
Alisia melihat bintang dari balkon kamarnya, dia mengingat kejadian 1 hari penuh yang dilaluinya dengan Rey.
"Sebenarnya sih pak Rey itu orang nya baik dan perhatian, tapi juga nyebelin karena sifat dinginnya." gumam Alisia.
"Dek, makan dulu yok." panggil Irfan.
"Iya kak." jawab Alisia.
Lalu Alisia pun kebawah untuk makan malam dengan keluarga nya, saat makan tiba-tiba mama nya bertanya tentang sesuatu yang Alisia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Al, kapan kamu ajak Jimi main ke rumah." tanya Anggi.
"Oh ya sayang, salam papa udah kamu sampein ke dia belum." tanya Alex.
Alisia menepuk kening nya sendiri, karena dia lupa menyampaikan ke Jimi kalau mama dan papa nya nitip salam. Bahkan dia juga lupa menyampaikan mama nya ngajak untuk main ke rumah.
"Udah tau jawabannya gak usah di tanya pa, ma." ujar Irfan.
"Maaf ya Al lupa bilang ke Jimi, besok pagi pasti Al bilang ke dia." ucap Alisia.
"Yaudah deh gapapa." jawab mamanya.
Selesai makan malam Alisia kembali ke kamarnya, lalu tiba-tiba dia dapat telfon dari Jimi.
"Al, lo sibuk gak?" tanya Jimi.
"Nggak, emangnya kenpa?" tanya Alisia.
"Gue mau ngajak lo ke sirquit, soalnya malam ini gue balapan." ucap Jimi.
"Yaudah gue meluncur ke sana." ucap Alisia.
"Emang nya orang tua lo bolehin." tanya Jimi.
"Itu urusan gampang, tapi gue gak bisa lama-lama." jawab Alisia.
"Gapapa yang penting lo bisa hadir." ucap Jimi.
Lalu sambungan telfon pun terputus, dia bersiap-siap kemudian mengambil kunci mobilnya.
Alisia turun kebawah menemui mama dan papanya yang sedang menonton televisi.
"Kamu mau kemana Al?" tanya mamanya.
"Aku mau keluar sebentar ma." jawab Alisia.
"Ngapain sayang?" tanya Alex.
"Jimi malam ini mau balapan pa, jadi aku mau pergi ke sirquit buat nyemangatin dia. Bolehkan." jawab Alisia.
"Boleh, tapi kamu sebelum jam 10 harus pulang ya." ucap Alex.
"Thanks papa." ucap Alisia sambil memeluk papanya erat.
Alisia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia penasaran siapa yang menjadi lawan Jimi kali ini.
Sampai di sirquit dia melihat sudah banyak orang yang datang, Alisia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jimi.
"Nyari Jimi lo." ucap seseorang dengan menepuk pundak Alisia.
"Haikal, lo juga disini. Jimi nya mana." tanya Alisia.
"Dia lagi siap-siap, mending lo banyak do'a deh. Soalnya pacar lo bakalan berhadapan dengan lawan yang hebat banget." ucap Haikal.
"Berapa kali gue bilang sama lo, gue sama Jimi cuman temenan. Oh ya si Farah pacar lo tu mana." tanya Alisia.
"Gue udah putus sama dia." ujar Haikal.
"Kenapa lo putus, bukan nya lo cinta banget ya sama dia. Sampai membucin gitu." ledek Alisia.
"Buat apa gue pacaran sama orang yang sama sekali gak pernah cinta sama gue, dan lo harus ingat gue gak pernah membucin." ucap Haikal.
"Gak pernah membucin tapi kemarin segitunya belain si Farah." sindir Alisia.
Semuanya pertandingan antara Black Cobra dan Diamond Blue akan mulai sebentar lagi, ucap seorang gadis yang berpakaian cukup seksi.
"Diamond Blue, itukan." gumam Alisia.
