Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Kemarahan Farrel


__ADS_3

Setibanya di resort megah milik keluarga Pramana, Farrel masih sangat penasaran tentang apa yang menimpa Karina.


Lelaki yang kini mengenakan bathrobe berwarna putih setelah habis berenang ini, duduk santai menatap langit senja. Ia tampak sedang berpikir keras.


Farrel tidak bisa melupakan kesedihan yang tersirat di wajah Karina, meski wanita itu sebisa mungkin menutupinya dengan tertawa lepas.


Terlebih setelah melihat jejak memar yang ada di pipi Karina, sudah pasti semua orang dapat menebak jika ia baru saja mengalami tindak kekerasan, tidak terkecuali Farrel.


Demi menjawab rasa penasarannya tersebut, Lelaki yang berparas menawan ini berniat mencari tahu sendiri apa yang menimpa Karina.


Farrel segera menghubungi orang kepercayaannya.


“Daniel, kau cari informasi tentang Karina Mustika. Cari apa pun yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Bagaimanapun caranya, kau harus mendapatkan informasi itu malam ini juga!” Farrel memberi perintah pada orang kepercayaan keluarganya.


"..."


Setelah mendapat kesanggupan dari orang yang ada di seberang sana, Farrel memutuskan sambungan secara sepihak.


“Jika sampai jejak memar itu adalah perbuatan Dimas. Tunggu saja, dia akan mendapatkan pelajaran dariku!” gumam Farrel dengan kedua tangan terkepal.


Farrel tersenyum sendiri ketika mengingat wajah Karina yang tidak berubah sama sekali. Meskipun sudah lama tidak bertemu, lelaki ini selalu mendambakan Karina.


Wanita cantik yang selalu tampil sederhana, memiliki senyuman indah yang membuat Farrel jatuh hati sedalam-dalamnya.


Sayangnya sejak dulu Karina tidak pernah menganggap keberadaan Farrel, bahkan wanita itu terkesan menjaga jarak dari lelaki buaya seperti Farrel.


“Sudah lama sekali ya Karin, tapi senyumanmu tetap seperti itu, selalu manis, memabukkan. Sayangnya aku tidak bisa melihat senyum indahmu itu setiap hari,” gumam Farrel sembari terus membayangkan Karina.


Farrel memutuskan untuk kembali ke kamar. Sebelumnya ia harus melewati lobby tengah.


Tubuh tegap berotot yang hanya berbalut bathrobe itu, sontak menarik tatapan penuh minat dari para wanita yang menginap di resort.


“Waah, bukankah itu Tuan Muda Pramana ya?"


"Iya, aku sudah lama tidak melihatnya, dia semakin tampan saja!"


"Ya Tuhan, andai saja aku punya kesempatan untuk mendekatinya, aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia!"


"Jangan berkhayal terlalu tinggi, bisa melihatnya dari dekat saja sudah menjadi keberuntungan bagi kita!"


"..."


Farrel yang menyadari suara bisik-bisik serta tatapan penuh minat itu, hanya menarik sudut bibirnya.


Jika saja dia masih Farrel yang dulu, pasti dia akan langsung menarik salah satu wanita itu ke dalam kamar. Sekarang dia sudah tidak tertarik lagi, lebih tepatnya sudah bosan.

__ADS_1


Semakin bertambahnya umur, membuatnya hanya berpikir untuk mencari wanita yang akan menjadi teman hidup satu untuk selamanya, bersama sampai tua.


Tanpa mempedulikan para wanita yang juga penuh pesona itu, Farrel segera masuk ke dalam lift dengan wajah datarnya.


Beberapa jam kemudian. Ia mendapatkan telpon dari Daniel.


Farrel segera mengangkat ponselnya, “Iya, bagaimana?”


“Tuan Muda, saya meretas kamera pengawas di rumah Nona Karina, dia dan suami terlibat keributan."


"Segera kirim file rekamannya padaku!" perintah Farrel.


"Baik, saat ini saya dan tim juga masih menggali informasi lebih lanjut, terkait pemicu keributan mereka,” lanjut Daniel.


"Ya sudah, kau lanjutkan saja!"


Setelah memutuskan sambungan, Farrel langsung mengecek file yang dikirim Daniel. Di dalam kamar tidur Karina memang tidak ada kamera pengawas, tapi kamera yang ada di balkon dapat merekam suara pertengkaran dengan jelas.


Farrel semakin geram, pertengkaran itu diselingi suara tamparan keras dan Karina yang menangis tergugu.


Braaak!


