Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Perubahan Karina


__ADS_3

Farrel memperhatikan penampilan Karina dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Di mata Farrel, Karina hari ini tampak begitu aneh dan tidak seperti biasanya.


Farrel semakin heran dengan tatapan Karina yang sangat berbeda, terkesan nakal seolah sedang berusaha menggoda dirinya.


Lelaki yang sangat ahli membaca setiap gerak-gerik wanita ini menyempitkan matanya, ‘Karina kenapa? Sebelumnya dia tidak pernah menatapku seperti ini.’


Meskipun Farrel mengetahui ada yang salah dengan Karina, tapi ia tetap bersikap seperti biasanya.


“Kenapa kau tampil begitu cantik hari ini, Karin? Apakah istri sahabatku ini ingin mengajakku berkencan?” gurau Farrel sembari tersenyum nakal.


Karina membalas senyuman Farrel dengan penuh maksud. Wanita yang memiliki paras menawan bak bidadari ini mendekati mantan kakak kelasnya yang dikenal sebagai playboy cap biawak tersebut.


Tangan Karina menyentuh bahu Farrel dan mengangguk, “Iya, hari ini aku ingin bersamamu. Bawa aku ke mana pun kau mau!”


Farrel mengerutkan dahi, dia tidak habis pikir.


‘Tidak, ini bukan Karina yang aku kenal,’ Farrel bermonolog, tingkah Karina yang seperti sekarang benar-benar membuatnya bingung.


Lelaki ini memegangi tangan Karina dengan lembut dan melepaskan tangan wanita itu dari bahunya.


Kini bergantian Farrel yang meletakkan kedua tangannya di bahu Karina.


Farrel melihat jauh ke dalam mata wanita yang sangat ia cintai itu. Sontak mereka berdua beradu tatap untuk beberapa saat.


“Karin, apakah kau sedang tidak baik-baik saja?” tanya Farrel.


"Jika aku sedang sakit atau semacamnya, mana mungkin aku bisa ada di sini!" Karina malah melemparkan senyum yang penuh dengan kepalsuan kepada Farrel.


‘Kau hebat, Karin. Di kala kau begitu hancur dan sakit seperti ini, kau masih bisa tersenyum. Meski itu adalah senyuman palsu, untuk membuatmu terlihat kuat dan tegar,’ kagum Farrel dalam hati.


“Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan, Karin? Ayo, coba ceritakan padaku. Aku akan mendengarkanmu,” suara Farrel benar-benar lembut.


“Tidak, Farrel. Aku baik-baik saja, aku hanya sedang butuh teman,” jawab Karina.


Farrel menghela napas berat. Sampai kapan?Sampai kapan Karina akan menutupi semua keburukan Dimas darinya?


Andai saja Karina mau jujur, dan meminta bantuannya, pasti Farrel dengan senang hati akan membantu.


“Baiklah, jika kau memang tidak mau bercerita, aku tidak akan pernah memaksamu.”


Farrel mengalah, meski ia mengetahui semua yang terjadi pada rumah-tangga Karina akhir-akhir ini.


"Tadi kau bilang sedang butuh teman?" tanya Farrel, dan Karina mengangguk.


Farrel merasa terpanggil untuk menghibur hati Karina, dan mengembalikan senyum asli wanita yang sangat dicintainya ini.


“Baiklah, aku akan menemanimu hari ini, ayo kita pergi ke suatu tempat. Kau tunggu sebentar ya, aku akan ganti baju.”


Karina kembali mengangguk, dia lantas pergi ke balkon sembari menunggu Farrel bersiap.


Karina berdiri sembari melamun, dia melihat pemandangan di bawah sana dengan tatapan kosong.

__ADS_1


‘Tuhan, aku tahu yang aku lakukan sekarang adalah kesalahan, tapi aku hanya manusia biasa, aku hanya ingin menghibur diri yang terluka ini,' rintihnya dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Farrel menyusul ke balkon dan menarik tangan Karina dari belakang, “Ayoo berangkat!”


Lelaki ini mengenakan kemeja pendek yang dipadukan dengan celana berwarna coklat sebatas lutut.


Terkesan santai, tapi tidak mengurangi pesona yang ia miliki. Mau mengenakan pakaian seperti apa pun, Farrel masih akan terlihat elegan dan gagah, dia seolah magnet yang memiliki daya tarik kuat untuk para kaum hawa.


Saat ini, Karina pun dibuat terpesona oleh penampilan Farrel.


“Kenapa kau malah diam? Apakah kau kagum melihat tampilanku, Karin?” tanya Farrel dengan sangat percaya diri.


Karina tersenyum geli, “Huum, iya. Kau terlihat tampan.”


Manik mata Farrel membesar, ini adalah kali pertama Karina memuji dirinya.


Benar-benar ada yang tidak beres! Pikir Farrel.


