Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Pertemuan yang Canggung


__ADS_3

Sontak tatapan Dimas dan Nadia mengarah kepada wanita yang dikenalkan Sarah.


Bola mata keduanya tiba-tiba membesar, tubuh mereka serasa membeku dan tidak dapat mengatakan apa-apa.


Karina yang melihat ekspresi wajah mereka hanya bisa tersenyum palsu.


‘Tunggu saja pembalasanku, aku akan membuat kalian hancur secara perlahan-lahan’ Karina bermonolog.


“Silakan duduk Karina, ini Pak Dimas, dia adalah atasan adikku,” ujar Sarah.


“Dan yang ini adik perempuan yang sering aku ceritakan kepadamu, namanya Nadia Olivia." Sarah yang belum tahu apa-apa itu, memperkenalkan mereka bertiga.


Heh!


Karina mengangkat sudut bibirnya, ia tersenyum palsu sambil mengulurkan tangan kanan untuk berpura-pura berkenalan dengan wanita yang telah merebut suaminya.


“Perkenalkan nama saya Karina Mustika.”


Nadia menyempitkan bola matanya, ‘Apa yang ingin kau rencanakan! Dasar wanita beracun!’


Tidak ingin mengecewakan sang kakak, Nadia membalas uluran tangan Karina. Meskipun ia sangat membenci istri dari lelaki yang ia incar.


Greek!


Tatapan Karina begitu tajam ke arah Nadia, ia menekan tangan wanita muda itu dengan kuat.


‘Tunggu kehancuranmu, Nadia!’ Karina membatin, matanya begitu merah karena sangat kesal dengan wanita ini.


Sarah yang melihat hal itu pun tampak heran, “Karin, apa ada yang salah?”


“Aah, tidak Sarah. Aku hanya kagum saja dengan kecantikan yang dimiliki oleh adik perempuanmu ini. Terakhir kita bertemu 3 tahun yang lalu, kau selalu menceritakan tentang adikmu dengan begitu bahagia.”


Hehe!


“Maaf waktu itu aku tidak sempat memperkenalkan Nadia kepadamu.”


Wanita yang memiliki senyum hangat itu sangat berbeda jauh dengan Nadia yang licik.


“Tidak ada bedanya kita bertemu di sini, Sarah. Ohh iya, Nadia apakah kau sudah memiliki kekasih? Tidak mungkin wanita secantikmu belum memiliki seorang pacar.” Karina memulai obrolan untuk memojokkan Nadia.


Nadia hanya terdiam, ia tidak bisa berbicara.


“Nadia, ditanya dengan kak Karina, lho? Kenapa kau tidak menjawab?” Sarah menyenggol bahu sang adik.

__ADS_1


“Sudah,” jawab ketus Nadia.


Heh!


Karina kembali tersenyum, ia menyondongkan tubuhnya dan berkata, “Wanita cantik sepertimu pasti banyak memiliki kekasih, tapi jangan sampai kau merebut lelaki yang sudah memiliki istri ya, Nadia Sayang.”


Uhuk!


Dimas yang sedang meneguk air putih, tiba-tiba keselek mendengar perkataan istrinya itu.


“Kau kenapa Pak Dimas?” tanya Sarah.


Dimas hanya menggelengkan kepala saja. “Tidak kenapa, Mbak Sarah.”


Karina pun menoleh ke arah Dimas, ia menatap tajam suami yang telah membuatnya sakit.


“Ohh iya, Sarah tadi mengatakan, jika Anda adalah atasan dari Nadia.” Kemudian Karina menoleh ke arah Nadia.


“Nad, kau sangat beruntung memiliki atasan seperti Pak Dimas. Sangat jarang lho, ada atasannya yang berkunjung ke rumah bawahannya. Pasti kalian memiliki hubungan spesial?”


Sarah semakin bingung dengan suasana seperti ini. Ia tersenyum tipis dan berucap, “Karin, sepertinya kau sangat tertarik dengan kisah asmara Nadia ya?”


Hu’um!


Karina mengangguk dengan semangat.


Sarah hanya tersenyum tanpa tahu maksud yang tersirat dari ucapan Karina itu.


