~~~


Bel masuk pun berbunyi, semua siswa siswi telah memasuki kelas mereka. Tapi tidak dengan Alisia, dia masih berdiam di Rooftop. Padahal guru yang masuk mengajar pagi ini adalah Rey.


Didalam kelas X IPS¹ Rey sama sekali tidak melihat keberadaan Alisia, mungkin kah anak itu marah padanya dan salahpaham karena masalah kemarin pikir Rey. Rey belum juga memulai kegiatan mengajarnya, dia tetap diam termenung sambil menatap kearah meja Alisia dan memikirkan dimana sekarang gadis itu berada. Lalu Alif pun menegur Rey dan membuatnya sadar dari lamunan.


"Pak, kenapa kegitan belajarnya masih belum dimulai." tanya Alif sang ketua kelas.


"Ah, maaf saya lupa. Kalian ada yang tau kemana Alisia pergi?" tanya Rey pada muridnya.


"Ga tau pak, tapi mobilnya adakok di parkiran." ucap Chaca.


"Ada yang bisa mencari Alisia, kalau sudah ketemu nantik waktu istirahat suruh dia keruangan saya." ucap Rey.


"Biar saya yang menacrinya pak." ucap Ikbal.


"Lo mau cari dia kemana Bal?" tanya Chaca.


"Rooftop." jawab Ikbal lalu pergi meninggalkan kelasnya.


Ikbal berjalan cepat menuju Rooftop, tidak biasanya Alisia bolos di jam pelajaran Rey. Karena semenjak Alisia suka pada Rey dia selalu masuk saat mata pelajaran sejarah dan tidak pernah lagi bolos.


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya." batin Ikbal.


Sampai di Rooftop Ikbal melihat Alisia yang menyesap rokoknya sambil menangis dan sesekali bicara pada dirinya sendiri.


"Apa lagi yang terjadi padanya." batin Ikbal lalu berjalan mendekati Alisia.


"Lo kenapa Al, kenapa lo masih merokok hah." ucap Ikbal marah lalu mengambil paksa rokok tersebut dari tangan Alisia.


"Kembaliin rokok gue Bal." pinta Alisia dalam keadaan menangis.


"Apa yang terjadi sama lo, kalau ada masalah jangan rusak diri lo lagi. Gue kan udah bilang kalau rokok itu tambah membuat kesehatan lo memburuk." ucap Ikbal lalu membuang rokok itu.


Alisia diam tak menjawab pertanyaan Ikbal, dia tetap menangis tanpa mau bicara sedikitpun. Ikbal menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nya perlahan.


"Lo bisa nangis di bahu gue, kalau memang dengan menangis bisa membuat lo menjadi lebih baik." ucap Ikbal lalu menarik tubuh Alisia kepelukannya.


Alisia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ikbal, dan Ikbal membiarkan sahabat nya itu sampai dia tenang dan mau untuk bercerita.


Didalam kelas Rey masih belum memulai pelajaran sama sekali, dia benar-benar khawatir pada Alisia. Ditambah Ikbal juga belum kembali, lalu tiba-tiba Chaca meminta izin untuk ke toilet.

__ADS_1


"Pak, saya izin ke toilet." ucap Chaca.


"Yaudah sana, tapi jangan lama-lama." ucap Rey.


Chaca sebenarnya bukan mau ke toilet, tapi dia ingin menyusul kedua sahabatnya itu yang sudah pasti berada di Rooftop. Tapi ketika di koridor Chaca tak sengaja berpapasan dengan Jimi.


"Eh, Cha mau kemana lo?" tanya Jimi.


"Mau ke Rooftop kak nyusul Alisia sama Ikbal, dari tadi mereka berdua belum balik. Takutnya terjadi apa-apa sama mereka." ucap Chaca.


Jimi yang mendengar itupun memutuskan untuk ikut dengan Chaca.


"Gue ikut ya, gue khawatir sama Alisia." ucap Jimi.


"Yaudah yuk kak." ucap Chaca.


Lalu mereka berdua pun berjalan cepat menuju Rooftop, dan benar saja sampai disana mereka melihat Alisia yang menangis dalam pelukan Ikbal. Sakit yang pertama mereka rasakan saat melihat orang yang mereka suka begitu dengan orang lain, Chaca yang melihat Ikbal memeluk Alisia mencoba untuk mengabaikan perasaan sakitnya. Dan Jimi yang memang sudah memutuskan untuk melupakan Alisia hanya diam, walaupun dalam hati dia juga merasakan sakit yang sama dengan Chaca.


