
Sarah merasa ada yang janggal ketika mendengar Karina menyebut nama sang adik.
Dia lantas bertanya untuk memastikan, “Seperti siapa, Karin?”
Karina menoleh ke arah Nadia lantas beralih pada Dimas dengan tatapan tajam.
Sementara kedua tangannya terkepal menahan kesal. “Suamiku direbut oleh wanita yang lebih muda dariku, kini suamiku dan wanita selingkuhannya itu ada di hadapanku. Ah, salah ... dia bukan lagi suamiku, sebentar lagi kami akan bercerai!”
Bola mata Nadia membuat. ‘Kurang ajar, erani sekali wanita rendahan ini membongkar keburukanku di depan kakak!’
Sarah menoleh ke arah sang adik karena melihat tatapan Karina begitu tajam pada Nadia.
Sarah tampak begitu bingung, ia kembali melihat sahabatnya dan bertanya, “Maaf, Karin aku tidak mengerti apa ...”
“Nadia Olivia, wanita berusia 23 tahun yang merupakan sekretaris baru suamiku telah merebut lelaki yang kucintai!” Karina kini menoleh ke arah Dimas yang sejak tadi hanya menunduk dan terdiam.
Sarah terkejut ungkapan Karina tentang wanita yang merebut suaminya sama dengan adik perempuannya.
“Maaf Sarah, karena telah membuatmu bingung. Aku akan memberitahu semuanya sekarang, Pak Dimas lelaki yang ada di sampingku sebenarnya adalah suamiku dan Nadia merupakan ...”
Baaaakkk!
Sangat kesal, Nadia beranjak dan memukul meja makan dengan keras.
Ia menunjuk Karina dengan marah, “Jika Anda ingin membuat keributan di rumah ini silahkan keluar!”
Sarah dengan repleks memegangi bahu sang adik, menyuruhnya untuk kembali duduk, “Nadia, tidak boleh seperti itu!”
Heh!
Karina hanya tersenyum ia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari bertanya, “Kenapa Nadia, apakah kau takut bila semua yang kau lakukan kepadaku akan kuberitahu kepada Sarah?”
“Keluar dasar wanita murahan!” teriak Nadia sembari kembali menunjuk Karina.
“Di sini siapa yang murahan aku atau kau?” jawab Karina seraya melemparkan ucapan itu kepada Nadia.
Dimas tidak bisa mengatakan apa pun, ia terlihat bingung dan memijat beberapa kali keningnya.
__ADS_1
Hah!
Karina menghela napas kuat, sorot matanya begitu dalam mengarah ke Sarah.
“Sarah, adikmu Nadia sudah tidur beberapa kali dengan Mas Dimas, bahkan ia berani bersenggama di tempat tidurku!”
Manik mata Sarah membesar, ia menutup mulutnya menggunakan tangan. Sontak hal ini membuat Sarah sungguh terkejut dengan penjelasan sahabatnya itu.
Karina telah menceritakan apa yang dilakukan Nadia dan membuat rumah tanggannya kini hancur.
“Tidak kak, semua yang dikatakan wanita ini adalah kebohongan!” jelas Nadia kepada Sarah.
Penuh kesal, Nadia melempar piring yang ada di depannya dan membentak Karina, “Keluar kau wanita ******!”
Plak!
Tamparan tepat mendarat di pipi Nadia, Sarah menatap adik yang ia sayangi sejak kecil ternyata kini menjadi perebut suami sahabatnya.
Nadia meneteskan air mata, “Dengarkan aku kak, wanita itu bo ...”
“Kakak tidak pernah mengajarkan kamu mengatakan hal itu kepada orang lain, Nadia. Kakak sungguh kecewa denganmu!” Sarah memotong penjelasan Nadia.
Dimas pun tanpa pamitan meninggalkan rumah Sarah dengan wajah yang begitu kesal, marah, dan merasa sedikit menyesal bercampur menjadi satu.
Karina kembali berbicara kepada Sarah, “Maafkan aku Sarah, aku harus mengatakan semua kebenaran ini kepadamu. Dan tujuanku kemari adalah meminta bantuanmu agar kau bisa menjadi kuasa hukum untuk proses perceraianku dengan Mas Dimas.”
Sarah masih belum bisa menerima hal tersebut, ia meneteskan air mata kesedihan menatap sahabat yang juga sangat berarti baginya.
Wanita cantik, berparas menawan dan berhati lembut ini merupakan kuasa hukum yang sangat terkenal di Kota Surabaya. Semenjak ia bertemu dengan Karina, cara ia memandang kehidupan jauh berbeda dengan sebelumnya.
Sarah mendekati Karina dan ia memegangi bahu sahabat lamanya itu, “Maafkan aku Karin, gara-gara Nadia kau mengalami hal seperti ini.”
Karina menggelengkan kepala perlahan, ia tersenyum hangat kepada Sarah, “Tidak, bukan kau yang seharusnya meminta maaf kepadaku.”
“Kalau begitu aku pamit sekarang ya, Sarah.”
Karina segera meninggalkan rumah sahabatnya. Ia merasa lebih lega, tapi sangat sakit bila membayangkan kejadian itu lagi
__ADS_1
Namun, ketika ingin berjalan ke luar gerbang, tangan wanita ini seperti ada yang menarik.
Mas Dimas?
Karina mengkerutkan dahinya ketika melihat lelaki itu.
“Kau sengaja melakukan ini kan? Aku sangat kecewa denganmu, Karin.”
Tatapan Dimas berbeda sebelumnya, ia menatap Karina dengan mata berkaca-kaca.
“Kecewa? Bukankah aku yang seharusnya mengatakan hal itu, Mas?” kesal Karina sembari melepaskan tangan lelaki itu.
“Sebentar lagi kita akan resmi pisah dan kau bisa sesuka hati bermain bersama wanita lain!” lanjut Karina menatap datar suaminya.
Karina segera meninggalkan Dimas, tapi lelaki ini seperti tidak menginginkan istrinya pergi, “Tunggu aku, Karin.”
“Mau apa lagi, Mas? Semuanya sudah jelas kan?”
“Aku ingin kau tetap ada di sisiku, aku tidak ingin pisah denganmu, Karina Mustika!”
Ucapan manis dari mulut suaminya itu membuat Karina tertawa geli.
Hehe!
“Kau benar-benar lucu yaa, tapi maaf Mas. Aku tidak ingin berada di sisimu lagi!”
Dengan cepat Karina melangkahkan kakinya menuju ke mobil sport yang sejak tadi menunggunya.
“Tunggu Karina!” teriak Dimas.
Pada saat Dimas ingin memegangi tangan Karina kembali, seseorang menepis tangan lelaki itu.
“Farrel?”
“Dimas, Karina saat ini akan menjadi milikku!” jelas Farrel menatap sinis ke arah sahabatnya itu.
“Ayoo Karin, kita pulang,” ajak Farrel.
__ADS_1
Bersambung.