Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Mencari Karina


__ADS_3

Setelah mengantar Karina, Farrel segera kembali ke resort.


Hah!


Farrel tersenyum membayangkan wanita yang sangat ia cintai, yang kini sudah menemukan titik terang. Ia berharap setelah Karina berpisah dengan Dimas, wanita itu bisa hidup bahagia.


Tidak sabar ia mengecek cctv kediaman Dimas yang masih  disadap.


Ia segera menghidupkan komputernya. Tidak ingin menunggu lama, ia ingin memantau kegiatan Karina di rumah.


Namun, pada saat memulai rekaman, ia mendapati Karina sudah membawa tas dan wanita itu menuju keluar gerbang.


Ia segera menghubungi Karina.


Tut! Tut!


'Nomer ini tidak dapat dihubungi!'


Tidak ada waktu lagi, ia segera meninggalkan resort dan menghubungi Daniel.


“Daniel, cepat cari Karina Mustika! Dan kerahkan semua pengawal untuk mencarinya!”


Tanpa berbicara panjang lebar, Farrel segera menyusuri Kota Surabaya.


Namun sayang, Farrel tidak bisa segera mengakses keberadaan Karina karena nomer telpon wanita itu tetap tidak bisa dihubungi.


“Sial!” teriak Farrel sambil memukul setir mobilnya.


Ia begitu kesal, hari sudah malam tapi Farrel tidak kunjung juga menemukan wanita pujaannya itu.


Berkali-kali ia menghubungi Daniel, namun jawabannya tetap sama. 


“Kau di mana, Karina? Aku berharap tidak terjadi apa-apa denganmu,” Farrel membatin.


Ia melanjutkan pecarian, mengeksplor dari sudut kota sampai ke plosok.


Pagi pun menjelang, Farrel sama sekali tidak dapat beristirahat. 


Farrel sedikit melamun, ia bingung harus mencari Karina di mana lagi.


Beberapa saat, lelaki tampan ini menerima telpon dari Daniel.


Dengan sigap ia segera bertanya, “Apakah kau sudah menemukan, Karina?”

__ADS_1


Setelah mendapatkan informasi yang dilontarkan oleh Daniel, tampak wajah Farrel tersenyum sumringah.


Sepertinya Daniel sudah menemukan keberadaan wanita malang itu.


“Tunggu, Karin. Aku akan segera datang menemuimu.”


Farrel menuju ke sebuah kedai sederhana yang menjual soto sapi.


Daniel yang sudah lebih dulu memantau dari kejauhan, mendekati Farrel sambil menundukkan  kepala.


Farrel menepuk-nepuk punggung Daniel pelan, “Kerja bagus Daniel. Terima kasih telah membantu.”


Setelah mengatakan hal itu kepada orang kepercayaannya, Farrel segera melangkah ke dalam. 


Bola matanya membesar, sepanjang malam ia mencari wanita yang ada di depannya ini. Karina yang sibuk membersihkan meja menyambut tamu, dengan menoleh dan meleparkan senyuman.


Sama seperti Farrel, netra mata Karina membesar dan tampak terkejut melihat keberadaan sahabat Dimas yang sudah ada di hadapannya, “Kenapa kau bisa di sini, Farrel?”


Tiba-tiba Farrel meneteskan air mata dan menuturkan, “Akhirnya aku menemuimu, Karina Mustika.”


Dengan cepat ia mendekati Karina, dan memeluk dengan erat wanita itu.


“Sudah ku bilang kepadamu kan, Jika kau memerlukan bantuan, tolong katakan saja kepadaku,” tegas Farrel.


Karina melepas pelukan lelaki ini, “Maaf, Farrel aku sedang bekerja.”


Lalu wanita ini menundukkan kepalanya, “Maafkan saya, Mbak Hera. Saya bukannya ...”


Hera, nama pemilik kedai toko itu hanya tersenyum dan berucap, “Silahlah Mbak Karina, tidak masalah.”


Wanita itu tersenyum sembari melanjutkan pekerjaannya.


“Tinggal lah bersamaku, Karina. Aku akan memberikan fasilitas untukmu, jangan khawatirkan semuanya,” pinta Farrel.


Wanita cantik ini terdiam, ia tidak bisa segera memutuskan akan tinggal bersama Farrel. 


“Aku baru saja bekerja di sini, Farrel.”


Lelaki itu memegangi bahu Karina, ia menatap jauh mata wanita ini.


“Tolong, ikuti aku kali ini ya, Karina. Aku ingin kau tinggal di resortku, masalah kau baru bekerja di sini aku akan bicara langsung dengan pemilik kedai ini.”


Setelah berbincang, Farrel menemui Hera dan ia berkata dengan sopan. Menjelaskan ia ingin mengajak Karina ke tempatnya.

__ADS_1


Hera tidak mempermasalahkan tentang itu.


Karina berpamitan dengan wanita yang membantunya dalam masa sulit ini. 


“Terima kasih, Mbak Hera. Saya sangat berhutang budi kepadamu.”


Farrel memegangi tangan Karina, untuk menuju ke dalam mobil. 


Sudah cukup ia seperti ini, waktunya Karina bangkit. Ia meminta bantuan kepada sahabat mantan suaminya tersebut.


“Farrel, bisakah kau membantuku?”


“Huum, aku akan membantumu, Karin apa pun itu,” Farrel sedikit melirik ke arah samping, lalu fokus kembali ke depan.


“Bantu aku membalaskan dendam kepada Mas Dimas!”


“....”


Farrel mengangukkan kepalanya, meski ia belum tahu rencana Karina selanjutnya.


Sampainya di penthouse, Farrel menyuruh para pelayan pribadinya untuk mengantarkan Karina ke kamarnya.


Namun, Karina meminta Farrel untuk menemaninya karena ingin membicarakan hal serius.


Farrel tahu di mana ia harus berbicara hal ini dengan Karina. Di dekat resortnya ada sebuah danau. 


Farrel mengajak Karina ke sana.


“Di sini adalah tempat favoritku, pada saat aku merasa kesepian.” Ia menoleh ke arah Karina seraya tersenyum tipis.


“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” lanjut Farrel.


Karina melamun, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu hal yang begitu berat.


“Karin ...” panggil Farrel lembut sembari melambaikan tangannya.


Wanita ini menggelengkan kepala, segera membuyarkan lamuannya itu. 


“Maafkan aku, Farrel.”


“Antarkan, aku besok ke rumah Nadia Olivia!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2