"Apa sebaiknya kita pergi aja dari sini kak, kayak nya kita ganggu mereka berdua deh." tanya Chaca pada Jimi.


"Jangan dulu, kayaknya ada sesuatu yang terjadi sama Alisia sehingga dia menangis seperti itu. Kita berdiri aja disini dan lihat apa yang terjadi." ucap Jimi mencegah Chaca yang hendak pergi.


"Yaudah deh kak, gue juga kasian sama Al." ucap Chaca setuju.


Setelah puas menangis akhirnya Alisia melepas pelukan Ikbal darinya, dia sudah sedikit lebih tenang sekarang.


"Sekarang lo cerita sama gue apa yang terjadi?" ucap Ikbal sambil memegang bahu Alisia dengan kedua tangannya.


Dan Jimi dengan Chaca hanya diam dibalik tembok memperhatikan mereka berdua dan mencoba untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Kayaknya gak ada lagi harapan untuk gue hidup." ucap Alisia lirih.


Jimi dan Chaca yang mendengar Alisia bicara seperti itu mengernyitkan dahi bingung, karena mereka memang tidak tahu tentang sakit yang Alisia idap. Dan hanya Ikbal serta dokter yang tau penyakit nya Alisia.


"Karena orang yang buat gue bertahan untuk hidup membenci gue, udah gitu gue juga harus menjauh darinya." ucap Alisia dengan tangis yang kembali pecah.


"Gue gak ngerti dengan apa yang lo bilang Al." ucap Ikbal.


"Gue cinta sama pak Rey, tapi gue gak bisa bersama dengannya." ucap Alisia.


"Kenapa lo gak bisa bersama dengannya?" tanya Ikbal bingung.


"Karena dia dan kak Irfan punya dendam lama, jadi karena dendam itu dia membenci gue. Dan dia ternyata udah punya pacar, kemarin gue lihat dia jalan sama pacarnya itu." ucap Alisia menghapus airmata nya.


Jimi yang mendengar itu mengepal kan tangan nya marah, dia hendak pergi menghajar Rey tapi Chaca menahannya.


"Mungkin lo salah paham Al, mungkin itu teman nya atau saudara nya." ucap Ikbal mencoba untuk membuat Alisia tenang.


"Salah paham lo bilang, jelas-jelas perempuan itu manggil Rey dengan sayang." gumam Alisia.


"Lalu sekarang apa keputusan lo, merusak diri lo lagi dengan merokok gitu. Gue gak akan biarin, kalaupun lo marah karena gue ikut campur urusan lo. Gue gak peduli." ucap Ikbal.


"Kalaupun lo berusaha melarang gue untuk berhenti merokok, gue akan tetap mati dan pergi meninggalkan dunia ini." ucap Alisia.


"Lo gak akan mati kalau lo mau berjuang untuk sembuh." ucap Ikbal.


"Untuk apa gue sembuh, kalau orang yang gue cintai aja membenci gue. Lebih baik gue mati dan gue akan tenang." jawab Alisia lirih.

__ADS_1


"Lo mikir gak sih kalau sekarang lo itu udah bod* dan beg* karena cinta, lo kan bisa berjuang untuk sembuh demi mama papa lo, demi kak Irfan. Dan demi gue sama Chaca sahabat lo." ucap Ikbal yang tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat nya itu.


"Gue gak mau buat mama papa dan kak Irfan khawatir, kalau gue berobat otomatis mereka semua tahu tentang penyakit gue. Dan gue gak mau keluarga gue tahu tentang penyakit gue, karena mereka pasti akan sedih nantinya." ucap Alisia dengan tatapan kosong.


"Lo mikir gak sih, kalau lo nyembunyiin penyakit lo dan mereka tau ketika lo udah mati, mereka akan lebih sedih dan merasa bersalah. Mereka akan merasa sangat terpukul karena kehinangan lo." ucap Ikbal menasehati sahabatnya itu.


"Dan mereka akan merasa orangtua paling gak berguna karena mereka gak tau tentang penyakit lo Al, lo harus pikirin perasaan keluarga lo. Jangan yang lo pikirin cuman ego lo doank yang lo rasa benar, karena akan banyak orang yang sedih dan terluka karena kehilangan lo. Dan semua itu karena pikiran bodoh lo yang lo anggap benar." ucap Ikbal yang mulai marah dengan nada tinggi.


