Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Ancaman Wanita Pelakor


__ADS_3

Bola mata coklat Dimas membesar, “Apa yang kau bicarakan, hah! Jika kau masih membahas kejadian semalam, lebih baik segera keluar dari rumah saya!”


Dimas menunjuk ke arah pintu.


Meski nadanya terdengar sangat marah, tapi Dimas berusaha untuk bicara dengan volume sekecil mungkin, agar tidak kedengaran oleh Karina.


Heh!


Senyum licik tersirat di wajah Nadia Olivia. Ia menatap atasannya itu dengan penuh percaya diri. Tidak ada keraguan, dia yakin bisa membuat Dimas bertekuk lutut sepenuhnya.


Menurut Nadia, mengejar Dimas adalah tantangan, dan memilikinya adalah kebanggaan.


‘Lihat saja nanti, kau pasti akan menjadi milikku!’ batin Nadia.


Nadia kembali menggoda Dimas.


Ia berbisik dengan kesan nakal yang tidak tahu malu, “Pak, milik Anda itu besar dan perkasa, saya benar-benar puas semalam!”


Gleek!


Dimas menyipitkan kelopak matanya, lalu menelan saliva.


‘Bahaya, jika Nadia terus berada di dekatku. Bisa-bisa aku tidak dapat mengendalikan diri seperti semalam.' Dimas bermonolog.


Dalam situasi seperti sekarang, Dimas mulai berpikir untuk memecat sekretarisnya tersebut.


Sementara Karina yang tengah berkutat dengan peralatan dapur, sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya.


Setelahnya Karina diam-diam berdiri di balik tangga, Ia ingin menguping apa yang dibicarakan Dimas dengan Nadia.


Karina dan Dimas baru menempati rumah megah ini selama satu tahun. ini adalah rumah yang dibangun Dimas sebagai kado ulang tahun pernikahannya yang kedua.


Mulanya Karina sangat senang bisa pindah ke rumah baru, sebab ia bisa tenang dari tekanan mertua yang selalu mendesak agar memberi cucu.


Namun, kian ke sini kedamaian dan kebahagian itu kian menghilang. Salah satu sebabnya adalah Karina yang tak kunjung hamil.


“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Nadia?” tanya Dimas sembari membuang napas kasar, dia mulai frustasi.


Sudut bibir Nadia terangkat, sampai kapan pun ia tidak akan melepaskan Dimas dari perangkapnya.


Wanita licik ini sangat terobsesi dengan harta dan ketampanan Dimas. Si pewaris tunggal konsorsium raksasa Soebono Grup.


“Saya hanya ingin cintamu, Pak. Saya mendambakan dirimu yang liar dan penuh gairah seperti semalam,” jawab Nadia sambil menatap mata Dimas dengan penuh goda.


“Saya tidak ingin mendengar perkataan tidak penting itu!” ketus Dimas


“...”


“Tujuanmu kemari adalah untuk mengembalikan ponsel saya, bukan? Kau boleh pergi sekarang. Bukankah kau masih punya proposal yang belum selesai dikerjakan? Segera selesaikan. Besok, saya ingin proposalnya sudah jadi, dan sudah ada di meja saya!"


Nadia tersenyum licik. “Oke, baiklah. Saya akan ke kantor, tapi nanti ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan pada Anda.”


Setelah berkata, Nadia berdiri dan ingin meninggalkan kediaman Dimas.


“Bu Karina, saya pamit ya ...,” teriak Nadia.

__ADS_1


Karina yang mendengar itu keluar dari tempat persembunyian. Dia belum lama di balik tangga, dan belum banyak yang ia dengar dari obrolan keduanya.


Sayang sekali Nadia harus pamit begitu cepat, padahal Karina ingin mendapatkan lebih banyak bukti perselingkuhan suaminya.


Karina tiba di ruang tamu, lalu sebagai tuan rumah yang baik, dia mengantar Nadia sampai ke teras.


Baru beberapa langkah meninggalkan rumah tersebut, Karina berhenti dan menoleh ke arah Karina dengan tatapan sinis.


Bola matanya berputar seperti sedang meremehkan Karina. “Karina, meski kau menjaga suamimu sebaik apa pun, dia tetap akan menjadi milikku!”


Setelah Nadia menghilang, Karina kembali ke dalam dan mengajak Dimas untuk sarapan.


Karina merasa biduk rumah tangganya akan segera karam, hal ini membuatnya jadi lebih banyak melamun.


Aaaww!


Karina yang sedang tidak fokus, tanpa sengaja menyenggol mangkuk sup, hingga kuah panas itu mengenai tangannya.


Dimas secara spontan mendekati Karina, “Kau tidak apa-apa, Sayang?”


Ia memegangi tangan Karina yang memerah.


Uhhss! Ussh!


Dimas meniup tangan sang istri.


“Kita ke rumah sakit ya,” ajak Dimas.


Karina melihat Dimas dengan tatapan kosong dan sedih. Ia melepaskan tangannya, “Aku tidak apa-apa, Mas. Ini hanya memar biasa, nanti akan sembuh sendiri.”


