Rahasia Takdir Cinta

Rahasia Takdir Cinta
Menjauh


__ADS_3

Semenjak Jimi tahu tentang bagaimana keadaan Alisia, dia selalu berada disisi Alisia untuk menjaga gadis itu.


Dan Rey dia bingung dengan perubahaan Alisia padanya, Alisia selalu menghindar saat bertemu dengannya. Dia tak lagi selalu banyak bicara dan bertanya pada Rey seperti sebelumnya, kalaupun bicara Alisia hanya bicara mengenai pelajaran saja. Tentunya ini membuat Rey jadi bingung dan sedih atas perubahan pada gadis yang dia cintai itu.


Seperti saat ini, Rey tengah mengajar di kelas Alisia. Alisia sama sekali tak memperhatikan apa yang Rey jelaskan, dia hanya melihat kedepan dengan tatapan kosong. Gadis itu beberapa hari ini seperti mayat hidup, bernapas tapi tak mempunyai roh.


"Alisia, apa kamu sakit?" tanya Rey menghampiri Alisia yang hanya melihat kedepan dengan tatapan kosong.


Alisia menggelengkan kepalanya yang artinya dia baik-baik saja, Rey menghela nafas panjang saat Alisia lagi-lagi tak melihat kearahnya.


"Yasudah, kalau kamu memang baik-baik saja." ucap Rey sambil berlalu pergi dari meja Alisia.


"Kasian gue sama Alisia dan pak Rey, gue yakin kalau mereka cuman salah paham. Gue harus lakuin sesuatu untuk bikin sahabat gue tersenyum lagi." gumam Chaca pada dirinya sendiri.


"Gue rasa mereka juga salah paham, gak mungkin pak Rey yang dingin sama semua orang apalagi cewek bisa selingkuh. Dari yang gue lihat dia sangat sayang dan peduli pada Alisia." ucap Ikbal.


"Gue harus lakuin sesuatu untuk tolong mereka." ucap Chaca.


"Lo mau ngelakuin apa?" tanya Ikbal.


"Lo lihat aja nanti." ucap Chaca dengan tersenyum misterius.


Kring~~


Bel istirahat pun berbunyi


Alisia lebih memilih menyendiri di taman belakang sekolah ketimbang ikut sahabatnya ke kantin ataupun ikut Jimi ke Rooftop.


Ditaman belakang sekolah yang cukup sepi inu dia duduk di bawah pohon yang tak terlalu rindang, duduk menikmati pemandangan yang hijau ditambah semilir angin yang lembut mengelus pipinya. Membuat nya merasa nyaman dan perlahan tertidur dengan bersandar pada pohon tersebut.


Setelah Alisia tertidur, ada seorang laki-laki yang datang menemuinya di taman tersebut. Laki-laki itu berdiri sambil menatap Alisia cukup lama, lalu seulas senyum terbit di bibir tipis nya itu.


"Kamu sangat cerobah sayang, coba kalau orang lain yang datang kesini mungkin kamu sudah digendong dan dibawa kabur." ucap laki-laki itu lalu duduk di samping Alisia.

__ADS_1


Sejenak dia menatap wajah cantik Alisia cukup lama, lalu dia berbicara dengan nada sedih.


"Wajah cantik ini sekarang sudah jarang tersenyum, kemana senyuman manis itu hilangnya." ucapnya lalu mengusap rambut Alisia pelan.


"Sayang, kamu harus tau kalau aku gak pernah khianatin kamu. Aku selalu mencintai kamu." ucapnya lagi pada Alisia yang masih tertidur.


"Apapun yang terjadi nanti di masa depan, aku harap kamu jangan memilih untuk menyerah dan meninggalkan aku. Aku harap kamu mau berjuang untuk ku sayang." ucap laki-laki itu.


"Kalaupun mungkin nanti aku menyakiti mu, kamu jangan pernah berhenti untuk mencintaiku. Percayalah sayang karena sampai kapanpun cuma kamu yang aku cintai, aku tak bisa berjanji untuk selalu melindungi mu. Karena mungkin saja suatu saat aku adalah orang yang akan menyakiti mu." ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku bisa saja suatu hari nanti menjadi orang yang terjahat didunia ini dan melukaimu, mungkin saja suatu hari nanti aku akan selalu membuat mu terluka dan menangis. Tapi aku mohon demi aku kamu harus bertahan disisiku jika itu semua itu nanti terjadi." ucapnya yang sudah tak dapat lagi menahan airmatanya yang sudah jatuh.