Namun, saking polosnya Sarah malah menanyakan hal ini kepada Nadia, “Apakah benar kau dan Pak Dimas memiliki hubungan?”


Sarah sama sekali tidak tahu siapa lelaki yang ada di depannya saat ini. Dia hanya mengetahui bahwa Dimas adalah atasan Nadia yang baru.


Rasa penasaran juga muncul dalam relung hati Sarah. Karena sebelum-sebelumnya Nadia selalu bercerita mengenai kisah asmaranya kepada sang kakak.


Hah!


Nadia menghela napas dengan dalam, “Aku dan Pak Dimas ...”


“Tidak, kita hanya rekan kerja saja. Saya kemari atas undangan dari Nadia,” jelas Dimas memotong pembicaraan Nadia.


‘Masih saja kau berbohong, Dimas,’ ucap Karina dalam hatinya.


“Hanya rekan kerja?” Karina sengaja bertanya kepada Dimas sambil tersenyum.

__ADS_1


Situasi ini membuat Dimas pusing, lelaki itu memutuskan untuk berdiri dan pamit, “Saya ada urusan penting, maaf saya tidak bisa berlama-lama ...”


“Makan malam dulu Pak, kami sudah menyiapkannya,” ajak Sarah.


“Tidak saya ada ...” elak lelaki itu.


Namun, Karina memegangi tangan Dimas ia mencegat kepergiaan lelaki yang akan menjadi mantan suaminya.


‘Mau kabur kemana kau, Mas!’ Karina bermonolog, setelah itu ia berkata kepada Dimas.


“Pak Dimas, tidak baik lho meninggalkan kami sebelum menyelesaikan makan malam terlebih dulu. Nadia sudah susah payah mengundang Anda, masa Anda ingin pergi begitu saja.”


Sarah mengangguk dan ia setuju dengan apa yang dibicarakan sahabatnya itu, “Iya Pak Dimas, makan dulu.”


“Kalau begitu, aku dan Nadia akan mengambil makanannya di belakang. Tunggu sebentar ya Karin dan Pak Dimas,” suruh Sarah sembari mengajak Nadia ke arah dapur.


“Aku akan membantu kalian.” Karina beranjak dari tempat duduknya.


Namun hal itu dicegah oleh Sarah, “Tidak Karin, kau adalah tamu saat ini. Jadi tunggu saja ya dengan Pak Dimas di sini.”


Hah!


Karina menghela napas panjang. Lalu ia menoleh ke arah Dimas.


“Kau sengaja kan melakukan hal ini kepadaku? Apa yang kau mau, Karin?” Dimas menatap tajam ke arah Karina.


“Kejahatanmu sudah sangat luar biasa, Mas. Kau tidak hanya mengkhianatiku, namun kau juga merendahkan harga diri ini! Kau akan merima karmanya secara perlahan!”


Mereka tidak bisa berbincang lama, Sarah dan Nadia sudah datang membawa banyak makanan.


Mereka berempat pun menikmati hidangan yang sudah disediakan.


“Ayoo makan Karin dan Pak Dimas,” suruh Sarah.


Pada saat sedang menyantap makanan, Sarah menceritakan sekilas pertemuan awal ia bertemu dengan Karina 3 tahun yang lalu.


Sarah dan Karina hanya kebetulan saja bertemu di sebuah meseum lukis. Entah mengapa hubungan kebetulan itu menjadikan mereka sahabat, sampai tiba Sarah harus pindah ke Jakarta dan mereka tetap mengirimkan pesan satu sama lain.


Namun, belakangan ini Karina dan Sarah tidak lagi saling kontak karena kesibukan masing-masing.


“Hey, Karin. Bagaimana hubungan kau dengan lelaki yang membantumu dulu? Harapanmu waktu dulu kan ingin menikah dengannya?”


Karina menghentikan suapannya itu, ia tersenyum kepada Sarah.

__ADS_1


“Iyaa, harapanku waktu itu menjadi kenyataan Sarah. Aku menikah dengannya, namun sayang dia lebih memilih wanita seperti Nadia!”


Bersambung.


__ADS_2