Tidak mau terlalu banyak berpikir, Farrel pun menarik Karina keluar dari unitnya. Saat ini dia hanya ingin memberi hiburan pada wanita yang tengah terluka itu.


Farrel menggandeng Karina sepanjang jalan menuju parkiran. Karina tidak peduli lagi dengan statusnya. Biar saja, biarkan semua yang terjadi hari ini dilihat oleh semua orang.


Bahkan Karina ingin ada kerabat atau kolega Dimas yang melihat, biar suaminya itu tahu sekalian!


Mereka segera berangkat. Farrel berencana mengajak Karina ke sebuah taman hiburan.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka pun sampai di tujuan.


Sejak turun dari mobil sampai ke dalam, Farrel terus mengandeng tangan Karina. Dia seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa wanita ini adalah miliknya, bukan milik Dimas.


Selingkuh balas selingkuh! Pikirnya.


Mereka diarahkan oleh pemandu wisata untuk segera masuk, karena sirkus lumba-lumba yang akan di mulai sebentar lagi.


“Selamat sore, selamat menikmati hari kalian dan bersenang-senang lah.”


Mereka berdua mencari posisi duduk. Baru saja pertunjukan dimulai Karina sudah tersenyum sumringah.


Entah ini kebetulan, atau Farrel memang tahu dirinya sangat menyukai lumba-lumba, entahlah!


Karina tidak mau memikirkan hal ini. Saat ini Karina hanya ingin tertawa lepas, mengusir semua rasa sakit yang ada.


Farrel yang memperhatikan Karina sejak tadi, merasa ikut senang karena berhasil membuat wanita ini terhibur.


Karina sesekali berdiri dan bertepuk tangan dengan penuh semangat. “Waah! Keren sekali!”


“Farrel, lihat lumba-lumbanya sangat pintar, dia berhasil bisa memasuki lingkaran kecil itu!" seru Karina kepada Farrel sambil menunjuk ke arah kolam.


"Tonton saja, Karin! Kau tidak perlu melompat-lompat seperti anak kecil!" cibir Farrel.


Karena memasang wajah cemberut, dan ini malah terlihat menggemaskan di mata Farrel.


Setelah selesai, Farrel mengajak Karina ke sebuah museum lukis. Tempatnya masih berada di lokasi yang sama.

__ADS_1


Lagi-lagi Karina tertengun dibuat Farrel. Apa lelaki ini memang tahu semua yang disukai olehnya?


Dimas saja yang merupakan suaminya tidak pernah mau membawa Karina ke tempat seperti ini.


Bagi Dimas, hanya anak-anak yang menyukai sirkus lumba-lumba, dan hanya orang kurang kerjaan yang menyukai seni lukis!


Setelah kurang lebih dua jam di museum, melihat berbagai karya dari seniman lokal, mereka pun beranjak dari tempat tersebut.


Farrel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Pada saat Farrel ingin mengajak Karina ke suatu tempat untuk mencari makan, wanita ini menolak.


“Farrel, bisa tidak kita makan di resort saja?”


Hmm!


“...”


Tidak banyak berbicara, Farrel mengangguk dan mengabulkan permintaan Karina untuk kembali ke resort.


Sesampainya di resort, sudah pukul 9 malam. Mereka berdua menuju dapur yang dikususkan untuk keluarga Pramana.


Namun, Karina menarik tangan Farrel.


“Aku mau kita langsung ke kamar saja, aku ingin istirahat.”


“Tapi, Karin. Kau belum makan, ini sudah malam juga. Aku tidak mau kau- ....”


Telunjuk Karina mendarat di bibir tipis Farrel. Sontak lelaki itu langsung terdiam salah tingkah.


Farrel kembali menuruti permintaan Karina.


Sesampai di dalam kamar, Farrel kembali bertanya kepada istri sahabatnya itu, “Karin, kau mau makan apa?”


“Terserah saja.”


Terserah!


Itu adalah satu kata yang sering membuat kaum Adam terjebak dalam posisi serba salah.


Farrel menghela napas panjang, tapi ia tahu harus memesan apa untuk Karina.


Lelaki ini menghubungi chef pribadinya menggunakan pesan suara, “Chef Arnold, tolong buatkan saya sup jamur berisi daging sapi. Lalu bawakan ke kamar saya.”


‘Sup jamur adalah makanan kesukaanku. Dia benar-benar tahu semua keinginanku.'Karina merasa tersentuh.


Setelah menunggu beberapa saat, para pelayan pribadi Farrel datang mengantar mengantar hidangan.


Mereka pun menikmati makan bersama dengan lahap, dan menghabiskan semua yang diantar pelayan.


Farrel sangat senang hari ini karena berhasil membuat Karina kembali ceria.


Tiba-tiba Karina mengalungkan tangannya di leher Farrel sembari tersenyum nakal. “Kau sudah lama tertarik padaku ‘kan? Sekarang kau bisa mendapatkan apa pun yang kau mau dariku, ayo lakukan sesukamu!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2