Sedangkan Alisia dari tadi dia sudah bangun, tapi dia memilih untuk pura-pura tidur karena dia sangat penasaran apa yang akan pria ini katakan padanya. Dan semua perkataan pria itu sukses membuat Alisia ingin menangis tapi dia menahannya.


"Aku pergi dulu ya sayang, jaga dirimu baik-baik." ucapnya sambil mengecup pucuk kepala Alisia.


Setelah laki-laki itu pergi cukup jauh Alisia membuka kedua matanya dan menangis, dia amat merasa bersalah karena pilihan nya yang lebih memilih kakaknya dari pada Rey membuat dirinya sendiri terluka.


Laki-laki yang datang tadi itu adalah Rey.


"Apa sekarang sudah terlambat bagiku untuk kembali ke sisinya, aku benar-benar menyesali pilihan ku tersebut. Aku pikir dengan aku memilih kak Irfan dari pada pak Rey aku bisa melupakan pak Rey dengan mudah, tapi ternyata itu malah membuat ku tersakiti karena jauh darinya."


"Aku adalah gadis terbodoh yang pernah ada, aku tersakiti karena pilihan ku sendiri." ucap Alisia sambil menghapus bekas airmatanya.


"Tapi kalau pak Rey tidak mengkhianati ku, jadi siapa perempuan waktu itu." ucap Alisia sambil berpikir.


"Semoga perempuan itu adalah saudaranya." ucap Alisia lagi.


Alisia lalu berjalan menuju toilet untuk mencuci mukanya, didalam toilet dia pun melihat pantulannya dari cermin.


"Gak nyangka kalau gue akan jadi orang yang cengeng cuman karena cinta." ucap Alisia melihat pantulan dirinya dengan mata yang sembab di cermin.


Setelah itu Alisia berjalan menuju kantin untuk menemui sahabatnya.

__ADS_1


"Gimana Al, udah dengar kan penjelasan dari pak Rey." ucap Chaca pada Alisia yang sudah duduk di samping Jimi.


Sekarang Jimi sudah bersahabat dengan kedua sahabat Alisia.


"Maksud lo?" tanya Alisia.


"Lo tadi udah ketemukan sama pak Rey di taman belakang." tanya Chaca.


"Lo tau dari mana kalau dia nemuin gue di taman belakang." ucap Alisia bingung.


"Ya taulah, orang gue yang kasih tau pak Rey kalau lo ada ditaman belakang. Dan gue juga cerita soal cewek yang lo liat di moll waktu itu." ucap Chaca tanpa merasa bersalah.


"Kok lo kasih tau sih." ucap Alisia kesal.


"Ya habisnya gue kasian liat lo murung dan sedih terus, jadi gue putusin deh untuk bantu lo." jelas Chaca.


"Lalu setelah tau kalau itu cuma salah paham keputusan lo apa?" tanya Ikbal.


"Untuk saat ini gue masih ingin sendiri dulu dan menjauh darinya, gue butuh waktu untuk nenangin pikirin gue." ucap Alisia.


"Gue harap lo jangan salah ambil pilihan lagi, ambil la pilihan yang gak buat diri lo sendiri tersakiti." timpal Jimi.


"Pasti, kali ini gue akan lebih mentingin kebahagiaan gue sendiri. Gak peduli kalaupun nantinya gue harus musuhan sama kakak gue sendiri." ucap Alisia.


"Maksud lo, lo mau milih pak Rey ketimbang kak Irfan kakak lo sendiri." ucap Ikbal.


"Kalau memang itu yang harus gue lakuin kenapa nggak." ucap Alisia penuh keyakinan.


"Gue harap pilihan lo kali ini gak akan buat lo menyesal nantinya." ucap Chaca.


"Gue gak akan menyesal dengan pilihan gue kali ini, apapun yang akan terjadi nantinya dimasa depan gue akan tetap milih pak Rey. Gue akan tetap mencintainya, walaupun mungkin gue nanti akan terluka karena pilihan gue ini." ucap Alisia penuh keyakinan.


########

__ADS_1


Gimana semua dengan chepter kali ini, ada yang terharu atau sedih gitu. Kalau author sampai nangis ngetik ini.


Jangan lupa like karena like itu geratis tis tis tis, kalau mau vote juga boleh. Kalian bisa masuk ke grup ya kalau mau chat dengan author.


__ADS_2