Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Kedatangan Wanita Penggoda


__ADS_3

Karina memasang raut wajah datar ketika wanita yang berdiri di teras rumahnya itu tersenyum.


“Permisi, apa benar ini adalah kediaman Dimas Wijaya Soebono?” tanya wanita yang tak lain adalah Nadia.


Jika diukur dari perawakan, Carina pasti akan insecure pada wanita yang telah menjadi duri dalam rumah-tangganya ini. Usianya kira-kira lebih muda tiga tahun dari Karina, memiliki bentuk tubuh indah dan terawat, serta senyuman manis yang bisa membuat para pria terpesona.


Karina mengangguk dan dengan cepat ia menjawab, “Iya, ini kediaman Dimas.”


‘Aku harus pura-pura tidak tahu siapa dia, wajahku harus terlihat biasa saja,’ gumam Karina.


Karina tidak ingin langsung menunjukkan gelagat tidak bersahabat, terlebih dia belum memiliki bukti apa-apa tentang hubungan keduanya.


Bukti yang Carina lihat di club sudah pasti tidak cukup. Sebab yang namanya orang selingkuh, pasti memiliki beribu alasan untuk menutupi perbuatan kotornya.


“Oh, sukurlah, saya takut salah Alamat. Apa saya bisa bertemu dengan Pak Dimas?” Nadia bertanya sambil mempertahankan senyum ramahnya.


Hmm!


Karina terdiam sejenak, ia berpikir harus menanyakan lebih dulu tujuan wanita ini mencari Dimas Wijaya.


“Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya mencari Pak Dimas?” tanya Karina.


“Maaf sebelumnya, Mbak. Perkenalkan saya adalah Nadia Olivia, sekretaris baru Pak Dimas." Nadia mengulurkan tangan kanannya untuk memberi salam kepada Karina.


Istri dari Dimas ini melirik tangan Nadia. Dia melemparkan senyum palsu, dan menerima jabat tangan dari wanita yang ada di depannya, walau dengan sangat terpaksa.


“Saya Karina Mustika.”


“Begini mbak, saya kemari untuk mengembalikan barang Pak Dimas yang ketinggalan. Apa Mbak bisa memanggilkan beliau sebentar?”


Karina mengernyit, selain suka menggoda suami orang, ternyata wanita ini sangat suka memerintah.


Dasar wanita tidak tahu diri!


Dalam hatinya Karina bergumam, ‘Wanita ini sampai datang ke rumah untuk mengembalikan barang milik Mas Dimas. Apa itu artinya mereka benar-benar memiliki hubungan spesial?


Hah!


Karina menghela napas perlahan, mencoba mengendalikan diri agar tidak terbawa rasa kesal.


“Baiklah, tunggu sebentar ... saya akan panggilkan Pak Dimas-nya,” ujar Karina pada wanita yang tak lain adalah rivalnya tersebut.

__ADS_1


Setelah itu, masih di tempatnya berdiri, Karina pun berteriak dengan sangat kencang, “Sayaaaang ... Mas Dimas, kemarilah! Ada tamu yang mencarimu ....”


Mendengar teriakan dari istrinya yang sangat keras, Dimas menjawab dari dalam kamar, “Iya ... suruh tunggu sebentar.”


Sedangkan Nadia, mimik wajahnya seketika berubah masam, bola matanya membesar karena terkejut mendengar Karina memanggil lelaki pujaannya dengan sebutan sayang.


‘Apakah wanita ini adalah istri Pak Dimas? Cantik sih, cukup anggun, tapi ke mana-mana tetap menang aku!' gumam Nadia sambil melirik Karina dengan sorot mata sinis.


Karina kembali menoleh ke arah Nadia, dia mempersilakan wanita penggoda itu untuk masuk.


“Ayo, Mbak. Tunggu Mas Dimas di dalam saja, sebentar lagi dia pasti keluar,"


Nadia mengangguk, dia mengikuti Karina dan dipersilakan duduk di ruang tamu yang diisi oleh dua set sofa mewah bergaya eropa klasik.


Manik mata Nadia berbinar memindai ruangan besar yang diisi oleh berbagai furniture mewah tersebut. Dalam hati dia berpikir, hanya sebentar lagi, semua kemewahan di sini pasti akan menjadi miliknya.


"Tunggu sebentar. Saya buatkan minum dulu."


Karina beranjak ke dapur setelah mendapat anggukan dari Nadia.


Kalau saja tidak takut hidupnya akan berakhir di penjara, rasanya ingin sekali Karina memasukkan sianida ke dalam minuman buatannya nanti.


Dimas sedang menuruni anak tangga ketika Karina melintas di bawahnya.


Penampilan suaminya yang super rapi itu membuat Karina keheranan, “Lho, Mas. katanya hari ini izin tidak ngantor, kenapa rapi sekali?"


