
Karina terbelalak dengan pernyataan Farrel kepadanya. Sungguh ia sangat terkejut.
Benar kata orang, cinta sejati akan datang di waktu yang tepat bersamaan dengan kondisi hati terluka.
Wanita yang belum genap bercerai sebulan ini, dilamar dengan lelaki tak diduganya.
“Aku sudah sangat lama mencintaimu, Karin. Untuk saat ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, aku ingin jiwaku dan jiwamu menyatu dalam ikatan janji suci, pernikahan,” ujar Farrel dengan bola mata berkaca-kaca.
“Aku butuh jawabanmu sekarang juga, Karin. Tolong katakan iya atau tidak,” lanjut lelaki tampan itu sangat penasaran.
Menurut Farrel menyatakan hal ini sangat berat, ia merasa berada di sebuah tebing begitu juram. Antara hidup dan mati.
Karena begitu terkejut, Karina terpaku diam. Mulutnya terbuka beberapa senti, dan matanya masih membesar tak mampu mengalihkan pandangan.
Apakah lamaran Farrel begitu cepat baginya?
Farrel masih tersenyum sumringah mempertahankan kondisi hatinya yang juga berdegum kencang.
Namun, Karina tetap diam. Ia sama sekali tidak mengubris permintaan Farrel itu.
Hah!
‘Ternyata di menolakku!’ celetuknya sedikit kecewa dalam hati.
‘Aku harus berjuang lebih keras untuk meyakinkan dirinya, bahwasanya aku ingin membahagiakan hidupnya.’ Farrel melanjutkan monolog dalam batin.
Dengan begitu pelan, Farrel menurunkan kotak cincin permatanya yang ia bawa. Lelaki itu kembali menutupnya, tapi Karina mencegah.
“Kenapa? Kenapa kau menutup kotak itu?”
Lirih suara Karina membuat Farrel terkejut dan kebingungan.
“Bukannya kau menolakku, Karin?”
“Siapa yang bilang, jika aku menolakmu? Aku mau menjadi istrimu, Farrel Pramana!”
Jawaban itu membuat lelaki yang telah menunggu sekian lama ini terharu, ia meneteskan air matanya.
__ADS_1
Lalu ia memakaikan benda tersebut dilingkaran kecil jari manis Karina, sebagai tanda bahwa Farrel adalah calon suami wanita cantik itu.
Farrel menangis sendu dan berucap di samping telinga wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri sahnya.
“Terima kasih, Karin. Aku tidak bisa mengatakan apa pun kali ini, tapi yang jelas aku sangat bahagia sekali.” Farrel memeluk erat tubuh mungil Karina.
“Seharusnya aku yang mengucapkan hal itu, Farrel. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Yang membuat hatiku luluh adalah kau masih sabar menungguku, meski itu dalam kurun waktu yang bisa dibilang tidak cepat dengan pengorbanan tidak mudah,” tutur Karina sembari menepuk-nepuk pelan pundak calon suaminya.
“Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu, Karina mustika!” Farrel semakin erat memeluk Karina.
“Hu’um, aku juga, Farrel Pramana!”
Jawaban singkat dari Karina, akhirnya bisa mempersatukan dua jiwa yang tidak pernah bersama sejak dulu.
Penantian dan perjuangan Farrel tidak sia-sia selama ini. Cinta tulusnya kepada mantan adik kelas yang merupakan cinta pertamanya itu menemukan titik terang kebahagiaan.
Mereka memutuskan untuk menikah besok siang secara tertutup di gedung mewah pribadi milik keluarga Pramana.
Tentu saja hal ini sangat disetujui oleh kedua orang tua Farrel.
Di lain sisi, Dimas mendengar desus itu dari orang suruhannya.
“Apa?” teriak Dimas begitu keras.
Sreet!
Dengan brutal ia melepas jarum infus dan mengacak-ngacak perban yang melilit di kepalanya.
“Sial! Kalian memang manusia terkutuk tak tahu diri! Bagaimanapun caranya, aku akan tetap merebut Karin dari Farrel, meski nyawa sebagai taruhannya!”
Mata Dimas benar-benar merah, ia begitu kesal dengan keputusan Karina yang begitu cepat bisa melupakannya.
“Memang kau wanita ******, Karin. Belum saja lama bercerai denganku, malah saat ini kau akan menikah bersama sahabatku sendiri! Di mana hatimu yang begitu tulus dan mencintaiku?” gumamnya.
“Kau begitu mudahnya melupakan kisah yang selama ini kita jalin. Aku sungguh mencintamu, Karin. Aku tidak akan melepaskanmu dengan lelaki lain, kau tetap menjadi milikku satu-satunya!”
“Tolong siapkan mobil untukku, aku ingin menemui wanita ****** itu!” suruh Dimas.
__ADS_1
“Tapi Tuan, kondisimu masih belum pulih total. Aku di pinta Tuan Poernama untuk menjagamu,” ujar orang kepercayaan keluarga Soebono.
Dimas menoleh dengan sadis.
“Sekarang aku adalah Tuanmu! Kau mendengarkan perintah Papa atau perintahku, hah?” bentak Dimas.
Lelaki itu segera menyiapkan mobil atas perintah tuannya.
Masih menggunakan pakaian pasien, Dimas bersikeras untuk menemui mantan istrinya di mansion Farrel.
Namun, Dimas tidak segera masuk ke dalam. Ia sengaja menunggu Karina di depan pintu gerbang pinggir jalan raya.
Jika ia masuk ke dalam, tentu saja ada Farrel yang selalu menjaga Karina.
Lelaki yang pikirannya sudah gelap ini, melancarkan sebuah rencana licik.
Ia menghubungi Karina dengan nomer ponsel tanpa nama. Dimas juga menyamarkan suaranya menggunakan suara anak kecil yang meminta tolong.
“Tante, tolong aku. Aku sekarang ada di depan pintu gerbang untuk meminta makanan, aku sangat kelaparan. Aku adalah salah satu anak dari panti asuhan yang sering Tante datangi waktu itu, tapi Tante janji ya harus datang sendiri tanpa mengajak siapapun!”
Tut! Tut!
Dimas tahu kelemahan Karina, wanita cantik itu hanya lemah dengan seorang anak kecil.
Benar saja, tanpa menunggu lama. Orang yang ia tunggu datang dengan membawa makanan begitu banyak.
Heh!
Dimas tersenyum remeh, ia masih memuji wanita yang memang memiliki hati bagaikan bidadari itu.
“Kau adalah wanita sangat baik yang pernah aku temui di dunia ini, Karin. Tapi aku tidak rela kau dengan lelaki lain, meski di kehidupan ini kita tidak dapat bersama, aku akan membawamu ke kehidupan setelah kematian!”
Tanpa berpikir panjang, Dimas menancapkan gas dengan kekuatan penuh.
“Aaaaaaaa!” teriak Karina.
Duubbrraaaakk!
__ADS_1
Bersambung.