
Malam ini Alisia sudah berada di kamar Chaca sahabat nya, ia akan menceritakan nya pada Chaca kecuali tentang dendam kakaknya dan Rey.
"Lo mau cerita apa?" tanya Chaca.
"Tapi lo janji ya jangan ngeledek gu." ucap Alisia.
"Gak ah, kalau seru gue bakalan ngeledek lo." ucap Chaca.
"Yaudah deh gue gak jadi ceritanya." ucap Alisia.
"Yaelah Al, gitu aja lo ngambek." goda Chaca.
"Iya gue janji gak bakalan ngeldek lo." ucap Chaca.
"Kalau seru gue langgar aja janji gue." batin Chaca.
"Bingung gue mau ceritanya darimana." ucap Alisia.
"Lo coba rileks, bayangin disini lo lagi sama orang yang lo sayang." ucap Chaca.
Alisia menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya pelan.
"Lo ingat kan malam itu pak Rey bawa gue pergi dari acara pesta." ucap Alisia.
Chaca mengangguk.
"Malam itu, pak Rey nembak gue Cha." ucap Alisia.
"Ha, serius lo. Kenapa lo baru cerita sekarang sama gue, wah parah lo ya jadi sahabat." ucap Chaca kaget.
"Lo bisa diem dulu gak sih, dengerin aja sampai gue selesai ngomong." ucap Alisia kesal pada sahabat nya itu.
"Iya, sorry kebablasan nih mulut. Terus ceritanya lagi gimana, lo tolak apa udah lo jawab." tanya Chaca penasaran.
"Lansung gue jawab lah, ngapain juga gue gantungin anak orang." ucap Alisia.
"Lo jawab apa, jangan bilang lo nolak dia." tebak Chaca khawatir dan penasaran secara bersamaan.
"Ya kali gue tolak, gue masih waras kali. Gue bilang kalau gue juga cinta sama dia." ucap Alisia.
"Lo udah pastiin hati lo, kalau lo beneran suka sama pak Rey." tanya Chaca.
"Udah, tapi ada sesuatu yang bikin gue pusing." ucap Alisia tak tenang.
"Apaan?" tanya Chaca.
"Minsalkan gini, lo suka sama Ikbal. Tapi kakak lo sama Ikbal punya dendam, nah lo pilih Ikbal atau kakak lo." tanya Alisia.
"Berat sih ini pilihan menurut gue, tergantung sih Al. Kita juga gak bisa paksa ego kita untuk memilih kekasih kita hanya karena alasan kita mencintainya, kita juga harus ingat kalau orang yang paling penting dalam hidup kita itu adalah kakak kita. Pacar bisa dicari kalau hilang, kalau kakak mah saudara kita dari lahir sampai kapanpun tak akan bisa diganti." jelas Chaca panjang lebar.
"Terus gue harus gimana donk." tanya Chaca.
"Lo sendiri yang tau jawabannya Al, ikuti kata hati lo. Dan jangan gegabah buat keputusan, karena kalau salah lo harus kehilangan salah satu diantara mereka berdua. Kalau gak kekasih ya kakak lo." nasihat Chaca.
"Bingung gue Cha." ucap Alisia.
"Menurut gue sih, lo lebih baik dengerin apa kata kakak lo. Karena gak mungkin kan kakak lo tega nyakitin adek yang paling dia sayang, kakak lo ngelakuin itu pasti ada alsannya. Dan itu semua juga demi kebaikan diri lo nantinya." ucap Chaca mencoba untuk memberi solusi pada Alisia.
"Terus kalau gue milih kakak gue, gimana donk sama pacar gue." ucap Alisia.
"Itu sih terserah lo, lo lebih milih kehilangan pacar atau kakak lo." ucap Alisia.
"Ok, gue udah putusin." ucap Alisia.
"Apa keputusan lo?" tanya Chaca.
"Adalah, oh ya lo gak mau tanya gitu kenapa. gue tanya kek gini sama lo." tanya Alisia.
"Gak ah, ntar lo ngamuk lagi dikamar gue. Gue tau lo kan gak suka kalau ada orang yang ikut campur urusan lo." ucap Chaca.
"Lo emang sahabat terbaik gue Cha." ucap Alisia sambil memeluk Cha.