Alisia terdiam dan dia merasa apa yang Ikbal bilang itu benar, dia selama ini terlalu egois sehingga tanpa dia sadar akan banyak orang yang terluka karena pilihan yang dia anggap benar.


"Tapi Dokter bilang penyakit gue hanya bisa sembuh kalau gue dapat donoran ginjal, dan kalau kemoterapi itu akan sangat lama dan belum tentu akan berhasil. Dan pada akhirnya gue juga akan mati kalau gak dapat donoran ginjal untuk mengganti ginjal gue yang udah rusak ini." ucap Alisia frustasi.


"Kita pasti akan nemuin ginjal yang cocok untuk lo." ucap Ikbal.


"Tentu aja pasti akan ditemuin, keluarga gue terutama kak Irfan pasti akan mendonorkan ginjal nya buat gue. Dan gue gak mau nyusahin dia apalagi dia kehilangan satu ginjal nya kerena gue." ucap Alisia.


"Pasti ada cara lain selain itu Al, kalau lo mau usaha pasti ada jalannya. Sekarang yang perlu lo lakuin adalah jujur sama keluarga lo tentang penyakit lo." saran Ikbal.


"Kalau untuk sekarang gue masih belum siap Bal untuk jujur tentang penyakit ginjal gue ini." jawab Alisia.


Jimi dan Chaca yang sedari tadi hanya jadi pendengar akhirnya terdiam, mereka tak menyangka Alisia yang selama ini selalu ceria didepan mereka menyembunyikan masalah sebesar ini. Chaca yang dari tadi menahan airmata nya akhirnya jatuh juga, Jimi sekarang akhirnya mengerti kenapa Alisia menolak nya dan selalu bilang dia akan pergi jauh.


"Tega lo nyembunyiin ini dari gue Al." ucap Jimi yang keluar dari persembunyian nya.


Chaca mengikuti Jimi dan juga keluar dari persembunyian nya dengan airmata yang terus jatuh di pipinya.


Alisia dan Ikbal menoleh pada Jimi dan Chaca yang sudah berdiri di belakang mereka.


"Tega lo Cha gak cerita sama gue, padahal kan gue ini sahabat lo. Apa mungkin lo udah gak anggap gue sahabat." ucap Chaca menatap sahabatnya itu sedih.


"Maaf, gue bukan nya gak mau cerita. Tapi gue gak mau bikin kalian sedih dan jadi kepikiran karena penyakit gue ini." ucap Alisia tertunduk.


"Sekarang gue tau alasan lo nolak gue Al." ucap Jimi sambil berjalan mendekat menuju Alisia.


"Lo marah sama gue Jim?" tanya Alisia menatap Jimi.


"Gak Al, gue gak pernah bisa marah sama lo. Gue bukan orang bodoh yang marah sama lo setelah tau keaadaan lo." ucap Jimi.


"Syukurlah kalau gitu, tapi gue mintak kalian jangan kasih tau keluarga gue ya." ucap Alisia.


Jimi dan Chaca pun terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Gue merasa bersalah udah bikin keadaan lo makin memburuk Al." ucap Jimi penuh dengan wajah penyesalan.


"Maksud lo?" tanya Alisia tak mengerti dengan ucapan Jimi.


"Gue biarin lo merokok dan malah gak larang lo sama sekali." ucap Jimi.


"Itu bukan salah lo kok Jim, kan lo sama sekali gak tau." ucap Alisia yang lansung memeluk Jimi.


"Setelah tau semua ini gue gak akan pernah biarin satu orang pun nyakitin lo Al, termasuk Rey si brengse* itu. Gue akan selalu jagain lo dan cari cara agar lo bisa sembuh dan tersenyum lagi, gue pastiin Rey akan dapat balasannya karena udah berani nyakitin lo dan bikin lo sedih kayak gini." ucap Jimi dalam hati penuh amarah pada Rey dan sedih yang mendalam pada keadaan Alisia gadis yang sangat dia cintai.


##########


Tolong like nya pembaca ku yang cantik dan tampan, kalau mau kasih vote juga boleh.


Aku sangat berterimakasih kalau kalian ngasih aku vote dan like, aku nulis ceritanya juga butuh waktu. Dan like dari kalian bikin aku semangat untuk nulis ceritanya.

__ADS_1


Akhirnya Jimi tau tentang keadaan Alisia, kira-kira apa nih yang akan Jimi lakuin pada Rey.


Ada gak yang benci sama Amber disini????


__ADS_2