Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Tindakan Tegas Farrel


__ADS_3

Manik mata wanita ini membesar, tangannya gemetaran berusaha melingkar di pinggang lelaki yang akan menjadi suaminya.


Tidak bertanya lagi, ucapan dari Farrel sudah sangat jelas.


Bahwa anak yang dikandung oleh wanita cantik ini tidak bisa diselamatkan.


Tangisan Karina pecah, ia memeluk erat tubuh mantan kakak kelasnya. Dengan deruan air mata, ia berujar kepada Farrel, “Jangan berbicara seperti itu, Farrel. Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa menjaga calon bayi kita.”


Farrel melepas pelukannya, ia menyentuh lembut wajah calon istrinya dan mencium kening Karina.


“Sayang, aku mohon kau jangan pernah sedih ya. Mungkin semua ini memang harus terjadi, kini kau hanya perlu memikirkan masa depan yang menantimu begitu indah.”


Sungguh hati Karina begitu sakit. Mana ada seorang calon ibu yang tidak sedih, ketika bayi dikandungnya meninggal sebelum terlahir ke dunia.


Apalagi Karina adalah seorang calon ibu yang menantikan buah hatinya begitu lama.


“Mungkin aku tidak akan pernah tahu apa yang kau rasakan, Karin. Tapi aku mohon, ikhlaskan semua yang telah terjadi,” ucap tersengal Farrel, nangis merintih.


Baru kali pertama lelaki itu menangis dengan begitu deras.


Tidak ada yang lebih sakit di dunia ini, jika melihat orang yang disayang ataupun dicintai sakit.


Hari Farrel serasa remuk, mendengar tangisan calon istrinya.


Karina tidak bisa mengatakan apa pun, karena situasi yang menyedihkan ini.


Ia melingkarkan tangan di leher Farrel, sembari menangis sendu di bahu lelaki tersebut.


Tangisan Karina tersengal-sengal, sampai membuatnya susah bernapas. Begitu pula dengan Farrel, yang memberikan ruang untuk Karina menangis sekeras-kerasnya.

__ADS_1


“Aku sayang padamu, Karin. Semoga Tuhan memberikan anugerah yang melimpah ruah setelah kejadian memilukan ini ya, Sayang,” ucap Farrel seraya mencium kepala Karina lembut.


Beberapa jam kemudian, semenjak dirirnya terus mengeluarkan air mata dan rahim Karina baru saja dibersihkan, ia merasa tenaganya habis dan merasa begitu lelah sehingga ia tertidur lelap.


Farrel masih berada di samping wanita cantik itu, tapi hanya bisa memperhatikannya dengan tatapan menyedihkan.


“Aku tidak akan pernah menyangka penderitaanmu sangat luar biasa. Aku berjanji kepadamu, Karin. Aku akan selalu berada disampingmu dan selalu berusaha membahagiakan dirimu lahir dan batin,” tutur Farrel begitu tulus dari hatinya sembari mengecup kening sang calon istri.


Dreet! Dreet!


Secara bersamaan, Farrel menerima panggilan dari Daniel.


Ia beranjak dari ranjang dan mencoba memastikan agar Karina tidak mendengar perbincangan bersama orang kepercayaannya itu.


“Tuan Farrel, saya baru saja bertemu Tuan Dimas dari parkir mobil rumah sakit menuju ke dalam. Ia memakai mobil pribadinya berwarna hitam dan berplat sama persis dengan yang Tuan beritahu tadi!”


Saat ini Farrel sungguh-sungguh tidak menyangka.


“Tolong kau cari tahu kembali informasi kegiatan Dimas hari ini. Daniel aku juga memerintahkanmu untuk mengecek cctv yang berada di depan resort Pramana IV, di sana ada bukti nyata bahwa pengendara mobil dengan plat itu adalah orang yang ingin menyelakai istriku. Kumpulkan semua buktinya dan segera lapor ke kantor polisi!”


Kali ini Farrel bertindak tegas, meskipun Dimas adalah sahabat yang ia sayangi, tapi bagaimanapun juga, tindakan pria itu sudah diluar batas.


Dimas bisa saja akan menjadi boomerang jika dibiarkan. Tidak ada lagi rasa iba kepada sahabatnya itu.


Tindakan yang melawan hukum harus ditindak adil dengan hukum pula!


“Gila! Dimas memang sudah gila! Apa yang membuatnya seperti ini?!” Farrel memeras rambutnya sampai mau copot.


Pertama Dimas sudah melanggar janji, bahwasanya sahabat Farrel itu tidak akan melakukan kekerasan dan menyakiti Karina. Kali itu Farrel telah memaafkan Dimas, meski hatinya sangat kecewa. Ia membiarkan sahabatnya itu lolos, berharap dia akan berubah dan menyesali perbuatan kasarnya itu.

__ADS_1


Tapi apa? Dimas malah semakin menjadi-jadi.


Kali ini Farrel yang harus bertindak tegas, Karina adalah miliknya. Jadi masalah yang terkait Karina adalah masalahnya juga. Tidak peduli apa yang harus dihadangnya kemudian.


Namun, Farrel masih memiliki perasaan. Ia harus menutup kasus ini dari Karina.


Ia hanya tidak ingin wanita tersebut syok, mungkin saja jika Karina tahu siapa yang berusaha membunuh calon bayinya, hal ini dapat merusak psikis wanita malang itu.


Sesekali ia menoleh ke arah Karina yang masih tertidur begitu nyenyak.


Pada malam hari, Daniel berhasil mengumpulkan semua informasi dan bukti kuat mengenai Dimas terkait tindakan yang ia lakukan kepada sang istri dan calon bayinya.


Sementara, Dimas masih bingung memikirkan Karina di dalam kamar VIP rumah sakit seorang diri.


“Apakah dia baik-baik saja?”


Sebenarnya ia begitu menyesal dengan tindakannya tadi, tapi karena obsesinya sangat besar terhadap Karina membuat jiwa waras Dimas tidak bekerja.


Dimas tidak ingin mantan istrinya itu berbahagia, ia lebih senang jika Karina tetap bersamanya.


Ia selalu berpikir, lebih baik Karina meninggal dibanding ia melihat mantan istrinya itu bersama lelaki lain.


Dubraaak!


Pintu kamar Dimas dibuka dengan satuan kepolisian bersenjata.


“Jangan bergerak, serahkan diri Anda sekarang juga ke kantor polisi!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2