Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Sentuhan Lembut


__ADS_3

Teriakan Poernama sontak membuat Dimas geram dan ia begitu bingung harus menjawab apa.


Ia memiringkan kepala, seolah tidak mengerti apa yang dibicarakan ayahnya.


“Maksud Papa, bagaimana? Dimas tidak mengerti, Pah.”


Poernama masih melihat Dimas dengan sorot mata menyeramkan. Lelaki ini mendekati Dimas dan menampar pipi putra satu-satunya ini, tanpa segan-segan.


Plak!


Dimas terkejut, bola matanya membesar sambil menyeka pipi yang teramat sakit itu.


Hal ini membuat Maya mendekati Dimas dan membantunya, “Sayang, tolong jangan lakukan ini kepada putra kita. Kau bisa kan mengatakan dengan baik-baik kepadanya?” mohon Maya kepada suaminya.


Raut wajah Poernama terlihat sangat kecewa terhadap anak yang sudah dibimbing dengan begitu baik dari kecil.


“Papa sangat kecewa kepadamu Dimas. Seharusnya kau tidak melakukan ini kepada istrimu!”


Poernama telah mengetahui masalah Dimas dan Karina, ia pun sampai menyuruh orang kepercayaan untuk mencari kebenarannya.


Pada awalnya Maya menceritakan hal ini, yang tentu saja selalu membela Dimas. Maya ingin Poernama menyetujui Dimas pisah dengan Karina.


Poernama yang sudah mengetahui tentang sang istri sejak awal tidak setuju atas pernikahan Dimas dan Karin. Tidak serta merta menyantap mentah-mentah cerita istrinya itu mengenai Karina.


“Jika kau bosan dengan Karina, lepaskan lah! Jangan melakukan kekerasan apa lagi sampai membuatnya terluka! Papah tidak menyangka Dimas, kau berani melakukan hal itu, putra pewaris Soebono yang dikenal sopan dan santun ternyata memiliki hati seperti iblis!”


Maya menggelengkan kepala, “Sudah lah Sayang. Dimas tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, toh juga wanita itu yang seling ...”


“Tutup mulutmu Maya! Aku tahu kau dan putramu ini telah bersekongkol membuat Karina pergi dari keluarga kita!” geram Poernama yang begitu marah kepada sang istri.


Lalu lelaki itu menoleh ke arah putranya sambil menunjuk, “Kali ini Papa tidak akan membantumu, kau sudah dewasa dan apa yang telah kau perbuat harus dipertanggung jawabkan!”


Poernama segera meninggalkan kediaman putranya dengan tergesa-gesa.


Maya begitu bingung, ia menyentuh wajah anaknya dengan lembut, “Sayang, kau tidak perlu khawatir ya. Mama akan buat Papa tenang dulu.”


Kemudian Maya segera meninggalkan Dimas sendirian.


Huuaaa!


Dimas melempar tasnya dan berteriak sekencang mungkin.


“Bagaimanapun caranya, kau akan kudapatkan kembali, Karina Mustika!” ucapnya sembari mengepal kedua tangan begitu kuat.

__ADS_1


Lain dengan Karina, ia masih bergemelut kegelisahan ketika disentuh dengan Farrel tadi di kolam.


Jantungnya tidak henti-henti berdetak, “Sepertinya ada yang salah ini?”


Ia meletakkan telapak tangannya di dahi, meyakinkan dirinya tidak lagi diserang demam atau sakit lainnya.


“Tubuhku tidak panas? Tapi kenapa dada ini sejak tadi berdetak kencang ya?” gumamnya.


Lalu ia segera mengambil air putih, untuk menenangkan diri. Rasanya begitu aneh, sebelum-sebelumnya ia dekat dengan Farrel tidak begini.


Namun, kenapa pada saat melihat netra mata lelaki itu tadi, ia merasakan sensasi yang berbeda.


“Tidak, Farrel adalah lelaki yang sangat suka mempermainkan perasaan wanita. Ia akan membuang dan menghempas wanita itu jika ia sudah mendapatkannya!” tegas Karina kepada diri sendiri, agar ia tidak lagi memikirkan Farrel.


Semakin ingin membuyarkan bayangan lelaki yang telah membuatnya merasakan hal aneh, semakin jelas bayangan Farrel.