Tiba-tiba ingatan Alisia kembali ke masa sekolah nya waktu SMP, dimana dulunya dia begitu dekat dan sangat mencintai Doni. Bahkan sampai detik ini Alisia masih menyimpan hatinya untuk laki-laki itu, sampai sekarang masih Doni yang merajai hatinya.
Selain Alisia menolak orang yang suka padanya karena penyakit yang dia derita, rasa cintanya pada Doni juga menjadi salah satu alasan kenapa dia menolak orang yang menyukainya.
Waktu itu Doni dan Alisia sedang berada di taman sekolah.
"La, benda yang kamu sukai apa?" tanya Doni.
"Aku suka berlian biru kak." jawab Alisia.
"Diamond Blue, kamu suka itu la." tanya Doni lagi.
"Iya kak, Diamond Blue itu bahasa inggris dari berlian biru kan kak." tanya Alisia.
__ADS_1
"Iya." jawab Doni lalu mengacak rambut Alisia gemas.
"La, nanti kalau kakak udah gede kakak akan bikin geng motor yang namanya Diamond Blue. Dan nanti kakak juga akan lamar kamu yang cincinya ada berlian warna biru." jelas Doni dengan tersenyum.
"Tapi kenapa nama geng motornya harus pakai nama benda yang aku suka kak?" tanya Alisia bingung.
"Supaya Lala bisa inget sama kakak kalau kita nanti berpisah, dan kalau Lala denger nama geng Diamond Blue Lala bisa ingat sama kakak." jelas Doni.
"Gimana kalau ada geng lain yang pakai nama itu juga, memang nya kita pisah kenapa." ucap Alisia.
"Gak akan ada geng motor yang mau pakai nama imut dan lucu kayak gitu La." ucap Doni.
"Aku gak mau pisah sama kakak." ucap Alisia sambil memeluk Doni erat.
Tiba-tiba airmata Alisia menetes saat mengingat momen kedekatan nya dengan Doni, Doni waktu lulus dari SMP dia benar-benar meninggal kan Alisia untuk sekolah ke luar negeri, waktu itu Alisia baru naik kelas 3 SMP.
"Lo kenapa nangis, lo tenang aja Jimi gak bakalan mati kok." ucap Haikal.
"Diamond Blue itu nama geng motor." tanya Alisia.
"Iya, tapi lo tau dari mana itu nama geng motor." bingung Haikal.
"Lo tau siapa nama pimpinan nya?" tanya Alisia.
"Itu sih gue gak tau, lo coba tanya aja nanti ke Jimi. Siapa tau dia kenal." ucap Haikal.
"Baiklah semuanya beberapa menit lagi pertandingan akan dimulai, ke dua lawan silahkan masuk arena." ucap gadis yang menggunakan pakaian seksi.
Dua motor ninja pun memasuki arena balapan, semua penonton berteriak menyoraki jagoan masing-masing. Sedangkan Alisia matanya terus tertuju ke pembalap yang menggunakan motor ninja berwarna merah, yak tak lain adalah pimpinan dari Diamond Blue.
"Siap-siap, dalam hitungan ke tiga lomba akan dimulai. 1,2,3." ucap gadis seksi itu lalu bendera yang dipegang nya pun di lempar ke udara.
Pertandingan nya cukup sengit, awalnya Jimi memimpin didepan tapi berhasil di salip oleh lawannya. Sekarang motor ninja berwarna merah itu memimpin didepan, Jimi pun tak mau kalah dia menancap gasnya dengan kecepatan tinggi. Awalnya Jimi berhasil menyusul ninja merah itu dan mengejar ketertinggalan nya. Tapi yang keluar jadi pemenang adalah pimpinan dari Diamond Blue, dan Jimi terpaka harus menerima kenyataan bahwa dia harus kalah.
"Yah Jimi kalah." gerutu Haikal.
Semua orang menyambut kemenangan dari pimpinan Diamond Blue, Alisia begitu penasaran dengan wajahnya. Tapi belum sempat Alisia melihatnya dia sudah ditarik oleh Haikal untuk menemui Jimi.
"Jim, pacar lo datang tuh." ucap Haikal.