Ucapan Dimas terpotong oleh perkataan Karina, “Mataku sangat berat, Mas. Aku ngantuk karena begadang menunggumu semalaman. Kau lanjut saja makannya.”


Tanpa menunggu jawaban dari Dimas, Karina dengan cepat menaiki tangga untuk menuju ke kamar utama.


Sebenarnya Dimas juga mengantuk, ia pun kurang tidur semalam.


Bedanya, Karina begadang karena menunggu kepulangan sang suami, sedangkan sang suami begadang karena berpacu mencari kepuasan dengan sekretarisnya.


Karina tiba di kamar, pada saat ingin merebahkan tubuh yang lelah itu, sorot matanya tertuju pada sesuatu yang menarik perhatian.


Di depan lemari, Dimas menggantung kemeja berwarna putih yang ia kenakan kemarin. Tepat di kerah lehernya terdapat noda berwarna merah, seperti bekas kecupan bibir seseorang.


‘Noda lipstik?’ Karina membatin.


Buktinya semakin banyak dan kuat, kini tidak ada lagi keraguan jika Dimas telah bermain gila dengan sekretaris barunya itu.


Tap! Tap!


Karina mendengar suara langkah kaki mendekatinya.


Dimas memeluk hangat sang istri dari belakang.


"Kenapa kamu di sini, Mas? Tadi katanya mau pergi mengambil sesuatu di kantor!"


"Tidak jadi, besok saja!" Dimas berbohong, padahal benda yang dicarinya sudah diantar oleh Nadia.

__ADS_1


Dimas masih mendekap Karina dengan erat.


“Kamu sendiri sedang apa, Sayang? Katanya mau tidur ... tidur yuk, aku juga lelah sekali,” ajak Dimas dengan suara merayu.


“Mas, apakah semalam kau benar-benar di kantor?” tanya Karina memancing.


Dimas melepas pelukan hangatnya. Ia menatap heran pada Karina dari belakang.


“Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku sudah bilang ‘kan, aku ada project besar yang harus dikerjakan, sampai membuatku dan tim yang terlibat harus lembur.”


Karina mendengus dalam hati.


'Bohong! Teruslah berbohong, sampai bibir yang penuh dengan sandiwara itu nanti membusuk!'


‘Tim yang terlibat? Bukan ‘kah kemarin sudah tidak ada siapa pun di kantor? Selain kau dan sekretaris penggodamu itu tentu saja. Ah, iya, mungkin saja proyek yang kau maksud itu adalah proyek membuat anak!’ Karina kembali membatin.


Karina memutuskan untuk menahan diri, dan tidak ingin memperkeruh suasana dulu.


Toh, sudah pasti orang yang suka berbohong tidak akan mengaku. Meskipun nanti mulut Karina sampai berbusa menanyakan hal yang sama.


Karina kembali menggantung kemeja Dimas, lalu naik ke atas ranjang dan segera merebahkan tubuhnya yang lelah itu.


Karena penasaran, Dimas mengecek kemejanya secara detail.


Benar saja, dia melihat noda merah yang merupakan bekas lipstik milik Nadia di kerah kemeja tersebut.


‘Sial! Kenapa wanita itu meninggalkan bekas di kemejaku. Aku harus membuat alasan yang masuk akal, agar Karina tidak mencurigaiku,' gumam Dimas.


Dimas segera mendekati istrinya. Lelaki itu memberi pelukan hangat pada Karina yang rebahan di atas ranjang.


“Sayang, apa kau curiga aku berbuat yang tidak-tidak?” tanya Dimas dengan intonasi yang dibuat selembut mungkin


Karina diam saja tanpa ingin membuka mata, hatinya begitu perih menahan sakit akibat sandiwara yang dilakukan Dimas.


“Sayang, percayalah padaku. Kemarin itu ....”


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Karina memotong ucapan Dimas. “Mas, aku sedang tidak ingin membicarakan apa pun. Aku hanya ingin tidur, aku lelah!"


Dimas menyadari mood Karina sedang tidak baik, mau tidak mau ia harus menuruti perkataan istrinya tersebut.


Terlebih dia juga tidak ingin Karina semakin curiga.


Karina yang lelah jiwa dan raga itu, tidak butuh waktu lama untuk tertidur lelap.


“Maafkan aku ya, Karin. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan,” bisik Dimas, dan setelahnya dia mencium dahi Karina dengan lembut.


Dimas juga ingin tidur, tapi baru beberapa saat memejamkan mata, ponselnya berbunyi.


Dimas mengambil benda canggih yang berada di meja nakas tepat di samping tempat tidurnya.


Pada saat melihat pesan yang ternyata dari Nadia. Dimas menggerutu, “Sial, mau apa lagi wanita itu menggangguku? Sepertinya aku memang harus memecatnya!”


Dimas membuka pesan multi media yang berisi video, lengkap dengan keterangan di bawahnya.


“Pak Dimas yang terhormat, saya telah mengabadikan momen penuh gairah kita semalam. Jika video ini tidak ingin saya sebar, atau bahkan mengirimnya langsung kepada Ibu Karina, Anda harus menemui saya di Historia Cafe siang ini!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2