
Malam ini Alisia sudah siap dengan balutan gaun barwarna hitam diatas lutut yang meperlihatkan lekuk tubuhnya, gaun yang dia gunakan begitu sexi dan sedikit memperlihatkan belahan dadanya. Ini adalah kali pertamanya gadis itu menggunakan pakaian kurang bahan, jujur dia sendiri sangat tidak nyaman menggunakan pakaian seperti itu.
Tapi, entah keberanian dari mana dia mengenakan pakaian yang begitu terbuka untuk pergi dengan Jimi malam ini.
Alisia menggunakan jacket lengan panjang dan sepanjang lutut untuk menutupi tubuhnya, dia keluar dengan mengendap-endap. Waktu melewati pagar, dia menggunakan kunci cadangan untuk membuka pagar tersebut.
Untungnya satpam yang bertugas menjaga rumahnya telah tertidur, setelah memastikan pintu pagar kembali terkunci Alisia segera berjalan menuju jalan dekat komplek rumahnya.
Alisia celingak-celinguk mencari keberadaan Jimi, akhirnya dia menemukan juga Jimi yang sedang duduk diatas motor ninjanya dengan menyesap sebatang rokok.
"Woi Jim, udah lama lo nunggunya." teriak Alisia.
"Lumayan, lo sih lama banget. Udah kayak om-om mangkal gue disini." ucap Jimi kesal.
"Sorry, lo taukan gimana perjuangan gue buat bisa keluar nemuin lo." ucap Alisia.
"Yaudah deh, yok cabut." ajak Jimi.
"Kita mau kemana sih?" tanya Alisia.
"Nanti lo juga tau." ujar Jimi.
Lalu Alisia pun naik kemotor Jimi, dan mereka segera meninggalkan tempat tersebut. Jimi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, motor ninja itu membelah jalanan ibukota Jakarta yang cukup padat.
Setelah cukup lama berkendara, akhirnya mereka pun sampai disebuah bangunan yang cukup ramai didatangi oleh remaja seperti mereka. Jimi membawa Alisia ke tempat hiburan malam yang cukup terkenal didaerah kota Jakarta.
"Ini tempat apa Jim?" tanya Alisia bingung.
"Ini namanya klub malam, yok masuk." ajak Jimi dengan menarik pergelangan tangan Alisia.
Ini adalah pertama kalinya Alisia pergi ke tempat seperti itu, ketika gadis itu melangkahkan kakinya untuk masuk telinganya sudah disambut oleh dentuman musik yang begitu keras. Hidungnya mencium bau alkohol dimana-mana, dan banyak nya asap rokok yang membuat pernapasannya sesak.
Ini adalah situasi yang sangat tidak baik untuk kesehatannya, keadaannya akan semakin memburuk jika gadis itu tetap berlama-lama disana.
Jimi membawa Alisia ke sebuah tempat duduk yang sudah diisi oleh beberapa cewek dan cowok, dan mereka adalah teman-temannya Jimi.
"Woi, datang juga lo Jim. Gue kira lo udah lupa sama kita-kita semenjak kenal sama Alisia." canda Haikal.
"Gak mungkinlah gue lupa sama lo sob." ucap Jimi.
"Ayo, sini duduk." ucap Jimi ke Alisia sambil menepuk-nepuk bangku kosong yang ada disebelahnya.
Alisia pun segera duduk disebelah Jimi, tapi baru saja gadis itu terduduk dia sedah mendapat ledekan dari Haikal.
"Lepas donk Al jacket nya, masa mau dipake terus sih. Sekarang kan lagi gak musim dingin." ledek Haikal.
"Sewot amat lo." ucap Alisia kesal.
Lalu Alisia pun ingin melepas jacket yang dia pakai, tapi segera ditahan oleh Jimi.
"Gak usah dilepas, gue tau lo malam ini pakai gaun agak terbuka. Jadi lo pasti gak akan nyaman kalau diliatin sama banyak laki-laki." ucap Jimi ke Alisia.
