Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Tidak Sanggup Menahan Diri


__ADS_3

Sejenak Dimas memandangi Karina yang sudah tertidur lelap, setelahnya ia dengan hati-hati turun dari ranjang, agar istrinya itu tidak terbangun.


“Kurang ajar sekali wanita sialan itu!” geram Dimas.


Beberapa kali Dimas mengacak rambutnya dengan sangat kasar, karena merasa kesal.


Dimas memijat dahinya yang terasa pusing, lantas memutuskan untuk menghubungi Nadia.


Sebelum itu ia terlebih dulu keluar dari kamar, supaya Karina tidak mendengar perbincangannya nanti.


"Nadia! Dengar baik-baik, yaa ... jika kau berani mengirim video itu pada istriku, maka aku tidak akan sungkan memberimu pelajaran!" ancam Dimas begitu panggilannya terhubung.


‘Hallo, Pak Dimas ... jangan marah seperti itu dong, bukankah di sini yang menjadi korban adalah saya?’ balas Nadia, wanita ini sama sekali tidak menciut ketika mendengar ancaman Dimas.


‘Tutup mulutmu!’ teriak Dimas benar-benar marah.


‘Jika Pak Dimas tidak ingin hal itu terjadi, ingat untuk datang nanti siang. Saya tunggu ....’


"Tidak perlu menunggu siang, sekarang juga aku akan menemuimu!’


Dimas memutus sambungan, lalu dengan wajah tegang, kaki panjang itu melangkah menuju garasi.


“Sial, kenapa juga aku harus terjerat oleh wanita rubah itu,” gumam Dimas penuh sesal.


Mobil mewah yang dikendarai Dimas melaju dengan kecepatan tinggi.


20 menit kemudian, sampailah Dimas di Historia Caffe yang letaknya tidak jauh dari kantor Soebono Group.


Dimas melirik ke setiap sudut, ia mencari-cari sosok Nadia.


Pada saat ini Nadia menunggu di ruangan VIP, melihat mangsa besarnya itu sudah datang, dia melambaikan tangan kegirangan.


Dimas melangkahkan kakinya dengan cepat.


Braak!


Dia memukul meja, seraya memelototi sekretarisnya tersebut.


“Kau ini benar-benar gila ya, Nadia! Sekarang juga hapus video itu!” teriak Dimas.


“Waah ... waah, jangan kasar seperti itu dong, Sayang. Duduklah, kita bicarakan baik-baik,” ucap Nadia dengan tatapan nakal kepada lelaki yang masih berstatus sebagai suami orang ini.


Sungguh terpaksa Dimas menuruti permintaan Nadia.


Raut wajah Dimas tidak bisa dibohongi, dia benar-benar takut bilamana Nadia sampai mengirimkan video tersebut pada Karina.


Dimas menghela napas berat seraya menatap tajam pada Nadia. “Aku sudah menuruti keinginanmu untuk datang ke tempat ini, jadi cepat katakan apa maumu, apakah uang? Aku akan memberi sebanyak yang kau mau, tapi hapus video itu, dan jangan mengangguku lagi, aku lelaki yang sudah beristri!"


Wanita ini menggigit bibir bagian bawahnya yang sensual. Ia mendekat dan mengusap dagu atasannya tersebut.


“Pak, jadi kau akan menuruti semua keinginanku?” tanya Nadia dengan suaranya yang serak-serak basah, bahkan sengaja dibuat seperti mendesah.

__ADS_1


Glek!


Dimas menelan saliva, dia tidak bisa tenang, meskipun sudah mati-matian mengendalikan diri.


Setiap kali ia dekat dengan Nadia, secara otomatis hormon oksitosin, dopamin, endorfin, di dalam dirinya meningkat. Gairah liarnya bangkit, tanpa bisa dibendung oleh akal sehat.


Dimas menahan napas. “Ya, katakan apa yang kau mau!”


Meski batinnya melarang, tapi netra mata lelaki ini tidak berkedip memandangi lekuk indah tubuh makhluk penggoda di depannya.


Nadia mendekatkan bibir sensualnya ke daun telinga Dimas. “Pak Dimas Sayang, seperti yang aku katakan saat di rumahmu tadi. Aku ingin kehangatan darimu, aku ingin dibuat mendesah sepanjang waktu oleh milikmu yang jumbo dan perkasa itu!”


Muaah!


Setelah berbisik, tanpa ragu Nadia mengecup pipi kanan suami Karina tersebut.


Bola mata Dimas membesar, kepalanya pusing, dan hatinya gundah gulana. Ia seperti tidak bisa melakukan apa pun.


Satu sisi Dimas takut video tidak senonohnya semalam sampai ke tangan Karina, di sisi lain sulit baginya untuk menolak kemolekan tubuh Nadia.


Kelemahan terbesar Dimas adalah wanita. Sehebat dan sepintar apa pun pewaris tunggal Seobono Group ini, dia akan seperti kerbau dicolok hidungnya ketika berada di depan wanita yang mampu membuatnya bergairah.


“Baik, aku akan menuruti kemauanmu, tapi setelahnya kau harus menghapus video itu!”


Dalam hal ini, Dimas merasa menang dua kali. Video rekaman tidak sampai ke tangan Karina, dan masih ditambah ia dapat mengayuh kenikmatan bersama Nadia.


