
Alisia bangun sedikit terlambat, mungkin kalau mamanya tidak membangunkan nya dia masih tertidur nyenyak saat ini.
Dia heran kenapa mama dan papanya masih dirumah, biasanya jam segini mereka sudah berangakat kekantor.
Dimeja makan sudah tersedia banyak sekali menu makanan, dan semuanya adalah makanan kesukaan Alisia. Siapa lagi yang memasaknya kalau bukan Anggi mamanya, hanya mamanya yang bisa memasak makanan kesukaan gadis itu.
"Makan yang banyak ya sayang, mama udah masak makanan kesukaan kamu." ucap Anggi ke putrinya.
"Tumben mama masak siapa yang mau makan dan ngabisin nya, oh iya lain kali nggak usah bangunin aku ya ma." ucap Alisia.
"Tapi kenapa sayang, itukan udah kewajiban mama buat ngurus kamu." ujar Anggi bingung.
"Kewajiban mama itu ngurus semua keperluan papa dikantor, dan aku ini gak terlalu penting karena yang penting itu uang. Dan uang adalah segalanya buat kalian, mungkin dibanding uang aku gaada artinya sama sekali di mata kalian." ucap Alisia.
Setelah berkata demikian Alisia segera pergi meninggalkan meja makan, dia sama sekali tak menyentuh makanan yang telah dimasak oleh mamanya.
"Sepertinya kita selama ini udah keterlaluan pa, sampai putri kitapun benci sama kita." ucap Anggi ke suaminya.
"Papa ngerasa juga gitu ma, kita selama ini terlalu sibuk dengan urusan kantor sampai kita lupa dengan putri kecil kita." ucap Alex sedih.
"Kita harus perbaikin semuanya pa, sebelum Alisia makin benci sama kita. Dan mama gak mau Alisia jadi anak yang kurang kasih sayang hanya karena kita terlalu sibuk." ucap Anggi.
"Iya ma, papa gak mau Alisia kesepian sehingga dia mencari kebahagiaan diluar sana yang membuatnya salah jalan." ucap Alex setuju dengan istrinya.
Alisia berangakat kesekolah diantar oleh supir barunya, Irfan benar-bena melaksanakan hukuman yang dia katakan. Di perjalanan Alisia cuman diam termenung, dia merasa bersalah karena telah berkata tidak sopan ke mamanya.
Hanya karena kemarahan nya yang tak lagi mendapat perhatian dari orang tuanya karena mereka terlalu sibuk, Alisia malah melampiaskan kekesalan nya dengan perkataan yang mungkin menyakiti perasaan mamanya.
Jujur dia merasa senang karena setelah sekian lama akhirnya mamanya itu peduli lagi padanya, namun ego Alisia terlalu tinggi dan rasa kecewanya terhadap mama dan papanya sudah sangat besar. Jadi wajar jika dia berkata demikian, walau sebenarnya itu sangat tidak pantas untuk diucapkan pada orang tua apalagi dia seorang ibu.
Sampai disekolah Alisia segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju kelasnya, sampai dikelas gadis itu malah tidur. Mungkin karena semalam dia pergi tengah malam, dan tidur saat waktu dekat subuh.
Kring~
Lonceng masuk pun berbunyi, namun Alisia tetap masih tertidur. Tak ada satu orangpun yang berani mengganggu nya.
Guru yang mengajar pun masuk, dan yang masuk adalah guru sejarah. Siapa lagi kalau bukan pria tampan yang mempesona, Rey Swarn.
"Anak-anak, buka buku halaman 145." ucap Rey datar dan dingin.
"Pak, kenapa pakai masker?" tanya seorang siswa di kelas Alisia.
"Saya lagi sakit." jawab Rey singkat.
"Tolong kamu yang lagi tidur bangun." ucap Rey.
__ADS_1
"Al, bangun Al. bangun, nanti lo dihukum sama pak Rey." ucap Chaca mencoba membangunkan Alisia.
"Hoaam, apaansih ganggu aja." jawab Alisia dengan mata yang masih terpejam.
Semua mata melihat ke arah Alisia.
"Woi bangun ogeb, lo jadi tontonan tuh sama-sama orang." ucap Ikbal.
"Iya-iya gue bangun nih, berisik banget ada apaan sih." tanya Alisia seperti orang bingung.
"Liat kedepan." perintah Ikbal.
