Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Bukan Dimas tapi Farrel


__ADS_3

“Tidak! Aku tidak akan bercerai dengan Karina Mustika!”


Teriakan itu sontak membuat terkejut semua orang dalam ruangan sidang.


Semuanya sudah clear dan tidak bisa diganggu gugat lagi atas keputusan hakim yang menangani kasus, perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Dimas Wijaya.


Putra tunggal dari Poernama ini membuat keributan dalam sidang.


“Mas Dimas.”


“Dimas!” geram Poernama.


“Pa, kenapa Papa membantu untuk melancarkan urusan perceraian Dimas dan Karina? Papa tahu kan, Dimas sangat mencintai Karin!” bentak Dimas kepada ayahnya.


Heh!


Poernama menggelengkan kepada lalu berkata, “Kau sangat lucu ya, Dimas. Bukannya semua yang kau lakukan akan ada pertanggung jawabannya. Ini yang Papa maksud denganmu, kau harus menerima apa yang telah kau perbuat.”


“Tidak!”


Dimas dengan cepat mendekati Karina, ia menarik tangan wanita itu dengan kasar.


Namun, pihak hukum yang ada di sana dengan cepat menjauhkan Dimas dari Karina.


“Lepaskan aku!” perintah Dimas kepada pihak berwajib yang memegangi kedua tangannya.


“Karin, aku mohon kepadamu. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku sangat mencintaimu Karina Mustika, tolong beri aku kesempatan,” teriak Dimas di ruang sidang.


Wanita ini memejamkan kedua matanya sembari menelan salivanya.


Ia juga menghela napas dalam. “Tidak Mas, kau sudah sering melakukan hal itu kepadaku! Kita pisah saja, semua ini untuk kebaikan kita bersama, Mas.”


“Tidak! Kau akan tetap menjadi istriku, tunggu saja pembalasanku Karin!”


Tindakan Dimas begitu brutal, sehingga ia harus diamankan oleh kepolisian. Dan ia dikenakan hukuman dua minggu penjara karena melakukan keributan dalam ruang sidang dan membuat orang lain tidak nyaman.


Karina hanya bisa melihat Dimas dengan tatapan penuh iba.


Tidak akan ada lagi kesempatan untuk lelaki seperti Dimas di dalam hati Karina. Ia telah sakit hati kepada mantan suaminya itu.


Menurutnya hidup tanpa Dimas lebih baik daripada hidup bersama orang yang selalu membuatnya sakit.


Poernama mendekati Karina, ia melihat mantu kesayangannya itu hampir meneteskan air mata.


Lelaki ini segera memberikan pelukan hangat kepada Karina Mustika sembari berucap, “Tidak apa-apa Nak. Semua yang kau lakukan ini sudah benar, kau berhak memilih kebahagiaanmu. Biarkan Dimas akan mendapatkan karma yang telah ia tuai.”

__ADS_1


Farrel dan Sarah menatap sedih ke arah Karina.


‘Aku harap setelah semuanya usai, aku bisa membahagiakanmu Karin.’ Farrel berdialog.


Semuanya sudah jelas, kini Karina telah memilih jalan terbaiknya.


“Aku harap kau selalu bahagia ya, Karin,” ucap Sarah sembari memeluk sahabatnya itu.


“Terima kasih banyak atas bantuanmu ya, Sarah,” tutur Karina.


Poernama sejajar dengan Sarah dan Karina sejajar dengan Farrel.


Lelaki yang memiliki sikap bijaksana itu menatap mata Farrel. “Farrel, Om serahkan semuanya sekarang kepadamu ya. Om berpesan jaga lah baik-baik Karina.”


Farrel menunduk hormat kepada ayah sahabatnya itu, “Baik Om.”


Mereka berdua pun pulang dari pengadilan agama. Farrel ingin mengajak Karina ke suatu tempat.


“Kau baik-baik saja, Karin? Sejak tadi kau tidak berbicara sepatah kata apa pun?” tanya Farrel sangat khawatir di dalam mobil.


Karina menoleh ke arah Farrel, ia melihat mata coklat lelaki yang ada di sampingnya ini dengan bahagia.


Hah!


“Aku merasa lega, Farrel. Entahlah, aku merasa sudah lepas dari penjara cinta yang membuatku tersiksa.”


“Terima kasih ya, kau selalu ada ketika aku mengalami kesulitan.”


Farrel melirik Karina dan ia tersenyum.