"Sorry gue kalah, Al." ucap Jimi.
"Gapapa, yang penting lo gak kenapa-napa." ucap Alisia.
"Al, lo mau ikut gue gak kasih ucapan selamat ke yang menang." ajak Jimi.
"Gak, gue disini aja." tolak Alisia.
"Kak Doni." batin Alisia.
Alisia memukul-mukul pipinya, berharap agar halusinasi nya hilang. Mungkin karena dia sudah lama tidak bertemu dengan Doni, dan rasa rindunya dia jadi berhalusinasi. Alisia melihat sekali lagi ke orang itu, memastikan kalau tadi hanya halusinasi nya saja. Tapi dia tetap melihat wajah Doni.
"Halusinasi gue kok sampai segini nya sih." gumam Alisia.
"Lo kenapa sih dari tadi gue liat, ngomong sendiri terus." ucap Haikal yang tiba-tiba ada di samping Alisia.
"Gapapa, lo mau kemana Kal." tanya Alisia.
"Ngucapin selamat lah ke yang menang, lo ikut gak nih." ajak Haikal.
"Yok." karena penasaran Alisia pun mengikuti Haikal dari belakang dengan tertunduk.
"Selamat ya bro, lain kali boleh nih traktir kita." canda Haikal.
"Al, lo ngapain di belakang situ, ayo sini gue kenalin sama teman baru gue." ucap Jimi.
"******* lo Jim, gak tau apa gue lagi sembunyi." batin Alisia.
''Gak gue disini aja." jawab Alisia.
Laki-laki itu terlihat berbisik ke Jimi, lalu Jimi pun mengangguk.
"Lo kenapa gadis kecil?" tanya laki-laki itu.
Alisia pun mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lagi-lagi Alisia melihat wajah Doni. Lalu Alisia memukul kepalanya berulang kali, sampai sebuah tangan menghentikan nya.
"Jangan sakitin diri sendiri." ucap laki-laki itu.
Alisia menatap laki-laki itu lekat, berharap semua halusinasi nya hilang. Laki-laki itu memegang kedua pipi Alisia.
"Kamu gak lagi halusinasi kok La." ucapnya yang semakin membuat Alisia terkejut.
Alisia terdiam dan mematung di tempatnya.
Lala, sudah lama dia tidak mendengar panggilan itu lagi.
Lalu tiba-tiba laki-laki itu memeluk Alisia yang masih terdiam, sedangkan Jimi dan Haikal hanya bisa melihat dengan ekspresi bingung.
Perlahan tangan Alisia terangkat untuk membalas pelukan dari orang yang salama ini dia rindukan, airmata nya pun jatuh dari pelupuk matanya.
"Ini beneran kakak kan, kalau ini cuman mimpi aku gak mau bangun lagi." ucap Alisia mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Jim, cewek lo dipeluk tuh sama orang lain. Kenapa lo diam aja." ucap Haikal.
Jimi tak membalas ucapan Haikal, dia terus menatap ke Alisia.
Laki-laki itu pun melepaskan pelukan nya dan menghapus sisa airmata Alisia, lalu dia tersenyum sangat manis.
"Udah gede ya La kamu sekarang, perasaan dulu masih segini." ujar Doni.
"Aku gak mimpikan kak?" tanya Alisia lagi.
"Kamu gak mimpi kok la." ucap Doni dengan mengacak rambut Alisia gemas.
"Kakak kapan pulangnya?" tanya Alisia.
"Belum lama kok, tapi kakak harus pergi lagi ke London setelah ini." ucap Doni.
Tiba-tiba wajah Alisia menjadi suram waktu mendengar nya.
"La, aku cuman pergi sebentar kok. Setelah ini aku gak akan pergi lagi ninggalin kamu La." ucap Doni.
"Kakak udah ninggalin aku hampir 1 tahun lebih, dan sekarang kakak mau pergi lagi." ucap Alisia dengan tangis yang sudah pecah.
