Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Sahabat Lama


__ADS_3

Setelah Karina menjelaskan apa yang dilakukannya mengenai akan mencari Nadia, Farrel menatap datar ke arah wanita ini.


Ia tidak mengucapkan apa pun. Lalu, sorot mata lelaki tampan yang memiliki bentuk wajah panjang ini mengarah melihat air danau yang tenang.


‘Ada saatnya wanita yang dicampakkan akan berbuat sesuai nalurinya,’ Farrel bermonolog.


‘Aku tidak tahu cara ini adalah hal yang salah atau tidak. Namun, Nadia ternyata merupakan adik dari wanita yang aku kenal!’ Karina berucap dalam hatinya sembari mengepal kedua tangannya.


Akhir-akhir ini, Karina mencari informasi mengenai Nadia Olivia.


Fakta yang mengejutkan membuatnya sesak. Ia akan membalas apa yang dilakukan Nadia dengan perlahan.


Farrel kembali menoleh ke arah wanita yang ia cintai, tatapan Karina begitu tajam.


Karina benar-benar yakin, cara ini akan membuat Nadia malu karena telah merebut lelaki yang sudah memiliki istri secara paksa.


‘Tunggu, Mas Dimas aku akan menunjukkan siapa wanita yang kau puja itu!’ teriak Karina dalam batinnya.


Lemah, bodoh, tak berdaya, semua sikap itu tidak ada lagi di dirinya.


Wanita yang tersakiti akan berubah!


“Bagaimana sebaiknya kita beristirahat dulu, Karin?” ajak Farrel sembari melempar senyuman hangat kepada Karina.


Sontak membuat wanita ini menoleh ke arah lelaki, yang pernah menyatakan perasaan berulang kali pada zaman SMA dulu kepadanya.


Senyuman Farrel tidak pernah berubah!


Meskipun ia sering tersenyum kepada semua wanita, tapi senyumannya untuk Karina benar-benar berbeda.


Setiap menatap mata Farrel, Karina seperti melihat cahaya yang tidak bisa ia jelaskan.


“Hu’um, baiklah.” Wanita cantik ini mengangguk, untuk mengikuti ajakan Farrel tadi.


Karina mengekori lelaki yang memiliki tubuh tegap tersebut, namun tiba-tiba ia seperti mengingat sesuatu.


Ia masih melihat jauh punggung lelaki itu dan memberhentikan langkahnya.


“Karina kau dulu itu selalu cemberut tahu, haha.” Farrel menyadari keberadaan Karina yang tidak lagi mengikutinya.


“Apakah kau mendengarkanku?” tanya Farrel sembari menoleh ke belakang.


Netra mata Karina menatap jauh ke arah Farrel, yang merupakan sahabat suaminya.


‘Punggung itu?’


Heran Karina dalam hati. Pada saat kejadian di club, wanita malang ini begitu takut.


Dimas membantu Karina dan segera mendekapnya dengan erat, tapi Karina menyadari ada satu lelaki juga yang membantunya.


Namun sayang, Karina tidak pasti melihat wajahnya. Ia hanya melihat punggung tegap itu.

__ADS_1


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Farrel tersenyum heran.


Seperti begitu sulit untuk membuka mulutnya untuk bertanya, Karina hanya terdiam membeku.


‘Apakah lelaki itu adalah Farrel?’ Karina bermonolog mengira-ngira.


Farrel mendekati Karina.


“Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan lagi?”


Karina menggelengkan kepalanya, “Tidak.”


Sewaktu itu setelah memberikan pelajaran kepada lelaki hidung belang yang akan menodai Karina, Farrel memutuskan segera meninggalkan club.


Ia pikir Karina lebih pantas bersanding dengan lelaki baik-baik seperti Dimas, bukan dengan dirinya yang hanya suka mempermainkan hati perempuan.


Namun, untuk kali pertama lelaki yang terkenal dengan sikap playboy itu jatuh hati kepada wanita sederhana seperti Karina.


Perasaannya harus ia pendam karena Dimas ternyata menyukai Karina juga, meski Farrel lah yang pertama memiliki perasaan kepada gadis itu.


Sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Farrel memohon kepada Dimas untuk menjaga dan tidak boleh kasar kepada wanita yang sangat ia cintai, apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan.


“Ayoo Farrel,” kini gantian Karina yang mengajak Farrel untuk kembali ke dalam.