Namun, ada hal yang membuat Karina masih penasaran sampai detik ini. Mengenai sosok lelaki yang membantunya di club malam selain Dimas Wijaya.


“Farrel, apakah kau pernah menolong gadis muda 9 tahun silam di Foreplay Club?”


Manik mata Farrel membesar, ia terkejut karena Karina tiba-tiba menanyakan hal itu.


Dengan sedikit senyum ia pura-pura bertanya, “Memang ada apa ya, Karin?”


Karina terdiam, ia terus menatap ke arah Farrel dengan penglihatan yang tidak biasa.


Merasa diperhatikan begitu detail membuat Farrel begitu malu. “Kenapa kau menatapku seperti itu, Karin? Membuatku grogi saja,” ia bergurau.


Hmmm!


Karina masih mengira-ngira. Pada saat dirinya di peluk oleh Dimas, ia melihat punggung lelaki itu dan di belakang leher lelaki tersebut terdapat tanda lahir berbentuk goresan berwarna merah.

__ADS_1


Wanita cantik ini iseng bertanya, “Apakah kau memiliki tanda lahir di bagian belakang lehermu, Farrel?”


Humm!


Tangan kiri Farrel repleks memegangi leher bagian belakangnya.


“Kenapa kau menanyakan hal ini, Karin?” Farrel terus bertanya.


Tanpa melontarkan pertanyaan lagi, Karina segera melihat leher bagian belakang Farrel.


Hah!


Karina menutup mulutnya, ia begitu terkejut. “Apakah kau orangnya, Farrel? Kau yang menolongku di Foreplay waktu itu?”


Farrel menyalakan lampu sent ke kiri, ia menghentikan mobilnya. Menurut Farrel kali ini harus mengatakan apa yang telah terjadi di masa lalu.


Lelaki tampan memiliki lesung pipi ini menatap mata Karina. Namun, ia tidak seperti biasa melemparkan senyum manisnya.


Bahkan sekarang netra mata Farrel berkaca-kaca. Entah apa yang dirasakan seorang lelaki casanova ini.


“Karin, kau adalah adik kelas satu tingkat dariku. Pada saat orientasi sekolah, aku sudah memiliki ketertarikan denganmu. Dari semua gadis cantik yang mendekatiku, aku melihatmu seperti memiliki cahaya yang tidak bisa aku jelaskan. Sejak saat itu kita bertemu.”


Setelah setahun berlalu, Dimas dan Farrel menjadi kakak kelas tingkat akhir. Di tahun ini mereka akan tamat dan melanjutkan keperguruan tinggi masing-masing.


Tidak disangka, Farrel yang selalu memendam perasaan kepada Karina akhirnya berani menunjukkan tingkah playboy itu untuk merayu adik kelasnya tersebut.


Sontak hal ini membuat Karina risih, dan selalu menjauhi Farrel.


Namun, ketika Farrel mulai mengganggu Karina, Dimas berkata seperti ini kepada sahabatnya, “Wanita itu sungguh cantik ya, Rel. Kali ini biarkan aku untuk memilikinya, aku tertarik kepadanya!”


Semenjak itu Farrel berusaha untuk tidak lagi mengganggu Karina dan membiarkan Dimas untuk mendekatinya.


Kejadian terakhir di club malam, tanpa sepengetahuan Karina, Farrel selalu memperhatikannya.


Ia sengaja membiarkan Dimas untuk melindungi Karin, wanita yang sangat ia cintai.


“Aku tidak akan memaksa seseorang yang tidak mencintaiku untuk membalas perasaan ini, tapi aku yakin dengan ketulusan yang aku berikan, suatu saat nanti aku akan mendapat jawabnnya. Aku hanya mengikuti alur yang telah di tentukan saja, entah perasaan siapa yang lebih kuat.”


Farrel pun akhirnya tersenyum.


“Aku kalah dengan perasaanku, Karin. Sekuat hati aku berusaha melupakanmu, tapi hasilnya tetap sama, hatiku tetap untukmu. Bahkan pada saat aku tidak di Indonesia, setiap detik dan setiap menit aku selalu memikirkan dirimu. Jadi aku kalah karenamu!” lanjut Farrel mengutarakan isi hatinya yang terdalam.


Karina tidak bisa mengatakan apa pun, ia begitu terharu mendengar apa yang dikatakan Farrel kepadanya.


“Karin, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku ingin menemukanmu dengan seseorang spesial bagiku!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2