"Tapi.." ucapan Alisia lansung dipotong oleh Jimi.
"Lo mau badan lo dijadiin tontonan sama laki-laki mesum." ujar Jimi.
Alisia lansung menggelengakan kepalanya tanda tak mau.
"Ah gak asik lo Jim, pelit amat lo sih buat bagi-bagi keindahan tubuh dia." ucap Haikal kecewa.
"Sekali lagi lo ngomong kaya gitu depan gue, gue pastiin ni tangan bakalan mendarat di pipi lo." ancam Jimi dengan mengarahkan tangannya yang dikepal.
"Sans Jim, gue ga mau muka gue babak belur karena pukulan lo." ucap Haikal.
"Lo mau minum?" tanya Jimi ke Alisia.
"Minum apa?" tanya nya polos.
"Bir, masa lo ga tau sih." ucap cewek disampimg Haikal dengan memandang remeh.
"Gue tau kok, biasa aja kali kalau ngomong. Gak usah nyolot lo." balas Alisia tak mau kalah.
Ketika cewek itu ingin membalas ucapan Alisia, dia lansung mendapat tatapan tajam dari Jimi. Sehingga dia pun mengurungakan niatnya.
"Beruntung aja lo kali ini, gue pastiin kalau Jimi gaada gue bakalan bales ucapan lo itu." ucap cewek itu dalam hati.
__ADS_1
"Lo mau coba Al?" tanya Jimi lagi, sambil menyodorkan segelas minuman yang berisi bir.
Alisia mengambil gelas minuman yang Jimi berikan, baru saja gelas itu berada ditangannya Alisia lansung mengembalikan nya lagi pada Jimi.
"Kenapa gak jadi lo minum Al?" tanya Jimi heran.
"Gue gak suka sama baunya." ucap Alisia.
"Lo gak akan tau betapa enak rasanya kalau ga dicoba, rugi kalau lo gak minum Al." ujar Haikal.
"Yaudah sini, awas ya kalau gak enak." ancam Alisia.
Alisia pun mengambil kembali gelas bir yang tadi dia kasih ke Jimi, lalu gadis itu meminumnya dengan menahan napas. Ketika bir itu mengalir di kerongkangannya, dia merasa ingin muntah tapi Alisia tetap menelannya.
"Gimana, enakkan rasanya." ucap Haikal.
Kepala Alisia terasa pusing, perutnya terasa diaduk-aduk dan dia merasa mual. Padahal dia hanya meminum nya sedikit.
"Gue ke toilet dulu." ucap Alisia.
"Emang lo tau dimana letak toiletnya." teriak Jimi.
Tapi Alisia tak menghiraukan teriakan dari Jimi, yang gadis itu butuhkan sekarang adalah toilet. Dia harus segera memuntahkan minuman sialan yang membuatnya mual dan sakit kepala.
Alisia berjalan tanpa arah, gadis ini sungguh bodoh. Jelas ini adalah pertama kalinya dia pergi ke klub dan dia malah keluyuran sorang diri.
Setelah berjalan mengelilingi klub ini cukup lama akhirnya Alisia sampai juga di toilet, tapi sialnya dia malah masuk ke toilet laki-laki. Pandangannya sedikit berkunang-kunang jadi sepertinya dia tak bisa membedakan palang antara toilet laki-laki dan perempuan yang tertempel dipintu.
Toilet nya sepi, tapi Alisia merasa ada yang aneh dengan toiletnya.
"Kenapa toilet ini tidak mirip dengan toilet perempuan." gumamnya.
Tapi Alisia sudah merasa sangat pusing jadi dia sudah tak memperdulikannya lagi, segera dia mencari wastafel untuk memuntahkan bir sialan yang tadi dia minum.
Hoeekkk, setelah memuntahkan nya Alisia membasuh mukanya dengan air. Tiba-tiba dari belakang ada seorang pria yang menarik tubuhnya dan Alisia didorong kedinding oleh pria itu.
