Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Mulai Saling Melupakan


__ADS_3

Farrel begitu bingung dan heran dengan perubahan drastis Karina.


Karina yang ia kenal bukanlah wanita seperti ini. Bahkan, melihat lelaki saja ia enggan.


Farrel mengetahui bahwa Karina memiliki trauma mendalam tentang laki-laki. Semenjak kejadian dia di jual dengan ibu tirinya, Karina tidak lagi bisa leluasa berbicara dengan seorang lelaki.


Ia selalu membatasi diri. Berbicara hanya sekadarnya saja di sekolah. Hanya saja ada lelaki yang berhasil meluluhkan hati dingin wanita ini, karena Dimas membantunya pada kejadian di club malam itu.


Padahal sebenarnya, Farrel lah yang sangat berperan pada saat kejadian itu.


Farrel jauh hari mencari informasi tentang keluarga Karina, sampai ia mengetahui dari Daniel bahwa Karina remaja menjadi korban prostitusi.


Farrel yang bersama Dimas waktu itu segera menuju ke club malam.


Namun sayang, pada saat Farrel menghantam lelaki hidung belang yang akan menjadikan Karina budaknya, Dimas menghampiri gadis malang itu.


Yang diingat Karina adalah Dimas, bukan Farrel.


‘Sikap Karina saat ini bukan wanita yang ku kenal!’ celetuk Farrel bermonolog.


Lelaki yang mengetahui sifat Karina, menyempitkan matanya. Ia melepas lembut tangan wanita tersebut yang mengalung di lehernya.


Ia melihat mata Karina jauh. Menatapnya dengan tajam.


“Sepertinya ada yang salah dengamu, Karin. Aku tahu kau hanya berpura-pura saja melakukan hal ini kan?”


Heh!


Karina kembali tersenyum nakal pada lelaki terkenal sebagai playboy tersebut.


“Tidak Farrel. Aku mengatakan hal tadi secara sadar, aku akan memberikan apa yang kau mau saat ini,” ujar Karina sembari memegangi leher Farrel.


Jakun lelaki tampan ini naik turun.


Farrel menghela napas panjang dan ia segera memegangi tangan Karina untuk melepaskan sentuhan lembut itu.


“Karin, aku tidak ingin kau seperti ini.”


Wanita cantik ini memiringkan kepala dan melemparkan senyuman manis kepada mantan kakak kelasnya itu.


“Maksudmu, bagaimana? Apa kau tidak tertarik dengan tubuhku?”


Farrel menggelengkan kepala, ‘Tidak. Aku tidak boleh menyentuh Karina. Aku harus mengantarnya pulang!’ tegas Farrel kepada dirinya.


Suasana malam, ditambah berada satu ruangan dengan seorang wanita. Sangat jarang lelaki akan menolak ajakan itu. Apalagi Karina adalah wanita yang sangat dicintai Farrel.


Hanya lelaki yang memiliki ketulusan hati dapat menolak ajakan tersebut.


Tidak ingin terlanjur membuat kesalahan. Farrel menarik tangan Karina dan berucap, “Aku akan mengantarmu pulang, Karin. Ini sudah malam.”


Farrel tidak mampu menatap mata Karina, karena ia tidak ingin bertindak lebih.


Mana ada lelaki yang dapat menghindari situasi seperti ini!


“Tunggu Farrel, aku sudah memberikan kesempatan ini kepadamu! Apakah kau tidak sakit mencintai seseorang yang sama sekali tidak menganggapmu!” teriak Karina.


Ia melepaskan pegangan tangan Farrel yang begitu kuat.


Farrel menoleh ke arah Karina.


Karina menundukkan kepala sekejap.

__ADS_1


Kemudian ia mengangkat wajahnya sembari mengucapkan, “Farrel, kita hanyalah manusia bodoh dalam mencintai seseorang!”


Netra mata wanita cantik ini berkaca-kaca.


Melihat hal ini membuat Farrel menatap Karina dengan binar kesedihan. Ia hanya bisa terdiam, menunggu kelanjutan ucapan dari wanita itu.


“Kita hanyalah manusia yang begitu munafik! Tidak bisa melepaskan seseorang yang sangat kita cintai!”


Hati Farrel perih mendengar perkataan itu dari seseorang yang sangat ia cintai sejak dulu.


Iyaa memang benar semua yang diucapkan Karina. Farrel hanyalah lelaki munafik yang tidak bisa melepaskan Karina dari Dimas. Begitu pula dengan Karina.


Farrel menatap lurus istri dari sahabatnya itu.


“Kondisi ini begitu sulit bagiku, Karina. Aku tidak ingin membuatmu sakit. Kau adalah istri dari sahabatku sendiri, jadi aku tidak akan melakukan hal itu.”


