Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Bujukan Dimas


__ADS_3

Permohonan dari Poernama membuat Karina terdiam, ia menoleh ke arah Farrel yang sejak tadi memperhatikannya.


Lelaki itu tersenyum tipis, sembari mengangguk pelan mengarah wanita yang sangat dicintainya.


Yang mengartikan Karina berhak untuk menjengguk mantan suaminya.


Kali ini Karina harus menurunkan ego dalam diri, meskipun perbuatan Dimas belum bisa disembuhkan dalam hati, bahkan tidak akan bisa sembuh seutuhnya.


Melihat raut wajah seorang ayah dan ibu begitu khawatir dengan putra satu-satunya itu, Karina pun mengangguk walaupun seperti terpaksa.


“Baik, Pa. Karin akan menjengguk Mas Dimas.”


“Aku juga ikut,” sahut Farrel.


Kesabaran Farrel untuk bisa memiliki Karina begitu berat. Meski Dimas, lelaki yang tidak bisa menjaga Karina dengan baik, tapi dia adalah sahabat Farrel juga.


Tidak menunggu lama lagi, mereka berempat segera menuju ke rumah sakit.


Tampak Maya begitu bahagia, ketika Karina mau menuruti permohonan suaminya tersebut.


Dalam posisi ini, Poernama juga tahu pasti Karina tidak akan pernah mau bertemu dengan putranya kembali.


Namun, wanita itu tetaplah Karin yang memiliki kerendahan hati melebihi batas.


Poernama begitu kecewa dengan Dimas. Bisa-bisanya ia melakukan hal tersebut kepada wanita seperti Karina.


Ketika melihat raut wajah mantu yang sangat disayanginya, Poernama sakit karena ia tahu segala senyum yang ditunjukkan Karina hanya lah kepalsuan.


‘Karin, maafkan Papa ya. Papa telah membesarkan putra yang tidak tahu akan kesetiaan, maaf bila putra Papa telah banyak menyakitimu ya, Nak!’ Poernama bermonolog.


Dalam perjalanan menuju parkir mobil, tiba-tiba Karina merasa mual. Ini diakibatkan karena ia sedang mengalami ngidam untuk anak pertamanya yang sedang ia kandung.


Karina berlari kecil ke tepian, dengan repleks Farrel segera mendekatinya.

__ADS_1


Lelaki tampan ini menyentuh leher bagian belakang Karina.


Farrel juga selalu membawa minyak kayu putih di kantongnya. Ia selalu berjaga-jaga setiap waktu jika Karina merasa mual, maka ia bisa memberikan penetral untuk meredakan mual wanita tersebut.


“Nak, kau kenapa? Apakah kau sedang sakit?” tanya Maya cemas kepada Karina.


Wanita ini hanya menggelengkan kepala saja, wajahnya pucat tanpa disadari Poernama telah mengetahui apa yang terjadi.


‘Apakah Karina sedang mengandung?’ tanya Poernama, namun sengaja ia menahan pertanyaan itu dalam hatinya saja.


Sampai di rumah sakit, tatapan mata Karina redup. Ia melihat suaminya kini berteriak kencang tak tentu arah memanggil-manggil namanya.


“Karin! Karin ... kau di mana? Maafkan aku! Aku sangat mencintaimu, Karina Mustika!”


Air mata Karina menetes, langkah kakinya menuju mantan suaminya.


Namun, Farrel menarik tangan Karina. Seakan ia tidak ingin wanita itu jauh dari dirinya.


Kini, Farrel sedikit egois. Ia tidak ingin Karina lepas dari genggamannya lagi.


Karina pun berucap sembari memegangi tangan Farrel. “Bagaimana pun juga, ia adalah lelaki yang pernah bersamaku dulu, Farrel.” Karina melepas tangan lelaki itu seraya tersenyum.


Farrel tidak bisa berbuat apa pun, ia hanya bisa terdiam dan menghormati tindakan yang dilakukan Karina.


“Mas Dimas, sadarlah Mas. Ini aku, Karin,” ujar wanita itu menepuk tangan suaminya yang tengah berbaring di atas brankar.


Mendengar suara istrinya, Dimas segera membuka mata. Ia memeluk erat Karina dan menangis sendu.


“Karin, maafkan aku ya. Aku salah, maaf bila selama ini aku telah menyakitimu,” tutur lelaki itu sembari meneteskan air matanya.


Apa yang Farrel rasakan saat ini sungguh sakit. Hatinya seperti di tusuk beberapa jarum begitu perih rasanya.


Sekuat hati Farrel hanya bisa tetap tegar, ia merasa cinta pertamanya akan kembali bersama Dimas.

__ADS_1


Apakah setelah ini berjuangannya akan kandas begitu saja? Apakah Karina yang merupakan cinta tulus Farrel akan kembali dengan orang yang dicintainya?


Hah!


Farrel mengangkat wajah, pandangannya kini menatap dinding di atas. Sengaja ia lakukan itu, karena air mata lelaki ini ingin jatuh.


‘Tahan Farrel, kau bukan anak SMA lagi!’ celetuknya dalam hati agar ia tidak menangis.


Farrel benar-benar merasa cemburu!


“Sayang, aku sangat mencintaimu. Rasanya sungguh sulit sekali ketika kau jauh dariku, aku mohon tetaplah seperti ini!” tutur Dimas kembali begitu manja.


Di ruangan tersebut hanya ada Farrel, Karina dan Dimas. Poernama dan Maya sengaja tidak ikut ke dalam, karena kedua orang tua itu ingin memberikan kesempatan bagi mereka bertiga.


Karina tidak menjawab perkataan dari Dimas sama sekali. Ia hanya diam, sejak tadi ia memikirkan perasaan Farrel.


“Sayang, kenapa kau diam saja? Tidakkah kita bisa mengulang masa indah itu? Aku sungguh menyesali perbuatanku! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi?” ungkap Dimas yang masih belum menyadari ada Farrel dipojokan sedang memperhatikan mereka berdua.


“Setelah melakukan hal itu, aku benar-benar menyesal, Sayang! Aku mohon kembalilah ya kepadaku.” Dimas masih belum menyerah untuk menyakinkan Karina.


Farrel hanya bisa menghembuskan napas, menahan rasa sakit yang sudah membeludak.


Karina memegangi bahu Dimas, ia melepas pelukan erat suaminya.


“Mas, sebenarnya aku tidak ingin semua ini terjadi. Namun, aku hanyalah manusia yang memiliki batas kesabaran. Maaf, kali ini aku tidak bisa menuruti apa yang kau perintahkan. Aku kemari hanya mengikuti suruhan Papa dan Mama saja untuk menjengukmu, selebih itu status kita tetap lah hanya mantan suami istri!” tegas Karina.


Dimas baru menyadari keberadaan Farrel yang berdiri memperhatikannya.


“Apa karena Farrel kau tidak ingin kembali?”


Belum sempat menjawab pertanyaan mantan suaminya, Karina kembali mual dan itu membuat Dimas curiga.


‘Apakah dia mengandung?’

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2