Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Telah Usai


__ADS_3

Terbawa suasana Karina mengikuti sentuhan Farrel yang begitu lembut sambil meneteskan air mata.


Kemudian, lelaki yang sungguh mencintai Karina mengusaikan apa yang ia lakukan. Dengan perlahan ia memegangi pipi Karin dan mencium keningnya.


Karina masih belum berani melihat mata Farrel, ia hanya menunduk.


“Karin, maaf aku melakukan ini karena aku sungguh mencintaimu.”


“Aku harap kau tidak berprasangka buruk terhadapku. Selamat istirahat Karin, jangan lupa makan sup jamurnya ya,” suruh Farrel seraya meninggalkan senyum hangat kepada Karina.


Wanita cantik ini hanya terdiam, tapi pada saat sosok Farrel menghilang ia menoleh ke belakang meyakinkan bahwa lelaki itu benar-benar meninggalkannya.


Namun, Farrel masih berada di depan pintu. Ia sengaja melakukan hal itu, karena ia ingin memastikan Karina segera memakan sup dan makanan yang ia bawakan.


Ketika netra mata Karina menatap manik mata Farrel, lelaki itu tersenyum bahagia. Sembari menutupi mulutnya menggunakan tangan kanannya.


“Kenapa kau menatapaku seperti itu, Karin? Wajahmu seperti memergoki seorang maling yang ingin pergi saja,” gurau Farrel.


“Ahh! Tidak.” Karina segera memalingkan pandangan seperti orang yang kikuk.


“Sebelum kau makan, aku tidak akan keluar dari kamarmu. Jika kau ingin aku segera pergi, maka makanlah,” perintah Farrel seraya melihat Karina yang menggemaskan karena tingkah lakunya yang aneh.


Karina menunduk tanpa menjawab perkataan Farrel, ia segera menyendok sup yang dibawakan lelaki tampan itu.


“Kalau begitu aku pamit ya, cepat lah tidur. Besok pagi kita bertemu dengan Sarah di kantor pengadilan agama untuk mengurus surat cerai kalian berdua.”


Farrel segera meninggalkan kamar Karina.


Hah!


Wanita ini menghela napas dengan lega, bisa-bisanya Farrel membuat ia seperti mannequin tanpa bisa berkutik sedikitpun.


“Ya Tuhan, perasaan apa ini? Mengapa sangat aneh?”


Setelah memakan sup dan makanan lainnya, Karina kembali melamun. Ia teringat masa bahagianya bersama Dimas, suami yang sangat ia cintai.


Hatinya begitu hampa dan kosong.


Ia mengingat ketika Dimas tersenyum kepadanya dan mengucapkan, “Selamat tidur Sayang.”


“Sudah lah, aku akan hidup dengan suasana baru detik ini dan ia adalah masa lalu yang patut aku lupakan,” gumamnya begitu tegar.


Tapi Karina tidak selalu mengingat kejahatan Dimas selama ini. Meskipun suaminya pernah memperlakukan Karina seperti layaknya binatang keji, dan menghinanya, serta menyakiti lahir dan batin.

__ADS_1


Dimas juga pernah bersikap baik dengannya, yang memberikan cinta, walaupun cinta Dimas kini telah pudar.


Hah!


Ia menghela napas kembali sembari melihat langit di depan balkon kamarnya. Melamun membayangkan apa yang pernah dibicarakan Dimas kepada dirinya.


Dimas berkata pada saat mereka menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang indah.


“Kita berdoa yaa, semoga kita segera diberikan momongan. Jika anak kita perempuan, aku harap ia mirip sepertimu, Karin. Dan jika anak kita laki-laki, aku juga berharap sepertimu.”


“Lha, seharusnya akan laki-laki kita bukannya mirip sepertimu, Mas?”


“Iyaa, aku ingin anak-anak kita punya sikap yang sama seperti mamanya.”


Usai sudah, harapan mereka berdua. Kini hanya menjadi kenangan saja, keputusan Karina benar-benar bulat dan tidak bisa dinegosiasikan lagi.


Namun, Karina selalu mendoakan Dimas yang terbaik. “Aku harap setelah kita berpisah, kau bisa lebih mencintai wanitamu dengan tulus ya, Mas Dimas.”