Mendengar kesediaan Dimas, Nadia tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum girang.


“Tentu saja. Aku pasti akan menghapus video itu. Pak Dimas tidak usah khawatir.”


Meninggalkan cafe, mereka memutuskan mencari hotel untuk menuntaskan hasrat binatangnya masing-masing.


Dimas memilih hotel yang cukup jauh dari area kantornya. Sebab tidak ingin bilamana dirinya tertangkap basah, atau dilihat kolega ketika bersama Nadia.


Pada saat di dalam mobil, Nadia terus saja bergelayut manja di lengan Dimas, bahkan dengan sengaja menempelkan gundukan padatnya di lengan atasannya tersebut.


“Kita mau check-in di mana, Sayang?”


Dimas menoleh Nadia dengan datar. Lalu berkata, “Double Tree by Hilton.”


‘Waah, hotel bintang 5. Kau memang pandai memilih tempat Dimas,’ gumam Nadia dalam hati.


“Jangan panggil saya dengan sebutan sayang. Saya hanya menuruti keinginanmu untuk kali ini saja, setelah itu kita kembali ke kehidupan masing-masing,” lanjut Dimas sembari melirik tajam pada Nadia.


Wanita licik ini menyeringai.


‘Coba saja kalau kau bisa. Selamanya kau tidak akan lepas dari perangkapku!’ Nadia bermonolog.


Meski gerah dengan sikap Nadia yang kegatalan, tapi sesekali Dimas masih mencuri lirikan ke arah tubuh seksi sekretarisnya itu.


Terlebih bibirnya yang sedikit tebal, membuat Dimas seakan tidak sabar untuk tiba di hotel dan melahapnya.

__ADS_1


Namun, di saat akal sehatnya kembali, Dimas pun Menggelengkan kepalanya, ‘Astaga apa yang kau pikirkan Dimas! Ingat, kau sudah memiliki Karin, ingat bagaimana sulitnya perjuanganmu saat mendapatkannya dulu!"


Dimas yang terkadang melirik ke arahnya itu tidak lepas dari perhatian Nadia, dia seolah mengetahui apa yang ada di pikiran atasannya tersebut.


“Pak, apa kau sudah tidak sabar untuk menikmati tubuhku lagi?” pancing Nadia sembari tersenyum dengan penuh maksud.


Dimas mencoba memalingkan pandangan, karena semakin ia mengekspos tubuh Nadia. Pikiran liarnya semakin menjadi-jadi.


Namun, bukan Nadia namanya jika tidak mengambil kesempatan emas ini sebaik mungkin.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di parkiran hotel Double Tree by Hilton, ini adalah hotel mewah milik keluarga Pramana.


Ketika mobil berhenti, Nadia bergerak mendekati Dimas. Lalu naik ke atas pangkuan atasannya tersebut.


Dimas hanya terdiam. Ia tidak dapat menghentikan aksi Nadia. Tubuhnya seakan terhipnotis oleh wanita yang berparas cantik dan bertubuh seksi ini.


Nadia membuka kancing kemejanya pada bagian atas. Ia sengaja melakukan hal itu agar pikiran Dimas semakin gila dan liar.


Kini celah gundukan kenyal yang padat dan besar itu terpampang nyata di depan Dimas, dan berhasil membuat lelaki ini tidak dapat berpaling dari arah sana.


Tarikan napas Dimas mulai menderu. “Apa yang kau lakukan Nadia!”


Sementara keperkasaannya mulai menggeliat di bawah sana, membuat celana bahan yang ia kenakan terasa menyempit.


“Kita pemanasan dulu yuk Pak,” rayu Nadia.


Nadia mulai memberikan sentuhan lembut di kening Dimas menggunakan bibirnya. Lalu mencium kedua mata Dimas, setelah itu hidung dan ia tidak langsung memagut bibir atasannya tersebut.


Di sini Nadia hanya memancing. Ia ingin Dimas ‘lah yang bereaksi lebih aktif.


Dimas mulai terbawa pancingan Nadia. Tatapan matanya mulai berkabut gairah, dan tidak berkedip dari bibir sensual sekretarisnya tersebut.


Tanpa basa basi lagi, Dimas menarik dagu Nadia dan melahap bibir merah merona itu dengan ganas.


Nadia juga tidak ingin pasif, ia membalas pagutan Dimas dengan penuh hasrat.


Namun, kali ini Nadia harus mengakui kebuasan Dimas, dia sampai tidak bisa bernapas akibat serangan atasannya tersebut.


“Berhenti dulu Pak,” Nadia mendorong tubuh Dimas.


Hush! Hush!


Nadia mengatur napas lebih dulu. Lalu tersenyum menggoda, “Kau sungguh liar Pak, aku sangat suka lelaki sepertimu, jantan!”


Mereka saling beradu tatapan penuh hasrat.


Dimas sudah tidak terkendali, dia menunduk dan memberikan banyak tanda merah di gundukan kenyal Nadia yang belum terbuka sepenuhnya.


Ingin segera lanjut ke permainan inti, Dimas berkata dengan tidak sabaran, "Ayo kita lanjutkan di kamar!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2