Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Ceraikan Aku!


__ADS_3

Rumah Sakit Husada Utama


“Sudah Mama bilang sejak dulu, jangan menikah dengan wanita ini! Sudah yatim piatu, tidak jelas bebet-bobotnya, sakit-sakitan, mandul pula!”


Begitu tiba di rumah sakit, mendengar cerita Dimas tentang Karina yang jatuh pingsan setelah menangkap basah dirinya di kamar hotel, hinaan tak berhati nurani itu lolos begitu saja dari mulut Maya Anggraeni, ibunda dari Dimas.


Sejak dulu hubungan Karina dan Dimas memang tidak mendapatkan restu dari Maya. Namun, Poernama Soebono, ayah Dimas, malah menyetujuinya, dan mengatakan bahwa anak laki-lakinya berhak menikah dengan wanita yang ia pilih dan ia cintai.


Dimas membuang napas berat, dia hanya mendengarkan ibunya seperti angin lalu.


“Sekarang begini kan jadinya ... sudahlah, ceraikan saja istrimu itu!” tambah Maya tanpa perasaan.


“Tapi, Ma ....”


“Oh, iya, Mama juga sudah tahu latar belakang sekretarismu itu. Dia terlahir dari keluarga terpandang, dan berpendidikan tinggi. Tidak seperti istrimu itu yang hanya tamatan sekolah menengah!” Maya menunjuk Karina menggunakan dagu, sembari menatap sinis menantunya yang berbaring tak berdaya di atas brankar pasien.


Maya mendapatkan informasi tentang Nadia dari adik Poernama, yang juga merupakan salah satu petinggi di Soebono Group.


“Cepat ceraikan wanita tak berguna itu, nanti biar Mama yang mengurus semuanya!” suruh Maya lagi.


Dimas menggelengkan kepala, “Tidak! Dimas tidak mau bercerai dari Karina, Ma ....”


“Dasar bohoh! Apa gunanya mempertahankan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga kita!”


Dimas tidak bisa menjawab, selalu saja topik yang sama, dan itu membuatnya lelah.


Kesal melihat anaknya yang keras kepala, Maya memutuskan untuk pulang.


Namun, sebelum meninggalkan Dimas, dia masih sempat mengeluarkan ancaman, “Jika kau tetap tidak mau menceraikan wanita tidak berguna itu, jangan pernah panggil aku Mama lagi, Dimas!”


"Ma," panggil Dimas.


Namun, wanita paruh baya berpenampilan glamor itu tidak menghiraukan, dia pun berlalu begitu saja.


“Sial!” Dimas mengumpat keras.


Ancaman dari Maya membuatnya pusing bukan kepalang, Karina adalah wanita yang dicintainya dan ia tidak mau berpisah.


Dimas melirik ke arah Karina, sebenarnya wanita ini sudah sadar sejak kedatangan Maya tadi, dan ia mendengar semua yang dikatakan mertuanya tersebut.


Sungguh sakit rasanya, setelah menerima pengkhianatan dari suami, dia masih harus mendapat bonus hinaan dari mertua.

__ADS_1


Apa dunia memang sekejam ini?


Melihat Karina yang sudah bangun, Dimas mendekat dan menyentuhnya. “Sayang, sukurlah, kamu sudah ba- ....”


“Jangan sentuh aku!” Karina menepis tangan suaminya.


Dimas menghela napas panjang, dia sadar telah melakukan kesalahan yang fatal, sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan pada wanita yang mencintainya dengan tulus.


“Maafkan aku, Ka- ....”


“Jika aku selingkuh dengan lelaki lain, apa itu tidak masalah bagimu, Mas? Seperti kau selingkuh dengan wanita itu?” Karina memotong ucapan Dimas, seraya memandangi suaminya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dimas terperanjat. "Apa maksud kamu?"


"Jangan pura-pura bodoh, Mas. Kamu pasti paham betul apa maksudku," desis Karina.


Dimas hanya terdiam, dia tidak mau membahas masalah sensitif itu, terlebih mengingat kondisi Karina yang baru saja siuman.


Beberapa saat kemudian, wanita yang hatinya tercabik-cabik akibat perbuatan Dimas ini berusaha turun dari ranjang pasien.


Melihat Karina kesusahan, Dimas ingin membantu. Namun, Karina kembali menepis tangan Dimas dan memberikan tatapan tajam.


Karina benar-benar kecewa dengan perbuatan Dimas, bahkan membuatnya enggan berada di dekat suaminya tersebut.


Bibirnya gemetaran dan tangannya mengepal, ingin rasanya ia memukul wajah pengkhianat itu sampai berdarah-darah.