"Sayang, aku akan pulang lagi setelah ini. Aku mohon kamu jangan nangis La." bujuk Doni.
"Kakak harus ceritain semuanya nanti." ucap Alisia kembali memeluk Doni.
"Aku janji akan ceritain semuanya nanti ke kamu La, tapi kamu harus janji berhenti nangis dulu." ucap Doni.
"Aku janji." ucap Alisia melepas pelukan nya lalu menghapus airmata nya.
"Kapan kakak pulang lagi?" tanya Alisia.
"Itu rahasia La." ucap Doni lalu mengecup kening Alisia.
"Ini udah malam, kamu aku antar pulang ya?" ucap Doni.
"Tapi aku bawa mobil kak." jawab Alisia.
"Biar aku yang bawa mobil kamu La." ucap Doni.
"Terus nanti kakak pulang nya gimana?" tanya Alisia.
"Aku bisa pulang sendiri, yang penting kamu harus sampai rumah dengan selamat La." ucap Doni.
Lalu Alisia pun pergi meninggalkan sirquit dengan Doni, Jimi menatap mereka berdua dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Sepertinya Jimi sangat terluka.
"Gue saranin lo lepasin Alisia aja deh, dari pada lo patah hati kaya gini Jim." ucap Haikal.
"Gue harus tanya dulu sama Alisia laki-laki tadi siapanya dia." ucap Jimi.
"Ayolah Jim, dari tatapan nya aja lo bisa liat kan kalau mereka itu saling mencintai. Jangan-jangan Alisia nolak lo karena ini alasannya." ucap Haikal.
"Bukan, Alisia nolak gue bukan karena laki-laki tadi alasannya." ujar Jimi.
"Terserah lo deh." gumam Haikal.
Di dalam mobil Alisia bicara hal ke Doni, dan Doni pun mendengarkan semua ocehan gadis yang paling dia cintai ini. Sampai dirumahnya Alisia sedikit murung karena harus berpisah dari orang yang dia sayang.
"La, habis ini kamu lansung tidur ya." ucap Doni.
Alisia pun mengangguk.
"Tapi kakak harus janji pulang lagi, dan ceritain semuanya kenapa kakak ninggalin aku." pinta Alisia.
"Iya, La aku harap kamu masih tetap jaga hati kamu buat aku." ucap Doni.
Alisia cuman diam tak menjawab ucapan Doni itu, dia sendiri pun bingung dengan perasaan nya. Apakah dia sudah mulai jatuh cinta dengan orang lain. Tapi siapa, mungkinkah dia sudah jatuh cinta dengan Rey tapi dia tidak pernah menyadari nya.
"Aku pulang ya La." pamit Doni.
"Kapan kakak berangkat ke London?" tanya Alisia.
"Besok pagi, maafin aku ya La udah bikin kamu kecewa." ucap Doni.
"Aku yang harusnya minta maaf karena waktu itu udah nolak kakak." ujar Alisia.
"Gapapa, kita bisa mulai semuanya dari awal lagi." ucap Doni.
Lagi-lagi Alisia cuman diam tak menjawab ucapan dari Doni.
"Oh ya kak, aku minta nomornya." ucap Alisia, hampir saja dia melupakan nya.
Lalu Doni pun memberikan nomor handpone nya, dan segera pergi meninggalkan Alisia.
Alisia melangkah masuk ke rumahnya dengan gontai dan tak bersemangat, baru saja bertemu setelah bertahun-tahun terpisah sekarang dia pergi lagi.
Mama dan papanya telah tidur, dan kakaknya juga tidak ada. Jadi dia aman dari pertanyaan-pertanyaan aneh, dan untung dia pulang nya hari masih jam sembilan.
*********
**Doni udah gak sabar pengen ketemu sama Alisia, jadi dia muncul nya gak jadi deh dihari spesial nya Alisia. Aduh ini Alisia bakalan pilih siapa nih, tapi kalau author sih milih Jimi sama Rey. kalian pilih siapa nih?
__ADS_1
follow @alfaazzahra\_2373**