
Plaak!
“Tidak, Karin. Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" bentak Dimas seraya melayangkan tamparan keras.
Karina meringis kesakitan, ini memang bukan kali pertama suaminya berbuat kasar, lalu setelahnya menyesal, mengaku khilaf, dan memohon maaf.
Sikap kasar yang sering diterima Karina dengan alasan khilaf, bisa ia maafkan. Namun, kenyataan bahwa Dimas juga bermain gila bersama wanita lain, sulit untuk ia terima.
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Mas! Apa maumu sebenarnya, hah? Jika kita bercerai, Kau bisa sesuka hati bersenang-senang dengan banyak wanita di luar sana, itu 'kan yang kamu inginkan! Ah, ya, ibumu juga ingin kita bercerai, bukan? Ya sudah, ceraikan aku sekarang!" raung Karina.
Karina sudah lelah menjalani kehidupan yang dari luar terlihat sempurna, tapi kenyataannya bagai di neraka ini.
Bagi Karina, bercerai adalah jalan terbaik, tekatnya pun sudah bulat.
Dimas menggeleng. “Tidak, Aku tegaskan sekali lagi kepadamu ya, Karin. Aku tidak akan melepaskanmu!"
Setelah berkata seperti itu, Dimas pun pergi entah kemana.
Kini di rumah megah itu tinggallah Karina sendiri, menangis meratapi nasib.
Tidak tahu harus berbuat apa, Karina juga memutuskan untuk pergi, sekedar mencari angin segar.
Mungkin di luar sana bisa menghilangkan sedikit kegundahan yang dirasakan sekarang, pikir Karina.
“Nyonya Karina, mau kemana?” tanya pak Bagus, ketika melihat majikannya keluar dengan wajah sembab.
“Aku mau keluar sebentar, Pak. Tidak perlu diantar, aku sedang ingin sendiri."
Pria ini tahu majikannya tersebut baru saja bertengkar, jadi dia tidak membantah saat Karina menolak untuk diantar.
Karina pergi ke sebuah taman bunga, tempat ini penuh dengan kenangan antara dirinya dan Dimas.
Saat itu Dimas adalah sosok pemuda lembut yang penuh perhatian, bukan lelaki egois yang ingin menang sendiri seperti sekarang.
Karina duduk di sebuah bangku panjang, dia memeluk lutut sendiri dan menangis sekencang mungkin. Hanya dengan begini perasaannya bisa menjadi lebih tenang.
“Kau jahat, Dimas! Kenapa kau dulu memilihku? Bila kau kini menyakitiku? Kau adalah lelaki yang sangat kucintai, tega sekali kau melakukan hal ini kepadaku, Dimas!” isak Karina tergugu.
Puas menangis, Karina menghapus air matanya. Dia memindai keadaan di sekitar, belum banyak yang berubah dari taman ini sejak ia dan Dimas masih berstatus sepasang kekasih. Yang telah berubah hanya sikap Dimas saja.
"Karin, kau Karina, bukan? Sudah lama sekali kita tidak bertemu!"
Suara yang akrab di telinga itu membuat Karina menoleh ke samping, dia termenung sejenak ketika melihat sosok lelaki tampan yang kini duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Kau?” Karina mengira-ngira, dia merasa lupa-lupa ingat, sebab sudah tidak pernah bertemu lelaki ini selama kurang lebih enam tahun.
Melihat keterkejutan di wajah Karina, lelaki ini menampakkan seringaian jahil. “Iya, aku Farrel. Farrel Pramana. Kenapa? Aku semakin tampan, bukan? Jangan memandangiku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta padaku!"
Pernyataan Farrel yang over percaya diri itu berhasil membuat Karina tertawa lepas, meski sebenarnya ia sedang berada di titik yang sangat menyedihkan.
Karina melirik Farrel seraya memutar bola mata. "Farrel, percaya diri itu bagus, sadar diri itu harus!"
Karina tidak habis pikir. Sekian lama tidak bertemu, kakak kelasnya yang juga teman dekat Dimas ini tidak berubah sama sekali, malah sekarang semakin over percaya diri saja.
Memang benar, Farrel adalah siswa paling tampan dan paling penuh pesona di sekolah Karina dulu. Dia adalah idola setiap gadis, yang setiap langkahnya selalu mengundang tatapan penuh minat dari para siswi, terkecuali Karina.
Meski berteman akrab dengan Dimas semasa sekolah, tapi keduanya memiliki perangai yang jauh berbeda. Dimas adalah sosok pemuda kalem, baik, pintar, dan selalu menjadi langganan juara kelas.
