
Karina kembali dari toilet, ia ingin meminta izin kepada mantan suaminya untuk segera pulang.
Dimas bertanya, “Apakah kau sedang mengandung, Karin?”
Tentu saja wanita ini tidak bisa menjawab, ia sengaja menyembunyikan kehamilannya agar Dimas tidak merebut bayi ini.
Melihat situasi semakin runyam, Farrel menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
“Ia hanya sedang tidak enak badan, Dimas.”
Namun, tidak segampang itu membohongi pria ini. Ia melihat detail wajah mantan istrinya merenung. Dimas sangat tahu jika Karina berbohong, ia tidak bisa menatap wajah suaminya.
“Jangan ikut campur urusan kami, Farrel! Kau tidak ada hak sama sekali, aku tetaplah suami dari wanita yang ada di sampingmu. Meskipun kau sangat mencintainya, tapi Karina tetap mencintaiku!” ucap Dimas sangat percaya diri.
“Tidak, aku tidak lagi mencintaimu, Mas Dimas!” sahut Karina dengan mata berkaca-kaca.
Sontak hal itu membuat Dimas terdiam, ia memiringkan kepalanya dan begitu bingung.
“Kenapa? Bukankah aku satu-satunya lelaki dalam hidupmu, Sayang?” tanya lembut Dimas.
Karina menggelengkan kepalanya. “Iya itu memang benar, tapi perasaan tersebut sudah lenyap pada saat kau menyakitiku, Mas! Kau tidak lagi orang yang kucintai!”
Haha!
Dimas tertawa meledek. Ia sangat kesal dengan ucapan wanita yang sudah sah bercerai dengannya.
“Apa yang kau katakan? Tidak kah aku salah mendengarnya? Aku rasa semua perasaan cintamu kepadaku telah hilang saat kau selingkuh dengan Farrel, hah?”
“Sudah cukup Mas. Jangan kau ungkit masalah itu lagi, aku akan pamit pulang. Kita sekarang hanya sebatas mantan dan aku tidak akan pernah kembali lagi kepadamu!” tegas Karina.
“Tapi, anak yang kau kandung adalah anakku juga, Karin. Aku berhak bertanggung jawab sebagai Papa biologisnya!” teriak Dimas, matanya memerah karena tidak suka dengan pendapat Karina yang kini sudah berani kepadanya.
Merasa harus melindungi Karina, wanita pujaan hatinya. Farrel membentak sahabatnya itu, “Apa kau tidak mendengar ucapan Karin tadi, hah? Biarkan anak itu aku yang menjaganya dan urus saja kehidupanmu setelah ini!”
“Ayoo Karin, kita keluar saja,” ajak Farrel memapang tubuh Karina yang tengah lemas.
__ADS_1
Melihat hal itu Dimas semakin murka, ia berteriak seperti orang yang benar-benar gila.
“Kalian manusia terkutuk! Aku tidak akan membiarkan kalian berdua hidup bahagia, dan anak itu harus aku yang mengurusnya!”
Karina hanya menutup telinga, ia tidak sanggup mendengar ucapan kasar yang terlontar dari mulut mantan suaminya itu.
Sampai di depan ruangan, mereka melihat kedua orang tua Dimas.
Wanita cantik ini mencium lembut tangan ayah dan ibu mertuanya dengan rasa hormat.
“Pa ... Ma ... Karin pamit pulang ya.”
Poernama menatap manik mata putrinya itu dengan binar kesedihan. Karena ia merasa ada tekanan yang luar biasa, pastinya dari Dimas, sang putra.
Tapi ia memilih tidak menanyakan apa pun terkait situasi di dalam, pada saat Karina bertemu Dimas.
Poernama menundukkan kepala. “Iyaa Nak, terima kasih banyak atas kesempatan waktu yang kau berikan kepada mantan suamimu ya. Dan Papa serta Mama minta maaf jika selalu membuat Karin sakit.”
Karina menggelengkan kepala pelan. “Jangan mengatakan hal itu, Pa. Karin yang seharusnya meminta maaf kepada kalian berdua, karena tidak bisa menjadi menantu baik dan istri terbaik untuk Mas Dimas.”
Karina dan Farrel segera meninggalkan rumah sakit, seperti biasa lelaki itu selalu memberikan perhatian kepada cinta pertamanya ini.
Poernama masih melihat punggung Karina dan juga sahabat putranya itu.
Lelaki ini tersenyum tipis, tapi ada kesedihan dalam hatinya. Karena ia tidak bisa menjaga seutuhnya terkait bahtera rumah tangga sang putra.
“Kau berhak bahagia Karina Mustika, bersama lah dengan lelaki yang sungguh-sungguh mencintai dan menghargaimu sebagai bidadari,” gumam Poernama sembari menoleh ke arah Maya, lalu tersenyum.
Sampainya di resort, Karina sedang menikmati ketenangan air danau yang berada di belakang.
Pikirannya begitu penat mengenai ucapan kasar Dimas.
Farrel pun membuyarkan lamunan Karina dengan melambaikan tangan.
“Hey, wanitaku yang cantik mengapa melamun? Jangan pikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan lagi yaa, tenang saja. Selagi aku masih ada di dekatmu, aku akan berusaha membahagiakanmu, Sayang.”
__ADS_1
“Sayang?” Karina menoleh ke arah Farrel.
Baru kali ini, pria itu menyebutnya dengan sangat manis.
Farrel tersenyum.
“Farrel, aku ingin bertanya kepadamu suatu hal. Kenapa kau masih menungguku sampai selama ini? Apakah kau tidak sakit menunggu seseorang yang sama sekali tidak pernah melihatmu sebagai seorang pria?”
Pewaris tunggal Grub Pramana itu menaikkan alisnya pasrah, sembari tersenyum tipis.
“Jika aku menjawab tidak sakit, semuanya itu adalah kebohongan. Tentunya sangat sakit dan begitu perih. Namun, aku percaya jika kau adalah takdirku.”
Karina mengingat pembicaraan Farrel yang sempat terpotong pada saat Poernama dan Maya memintanya untuk menjenguk Dimas di rumah sakit.
“Apa yang ingin kau ucapkan tadi, Farrel. Aku sangat penasaran dengan hal itu?” tanya Karina dengan binar mata berkaca-kaca.
‘Aku harus mengutarakannya sekarang juga!’ Farrel bermonolog.
“Karin!”
Farrel menatap jauh netra mata Karina yang sangat indah sembari memegangi kedua tangan lembut wanita itu.
Deg! Deg!
Hal ini membuat jantung wanita tersebut berdebar kencang.
Karina merasakan tatapan Farrel jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya, saat ini tampak keseriusan yang tidak dapat disembunyikan lelaki tampan itu lagi.
“Terima kasih karena kau sudah lahir ke dunia ini. Dari beribu-ribu hati manusia. aku tetap memilihmu, dan maukah kau hidup selamanya bersamaku, Karin?”
Farrel mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Ia bersimpuh di hadapan wanita pujaannya itu sembari membuka kontak cincin permata untuk Karina.
“Karin, apakah kau mau menikah denganku?”
Bersambung.
__ADS_1