
Setelah mengatakan ancaman itu, Farrel segera meninggalkan ruangan Dimas.
“Sial!” teriak Dimas yang merasa harga dirinya telah dicabik-cabik.
Lelaki ini berusaha bangkit, sembari memegangi perut yang masih sakit.
Setelah Farrel pergi, Nadia dengan cepat memasuki ruangan atasannya, sebelumnya dia hanya berani menguping dari luar, karena takut ikut menjadi korban amukan Farrel.
“Pak Dimas, apa kau baik-baik saja?” tanya Nadia dengan mimik wajah yang pura-pura khawatir.
Ia menyentuh pipi Dimas dengan lembut. Lalu mengambil tisu untuk membersihkan darah yang masih mengalir di bibir lelaki itu.
“Sudah, biar aku saja yang membersihkannya!” tolak Dimas, ingin mengambil tisu yang dipegang Nadia.
Namun, wanita memiliki bisa beracun ini tidak menyerah. “Tidak Pak, biar aku saja. Kau pasti sedang kesakitan," bujuknya.
Nadia membantu Dimas untuk duduk di kursi kebesarannya. Lalu mengambil kotak P3K dan mengobati luka Dimas.
Dimas menatap lurus ke depan, tiba-tiba ia teringat pada Karina yang merupakan sumber kemarahan Farrel tadi.
“Sialan kau Karina!” gumam Dimas pelan.
Nadia yang ada di dekat Dimas dapat mendengar gumaman tersebut, ia lantas tersenyum licik.
Dia sudah tahu pemukulan yang terjadi pada Dimas hari ini ada sangkut-pautnya dengan Karina.
Nadia yang sedang mengompres luka pada sudut bibir Dimas itu, sengaja menekan dengan sedikit keras untuk menarik perhatian.
“Aagh!”
Dimas meringis kesakitan seraya menatap Nadia dengan kesal. “Apa yang kau lakukan!”
"Maaf, Pak. Saya sedang tidak fokus, soalnya sedang kepikiran dengan apa yang menimpa Bapak hari ini."
Dimas diam saja, tidak menanggapi.
“Pak Dimas, Sayang. Aku yakin sekali jika ibu Karina pasti memiliki hubungan spesial dengan lelaki tadi. Kalau tidak, mana mungkin dia akan mendatangi kantor orang pagi-pagi sekali hanya untuk mengamuk!"
Nadia tadi menguping adu mulut antara Farrel dan Dimas. Dia mendengar dengan jelas saat Farrel menyatakan masih memiliki perasaan terhadap Karina.
“Apa maksudmu?” tanya Dimas dingin.
Nadia mendekati bibirnya ke daun telinga Dimas. “Sayang, sebelumnya kau pernah bercerita padaku, jika akhir-akhir ini istrimu sering menolak diajak berhubungan, itu berarti ....” Nadia sengaja menghentikan ucapannya.
Jika dia adalah pria yang cerdas, maka lelaki ini pasti akan mengerti dengan sendirinya, pikir Nadia.
Dimas tampak menganggukkan kepala, dia mulai terpengaruh ucapan Nadia.
Melihat reaksi Dimas, Nadia meliriknya dengan ekspresi girang. Sekali lagi dia berhasil membuat atasannya ini masuk ke dalam perangkap.
Nadia kembali melanjutkan perkataannya yang sengaja ditunda, “Wanita itu sama dengan lelaki, Sayang. Bila dia bosan dengan pasangannya, dia pasti mencari kepuasan di luar sana.”
Pikiran Dimas yang saat ini tengah berapi-api, semakin membara setelah Nadia menyiramkan minyak ke dalamnya.
__ADS_1
"Karina, beraninya kau bermain gila di belakangku!" geram Dimas dengan sorot mata berkilatan.
Srrek!
Dimas membuka dasi dan melemparnya ke sembarang arah. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar, suami Karina ini terlihat sangat frustasi.
Tidak tahan lagi, ia bangkit berdiri dengan wajah gelap yang penuh amarah.
“Mau ke mana , Sayang?” Nadia terkejut melihat Dimas tiba-tiba berdiri.
“Jika Direktur Utama mencariku, katakan aku sudah pulang karena ada urusan mendadak!” jawab Dimas singkat, dan segera meninggalkan ruangannya.
"Baik," sahut Nadia.
Direktur Utama yang dimaksud Dimas adalah ayahnya sendiri, ia tidak ingin imagenya buruk di hadapan Poernama Soebono.
'Mampus kau Karina!' Nadia membatin sembari tersenyum culas memandangi punggung Dimas.
Dimas berjalan ke parkiran dengan tergesa-gesa. Dia masuk ke dalam mobil, dan melajukan kotak besi keluaran eropa tersebut dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah, dia langsung berteriak dari pintu depan. “Karin, di mana kau!”
Tidak mendapat jawaban, Lelaki ini kembali berteriak seperti orang kesetanan, “Karina Mustika, di mana kau sialan!”
Namun, wanita yang dipanggil tidak juga mendatanginya, hal ini membuat kekesalan Dimas semakin menjadi-jadi.