Farrel terus membuntuti Karina, memastikan wanita yang ia cintai masuk ke kamar untuk segera beristirahat.


Karina menoleh ke belakang, “Farrel, kamarmu ada di sebelah. Kau tidak ingin beristirahat juga?”


Lelaki ini tidak bisa kalau tidak mencoba menggoda Karina, jika ia melakukan hal itu, ia merasa hidupnya lebih berwarna.


Farrel menggaruk kepalanya, meski tidak gatal dan melontarkan guyonan, “Apakah aku boleh beristirahat di kamarmu?”


Pertanyaan itu pasti di tolak dengan Karina!


Wanita ini tidak menjawab, ia hanya menatap datar saja kearah Farrel.


Tatapan datar itu membuat Farrel tersenyum bahagia, karena sikap yang ia kenal tentang Karina sudah kembali.


“Apakah boleh?” Farrel sengaja membuat Karina kesal.


Karina tetap tidak menjawab.


Hahaha!


“Aku hanya bercanda, Karin. Oke baiklah, selamat istirahat ya,” ujarnya sembari segera meninggalkan kamar Karina.


Setelah sedikit jauh, Karina berteriak, “Farrel, aku sangat berterima kasih kepadamu.”


Farrel menggerakkan tubuhnya mengarah ke belakang, ia menaikkan tangannya yang mengartikan bahwa lelaki ini menerima ucapan terima kasih dari Karina.


Wanita ini bergegas masuk ke dalam, ia menggunakan fasilitas yang ada di resort. Ia segera menyalakan komputer dan mengirim surel kepada wanita yang ia kenal bernama Sarah Yuanita.

__ADS_1


“Sarah, apakah kau masih mengingatku? Aku Karina Mustika. Maaf karena tidak mengabarimu selama 2 tahun belakangan ini. Bisakah aku bermain ke rumahmu besok? Ada hal yang ingin kusampaikan.”


Surel itu telah terkirim, dan Karina mendapatkan balasan baik dari sahabatnya itu.


Kemudian dia juga mengirimkan surel kepada orang yang sangat ia benci!


Keesokan harinya sekitar pukul 18.00.


Ting! Nong!


Nadia dan kakak perempuannya saling menatap satu sama lain, “Kak, apakah itu adalah sahabat yang kakak ceritakan kemarin?”


Sarah, wanita berusia 25 tahun tersenyum kepada adik perempuannya. Ia pun mengangguk, “Iya, mungkin itu dia.”


“Biar aku saja yang membukanya, Kak,” ucap Nadia seraya melangkah ke pintu utama.


Glek!


Setelah membuka pintu, Nadia benar-benar terkejut, bukannya seorang wanita yang ada di depannya kali ini, tapi atasannya.


“Pak Dimas, kenapa kau ada di sini?”


Dimas mengkerutkan dahinya, “Hmm! Bukannya kau yang mengundang saya untuk kemari, katanya ada yang ingin kau bicarakan kepada saya.”


Nadia tidak ingin berpikir panjang, ia langsung memberikan senyuman indah seperti menggoda kepada lelaki incarannya itu.


“Kalau begitu, masuk dulu Pak.”


Seperti biasa, Nadia mendekat dan menatap mata Dimas dengan nakal.


“Tapi saat ini kita tidak bisa bermesraan, karena ada kakakku di rumah,” bisik Nadia sambil memainkan mata.


Mereka berdua segera masuk.


Lima menit kemudian, ada yang menekan bel pintu lagi.


Namun kali ini, Sarah lah yang membukanya. “Biar aku saja Nadia, mungkin yang datang adalah sahabatku.”


Menunggu Sarah membuka pintu, Nadia memegangi tangan Dimas dengan lembut.


“Pak, aku mendengar kalau Bu Karina telah kabur dari rumah, ia ingin tinggal bersama selingkuhannya? Apakah itu benar?”


Dimas menoleh ke arah sekretarisnya itu, “Kau mendapatkan gosip itu dari mana?”


“Segalanya aku tahu mengenaimu, Pak Dimas Sayang.” Bibirnya mendekat ke daun telinga Dimas.


Pada saat mereka sedang bercengkrama mesra, Sarah dengan penuh bahagia dan percaya diri memperkenalkan sahabat lamanya yang datang.


“Nadia dan Pak Dimas, perkenalkan ini adalah Karina Mustika, sahabat saya!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2