Alisia berontak namun pergerakan nya dikunci oleh pria itu, tampaknya pria itu sedang mabuk berat jadi dia tak sadar atas perbuatan yang dilalukan.
"Lepasin gue." teriak Alisia.
Alisia menatap wajah pria yang kini ingin melecehkan nya, dan betapa terkejutnya Alisia bahwa pria itu adalah Rey.
"Pak Rey." teriak Alisia kaget.
"Kamu masih kenal dengan saya Mutia?" tanya Rey ke Alisia.
"Woi gila, ini gue Alisia murid lo. Bukan
Mutia." teriak Alisia keras didepan wajah Rey.
"Mutia-mutia, kamu gak usah ganti nama. Walaupun kamu ganti nama aku akan tetap tau itu kamu." ucap Rey masih belum sadar bahwa dia salah orang.
"Nama gue Alisia bodoh, ngapain juga gue ganti nama. Kurang kerjaan banget." ucap Alisia marah.
"Kamu gak pernah berubah ya sayang, dari dulu sampai sekarang kamu masih tetap suka marah-marah." ucap Rey dengan tersenyum nakal.
"Gimana gue gak marah, lo tiba-tiba narik gue dan panggil gue Mutia." ucap Alisia dengan nada tinggi.
Sepertinya kesabaran Alisia telah habis saat ini, rasa hormatnya pada sang guru tampaknya telah hilang.
"Kamu gak usah drama sayang, kali ini kamu gak akan bisa kabur dari aku." ucap Rey sambil mendekatkan wajahnya pada Alisia.
"Lo mau apa? awas aja ya kalau lo berani macam-macam sama gue." ancam Alisia.
Rey tak memperdulikan ancaman dan teriakan dari Alisia, dia memegang tangan gadis itu agar tak lagi bisa berontak.
"Lepasin gue." teriak Alisia lagi.
Perlahan wajah Rey mulai mendekat ke wajah Alisia, matanya terus tertuju pada bibir merah gadis itu. Dan tanpa sadar Rey telah mencium Alisia.
Alisia terus berontak namun tenaganya tak sebanding dengan tanaga yang Rey miliki, Rey terus memperdalam ciumannya dan lidahnya pun sudah bermain-main didalam sana. Alisia meneteskan airmatanya,
satu-satunya cara yang bisa dia lakukan agar lepas adalah dengan menggigit bibir Rey.
Alisia menggigit bibir Rey dengan sangat kuat hingga bibir pria itu mengeluarkan darah, Rey menghentikan ciumannya dan melepaskan Alisia. Lalu dia memegang bibirnya yang terasa perih, belum selesai sampai disitu.
__ADS_1
Alisia menampar kuat kedua pipi rey, hingga pipinya merah dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Gue benci sama lo, tunggu pembalasan gue." ucap Alisia sambil menyeka airmatanya kasar.
Lalu Alisia menendang junior milik Rey, sehingga pria itu terduduk dan mengadu kesakitan. Alisia bergegas keluar dari toilet laki-laki sebelum ada orang mengiranya berbuat yang tidak-tidak.
Di depan toilet wanita Jimi menunggu Alisia dengan khawatir, karena sudah setengah jam gadis itu pergi ketoilet tapi belum juga kembali. Jadi Jimi memutuskan untuk menyusul Alisia ke toilet wanita, takutnya gadis itu kesasar atau malah terjadi hal buruk padanya.
Alisia keluar dari toilet laki-laki dengan penampilan berantakan, rambutnya yang tadi diiakat rapi sekarang kusut tak beraturan.
"Alisia." panggil Jimi kaget saat melihat Alisia lewat didepannya.
"Kamu darimana? dan kenapa penampilan kamu berantakan kaya gini." tanya Jimi heran.
"Gak papa, gue mau pulang." ucap Alisia datar.
