
Hari ini Alisia bangun lebih awal dari biasanya, rencananya dia akan pergi ke sirquit untuk balapan bukan ke sekolah. Dia sengaja tetap menggunakan seragam agar Irfan kakaknya tak curiga.
"Pagi kak." sapanya ke Irfan yang sedang sarapan.
"Pagi." balas Ifran.
Alisia baru ingin duduk untuk sarapan, tapi dikagetkan oleh pertanyaan dari Irfan.
"Kemana kamu semalam?" tanya Irfan sambil menatap Alisia tajam.
"Aku, aku dirumah kok kak. Gak kemana-mana." jawab Alisia berusaha setenang mungkin.
"Gak usah bohong, kakak tau kamu keluar kan semalam. Kemana aja kamu dan sama siapa?" tanya Irfan dengan nada tinggi.
"Beneran kak aku gak kemana-mana semalem, aku kan semalem tidur dikamar." jawab Alisia berusaha membela diri.
"Udah pintar bohong ya kamu sekarang dek, belajar dari siapa? kakak gak pernah ngajarin kamu untuk bohong." ucap Irfan mulai lembut.
Alisia hanya diam saja, dia tak berani lagi membantah kakaknya. Dia tak mau membuat kakaknya sedih.
"Maaf kak, adek salah." ucap Alisia dengan wajah tertunduk.
Irfan lansung membawa Alisia kedalam pelukannya, memberikan ketenangan pada gadis itu. Tak tau kenapa firatsanya mengatakan adeknya ini sedang ada masalah, ingin bertanya tapi Irfan segera mengurungkan niatnya itu.
"Kakak gak marah sama kamu kok sayang, lain kali kalau mau keluar bilang sama kakak. Kakak temenin jadi gak usah kayak orang mau maling." ucap Irfan lalu mengelus puncak kepala Alisia dan menciumnya.
"Maafin aku kak, aku cuman pengen ngelakuin semua hal yang belum pernah aku lakuin. Selagi waktunya masih ada." gumam Alisia dengan sedih dalam hatinya.
"Yaudah gih kamu berangkat, belajar yang bener." Irfan melepaskan pelukannya lalu mengacak rambut Alisia gemas.
"Ih kakak, kan rambut aku jadinya kusut." omel Alisia sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Irfan hanya tertawa menanggapi omelan Alisia, dia sangat menyayangi adiknya ini. Jadi tak heran jika Irfan sangat overvrotektif ke Alisia, terluka sedikit saja paniknya minta ampun.
"Yaudah kak, aku berangkat ya." pamit Alisia.
"Hati-hati." balas Irfan.
Alisia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, tapi baru saja kakinya sampai di depan pintu. Matanya lansung melihat sebuah motor ninja yang cukup familiar.
"Jimi" gumamnya.
Alisia melangkahkan kakinya cepat menuju pagar, entah kenapa Jimi malah datang kerumahnya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Alisia tak suka.
"Jemput lo." jawab Jimi santai.
"Gue bisa berangkat sendiri, gue gak butuh tebengan dari lo." tolak Alisia.
__ADS_1
"Gue bakalan diam didepan rumah lo seharian, kalau lo nolak." ancam Jimi.
''Terserah lo." ucap Alisia tak peduli.
"Please Al, berangkat bareng gue ya." pujuk Jimi dengan nada memelas.
"Gue gak mau ke sekolah." ucap Alisia akhirnya.
"Gue akan temenin kemana pun lo pergi." ujar Jimi semangat.
"Ok." jawab Alisia setuju akhirnya.
Alisia menaiki motor Jimi kemudian pergi dengan cowo itu, didalam rumah Irfan memperhatikan Alisia lalu dia tersenyum senang.
"Akhirnya ada juga orang yang bisa buat kamu jatuh cinta dek." gumamnya. Jika saja Irfan tau yang sebenarnya kalau mereka hanya berteman.
Di sepanjang perjalanan Jimi terus bicara banyak hal pada Alisia, dan gadis itu hanya menanggapi seperlunya.
"Kita mau kemana nih Al?" tanya Jimi setelah cukup jauh dari komplek perumahan Alisia.
"Gue mau ke sirquit." ucap Alisia semangat.
"Mau ngapain lo kesana?" tanya Jimi kaget setelah tau tempat apa yang ingin Alisia datangi.
"Menurut lo?" Alisia balik bertanya.
"Balapan." jawab Jimi seperti orang bodoh.
"Lo mau balapan Al?" tanya Jimi lagi.
"Iya gue mau balapan, nanti lo harus temenin gue. Kita tanding dan gue yang harus menang." ucap Alisia sambil tersenyum.
Jimi termenung melihat senyuman Alisia, baru pertama kali dia melihat gadis ini tersenyum senang. Bukan senyuman yang penuh kesedihan yang biasa Jimi lihat.
"Gue bahagia kalau lihat lo tersenyum senang, dan gak sedih lagi. Gue janji sama diri gue sendiri untuk buat lo selalu tersenyum bahagia, dan gak akan pernah bikin lo sedih." ucap Jimi.