Farrel menggebrak meja dengan keras, sedangkan matanya memerah akibat kemarahan yang meluap-luap.


Apa yang menjadi kecurigaannya sejak tadi benar, Dimas lah yang telah meninggalkan bekas memar di pipi Karina.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Farrel langsung mendatangi kantor Soebono Group.


Cklek!


Pintu terbuka dan Dimas keluar dari balik meja kerjanya untuk menyambut. “Waah, kapan kau pulang Bro? Kenapa kau tidak mengabariku lebih du- ....”


Buugghh!


Farrel bahkan tidak membiarkan Dimas selesai menyapa, ketika tinju kerasnya sudah mendarat di rahang suami Karina tersebut.


"Kurang ajar kau! Dasar banci!" raung Farrel.


"Aaahhk ...." Dimas meringis kesakitan, dia juga begitu syok karena tiba-tiba mendapatkan hadiah bogem keras dari sahabatnya itu.


Dimas memegangi rahangnya yang hampir mau lepas, sembari menyeka darah yang mengalir dari dalam mulutnya.


“Hei, Bro. Apa maksudmu? Kita sudah lama tidak bertemu, kenapa kau tiba-tiba memukulku!" geram Dimas.

__ADS_1


Dimas melayangkan tinju untuk membalas Farrel, ini bukan sekedar untuk membalas rasa sakit, tapi juga tentang harga diri.


Namun, Farrel yang memiliki postur lebih tinggi dan lebih tegap daripada Dimas, berhasil menahan pukulannya, bahkan memberi satu pukulan lagi di pelipis Dimas.


Kali ini Dimas tersungkur, meraung kesakitan, dan di atas kepalanya menari ribuan bintang.


Tatapan Farrel benar-benar tajam, ia melihat Dimas dengan tatapan penuh kekesalan dan kecewa.


“Apa kau sudah lupa janjimu padaku, hah?” teriak Farrel.


Dimas tidak mengerti apa yang ditanyakan Farrel. "A-apa maksudmu?" Dia terbata-bata.


Farrel berdecak, seraya membentak “Kau berjanji akan selalu membahagiakan Karina, dan tidak akan pernah menyakitinya sedikit pun. Tapi sekarang apa? Kau bahkan berani main tangan padanya, dasar banci!”


Suami Karina ini semakin bingung. Pikirannya kacau mendengar perkataan Farrel.


‘Kenapa Farrel bisa tahu kalau aku melakukan hal itu kepada Karina? Apa Karina yang mengadu padanya?’ Dimas bermonolog.


Namun, Dimas mencoba bersikap tidak tahu apa-apa.


Dia bertanya dengan sikapnya yang berpura-pura bodoh, “Aku tidak paham, sebenarnya apa yang kau bicarakan?”


Farrel kembali berdecak kesal. “Sudahlah, Dimas. Kau tidak usah lagi berpura-pura, jangan berpikir aku tidak tahu kau menampar Karina sampai membuat pipinya lebam!”


Dimas mengerutkan dahi. 'Sialan kau Karina, beraninya kau menceritakan masalah rumah tangga pada orang luar, dasar wanita berpendidikan rendah!' umpatnya kesal.


“Itu urusan rumah tanggaku! Kau bukan siapa-siapa, jadi kau tidak berhak ikut campur!” Dimas menatap Farrel dengan sorot mata menantang.


Farrel tersenyum dingin seraya menatap Dimas dengan sorot mata mengintimidasi. “Iya, benar. Aku memang tidak berhak ikut campur masalah kehidupan rumah tanggamu! Tapi aku berhak melindungi wanita yang aku cintai. Camkan itu, Dimas!”


Dimas merasa panas, ternyata Farrel masih juga menyimpan perasaan terhadap istrinya.


“Kurang ajar kau! Aku ini suaminya, beraninya kau berkata seperti itu di depanku,” raung Dimas.


Dia berdiri, dan untuk kedua kali mencoba memukul Farrel.


Taap!


Lagi-lagi tinjuan Dimas menggantung beberapa centi di depan wajah Farrel, sementara satu tangan Farrel malah menghantam perutnya.


Jangan lupa, selain jago bela diri, Farrel juga merupakan ketua genk anak-anak bandel di sekolahnya dulu.


Farrel sangat kecewa dengan apa yang telah diperbuat Dimas, dulu sahabatnya ini berjanji padanya akan menyayangi dan melindungi Karina dengan baik, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


“Jika kau berani berbuat kasar lagi pada Karin. Siap-siap, kau akan kuhajar lebih babak belur daripada hari ini!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2