“Tidak! Kenapa bayangan dia selalu tersirat dikepala ini?”


Tok! Tok!


Karina terkejut, siapa mengetuk pintu kamarnya malam-malam begini!


Wanita cantik itu segera membuka pintu.


Glek!


“Farrel, kenapa kau kemari?”


Lelaki itu tersenyum sambil membawa nampan yang di atasnya ada sup jamur, “Aku bawakan sup dan makanan kesukaanmu, Karin.”


Karina melihat ke arah sup dan makanan lainnya, ada juga pangsit daging.


“Tapi, aku sudah makan di rumah Sa ...”


Belum menyelesaikan perkataannya, Farrel malah masuk tanpa seizin Karina.


Setelah lelaki itu masuk, Karina melihat ada dua pelayan pribadi yang ingin meninggalkan Tuan Mudanya itu.


Karina mendengar bisikan kedua pelayan tersebut, “Baru pertama kali aku melihat Tuan Muda ingin membawakan langsung makanan pada seseorang.”


“Aku yakin, kali ini mungkin Tuan Muda benar-benar serius dengan hubungannya.”


Wanita cantik ini segera masuk, Farrel sudah menunggu di dalam. Ia meletakkan makanan itu di meja.

__ADS_1


“Karin, makanlah. Aku yakin kau pasti tidak enak makan tadi di rumah Sarah,” ucap Farrel begitu yakin.


Hmm!


Karina menghela napas.


“Maaf Farrel, tapi aku tidak biasa makan malam.”


Farrel tersenyum ia mendekati wanita itu dan memegangi tangannya, “Karin, aku tidak ingin kau sakit. Jangan pikir macam-macam, aku kemari hanya ingin memberikan makanan kesukaanmu.”


Farrel sangat berbeda jauh dengan Dimas!


Dimas sama sekali tidak pernah mengetahui makanan favorit Karina, ia lelaki yang benar-benar cuek. Sedangkan Farrel, entah dari mana ia mengetahui semua yang disukai Karina Mustika.


Wanita cantik ini tidak ingin terdiam. Ia mulai penasaran mengapa Farrel sampai mengetahui dirinya begitu jauh.


“Farrel, aku ingin bertanya sesuatu,” kata Karina pelan.


Sudut bibir lelaki tampan ini terangkat, senyumnya benar-benar manis mengarah ke Karina.


Tergambar dari bola matanya ada cinta tulus yang selama ini ia pendam.


‘Semakin aku ada di dekatmu, ingin rasanya aku memberikan cinta ini kepadamu, Karin,’ ungkap Farrel dari dalam lubuk hatinya.


Karina menatap jauh Farrel, “Kenapa kau tahu semua tentangku?”


Kali ini pertanyaan Karina benar-benar serius, bahkan senyum di wajahnya tidak terlihat.


Tatapannya hanya fokus ke arah mata Farrel.


Sontak hal ini membuat Farrel melepas kedua tangannya yang masih memegangi Karina.


“Kau sudah tau jawabannya, Karin. Beberapa kalipun aku mencoba menjawab jujur, kau juga tidak akan menerimanya.”


‘Entah itu seribu, atau puluhan ribu pun aku akan tetap mengungkapkan. Kalau aku sangat mencintaimu, Karin.’ Terakhir ini Farrel hanya berkata dalam hatinya.


“Dimas juga dulu sama sepertimu yang selalu mengatakan bahwa dia mencintaku, tapi nyatanya cinta yang ia ucapkan pudar dan ia ternyata tidak sungguh-sungguh mencintaiku,” lirih Karina meneteskan air mata.


Farrel paham dengan apa yang dikatakan Karina. Wanita yang sangat tulus mencintai sahabatnya masih belum bisa benar-benar melupakan Dimas, yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


Melihat kesedihan yang membelenggu di wajah Karina, gerak repleks Farrel menyentuh leher wanita itu.


Ia menggerakkan pelan jari-jarinya di sela rambut panjang Karina.

__ADS_1


Dagu Karina terangkat dan dengan lembut Farrel menyentuhkan bibirnya sembari mengatakan, “Aku mencintaimu, Karina Mustika.”


Bersambung


__ADS_2