"O iya, gue boleh tanya sesuatu gak?" tanya Alisia sambil melepas pelukan nya.
"Lo suka sama siapa sih, dari dulu gue gak pernah lihat lo dekat sama cowok selain Ikbal." gumam Alisia.
__ADS_1
"Adalah, gak usah kepo lo." ucap Chaca berusaha mengelak.
"Apa jangan-jangan lo suka sama Ikbal ya." tebak Alisia.
"Ma, mana mungkin gue suka sama tuh anak." ucap Chaca gelagapaan.
"Gak usah bohong lo, trus tadi kenapa lo panik gitu. Gue kan cuma asal tebak." ucap Alisia.
"Tau ah, gue mau tidur dulu." ucap Chaca sambil membaringkan tubuhnya.
"Lo pikir lo bisa kabur dari gue Cha." ucap Alisia dengan senyum jahilnya.
Alisia mengambil handponnya dan menelpon seseorang, dia sengaja membesarkan volume handponnya agar Chaca juga dapat mendengarnya.
"Telpon siapa lo sampai di spikerin gitu." ucap Chaca sambil melihat kearah Alisia yang tersenyum.
Alisia melihat kan layar handponnya ke Chaca, dan disana tertera nama Ikbal. Sontak wajah Chaca pun jadi panik bukan main.
"Ngapain lo malah nelpon Ikbal?" tanya Chaca mencoba menyembunyikan kepanikannya.
"Kalau gak lo jawab, gue bakalan bilang kalau lo cinta sama Ikbal." ancam Alisia.
"Iya, iya gue jawab. Tapi matiin dulu." ucap Chaca memohon.
"Kenapa Al lo telpon gue malam-malam, lo kangen sama gue atau gimana." goda Ikbal yang rupanya sambungan telpon sudah terhubung.
"Matiin gak Al." ucap Chaca mulai kesal.
"Bukan gue yang kangen sama lo, tapi nih si Chaca." ucap Alisia.
"Ha, ngapain si gentong kangen gue. Ngaco aja lo Al." ucap Ikbal.
"Enak aja lo bilang gue gentong, awas ya besok lo di sekolah." marah Chaca.
"Udah ah, kok jadi berantem sih kalian." ucap Alisia yang jadinya kesal.
Alisia mematikan handponnya dan sambungan telpon pun terputus.
"Sekarang lo jawab pertanyaan gue, kalau gak gue bakalan bilang ke Ikbal nih." ancam Alisia.
"Jadi lo beneran suka sama Ikbal Cha, gue tadi cuman bercanda doank kok." ucap Alisia yang kaget mendengar pengakuan Chaca.
"Yaudah lah gak usah lo pikirin, biar perasaan gue ini jadi urusan gue." ucap Chaca.
"Tenang Cha, gue akan bantu lo dapetin tu si Ikbal." ucap Alisia.
Paginya di sekolah SMA Dharma Bangsa
"Al, nanti lo ada waktu kan." tanya Jimi pada Alisia di kantin saat jam istirahat.
"Ada, emang nya lo mau ngapain." tanya Alisia.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo." ucap Jimi.
"Ga ada lagi yang perlu diomongin diantara kita." ucap Alisia.
"Plis Al, gue gak bisa jauh dari lo. Gue mau ajak lo nanti ke sirquit." ucap Jimi memohon.
"Udah Al, kasian kak Jimi. Lo turutin aja Al." ucap Chaca.
"Ok, tapi kalau lo maksa gue untuk jawab pertanyaan kenapa gue menolak lo. Gue gak akan pernah mau nemuin lo lagi." ucap Alisia.
"Iya Al, gue janji gak akan tanya lagi alasan lo nolak gue." ucap Jimi senang sambil memeluk Alisia.
"Ha, jadi lo udah ditembak juga sama kak Jimi Al. Wah parah lo gak cerita sama gue." ucap Chaca.
"Diem lo, nyambung aja. Udah kan Jim peluknya, nanti gue dimusihin lagi sama Clara." ucap Alisia mendorong tubuh Jimi.
"Gue udah putus dari dia, jadi lo gak usah takut sama tuh nenek lampir." ucap Jimi.
"Wah parah lo Jim, habis lo pacarin anak orang lo katain dia nenek lampir lagi." ucap Ikbal.
