
Pukul 03.00 AM.
Farrel memijat-mijat kening, kepalanya begitu berat setelah menyelesaikan urusan di kantor kepolisian untuk diminta keterangan.
Dalam lamunannya, ia begitu iba dan kasihan terhadap sahabat masa kecilnya itu.
Tidak disangka keegoisan Dimas, membuat dirinya kini harus menjalankan mengecekan kejiwaan dan rehabilitas di rumah sakit jiwa.
Namun tanpa sadar, Karina sudah berada di depan pintu kamar Farrel dengan memegangi perutnya yang masih terasa perih dan sedikit nyeri.
“Farrel? Kau kemana saja? Aku mencari-carimu sejak tadi,” ucap lembut Karina sembari menatap calon suaminya.
Sontak hal ini membuat pewaris tunggal Pramana terkejut, manik matanya membesar.
Baru pertama kali Karina mau mencarinya sampai ke kamar, biasanya Farrel saja yang selalu mencari wanita tersebut.
Farrel ternganga, “Karin, kenapa kau ada di sini? Ini sudah hampir pagi.”
Tatapan Farrel berbinar melihat wajah Karina yang pucat seperti kurang istirahat.
“Aku menunggumu, Farrel. Dan aku menelponmu sejak tadi, tapi tidak kau angkat. Aku sangat mengkhawatirkanmu,” tutur Karina.
Plak!
“Astaga.” Farrel menampar dahinya pelan. Ia baru ingat ternyata ia lupa meletakkan ponselnya di lobby depan.
Seketika Farrel meminta maaf kepada Karina sembari memegangi kedua tangan wanita itu begitu hangat.
Ia tersenyum. “Karin, maafkan aku ya. Aku ada urusan mendadak tadi, dan ponselku kelupaan. Terima kasih ya karena kau sudah mengkhawatirkanku.”
Farrel sengaja tidak memberitahu apa yang telah terjadi kepada Dimas, ia tidak ingin membuat Karina berpikir keras. Apalagi sampai wanita ini mengetahui penyebab Dimas gila, yaa dia sangat menyesali perbuatannya karena telah melakukan tindakan kejam, yang membunuh calon bayi dikandungan sang mantan istri.
“Memang ada urusan penting apa, Farrel?” Karina sangat curiga.
Meskipun Farrel sudah sangat berusaha menutupi masalah ini, tapi Karina tetap menyangkal dalam hatinya, bahwa ada sesuatu hal yang tidak beres sampai membuat lelaki tampan itu tampak tak seperti biasanya.
Farrel kembali tersenyum, ia melihatkan perilaku tenang agar Karina tak mencurigainya lagi.
Ia mengelus-ngelus manja kepala calon istrinya, sambil berkata, “Urusan bisnis yang sangat penting. Ayo kita tidur saja, Karin.”
“Kau harus istirahat sekarang, nanti pukul 10 pagi kan kita melaksanakan upacara pernikahan,” lanjut Farrel seraya merangkul Karina menuju kamarnya.
Karina tidak melangkah sama sekali. Ia sekarang layaknya patung manekin.
“Kenapa, Rin? Ayo tidur di kamarku.” Farrel sengaja mengatakan hal itu karena ia ingin melihat ekspresi wajah Karina.
Benar saja, wanita tersebut seperti kekurangan darah dan keringatnya bercucuran. Dengan begitu polos ia bertanya, “Apakah kita akan tidur bersama?”
Tentu saja lelaki yang sangat mencintai Karina sejak zaman SMA ini mengangguk begitu semangat.
“Iya, kita tidur bersama malam ini!”
__ADS_1
Karina menggelengkan kepalanya, “Tidak! Tidak! Kita kan belum resmi menjadi suami istri, Farrel.”
Hehehe!
“Aku bercanda kok, Karin. Ayo, aku antarkan kau ke kamar,” ucap Farrel sambil senyum-senyum sendiri.
Ia memang tidak tahan melihat ekpresi atau tingkah Karina yang menurut lelaki itu sangat lucu dan menggemaskan.
Sampainya di kamar, Karina diselimuti oleh Farrel dan sebelum meninggalkan wanita yang sangat dicintainya, ia mengecup kening Karina dan berucap, “Selamat istirahat, Sayang.”
Karina hanya mengangguk dan tersenyum.
Keesokan paginya, Farrel sudah siap dengan jas rapi berwarna putih dan kini sedang menunggu Karina bersiap di aula.
Beberapa menit kemudian, Karina keluar dengan gaun putih simple dan rambutnya di sanggul rapi.