Lelaki ini menuju ke kamar utama, tapi Karina tidak ada di sana, dia mencari ke ruangan lain, tapi juga tidak ada.
Dimas keluar dari rumah, menemui supir pribadi istrinya. "Di mana nyonya?"
"Kalau dia ada di dalam, untuk apa aku bertanya padamu!" bentak Dimas.
"Mungkin sedang di taman belakang, Tuan."
Mendengar jawaban itu, Dimas langsung berbalik badan, karena itulah satu-satunya tempat yang belum dicek olehnya.
Saat tiba di taman belakang rumahnya, Dimas mendapati istrinya itu tengah duduk melamun.
“Karin!" teriak Dimas penuh kemarahan.
Mendengar suara sang suami, Karina menoleh dengan sorot mata heran, "Mas, kenapa sudah pulang?"
Dimas segera mendekat ke arah Karina. Dalam posisi seperti ini Karina dapat melihat bekas lebam di sudut bibir Dimas, dan juga luka robek di bagian pelipisnya.
"Mas, kamu kenapa bisa babak belur seperti ini?" tanya Karina khawatir.
Namun, bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan sebuah tamparan keras.
Plaaak!
“Kurang ajar kau, Karin!”
Sungguh malang nasib Karina, dia yang tidak tahu apa-apa itu kembali mendapatkan tamparan di pipi yang sama.
__ADS_1
Padahal bekas yang kemarin saja belum sembuh!
Karina menatap nanar pada Dimas, sembari memegangi pipinya yang terasa perih, dia kembali meneteskan air mata.
“Kau ini kenapa lagi, Mas? Apa kau masih belum puas menyiksaku kemarin?” rintih Karina.
“Apa yang kau ceritakan pada Farrel, hah? Dasar wanita tidak berpendidikan! Sebagai istri seharusnya kau tidak menceritakan aib suamimu kepada orang lain!" raung Dimas.
Karina menggelengkan kepala, ia tidak paham dengan perkataan suaminya. “Apa yang kau bicarakan? Maksudmu bagaimana?”
“Jangan berpura-pura bodoh, Karina! Kau juga sudah bermain gila di luar sana dengan Farrel, iya kan!”
Tuduhan suaminya ini benar-benar tidak masuk akal, dan membuat Karina tidak habis pikir.
Kenapa malah dia yang dituduh selingkuh?
Meski begitu, Karina mencoba untuk mendinginkan suasana. Dia menjelaskan pertemuannya dengan Farrel kemarin, dan menegaskan bahwa ia tidak menceritakan apa-apa pada lelaki tersebut.
Namun, ucapan jujur Karina sama sekali tidak digubris oleh Dimas, dia malah keukeh menuduh sang istri telah bermain gila dengan sahabat lamanya tersebut.
Bisikan Nadia saat masih di kantor tadi terus terngiang di pikiran Dimas, dan dia menelan fitnahan tersebut mentah-mentah.
Dimas menjambak rambut panjang Karina sembari menatapnya dengan tajam. “Kau pasti sudah tidur dengan Farrel, kan? Makanya kau tidak lagi peduli pada kebutuhan, karena kau sudah mendapat kepuasan darinya. Ayo jujur, Karina!"
“Kau pikir aku ini wanita macam apa, Mas? Aku bukan pengkhianat sepertimu!” balas Karina dengan suara terbata-bata karena sedang menahan sakit.
Jambakan Dimas membuat kulit kepalanya nyaris mengelupas.
Dimas mendengus, lantas melepas jambakannya dengan sangat kasar.
Lelaki ini benar-benar telah berubah, dia sekarang seperti monster yang tidak pernah dikenal Karina sebelumnya.
Hah!
Dimas menghembuskan napas kasar. “Dasar wanita j4lang! Kau bilang aku mengkhianati pernikahan kita, tapi kenyataannya kau yang lebih dulu bermain gila!"
Dimas tidak tahu sejak kapan Farrel kembali ke Surabaya, jadi mungkin saja Karina dan Farrel sudah menjalin hubungan terlarang cukup lama, pikirnya.
Seketika dada Karina terasa sesak. Pantaskah tuduhan itu ia terima?
Meskipun Karina sudah berapa kali menjelaskan, tapi lelaki ini tetap bersikeras menuduh sang istri menjalin hubungan terlarang dengan Farrel.
Setelah puas memaki Karina, dia segera menelpon Nadia, sengaja melakukan hal tersebut untuk memanasi-manasi Karina.
“Nadia, aku ingin menghabiskan seharian ini bersamamu, aku akan menjemputmu sekarang juga!”
"..."
Setelah memutus sambungan, Dimas pun pun pergi begitu saja.
Karina menatap nanar punggung suaminya dengan hati teriris, dia tidak mengerti kehidupan macam apa yang sedang ia jalani.
“Apa yang telah dilakukan Farrel, sehingga Mas Dimas murka seperti itu?” Karina bermonolog.
__ADS_1
Memikirkan hal ini, Karina memutuskan untuk mencari Farrel, lelaki itu harus memberinya penjelasan!
Bersambung.