Alisia yang mendengarnya seketika terdiam, dia merasa telah begitu jahat pada Jimi. Bagaimana mungkin dia bisa menolak cowok yang begitu sayang dan tulus terhadapnya, tapi Alisia terpaksa melakukan itu semua.
Jika bukan karena dia harus pergi dalam waktu entah itu kapan, maka dia akan menerima Jimi. Bahkan lebih dari seorang sahabat, mungkin Alisia akan menerima Jimi sebagai kekasihnya. Walaupun dia tak mencintai Jimi tapi dia akan belajar untuk mencintainya.
Alisia adalah seorang gadis yang sangat kokoh memasang tembok dihatinya, jadi tak mudah bagi seorang cowok untuk meruntuhkan tembok pertahanan itu. Sekalinya gadis ini jatuh cinta ke seseorang, maka dia akan rela melakukan apapun demi orang yang dia cinta.
Dulu dia pernah menaruh hati ke seseorang, dan cintanya gak bertepuk sebelah tangan. Ketika cowok itu mengatakan perasaannya ke Alisia, dia terpaksa menolaknya. Jujur dia sangat mencintai pria itu, tapi keadaan memaksanya untuk menolak dan tak akan pernah lagi untuk jatuh cinta.
"Makasih atas kebaiakan lo Jim, dan gue harap lo jangan naruh perasaan sama gue. Karena sampai kapan pun gue gak akan bisa bales. Dan gue gak mau lo pada akhirnya akan kecewa dan patah hati karena gue." ucap Alisia dengan sendu.
"Tapi rasa itu udah ada sejak gue kenal sama lo Al, lo beda dari cewe² gue sebelumnya. Asal lo tau, ini pertama kali gue ngemis cinta dan berharap lebih sama yang namanya perempuan." ucap Jimi dalam hati.
Setelah cukup lama berkendara akhirnya mereka pun sampai di sirquit balapan, Jimi segera memarkirkan motornya dan membawa Alisia untuk bertemu dengan teman-temannya. Yah, jimi membawa Alisia ke sirquit yang biasa dia pakai untuk balapan.
__ADS_1
"Hai broo." sapa Jimi.
"Oh hai Jim, wih tumben bawa cewe lo kesini. Biasanya lo jijik banget kalau mereka pengen ikut." goda Haikal salah satu temen dekat Jimi.
"Dia bukan cewe gue, dia Alisia sahabat gue." ujar Jimi.
"Ah gak yakin gua kalau lo berdua cuman sahabatan." sambung Haikal dengan tatapan tak percaya.
"Kenyataan nya emang gitu." gumam Alisia, membuat orang yang ada disitu terdiam.
"Eh kita mau balapan nih." ujar Jimi mengalihkan suasana.
"Tuh cewe mau balapan juga?" tanya Haikal tak percaya.
"Iya, dia mau balapan berdua sama gue. Gue pinjem motor lo ya, motor gue biar dia yang pake." pinta Jimi.
"Pakai aja Jim, tapi awas ya kalau lo kalah sama dia." ancam Haikal bercanda.
"Dia emang bakalan menang, dia yang minta." ungkap Jimi lalu melirik ke Alisia yang dari tadi cuman diam.
"Ember lo." kesal Alisia.
Jimi hanya tertawa mendengar respon Alisia yang kesal karena ulahnya, salah satu kegemarannya sekarang adalah menjahili gadis ini.
Mereka berdua pun balapan, dan sesuai kesepakatan tadi Alisia lah pemenangnya.
"Yes gue menang, lo harus traktir gue." ucap Alisia dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.
Lagi-lagi Jimi dibuat bengong akan wajah cantik dan senyuman manis milik Alisia.
"Andai lo bisa jadi milik gue Al, gue pastiin senyuman itu akan selalu menghiasi hari-hari lo." gumam Jimi dalam hati.
"Woi, lo denger apa yang gue bilang gak sih. Ngelamunin apa lo?" tanya Alisia menyadarkan Jimi dari lamunannya.
"Nggak ngelamunin apa-apa kok, yaudah lo mau makan dimana?" sangakal Jimi.
"Gue mau ke cafe Clay." pinta Alisia.
"Yaudah yok." Jimi menggandeng tangan Alisia ke motornya.
Lalu mereka berdua pun segera meninggalkan sirquit dan menuju cafe yang Alisia inginkan.
"Gue yakin lo tulus mencintai dan sayang sama cewe ini Jim, perlakuan lo kedia bener-bener dari hati lo." ucap Haikal setelah Alisia dan Jimi pergi dari area sirquit cukup jauh.
***
**Hai gays aku up nih, maaf aku lama up nya hehe. Jangan lupa tekan tombol love agar kalian bisa dapat notif kalau akau up. like nya juga jangan lupa, komen juga. love you allll.
__ADS_1
follow @alfaazzahra\_2373**