Hal sederhana ini yang membuat Farrel selalu jatuh hati kepada wanita itu. Ia berdiri dengan manik mata berkaca-kaca karena sangat terharu, seperti mimpi rasanya ia bisa menikahi Karina, adik kelas yang sangat ia cintai selama 9 tahun lamanya.
Karina seperti anugerah yang sangat berharga diberikan Tuhan untuk Farrel.
“Kau sangat istimewa, Karin,” puji Farrel.
Karina hanya tersenyum tipis, ia sangat malu ketika Farrel menatapnya dengan penglihatan seperti itu.
“Ayo, kita menuju gedung,” ajak Farrel seraya mengulurkan tangannya.
Sampailah di gedung, yang jaraknya tidak jauh dari resort Pramana IV.
Semuanya berjalan lancar, janji terakhir yang mereka lakukan adalah saling mengecup satu sama lain.
Hal itu dipimpin Farrel dengan lembut, ia mencium bibir Karina penuh kehangatan.
Pok! Pok!
Alana sangat bahagia melihat Farrel dan Karina akhirnya menjadi suami istri yang sah.
2 bulan kemudian setelah acara pernikahan, Farrel dan Karina dikarunia buah hati.
“Sayang, garisnya dua,” ucap Karina sembari menunjuk sebuah alat tes kehamilan kepada sang suami.
Mereka berdua begitu syok dan tentunya terharu.
Farrel memeluk istrinya sangat erat.
“Akhirnya, Sayang. Aku janji akan menjaga kalian berdua.”
Karina menangis, ia juga masih belum percaya diberikan untuk menjaga titipannya secepat ini.
Namun, dalam lubuk hati Farrel ia masih menyimpan rahasia terkait Dimas.
Hari ini ia memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Karina.
__ADS_1
“Maafkan aku, karena baru menceritakan hal ini kepadamu,” ujar Farrel merasa bersalah.
Karina hanya menggelengkan kepala, ia juga sudah tidak peduli dengan Dimas meski sangat sedih mendengar kenyataan itu.
Hari ini mereka ingin berkunjung melihat kondisi Dimas Wijaya di rumah sakit jiwa.
“Karin, apakah kau sudah siap? Ayo berangkat,” ajak Farrel.
Di sampainya di sana, Karina sangat sedih melihat orang-orang yang berbicara tanpa arah tujuan.
“Tuan Farrel dan Nyonya Karina, Tuan Dimas ada di kamar pojok, silahkan melihatnya dari jarak jauh saja. Karena kondisi Tuan Dimas semakin hari semakin memprihatinkan, saya tidak ingin kalian terkena amukannya,” ujar seorang suster yang merawat Dimas.
Baru saja sampai di depan kamar, mereka melihat dari luar kondisi Dimas.
Karina tidak kuat, ia memeluk Farrel sembari meremas kemeja suaminya.
Dimas berteriak dan mengamuk, ia berkata, “Aku tidak membunuh anak itu! Aku mau Karin ada di sisiku!”
Setelah berteriak Dimas kembali tertawa dan menangis sendu.
Hari-hari pun berlalu semenjak kejadian itu, Farrel dan Karina memutuskan untuk tinggal di Bali.
Ia ingin meninggalkan Kota Surabaya, karena banyak kenangan yang pahit di sana.
Mereka ingin suasana baru.
3 tahun kemudian.
“Mama, Lisa sayang Mama,” ucap seorang anak perempuan yang belum genap 3 tahun itu.
“Sini sayang,” ucap Karina memeluk sang anak yang digendong ayahnya.
“Jadi Lisa sayang dengan Mama saja? lalu Papa bagaimana?” tanya Farrel menggoda putri kecilnya.
“Sayang juga, hehehe.” Lisa melihatkan giginya.
Mereka bertiga saling berpelukan dengan memberikan senyum kebahagiaan.
Tamat.
***
Terima kasih untuk para pembaca novel berjudul “Rayuan Sang Penggoda” salam hormat dari author, semoga kalian semua terhibur dengan cerita ini.
Terima kasih juga untuk saran dan komennya, hal itu membuat author selalu semangat menulis. Dan minta maaf jika ada kesalahan serta hal yang kurang berkenan di hati para pembaca author sayangi.
Sehat-sehat selalu, semoga Tuhan selalu menyertai kita semua.
Ohh iya, komen yaa untuk kisah Karina di kolom komentar di bab ini. Siapa tahu saran atau ucapan apa pun dari kalian bisa membuat author bahagia.
Sayang kalian semua.
__ADS_1