Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Tertangkap Basah


__ADS_3

Ketika terbangun, Karina tidak lagi mendapati Dimas ada di dekatnya.


Dengan mata yang masih setengah terbuka, ia memanggil-manggil Dimas, “Mas Dimas ... kamu di mana?”


Menyadari suaminya itu tidak ada, dia segera beranjak dari ranjang.


Ia mencoba mencari Dimas ke setiap ruangan di rumah mewah tersebut. “Sayang, kamu di mana?”


“Mas Dimas tidak ada. Tadi katanya tidak jadi keluar, tapi sekarang tidak ada di rumah. Atau mungkin dia menemui wanita itu lagi?”


Karina mencoba menelpon Dimas, tapi tidak ada jawaban. Hal ini membuat Karina yakin jika suaminya sedang bersama wanita penggoda tersebut.


Memikirkan suaminya tengah bermain gila bersama Nadia, membuat hati Karina seperti diiris-iris.


Dia melangkah ke dapur, mencari air putih, berharap setelah minum perasaannya menjadi lebih tenang.


Namun, bukannya meminum air yang ada di gelas kaca bertekstur tipis itu. Ia malah mencengkeramnya dengan kuat sehingga gelas tersebut pecah.


Praang!


Retakan gelas kaca menusuk telapak tangan Karina. Wanita ini gemetaran dan darah dari tangannya mulai berceceran di lantai.


Tangannya sakit, tapi mengingat kejadian semalam di saat suaminya tidur bersama wanita lain, rasanya jauh lebih sakit.


Wajah Karina tampak diselimuti kesedihan, dan pandangannya kosong, “Tega sekali kamu Mas.”


Baru saja ingin kembali ke kamar, Karina mendapatkan panggilan dari Amelia, sekretaris Dimas terdahulu.


‘Ada apa ya? Tumben Amelia menelponku?’ tanya Karina dalam hati sebelum menjawab panggilan tersebut.


“Iyaa, Lia, ada apa?”


“Karin, apa kau bisa datang hotel Double Tree by Hilton sekarang?" Terdengar suara Amelia dari seberang sana.


"Memangnya kenapa, Lia?"


"Suami kamu, Pak Dimas ...."


"Iya, aku ke sana sekarang!" Karina langsung memotong dan mengiyakan sebelum Amelia menjelaskan apa-apa.


Suaminya ada di hotel? Tentu saja Karina langsung berpikir buruk tentang apa yang dilakukan Dimas di sana.


Dengan cepat Karina bersiap, untuk menyusul ke hotel yang disebutkan.


Karina hanya sempat membersihkan darah yang kini perlahan mengering di telapak tangannya, tanpa mengobatinya terlebih dulu.


Karina berjalan keluar dengan tergesa-gesa dan memanggil supir, “Pak Bagus, tolong antar saya ke hotel Double Tree by Hilton.”

__ADS_1


“Baik, Nyonya.” Lelaki paruh baya ini mengangguk dan segera mengeluarkan mobil.


Dalam perjalanan, Karina terlihat sangat gelisah.


‘Ya, Tuhan ... perasaan apa ini?’ Karina bermonolog.


Pak Bagus yang fokus mengendarai mobil di kursi depan, sesekali melirik Karina melalui kaca spion di atas kepala.


Dia merasa iba kepada wanita yang telah ia anggap seperti anak sendiri, terlebih akhir-akhir ini pak Bagus tidak lagi melihat senyum ceria di wajah nyonya-nya itu.


“Nyonya, apa kau baik-baik saja?” tanya pak Bagus memberanikan diri.


Karina melirik ke arah pak Bagus, ia hanya mengangguk dan menunjukkan senyum terpaksa.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di hotel Double Tree by Hilton.


Amelia yang memang sengaja menunggu, langsung menyambut kedatangannya di loby depan.


"Di mana Mas Dimas? Dia bersama wanita?" tanya Karina tidak sabaran.


Amelia mengangguk. "Iya, dia bersama seorang wanita, tapi kamu tahu darimana?"


"Semalam aku sudah melihat mereka di club, ternyata satu malam penuh melakukan perbuatan binatang, masih belum membuat mereka puas," lirih Karina. Dia berada di antara sedih sekaligus geram.


"Ternyata yang namanya bajingan selamanya tetaplah bajingan," gumam Amelia pelan, yang ternyata masih dapat didengar oleh Karina.


