
Farrel tersenyum bahagia. Ia menatap Karina yang seperti malu akan permintaannya tadi.
Akhirnya, usaha dan perjuangan serta kesabaran Farrel sejak lama dapat meluluhkan hati dingin dari seorang wanita seperti Karina.
Karena terpukau akan kecantikan yang dimiliki Karina pada saat baru bangun, Farrel terdiam.
“Farrel?” tanya Karina dengan suara pelan.
Ia melepas lamunan terhadap sosok yang bagaikan bidadari dihadapannya.
“Maafkan aku, Karin.”
Farrel segera menyuapi Karina dengan tatapan hangatnya. Begitu pula dengan wanita cantik ini.
“Terima kasih ya Rel, untuk semuanya.”
Pewaris Pramana ini mengangguk, “Kau tidak perlu mengucapkan hal itu, Karin. Aku ingin kau selalu bahagia.”
Senyum tanpa beban menyinari wajah cantik wanita yang tengah mengandung.
“Entah mengapa kau semakin cantik, auramu bersinar sampai ke hatiku, Karin!” gombal Farrel.
Heh!
Karina hanya bisa menggelengkan kepalanya, tersenyum malu melihat Farrel.
Lelaki itu tidak bosan-bosan untuk menggoda Karina.
Rasanya senang sekali, jika dapat melihat wanita yang sangat ia cintai bisa tersenyum tanpa dihiasi air mata.
Setelah makan selesai, Farrel memegangi tangan Karina Mustika sembari menatapnya jauh.
Binar mata pemuda ini sungguh membuat Karina tidak dapat berkata apa-apa.
Farrel memegangi kedua tangan Karina.
“Karin, aku ingin berbicara hal penting denganmu. Entah ini terlalu cepat atau tidak menurutmu, tapi aku harus mengatakannya sekarang juga.”
Raut wajah Farrel tampak begitu serius, sisi pecicilannya tidak ada lagi.
Glek!
Menatap netra mata Farrel yang memiliki pandangan jauh membuat jantung Karina berdebar kencang.
“Dari awal hatiku sudah bertuju kepadamu, Karin. Aku ingin kau bisa menjadi teman hidupku selamanya!”
__ADS_1
“Mau kah kau me ...”
Tok! Tok!
Momen romantis dan menegangkan itu lenyap seketika, karena ada yang mengetok pintu kamar Karina secara tiba-tiba.
Otomatis Farrel menghentikan apa yang ingin ia ucapkan kepada wanita tambatan hatinya ini.
“Tunggu sebentar ya, Karin.” Farrel menyentuh bahu Karina dengan lembut dan ia beranjak menuju pintu.
Greek!
“Maaf Tuan Muda Farrel, saya kemari karena ada yang ingin mencari Nyonya Karina dan Tuan,” ucap salah satu pelayan wanita yang menundukkan kepalanya.
Hmm!
“Siapa?” tanya Farrel singkat.
“Mereka bilang dari keluarga Soebono,” jawab pelayan itu.
“Sekarang mereka ada di mana?”
“Di lobby depan, Tuan. Mereka sedang menunggu Anda dan Nyonya Karina,” jelas wanita yang menggenakan pakaian maid sebagai pelayan.
“Oke, suruh mereka tunggu. Aku dan Karin akan segera ke sana,” perintah Farrel.
Apakah ini terkait hubungan Dimas? Bukankah Karina dan sahabat Farrel itu sudah resmi bercerai?!
Wajah yang tadinya terpancar bahagia, kini meredup. Farrel seperti enggan ingin memberitahu siapa yang menemuinya tadi.
“Siapa yang mencariku, Farrel?” tanya Karina tersenyum tipis.
Hah!
Farrel menghela napas panjang. Lalu ia menoleh ke arah Karina, ekspresi wajahnya sudah tidak sabar akan jawaban yang terlontar dari mulut Farrel Pramana.