Sontak Alisia menolehkan pandangan nya kedepan, dan betapa kagetnya dia. Semua orang melihatnya dengan tatapan aneh, lalu dia melihat ada seorang pria yang menatapnya dengan dingin dan datar. Siapa lagi kalau bukan Rey.
"Ngapain lo semua pada liatin gue." ucap Alisia kesal.
"Kamu tau sopan santun kan nona Alisia, kalau tau tolong bersikap yang baik." ucap Rey.
"Gue seharusnya yang nanya kaya gitu ke lo, lo tau sopan santun dan cara menghormati perempuan kan." tanya Alisia, lalu dia berdiri dari duduknya.
"Maksud kamu?" tanya Rey bingung.
"Cih, gak usah pura-pura lupa lo. Lo pikir gue akan semudah itu ngelupain perbuatan me*um lo, gak ya. Gue pasti akan bales perbuatan lo ke gue." ucap Alisia merendahkan.
Setelah berkata seperti Itu, Alisia berjalan keluar dari kelasnya. Semua orang menatapnya bingung, orang-orang tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
Tapi kenapa gadis itu begitu benci padanya, apa kesalahan yang dia lakukan sehingga membuat gadis itu begitu marah.
Alisia pergi ke Rooftop, satu-satunya tempat yang membuat dia tenang ketika ada masalah. Dan jangan lupakan kebiasaan nya yaitu merokok.
"Ngerokok lagi lo Al." ucap Jimi yang baru tiba.
"Diem bisa gak sih, bacot mulu tu mulut lo." ucap Alisia.
"Kenapa lo, sensi amat jadi orang. Lagi pms ya." tanya Jimi.
"Bukan urusan lo Bambang." ucap Alisia kesal.
"Yaudah deh, dari pada gue disembur mulu mendingan gue diem aja." ucap Jimi mengalah.
"Oh iya Al, minggu depan gue ada tanding basket lawan SMA Garuda. Lo datang ya semangatin gue, jangan semangatin lawan." ucap Jimi.
"Ngapain juga gue semangatin lawan lo, kurang kerjaan banget." jawab Alisia.
"Bisa aja kan Al, secara lawan gue ini Haikal." ucap Jimi.
__ADS_1
"Jadi SMA Garuda itu sekolahnya Haikal, yaudah gue bakalan dateng dan jadi suporter dia." ucap Alisia semangat.
"Baru juga dibilangin, jangan gitu donk Al lo kan temen gue." ucap Jimi memelas.
"Iya-iya, gue bakalan dukung lo kok. Gue cabut dulu ya." pamit Alisia.
"Lo mau kemana lagi, baru juga kita ketemu." teriak Jimi.
"Ada urusan." ucap Alisia dari jauh.
"Woi Al, urusan apaan." panggil Jimi.
Tapi Alisia tak memperdulikan panggilan dari Jimi.
Alisia membuka handponnya lalu menguhubungi seseorang.
"Ketemu di gudang belakang." perintah Alisia.
"Ok." jawab orang dari seberang telpon.
Lalu sambungan telpon pun mati, dan Alisia berjalan menuju gudang. Ternyata orang yang janjian dengan Alisia sudah sampai duluan di lokasi, lalu Alisia berjalan ke arahnya.
"Gue pengen lo lakuin rencananya sekarang." Perintah Alisia ke orang itu.
"Apa yang harus gue lakuin?" tanya nya.
"Lo cukup ambil foto Rey tanpa masker, lalu lo cuci dan tempel di mading. Oh ya, jangan lupa kasih tulisan "Manusia yang suka mencium bibir para gadis" dan selebihnya terserah lo mau tulis apa. " ucap Alisia.
"Ok." jawabnya.
"Ini bayaran buat lo, dan selebihnya nanti gue kasih kalau lo udah berhasil." ucap Alisia.
"Thanks Al." jawabnya, lalu orang itupun segera pergi meninggalkan gudang.
"Lo tunggu pembalasan gue Rey, gue bakalan bikin lo malu di depan banyak orang." ucap Alisia dengan tersenyum senang.
****
**hai-hai maaf ya aku telat update, soalnya aku lagi persiapan untuk Creazy Up. Jadi sabar ya semuanya....
Coba tebak Alisia ketemu siapa di gudang.
follow @alfaazzahra\_2373**
__ADS_1