Keesokan harinya Karina bersiap-siap untuk pergi kepengadilan agama.


Sejak tadi Farrel sudah menunggunya di depan kamar.


“Sudah siap, Karin?” tanya Farrel begitu bersemangat kepada Karina setelah wanita ini membuka pintu kamarnya.


“Kau tidak perlu tahu, ayo lah.” Farrel merangkul Karina dengan erat.


“Dari dulu tampilanmu selalu membuatku terpukau, Karin. Sangat sederhana ...” puji lelaki casanova itu.


Karina melepas tangan Farrel yang memegangi bahunya. “Maaf Farrel, meskipun aku akan segera berstatus tanpa suami, tapi bisakah kau atur jarak denganku?”


“Aaow, maaf Karin. Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin hubungan kita lebih erat.”


Karina hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


Tibalah di pengadilan agama Surabaya. Karina sudah di sambut dengan sahabat lamanya itu.


Sarah sungguh elegant dan begitu berkarisma mengenakan jubah hitamnya.


“Selamat datang Karin, aku telah menunggumu,” ucap Sarah sembari tersenyum dan menjabat tangan Karina.


“Terima kasih Sarah, kau bersedia membantu mengenai masalahku dengan Mas Dimas,” lirih Karina.


Mata Karina berkaca-kaca menatap Sarah, meskipun ia tahu wanita ini sangat mencintai adik perempuannya itu. Namun, Sarah adalah kuasa hukum yang harus membela kebenaran dan keadilan.

__ADS_1


“Karin, tapi sebelum kita masuk. Ada seseorang yang ingin berbicara empat mata denganmu,” kata Sarah.


“Siapa Sarah?”


“Kau akan tahu ketika masuk ke ruanganku,” jawab Sarah mengarahkan Karina ke ruangannya.


Farrel dan Sarah menunggu di luar.


Ketika Karina membuka pintu, ia begitu terkejut dengan siapa yang menemuinya kali ini.


“Papa? Kenapa Papa bisa berada di sini?” tanya Karina kepada ayah Dimas Wijaya.


Lelaki tua yang masih memiliki karisma menawan itu tersenyum kepada mantunya.


“Duduklah dulu, Karin.”


Karina menatap mata Poernama, di dalam netra mata lelaki itu seperti ada banyak cerita yang ingin ia bicarakan.


“Karin, bagaimana kondismu? Papa harap kau selalu baik-baik saja ya,” ucap Poernama begitu lembut kepada Karina.


Poernama sangat menyayangi Karina, ia sudah menganggap istri dari putranya ini sebagai putri kandungnya sendiri.


Karina tersenyum dan ia mengatakan, “Karin, baik-baik saja Pah.” Meskipun Poernama tahu apa yang diucapkan Karina hanyalah kebohongan, agar ia tidak mengkhawatirkan mantunya itu.


“Kau tidak perlu menutup keburukan putra Papa, Karin. Papa sudah tahu semuanya mengenai apa yang telah terjadi. Maafkan Papa ya, karena tidak bisa membesarkan Dimas dengan baik, sehingga ia menjadi lelaki seperti itu.”


Ungkapan dari Poernama membuat dada Karina sesak, ia menggelengkan kepala pelan.


“Tidak Pah, Papah tidak sepantasnya minta maaf dengan Karin. Semua yang terjadi mungkin memang harus terjadi sedemikian rupa. Maaf juga jika Karin selama ini tidak bisa menjadi mantu yang baik untuk Papa dan Mama.” Karina meneteskan air matanya.


“Karin, Papa tidak akan memaksamu untuk kembali lagi bersama Dimas. Yang Papa inginkan hanyalah kebahagiaanmu, jika memang cara ini adalah terbaik, Papa akan mendukungmu. Bahkan Papa akan membantumu, Nak.”


“Terima kasih banyak, Pah.”


Setelah berbincang panjang, Poernama juga menemani mantunya dalam proses gugatan cerai.


Semua berjalan lancar, hari ini pun kuasa hukum memutuskan jika Karina dan Dimas telah resmi bercerai!


Namun, beberapa menit setelah peresmian.


Ada seorang lelaki yang menerobos masuk dan berteriak, “Aku tidak akan membiarkan Karina Mustika bercerai denganku!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2