Mungkin saja Dimas akan melakukan meeting dengan rekan bisnisnya. Namun, semua pandangan itu berubah ketika Amelia juga melihat seorang wanita yang terus bergelayut manja di lengan Dimas.


"Apa maksud kamu?" Karina mengernyitkan dahi.


"I-itu, anu ...." Amelia menjadi sangat gugup, dia tidak enak hati jika harus memberitahu Karina.


"Lia, kenapa? Ayo cerita!" desak Karina.


Amelia menghela napas berat. Mendapat desakan dari Karina, akhirnya dia pun terpaksa menceritakan alasan yang membuatnya harus keluar dari Seobono Group.


Ketika masih menjabat sekretaris di Soebono Group, dia hampir menjadi korban pelecehan Dimas.


Pada saat itu Dimas mengajak Amelia ke club malam, dan menawarkan sejumlah uang yang sangat besar untuknya.


Tawaran dari Dimas membuat Amelia sangat marah, memangnya dia pikir segalanya bisa dibeli. Tidak semua wanita mau menjual tubuhnya demi uang.


Mendapat penolakan dari Amelia, membuat Dimas seperti orang kesetanan. Dia mencoba memaksa Amelia untuk melayani nafsu bejatnya, untung saat itu Amelia berhasil melarikan diri.


Keesokan harinya Amelia pun mengajukan surat pengunduran diri. Setelah keluar dari Seobono Group, keberuntungan malah berpihak pada Amelia, dia mendapat tawaran menjadi manager di salah satu hotel milik keluarga Pramana, yaitu tempat mereka sekarang berada.


Mendengar cerita Amelia, Karin pun merasa iba, "Kamu yang sabar ya, Lia.Yang penting sekarang Dimas sudah nggak bisa ganggu kamu lagi."

__ADS_1


Amelia tertawa hambar. "Bukan aku yang harus dikasihani Karin, tapi kamu. Aku kasihan sama kamu, entah kenapa wanita sebaik kamu harus memiliki suami seperti Dimas!"


Manik mata Karina sudah sejak tadi berkaca-kaca. "Apa kamu bisa memberiku akses masuk ke kamar yang ditempati Mas Dimas?"


"Tentu, tapi apa pun yang kamu lihat nanti di dalam sana, kamu harus kuat ya," pesan Amelia.


Karina mengangguk, menangkap basah suami sedang bersama wanita lain di kamar hotel, tentu saja dia harus menyiapkan hati yang sekuat baja.


"Ini, lantai tujuh, nomor 303!" Amelia menyerahkan acces card cadangan kepada Karina, "Kamu harus kuat ya Karin." Amelia kembali mengingatkan.


Tanpa berkata lagi, Karina segera melangkah ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai 7.


Haah!


Di dalam lift Karina menghembuskan napas dengan kuat, dengan tangan nyaris meremukkan smart lock dalam genggamannya.


Kini Karina sudah berada tepat di depan kamar 303. Ia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya pelan-pelan.


Ia menempelkan smart lock, dan melangkahkan masuk ke dalam kamar bertipe presidential suite tersebut.


Meski sebelum masuk telah berusaha menguatkan hatinya, tapi pemandangan di dalam sana membuat Karina tidak dapat menahan tubuhnya untuk tidak gemetaran.


Di atas ranjang, Karina melihat suaminya tengah menunggangi Nadia dengan tubuh penuh keringat.


Seketika dunia Karina benar-benar hancur, hatinya perih. Tubuhnya kaku, serta air matanya langsung menganak sungai.


“Tega kamu, Mas!” teriak Karina pecah.


Dimas dan Nadia yang tengah asik memacu hasrat, langsung menghentikan perbuatan kotornya.


Dimas buru-buru turun dari tubuh Nadia, dan meraih boksernya yang berseleparan di lantai.


Seolah tidak memiliki dosa, Dimas menghampiri Karina. “Sayang, kenapa kamu bisa ada di sini?"


Plaaak!


Telapak tangan Karina mendarat dengan kuat di pipi Dimas.


“Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa Mas? Selama ini aku tulus sama kamu. Aku berusaha mencintaimu, menyayangimu, dan menghormatimu sebagai suami! Ya, Tuhan ... Ternyata seperti ini balasan dari kamu untuk kesetiaan aku!"


Karina menumpahkan semua yang ada di pikirannya, sambil memegangi dada yang sesak.


Sesaat kemudian tubuh wanita malang ini melemah dan terkulai ke lantai.


Braak!


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2