Waktu jam pulang di parkiran sekolah...
Alisia melihat ada Rey di parkiran sekolah, jadi dia memutuskan untuk menemui Rey terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jim, gue ke pak Rey dulu ya." ucap Alisia.
"Yaudah sana, nanti tu orang salah paham lagi sama kita." ucap Jimi.
"Syukur deh lo ngerti dan udah ihklasin gue." ucap Alisia sambil berjalan pergi.
"Kalau gak gue ihklasin yang ada lo menjauh dan gue kehilangan lo Al." batin Jimi.
"Pak, ngapain disini?" tanya Alisia.
"Eh kamu, saya mau pulang. Mau sama gak biar saya antar." tawar Rey.
"Lain kali aja deh, oh ya saya mau bilang kalau saya msu jalan sama teman cowok." ucap Alisia.
"Mau kemana?" tanya Rey.
"Sirquit." jawab Alisia.
"Kamu mau balapan?" tanya Rey.
"Kayaknya sih, memang nya kenapa." tanya Alisia heran.
"Ini yang terakhir, lain kali kamu gak boleh lagi balapan." ucap Rey dengan nada memerintah.
"Yah, kok gak boleh sih." ucap Alisia kecewa.
"Ini buat kebaikan kamu juga sayang." ucap Rey sambil mengacak rambut Alisia.
Pipi Alisia pun merah mendengar Rey memanggil nya dengan kata sayang.
"Kamu kenapa, kok wajah kamu merah gitu." ucap Rey.
"Gapapa kok, yaudah saya pergi dulu ya pak." ucap Alisia sambil berlari meninggalkan Rey menuju mobilnya.
"Kenapa lo lari kayak dikejar hantu gitu." tanya Jimi.
"Gapapa, udah yuk buruan kita ke sirquit." ucap Alisia sambil masuk ke mobil mya.
Sampai di sirquit Alisia balapan dengan Jimi, sama seperti sebelumnya Alisia yang keluar jadi pemenang.
"Lo mau ngomong apa sama gue?" tanya Alisia tak sabar.
"Lo gak capek apa habis balapan, gak mau makan atau apa dulu gitu." ucap Jimi.
"Gak, habis ini gue mau lansung pulang." ucap Alisia.
"Gue mulai sekarang akan berusaha lupain rasa cinta gue sama lo Al, tapi gue gak bisa jauh dari lo. Apa kita bisa kayak dulu lagi, jadi sahabat seperti sebelumnya." ucap Jimi penuh harap.
Alisia terdiam, ia melihat Jimi yang menatap nya penuh harap.
"Tentu, sampai kapanpun lo adalah sahabat gue Jim." ucap Alisia sambil memeluk Jimi erat.
"Dan maaf gue udah kecewain lo, karena gue gak bisa balas perasaan lo Jim." ucap Alisia lagi yang belum melepas pelukannya.
"Iya Al, yang penting lo gak ninggalin gue dan jauhin gue. Asal lo bahagia gue juga bahagia, dan gue akan lakukan apapun untuk bikin lo bahagia." ucap Jimi melepaskan pelukan Alisia darinya.
"Dan maafin karena kemarin gue udah egois dan nyakitin perasaan lo." ucap Jimi tulus.
"Gue udah maafin lo kok." ucap Alisia dengan senyum di wajahnya.
"Walau lo gak bisa buka hati lo buat gue Al, sampai kapanpun dihati gue cuma ada lo. Gak akan ada perempuan lain yang bisa gantiin posisi lo, dan gue akan selalu bikin lo bahagia." ucap Jimi dalam hati.
"Gue cabut ya, udah mau sore soalnya." ucap Alisia.
"Hati-hati ya Al." ucap Jimi.
Alisia pun memasuki mobilnya dan melajukan nya menuju rumah nya, dia sangat senang karena sahabat nya telah kembali lagi untuknya.
**************
Apa nih keputusan yang Alisia sudah tetapkan, milih Rey apa kakak nya Irfan?
Kalian sedih gak sih liat Jimi, dia benar-benar sayang sama Alisia.
Jangan lupa like dan komen nya, karena itu bikin aku semangat buat nulis lagi. Jangan pelit ya buat ngasih like nya....
__ADS_1