“Katanya keluarga dari mantan suamimu ingin menemui kita berdua.”
Karina mengkerutkan dahinya, “Keluarga? Memang siapa?”
“Aku juga tidak tahu, aku tidak bertanya secara spesifik kepada pelayanku tadi. Kita ke sana saja, siapa tahu ada hal penting yang mereka ingin katakan kepada kita,” tutur Farrel.
Meskipun hatinya yang dipenuhi kebahagiaan kini perlahan surut, Farrel tetap menampilkan senyuman manis kepada Karina.
Karina pun beranjak, tapi ia sangat ingin mendengar ucapan yang belum selesai Farrel katakan kepada wanita ini tadi.
__ADS_1
“Tunggu, Farrel. Ucapanmu tadi terpotong, aku tidak tahu kelanjutannya. Apakah kau bisa mengulangnya lagi?” tanya Karina sembari memegangi tangan Farrel.
Lelaki itu hanya menggeleng pelan, lalu ia memegangi bahu Karina dengan kedua tangannya sangat lembut.
“Nanti saja, Karin. Aku akan mengatakannya setelah kita bertemu keluarga Dimas.”
Karina mengangguk seakan ia mengerti apa yang di rasakan Farrel saat ini.
Mereka berdua segera menuju lobby depan.
Manik mata Karina membesar ketika ia melihat siapa yang datang untuk menemuinya.
“Mama dan Papa?” gumamnya.
Kedua orang tua Dimas tersenyum mengarah mantan mantunya itu. Mereka berdiri dari tempat duduk sembari menganggukkan kepala.
Farrel juga terkejut, mengapa orang tua Dimas datang kemari? Apakah ada hal penting yang harus mereka katakan atau hanya sekadar ingin bersilaturahmi saja?
Karina segera mencium tangan Poernama, lalu kemudian Maya.
Tidak ada dendam ataupun marah dalam hati wanita cantik ini sama sekali. Menurutnya, apa yang telah Maya lakukan kepadanya adalah masa lalu yang pantas dilupakan.
Hati Karina benar-benar bahagia melihat Maya di sini, meskipun mereka sekarang tidak berstatus menjadi mantu dan mertua lagi. Namun, dari dulu Karina tetap menghormati dan menghargai Maya sebagai ibu kandung sendiri begitu pula Poernama yang ia anggap ayah sendiri.
“Bagaimana kabarmu, Nak? Maafkan Mama yang selama ini telah membuatmu sakit ya,” ujar Maya sembari memeluk erat Karina.
Maya meneteskan air mata penyesalannya. Ia sangat keterlaluan kepada wanita yang memiliki hati seperti malaikat ini.
“Tidak Ma, Mama tidak pernah salah. Apa pun yang dulu pernah terjadi, kita lupakan saja ya ...”
Poernama tersenyum mendengar perkataan Karina yang selalu rendah dan pemaaf.
Setelahnya, Karina melirik Poernama yang tampak terlihat begitu sedih.
“Pa, sebenarnya apa yang membuat Papa dan Mama kemari?” tanya Karina penasaran.
“Karin, kau tahu kan Dimas berada dalam sel selama 2 minggu, dan tepat pagi buta tadi ia diloloskan. Namun ...” Maya tidak melanjutkan tuturnya, ia malah menangis sendu.
Hal ini membuat Farrel dan Karina bertanya-tanya.
Sontak membuat Farrel khawatir, meskipun Dimas telah berbuat kesalahan kepada wanita yang sangat dicintainya. Lelaki ini dengan tegas melontarkan pertanyaan, “Dimas kenapa, Tante?”
“Dimas mengalami kecelakaan, Farrel. Meskipun tidak parah, ia terus berteriak memanggil nama Karina seperti orang gila,” jelas Poernama.
“Karin, Papa mohon kepadamu. Apakah kau bisa menjengguk Dimas sebentar saja?”
__ADS_1
Bersambung.