
Ketika sampai di Pantai Ria Kenjeran. Karina disuguhi sesuatu yang di luar dugaan.
“Mari Nyonya Karina, kami antar,” ajak salah satu lelaki yang memiliki tubuh tegap sembari mengarahkan tangannya ke depan.
Karina hanya mengangguk dan mengikuti kedua lelaki tersebut.
Belum seberapa jauh berjalan, dia diberhentikan oleh tiga pelayan wanita.
“Nyonya Karina, ini bunga untuk Anda.”
Karina menerima buket bunga itu. Di sana ada kartu ucapan.
For My Dear
Selamat ulang tahun Karina Mustika. Aku ingin kau selalu bahagia karena kau adalah wanita yang sangat berarti bagiku.
Ucapan sederhana itu membuat wanita cantik ini merasa tersentuh, sehingga senyum manis terbit dengan sendiri di wajahnya.
“Terima kasih Mbak,” tutur Karina pada pelayan, sebelum melanjutkan langkahnya.
Karina diarahkan menuju sebuah tempat yang telah dihias dengan begitu indah. Penuh dengan lampion sebagai penerangan, serta taburan bunga yang harum semerbak pada lantainya.
Karina tidak habis pikir, siapa yang telah menyiapkan semua ini untuknya? Apa mungkin Dimas?
Ah, rasanya tidak mungkin!
Suaminya itu sedang bersenang-senang di Malaysia dengan sekretaris barunya. Mana sempat dia menyiapkan semua ini untuk Karina.
“Silahkan Nyonya, Tuan sudah menunggu Anda," ujar salah satu lelaki bertubuh tegap.
Karina semakin kebingungan. Tuan? Tuan siapa yang mereka maksud?
Meski begitu Karina tetap melangkahkan kakinya menuju kursi yang telah disediakan. Dia duduk di sana dengan mata mencari-cari siapa yang telah menyiapkan semua ini.
Namun, dia tidak menemukan siapa pun!
Beberapa saat kemudian, Karina dibuat terkejut ketika ada seseorang yang tiba-tiba mengalungkan liontin unlimited edition di lehernya.
Karina menoleh ke arah belakang. “Farrel?”
Lelaki yang memiliki wajah menawan ini tersenyum seraya berkata, “Selamat ulang tahun Karinaku.”
Farrel segera duduk di depan Karina. Dia memandangi wanita yang sangat dicintainya itu tanpa berkedip.
Namun, Karina hanya membalas tatapan Farrel dengan datar. Dia tidak ingin terperangkap oleh ilusi cinta. Sudah cukup Dimas saja yang membuatnya kecewa dan begitu sakit, dia harus bisa menjaga diri agar tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali.
“Maaf, Karin. Mungkin bagimu semua ini terkesan berlebihan. Aku tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia.”
Karina merasa terharu. Farrel, lelaki yang notabene adalah orang lain, ingat hari ini adalah ulang tahunnya. Sedangkan Dimas yang merupakan suaminya sendiri saja tidak ingat.
Entah Dimas memang lupa, atau mungkin dia sudah tidak peduli lagi dengan Karina?
Jawabnya hanya Dimas yang tahu!
Karina tersenyum haru pada Farrel, “Terima kasih, Farrel. Terima kasih karena telah memberi kejutan di hari spesialku."
"Sama-sama." Farrel mengangguk, 'Aku rela melakukan segalanya demi bisa membuatmu tersenyum, Karin!' Yang terakhir hanya Farrel suarakan dalam hati.
__ADS_1
Toh, percuma saja dia mengatakan secara langsung, karena dapat dipastikan Karina tidak akan percaya.
Dreet! Dreet!
Ponsel Farrel yang diletakkan di atas meja mendapatkan panggilan dari orang kepercayaannya.
Daniel!
Karina yang melihat Farrel mengabaikan panggilan itu, langsung bertanya, “Kenapa kau tidak mengangkatnya?”
Menurut Farrel, Daniel pasti akan memberi informasi tentang Dimas. Jadi Farrel enggan mengangkatnya di depan Karina, karena tidak ingin wanita itu merasa terganggu.
“Okee, tunggu sebentar ya. Aku angkat telpon dulu,” Farrel dengan cepat menjauhi Karina.
Pada saat menerima telpon Farrel berkali-kali menoleh ke arah Karina. Raut wajahnya tampak begitu serius.
‘Sepertinya yang dibicarakan Farrel adalah hal penting, ternyata casanova itu bisa serius juga,’ gumam Karina dalam hati dengan maksud mengejek.
Selagi Karina bisa mengingat, Farrel tidak pernah serius dalam hal apa pun. Dia adalah sosok yang tidak suka terbebani, maunya hanya bersenang-senang saja.
Bahkan lelaki itu masih belum bekerja setelah menyelesaikan S2-nya jauh-jauh ke luar negri, dia masih enak-enakan ongkang kaki menjadi seorang pengangguran.
Setelah selesai berbicara dengan Daniel, Farrel kembali duduk di dekat Karina.
Tak lama kemudian pelayan mulai berdatangan, mereka menata hidangan spesial dengan rapi di atas meja.