"Tapi lo jawab dulu pertanyaan gue, lo gak kenapa-napakan. Atau tadi ada orang yang berbuat kurang ajar ke lo, jawab Al." paksa Jimi.
"Gue gak papa, gue pengen pulang." ucap Alisia lagi.
"Ok." jawab Jimi mengalah.
Lalu Alisia pun berjalan mendahului Jimi, dan mereka pun segera keluar dari klub malam itu. Waktu sampai diparkiran Alisia tak bicara ke Jimi, dia lansung menaiki motor ninja milik Jimi.
Diperjalanan pun Alisia cuman diam, dia tak bicara sepatah katapun. Sedangkan Jimi dia pun sama, dia tak berani banyak bertanya karena takut Alisia marah.
"Udah sampai Al." ucap Jimi.
Alisia pun turun dari motor Jimi dan memberikan helemnya pada cowok itu, Alisia tetap diam. Bahkan untuk kata terimakasih pun tak terlontar dari mulutnya. Alisia segera membuka pintu pagar dan berjalan masuk kedalam rumahnya.
Di pekarangan rumahnya sudah terparkir mobil milik papanya, tampaknya orangtuanya pulang lebih cepat kali ini. Alisia lansung masuk kedalam rumahnya, dia tak melihat mama papanya sedang duduk diruang tamu menunggu kepulangannya.
"Dari mana kamu?" tanya Alex.
"Main pa." jawab Alisia singkat ke papanya.
"Main kemana pulangnya jam segini." tanya Alex lagi.
Alisia lantas menghentikan langakahnya, lalu menoleh ke papanya.
"Menurut papa tempat apa yang didatangi oleh anak muda yang pulangnya tengah malam, dan dengan bau alkohol serta pakaian kurang bahan." tanya Alisia.
"Kamu ke club malam sayang." sambung Anggi.
"Seratus buat mama." ujar Alisia.
"Udah ya, aku capek mau tidur. Besok harus sekolah." ucap Alisia, lalu dia pun berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Alisia, papa belum selesai ngomong." panggil Alex ke anak gadisnya itu, tapi Alisia tak memperdulikan panggilan dari papanya.
''Pa, Al kenapa bisa berubah." ucap Anggi ke Alex suaminya.
"Tenang ya ma, besok pagi biar papa yang ngomong ke Alisia." ujar Alex.
Dikamarnya Alisia segera berlari menuju kamar mandi, kemudian dia melihat penampilannya yang terpantul di cermin. Rambut berantakan dan sudut bibirnya yang sedikit terluka, sepertinya waktu tadi dia menggigit bibir Rey bibirnya pun tak sengaja tergigit olehnya.
Alisia memegang bibirnya dan kemudian mengingat kembali kejadian di toilet tadi, sedetik kemudian airmatanya menetes karena mengingat perlakuan Rey padanya.
Alsia menghidupkan air dari wastafel lalu dia membasuh mulutnya yang tadi dicium oleh Rey, dia berulang kali kumur-kumur tapi tetap saja tak bisa mengembalkan kesucian bibirnya.
''Rey ba*gsat, gara-gara lo bibir gue gak suci lagi. Bisa-bisanya lo ngambil ciuman pertama gue, Awas ya gue bakalan balas perlakuan lo malam ini." teriak Alisia.
Setelah puas teriak-teriak tidak jelas dikamar mandi, dan memaki serta menyumpah serapahi Rey. Alisia pun akhirnya tidur dikasur miliknya, sekarang rasa bencinya terhadap Rey makin bertambah besar.
****
**Hai gays, maaf ya semalam aku gak UP. Tapi sebagai gantinya aku akan Creazy UP buat kalian. Oh iya, kira-kira Mutia itu siapanya Rey ya? kalau kalian tau coba jawab di komen.
Duh Alisia makin benci sama Rey, gimana. donk.
follow @alfaazzahra\_2373**
__ADS_1