Sedangkan Farrel adalah begundal yang hampir setiap hari harus absen ke ruangan guru BK. Bahkan salah satu temannya pernah bilang, Farrel pasti bisa datang ke ruangan BK dengan mata terpejam.
Tidak hanya bandel, Farrel juga dikenal sebagai playboy cap biawak, yang hampir setiap harinya berganti pacar.
Sejak lulus SMA, Farrel memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke London, dan sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
“Sejak kapan kau balik ke Surabaya?” tanya Karina.
“Baru beberapa hari, aku baru saja selesai wisuda," jawab Farrel.
Farrel menyangkal dengan gelengan tangan. "Jangan asal menuduh, Girl! Aku memang 6-tahun di London, tapi aku di sana sampai menyelesaikan S2!"
Karina menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah?"
Farrel mengangguk dengan bangga. "Tentu saja, aku bukan Farrel yang dulu lagi!"
Saat Karina menoleh sepenuhnya, barulah Farrel yang duduk di sebelah kanan Karina itu menyadari, bahwa pipi sebelah kiri Karina bengkak, dan bahkan masih menyisakan jejak telapak tangan.
Ada juga jejak air mata yang menandakan Karina baru habis menangis.
Tanpa meminta izin si empunya wajah, Farrel langsung menangkup wajah Karina. "Siapa yang melakukan ini padamu?"
"Ini bukan apa-apa, kau tidak perlu tahu!" Karina menepis tangan Farrel.
Bagi Karina, aib rumah tangganya adalah sesuatu yang harus ia simpan sendiri, tidak boleh ada orang luar yang tahu.
Farrel kenal betul watak Karina, dia bukanlah wanita yang bisa dipaksa, sebab itu Farrel tidak lagi membahas masalah lebam di pipi Karina.
"Oh, ya, bagaimana hubunganmu dengan Dimas?" tanya Farrel mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kami sudah menikah, sudah tiga tahun malah," jawab Karina.
Farrel mengulurkan tangan. "Selamat ya, maaf aku tidak sempat datang pada saat resepsi kalian."
Sebenarnya jawaban Karina itu secara alami membuat dada Farrel terasa sesak. Satu-satu gadis yang pernah menolaknya itu ternyata sudah dipersunting sahabatnya sendiri.
Dia terlambat!
"Kalian berdua memang pasangan yang serasi. Jarang-jarang ada orang yang pacaran sejak sekolah, bisa langgeng sampai menikah," ujar Farrel.
Karina memaksakan dirinya untuk tersenyum, "Terima kasih."
Hampir dua jam mereka bertukar cerita, mengenang kembali saat-saat remaja. Tak lama setelah itu mereka pun meninggalkan taman bunga tersebut.
Farrel mengantar Karina sampai ke rumah, tidak mampir lagi dan langsung pamit pulang.
Dalam perjalanan pulang, Farrel kembali teringat pipi Karina yang bengkak, ditambah status Karina yang sudah menikah, membuat Farrel mulai menebak sendiri apa yang terjadi.
"Apa itu perbuatan Dimas, ya?" tanya Farrel pada diri sendiri.
Keesokan harinya.
Dimas dan Karina masih belum berbicara satu sama lain.
Pagi-pagi sekali Dimas berangkat ke kantor, dia harus menyelesaikan proposal untuk proyek barunya di negara tetangga, deadlinenya sudah tidak lama lagi.
Pada saat ingin memasuki ruangan, Nadia menyambut Dimas dengan senyuman menggoda. “Pagi, Sayang,” sapanya.
Dimas membuang muka, bahkan tidak ingin menoleh pada wanita yang telah membuat rumah tangganya hampir hancur itu.
“Pak Dimas, apa ada hal yang membuatmu murung seperti ini?” tanya Nadia yang ingin terlihat perhatian.
Dimas tidak menjawab, dia melangkah lurus memasuki ruangan. Duduk di kursi kebesarannya, lalu berfokus pada berkas-berkas yang menumpuk di atas meja.
Cklek!
Pintu ruang kerja Dimas mengayun terbuka. Dimas mendongak dengan wajah kesal karena berpikir yang masuk itu adalah Nadia, Sedetik kemudian wajah Dimas berubah sumringah karena ternyata yang datang adalah Farrel, teman karibnya yang lama tidak bertemu.
Dimas keluar dari balik meja kerjanya untuk menyambut Farrel. “Waah, kapan kau pulang Bro? Kenapa kau tidak mengabariku lebih du- ....”
Buugghh!
Sapaan Dimas tidak sampai selesai, sebab bogem mentah Farrel sudah lebih dulu mendarat di rahangnya.
__ADS_1
Bersambung.