Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Jeruji Besi


__ADS_3

Dari balik pintu muncul sosok yang Dimas kenali.


Sosok itu mengangkat dagu dan menatap sinis ke arah lelaki yang telah bertindak melawan hukum.


“Farrel?” gumam Dimas begitu terkejut.


“Pak Komisaris, tolong beri saya waktu untuk berbicara sebentar saja dengan pria ini,” ucap Farrel kepada pimpinan kesatuan polisi.


Lelaki setengah baya itu menundukkan dan mempertegas, “Saya beri waktu Anda hanya 10 menit, setelah itu Pak Dimas Wijaya Soebono harus kami tindak lanjuti di kantor polisi!”


Semua kesatuan polisi meninggalkan kamar Dimas, kecuali ada dua intel yang berjaga di pojokan.


“Kau? Apakah kau yang melakukan hal ini kepadaku, Farrel? Memang aku salah apa?” tanya Dimas pura-pura tidak tahu dengan masalah yang telah ia buat.


Haah!


Farrel menghembuskan napas panjang, sembari melihat iba ke arah sahabat yang sangat ia sayangi ini.


Ia menggelengkan kepala pelan, lalu berkata, “Aku tidak akan pernah menyangka, sampai saat ini pun aku masih tidak percaya, kau yang melakukannya!”


“Maksudmu? Apa yang kau bicarakan, Farrel? Aku sungguh tidak mengerti!” teriak Dimas seraya mengernyitkan dahi.


“Tolong jangan berpura-pura kepadaku, Dimas. Cukup perbuatanmu yang pertama sangat mengecewakanku, mengenai kau tidak becus menjaga Karin. Dan sekarang aku tidak bisa mengampunimu, kau sudah menyelakainya!”


“Apakah kau tahu karena perbuatanmu itu, anak yang Karina kandung meninggal sebelum ia dapat menikmati indahnya dunia!” lanjut Farrel dengan mata memerah.


Ia harus memberitahu hal ini kepada Dimas, agar sahabatnya itu merasa sedikit punya rasa iba karena telah menghilangkan sang anak yang tanpa dosa itu.


“Tidak! Kau bohongkan kepadaku!” Dimas menarik keras kemeja Farrel.


Ia begitu syok mendengar penjelasan sahabatnya.

__ADS_1


Heh!


“Kenapa kau memasang wajah seperti itu? Bukankah ini yang kau mau, hah?”


Dimas sangat marah dengan dirinya sendiri. Ia hanya bisa melamun menyesali perbuatannya, sedangkan Farrel melepas genggaman kuat Dimas di area leher.


Tidak bisa berbicara banyak, waktunya sudah habis. Kini Dimas di bawa ke kantor polisi untuk ditanyakan kebenaran dan menjalani introgasi ketat.


“Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah, aku melakukannya karena aku sangat mencintai Karin! Dia harus hidup bersamaku, bukannya dengan lelaki lain!” teriak Dimas terakhir sebelum di bawa ke kantor polisi.


Farrel hanya bisa menelan saliva dan memejamkan matanya sejenak.


Sebenarnya ia tidak tega melakukan hal ini kepada sahabat yang sangat disayangi, tapi Dimas sudah sangat bertindak keterlaluan. Ia harus mendapatkan hukuman dengan apa yang ia perbuat kepada mantan istri dan mendiang sang anak.


Mendapatkan kabar buruk malam-malam, Soebono dan Maya segera ke kantor polisi.


Maya begitu sedih dan terus menangis, sedangkan Soebono terlihat sangat tegar meskipun hatinya teriris, yang mendapatkan kabar bahwa putra satu-satunya akan dijatuhkan ponis hukuman pidana penjara seumur hidup. Karena Dimas telah berencana membunuh mantan istri dan mendiang bayinya.


Soebono meneteskan air matanya, tapi segera ia usap. Hatinya begitu hancur dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Anak semata wayang yang ia sayangi harus mendekap seumur hidup di sel jeruji besi.


Namun, Dimas hanya diam saja. Ia sama sekali tidak mengatakan sepatah kata apa pun, sejak tadi dirinya hanya menunduk.


Tiba-tiba ia tertawa.


Hahaha!


“Tidak mungkin, aku sangat menunggu bayi itu bersama Karin sudah begitu lama! Tidak ... tidak.” Ia terlihat sedih, lalu tertawa kembali.


Pandangannya jauh dan begitu kosong.


“Nak, kau kenapa?” tanya Maya sangat mengkhawatirkan sang putra.

__ADS_1


“Ma, Dimas berhasil membunuh anak yang dikandung Karin! Tapi Karina jahat, Ma. Jadi Dimas bunuh saja anak dan Karin!”


Hahaha!


Arah bicaranya tidak seperti orang normal.


“Apakah kau sakit Nak?” Maya meyakinkan.


“Ma, Pa. Dimas sangat menyayangi Karin, tapi dia tidak!” Ia menangis berbarengan dengan tertawa.


Melihat kondisi sang anak, Soebono menarik Maya dan ia memeluk istrinya.


“Sayang, kita harus sabar yaa ...”


Kepala polisi, segera menugaskan pengawalnya untuk membawa Dimas ke rumah sakit jiwa untuk menjalankan pemeriksaan dan rehabilitas.


Salah satu pimpinan kepolisian menghampiri Soebono dan Maya.


Mereka saling menundukkan kepada.


“Tuan Soebono, maafkan saya. Putra Anda harus kami bawa segera ke RSJ di pusat kota. Mungkin pada saat melakukan hal itu, ada tekanan batin yang ia sangat sesali sehingga membuat psikisnya rusak. Ia tidak mampu mengendalikannya, apalagi yang dia buat sudah menghilangkan nyawa bayinya sendiri,” tegas wanita berusia 40 an tahun itu memberitahu ayah Dimas.


Soebono hanya bisa menjawab, “Terima kasih banyak Bu, saya serahkan semuanya kepada pihak kepolisian terkait masalah putra saya ini.”


Maya terus menangis, nasib sang anak benar-benar menyedihkan.


“Sayang ...” rintih Maya yang tidak bisa menahan rasa sedihnya.


“Sabar ya,” ucap Soebono. Saat ini juga pria itu menangis begitu deras.


Seburuk-buruknya Dimas, dia adalah putra kesayangan dan hanya dimiliki satu-satunya oleh Soebono dan Maya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2