“Iya, tadinya begitu, tapi ternyata ada file yang ketinggalan di kantor, jadi aku harus mengambilnya." Dimas beralasan.


Setelah menjawab pertanyaaan dari sang istri, Dimas melangkah menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang mendatangi rumahnya pagi-pagi begini.


Langkah kaki Dimas terhenti ketika mengetahui tamu tersebut adalah Nadia. Dahi Dimas berkerut dan raut wajahnya tampak kesal karena Nadia begitu lancang mendatangi kediamannya.


“Mau apa kau kemari? Aku sudah memberi banyak uang untuk servismu semalam, apa itu masih kurang? Aku tegaskan padamu, Nadia. Apa yang terjadi semalam adalah kesalahan, dan kau jangan berharap lebih. Ingat, kau harus tahu batasan, kau adalah sekretarisku dan aku adalah atasanmu!” tegas Dimas.


“Tapi Pak ...”


Perkataan Nadia terpotong karena melihat Karina mendekat dengan tangan membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


Melihat mimik wajah sang suami dan sekretarisnya itu tampak begitu tegang, Karina segera meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja.


“Sepertinya kalian sedang membicarakan masalah serius, maaf telah mengganggu. Kalau begitu aku mau lanjut masak dulu.”

__ADS_1


Dimas tidak sadar jika suaranya tadi cukup keras, dan Karina dapat mendengar teriakan itu meski agak samar-samar.


‘Ternyata Mas Dimas semalam memang tidur bersama wanita ini. tega sekali dia melakukan hal itu padaku,' lirih Karina pedih.


'Baiklah, Mas. Tolong jangan menyesal jika nanti aku tidak sanggup lagi, lalu pergi darimu.' Hati Karin seperti teriris sembilu, rasanya sangat perih.


Dimas memperhatikan ekspresi Karina yang terlihat dingin.


‘Apakah Karin mendengar teriakanku tadi?’ tanya Dimas pada diri sendiri.


Karina menoleh Dimas dengan tatapan nanar. Tidak mengucapkan apa pun lagi, Karina melangkahkan kakinya menuju dapur.


Namun, Langkah Karina terhenti sebab Dimas menarik pergelangan tangannya, untuk sesaat sorot mata mereka saling berpadu satu sama lain.


Dimas merangkul bahu istrinya dan memberitahu kepada Nadia, “Perkenalkan, ini adalah istri saya, namanya Karina Mustika.”


Sejak awal Nadia diterima bekerja di perusahaannya. Dimas sudah menyadari gerak-gerik agresif, yang menunjukkan bahwa wanita ini terobsesi padanya.


Namun, sebelum ini Dimas selalu berusaha untuk menjaga batasan.


Sedangkan semalam adalah khilaf terbesar yang ia lakukan, dia sedang kalut memikirkan banyaknya pekerjaan. Ditambah ia juga sedang kesal pada Karina.


Selain belum bisa memberi keturunan, Semakin ke sini Karina juga semakin pasif dalam masalah ranjang. Dimas mendambakan wanita yang dominan, tapi hal ini tidak dia dapatkan dari Karina.


Yang lebih mengesalkan, akhir-akhir ini Karina sering menolak jika diajak berhubungan, dengan berbagai alasan yang tidak bisa diterima oleh Dimas.


Berbagai hal itulah yang akhirnya membuat Dimas gelap mata.


Melihat Dimas dengan begitu bangga memperkenalkan istrinya, Nadia mendesis dalam hati, ‘Lalu apa masalahnya jika kau sudah memiliki istri? Apa kau pikir aku akan berhenti mengejarmu, Dimas Wijaya Soebono? Tidak, yang adanya aku akan merebutmu darinya.'


Nadia melemparkan senyum manis penuh kepalsuan kepada Karina dan Dimas, “Iya, Pak, tadi saya sudah berkenalan dengan istri Anda.”


Karina melepas rangkulan tangan Dimas. “Mas aku lanjut masak dulu ya, kalian lanjutkan saja obrolannya ....”


Kali ini Dimas hanya mengangguk saja, yang penting Nadia sudah tahu jika dia memiliki istri, pikirnya.


Nadia dan Dimas kini duduk saling berhadapan.


Dimas duduk dengan kaki disilangkan dan kedua tangan dilipat di depan dada. “Sebenarnya mau apa kau kemari?”


Nadia tersenyum menggoda, dia melirik ke belakang untuk memastikan Karina tidak melihat mereka.

__ADS_1


Nadia bangkit dari tempat duduk lalu mendekati Dimas, dia berbisik dengan genit seraya mengembalikan ponsel atasannya tersebut. "Aku datang untuk mengembalikan ponselmu. Sekalian juga mau bilang, jangan ragu untuk memintanya lagi, jika kau sedang menginginkan servis terbaik dariku!"


Bersambung.


__ADS_2