“Karina, silakan makan,” suruh Farrel.
Namun, Karina merasa lelaki yang ada di depannya sedang tidak fokus.
Farrel berkali-kali terlihat memijat pelipisnya, seperti sedang berpikir begitu keras.
Lelaki itu tanpa sadar membuat Karina khawatir. Ia menoleh ke arah wanita yang ia cintai dan menggelengkan kepala.
“Hmm, tidak ada apa-apa. Hanya ada sedikit urusan yang membuatku terganggu. Maaf ya, Karin.”
Karina tidak banyak bertanya, ia mulai menikmati hidangan yang telah tersedia.
Sedang asik makan, Farrel kembali menerima telpon.
“Sebentar, Karin. Aku harus menerima telpon ini dulu.” Farrel menjauhi Karina.
Tanpa sadar lelaki ini berteriak, “Apa? Dimas?”
Manik mata Karina membesar, dia langsung mendekat tanpa menunggu Farrel selesai berbicara. “Kenapa dengan Dimas?”
‘Apakah aku harus berterus terang pada Karina? Ya, aku harus memberitahu dia walaupun ini pahit. Aku tidak boleh menyembunyikan keburukan Dimas. Aku ingin Karina terlepas dari bajingan itu, dan bisa hidup bahagia,’ Farrel membatin.
Haah!
Farrel menghela napas panjang. Dia khawatir Karina akan syok setelah mendengar kabar ini. Namun, lebih cepat Karina tahu, akan semakin baik pula, pikirnya.
“Dimas, sebetulnya dia menginap di salah satu resortku sejak dua hari yang lalu bersama sekretarisnya.”
Informasi dari Farrel membuat hati Karina sungguh sesak dan sakit.
Selain selingkuh, ternyata Dimas juga sudah membohongi dirinya.
__ADS_1
“Jadi Dimas bersama wanita itu menginap di resortmu?” tanya Karina ingin memastikan lagi apa yang ia dengar sebelumnya.
Farrel menganggukkan kepala. Dia ikut terluka ketika melihat netra mata Karina mulai berkaca-kaca.
“Maafkan aku, Karin. Bukannya aku ingin mengacaukan malam ulang tahunmu, aku hanya ingin ...”
“Kau tidak perlu minta maaf, Farrel. Seharusnya aku berterimakasih kepadamu. Sekarang, maukah kau mengantarku ke tempat Dimas?” mohon Karina kepada sahabat suaminya itu.
"Iya." Farrel mengangguk.
Tanpa jadi menyelesaikan makan malam terlebih dahulu, mereka langsung berangkat menuju Royal Pramana Resort II.
Sepanjang jalan, Karina berusaha mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
‘Cukup sudah, kali ini aku akan memaksanya untuk melepaskanku!’ Karina membatin.
Ia berusaha tegar.
Sesampainya di tempat tujuan, Farrel sudah mendapatkan informasi di mana Dimas dan wanita itu berada.
Di kolam renang belakang resort.
Karina sekuat hati menahan air mata agar tidak menetes ketika melihat suaminya sedang menyuapi Nadia.
Kali ini Karina tidak ingin terlihat lemah, dia sudah mempersiapkan diri untuk kenyataan terburuk.
Farrel sengaja membiarkan Karina yang bertindak.
Dengan cepat Karina mendekati Dimas, “Mas, jadi ini yang kau bilang meeting ke Malaysia?”
Sontak Dimas dibuat terkejut mengetahui kedatangan istrinya. “Karin, kenapa kau ada di sini?”
“Mas, malam ini juga, aku mohon ceraikan aku!"
Dimas menarik lengan istrinya, “Tidak! Kita tidak akan bercerai dan kau- ...”
Bugghh!
Entah sejak kapan Farrel sudah ada di sana, melepaskan cengkeraman Dimas di lengan Karina, lalu melayangkan pukulan keras.
“Kau benar-benar keterlaluan, Dimas! Aku tidak menyangka kau akan seperti ini!”
Sudut bibir Dimas berdarah. Bukannya jera, ia malah tersenyum sarkas sembari menatap tajam pada Karina dan Farrel.
“Dasar kalian berdua manusia biadab, manusia pengkhianat!” teriak Dimas.
Menurut Dimas, apa yang telah ia lakukan bersama Nadia, tidak berbeda dengan apa yang dilakukan istrinya dengan Farrel.
“Dasar kau wanita j4lang Karina. Kenapa harus dengan sahabatku?” geram Dimas sambil menunjuk Karina dengan tangan kiri.
Tidak terima mendengar hinaan Dimas terhadap Karina, Farrel kembali memberikan pukulan kuat di perut Dimas.
Buugh!
“Kurang ajar kau, Dimas! Bisa-bisa kau berkata seperti itu pada Karina! Apa aku tidak pernah berkaca, hah! ”
“Sudah! Sudah!” pekik Karina dan melerai keduanya.
__ADS_1
Kemudian Karina menatap Dimas dengan penuh kecewa. “Mas, besok aku akan ke pengadilan untuk mengurus perceraian kita. Aku ingin kita usai sampai di sini!”
Bersambung.