‘Brengsek kamu, Mas! Dasar lelaki bajingan!’ Karina membatin.


Mereka memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah dan sudah berada di kamar, Karina masih terus mendiami suaminya, hati yang terlalu sakit membuatnya enggan bicara.


Dimas mendekati Karina, dia tidak tahan berlama-lama diabaikankan seperti ini. “Karin, Sayang, apa kau masih tidak ingin bicara padaku, aku sudah minta maaf ....”


Karina mendengus seraya menghunus tatapan tajam, "Kamu pikir setelah minta maaf, semuanya akan selesai begitu saja, iya? Tidak punya otak kamu, Mas!"


“Karin, aku mohon maaf, aku khilaf!"


Karina bedecak kesal. "Ck, yang namanya khilaf itu satu kali, Mas. Ini bukan yang pertama kamu mengkhianati rumah tangga kita. Ayo jujur kamu, Mas!"


"Karin, aku berani bersumpah, ini yang pertama, sebelumnya aku tidak pernah bermain gila di luar!"

__ADS_1


Tuhan, ringan sekali mulut itu menyatakan sumpah, apa dia tidak takut terkena keparat?


Karina tertawa hambar. "Jangan sembarangan mengatakan sumpah, Mas. Aku sudah tahu semuanya, aku tahu kamu juga pernah menggoda Amelia!"


Dimas mengerutkan dahi. ‘Kenapa Karin bisa mengetahuinya?’ tanyanya dalam hati.


Karina menatap Dimas dengan sorot mata membunuh.


"Kenapa, Mas? Kamu terkejut aku mengetahui semua kebusukan kamu di luar sana, iya? Asal tahu saja, Mas. Kemarin aku ke kantor kamu dari siang, aku mengikuti kamu pergi ke club, sampai akhirnya aku kehilangan jejak!"


"Kalau benar khilaf, sudah pasti siangnya kamu tidak pergi check in lagi. Kamu itu bukan khilaf, tapi sudah kecanduan selingkuh!" sindir Karina.


Dimas terperanjat, dia tidak menyangka Karina sudah tahu begitu banyak. Seketika Dimas memutar kembali ingatannya, suara benda yang jatuh saat di kantor, apa itu disebabkan oleh istrinya?


Dalam hal ini Dimas tidak bisa lagi berkelit, tapi bukan Dimas namanya jika tidak berusaha melempar kesalahannya pada orang lain.


"Iya, benar, aku memang bersama Nadia semalam, tapi asal kamu tahu, semua itu terjadi karena kamu tidak bisa memenuhi kebutuhanku dengan baik!"


Karina melotot “Tidak bisa memenuhi kebutuhan kamu bagaimana maksudnya?"


"Sadar, Karin ... sadar, kamu tidak bisa memuaskan aku di ranjang, kamu pasif, kamu juga sering menolak diajak berhubungan!"


Karina terbelalak, kenapa malah dia yang disalahkan?


"Apakah kau pernah berpikir sedikit saja, Mas? Apa kamu tahu kenapa aku menjadi pasif? Karena kamu kasar! Apa kamu tidak sadar seperti apa caramu saat kita berhubungan akhir-akhir ini? Kamu hanya memikirkan kepuasan sendiri, tanpa memikirkan aku yang kesakitan!"


"Ke mana? Ke mana perginya Dimas yang dulu lembut?"


Mengingat bagaimana Dimas memperlakukannya di atas ranjang akhir-akhir ini, membuat Air mata Karina mengalir dengan begitu deras.


Dimas terkadang menjelma seperti iblis saat di atas ranjang. Demi kepuasan batinnya, dia tidak segan meperlakukan Karina seperti budak belian, tangannya diborgol, mulutnya disumpal, bahkan Dimas sering memasukkan mainan yang ia beli entah dari mana ke dalam area sensitif Karina.


Lalu setelah semua yang ia lakukan, dia masih ingin menyalahkan istrinya?


Dimas mengacak-acak rambutnya dengan kasar. "Karin, aku benar-benar minta maaf, kamu tahu sendiri kenapa aku melakukan itu. Aku frustasi, aku kesal karena kamu tidak juga mengandung."


Karina berdecih. "Enak sekali kamu, Mas. Dengan alasan frustasi kamu memperlakukan aku seperti binatang. Memangnya aku ini kamu anggap apa? Budak? Atau p3lacur?"


"Sudahlah, Mas. Lebih baik kita akhiri saja semua ini. Ceraikan aku, Mas ... ceraikan aku sekarang juga!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2