‘Karena kau adalah wanita yang sangat berarti bagiku di dunia ini. Aku tidak akan menodaimu,’ lirih Farrel dalam hatinya yang begitu tulus.


Hati yang semakin gundah dirasakan oleh kedua insan ini membuat suasana semakin membingungkan.


Karina tidak lagi mengatakan apa pun. Ia mengikuti perintah Farrel untuk mengantarnya pulang ke rumah.


Sampainya di kediaman Dimas Wijaya. Farrel berpura-pura menanyakan sahabatnya itu, meskipun ia tahu Dimas tidak ada di rumah.


“Ini sudah pukul 11 malam. Aku akan mengatakan kepada Dimas jika kau- ...”


“Mas Dimas sedang tidak ada di rumah,” potong Karina.


Sebenarnya Farrel kali ini hanya ingin Karina mengatakan sesuatu tentang Dimas. Ia mencoba memancing.


“Memang dia kemana?”


“Katanya meeting ke Malaysia. Entahlah, aku juga tidak tahu.” Karina enggan membicarakan Dimas.


Karina segera menundukkan kepalanya.


“Terima kasih hari ini karena telah menemaniku, Farrel. Aku ingin masuk dulu.”


Farrel membalas dengan menundukkan kepalanya. Lalu ia tersenyum kepada Karina.


“Selamat beristirahat, Karin.”


Ia melihat dengan tatapan menyentuh kepada Karina.


“Aku akan selalu ada untukmu, Karina Mustika,” gumannya.


Farrel tidak langsung balik ke resort. Ia masih terjaga di depan kediaman sahabatnya.


Di dalam mobil, ia menghubungi Daniel.


“Daniel, tolong cari informasi tentang Dimas Wijaya Soebono. Apakah ia benar melakukan perjalanan ke luar negeri?”


Ia segera menancapkan gas mobil sportnya.


Pada saat menuju ke dalam rumah mewah dan besar ini. Karina seperti merasa begitu hampa.


Jalan Karina sempoyongan. Ia kini berdiri menatap foto pernikahannya.


Ternyata apa yang ia lakukan itu sebatas hiburan semata. Tidak ada yang bisa mengobati luka batinnya.


Setelahnya ia membuka pintu kamar utama, di sana ia membayangkan kejadian Dimas yang berani membawa Nadia kemari.

__ADS_1


Ia memutuskan tidur di ruang tamu saja.


Keesokan harinya.


Tok! Tok!


Wajah Karina yang masih mengenakan make up dan dress putih itu terkejut.


Ia membuka pintu dan lagi-lagi Bagus membawakan buket bunga putih serta makanan yang begitu banyak.


“Nyonya, ini ada hadiah untuk Anda.”


“Yang membawakan, orang yang sama juga, Pak?” tanya Karina sembari membantu Bagus.


Lelaki setengah baya itu menganggukkan kepalanya.


Hmm!


Karina tidak bertanya lagi. Ia hanya memberikan Bagus sebagian makanan yang dibawakan dari lelaki misterius tersebut.


Seharian ini Karina tidak ingin kemana-mana. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya di rumah, tanpa menelpon Dimas.


Hari kembali berganti. Sama seperti hari kemarin, Bagus kembali membawakan buket bunga besar beserta makanan serta hadiah boneka lumba-lumba.


Setelah menerima semua hadiah itu Karina menunduk dan berucap, “Terima kasih , Pak Bagus. Ini ambil makanannya.”


Namun, berbeda dari hadiah-hadiah sebelumnya. Kali ini ia mendapatkan kartu ucapan berisi.


For My Dear


Malam ini pukul 7, aku akan menunggumu di Pantai Ria Kenjeran. Aku harap kau bersedia untuk datang.


Karina sangat yakin, semua hadiah ini bukan dari Dimas.


Hari ini merupakan hari ulang tahun Karina.


Namun, Dimas sama sekali tidak mengucapkannya. Dulu sesibuk apa pun, Dimas akan selalu menghubungi istri cantiknya ini.


“Apakah dia benar-benar sudah melupakanku?” gumam Karina menahan rasa sakit di dalam hatinya.


Kini ia hanya berpikir. Ia akan menjalankan apa yang sudah di takdirkan.


Ia tidak akan bisa memaksa cinta seseorang, jika sudah pudar.


Sesakit dan separah bagaimanapun jalan kehidupan, semua pasti berjalan.


Jam berputar dengan cepat. Ia bergegas siap-siap untuk ke pantai itu.


Karina mengenakan gaun simple berwarna merah maroon dan rambutnya disanggul. Apa pun yang dikenakan wanita ini selalu menampilkan kesan anggun dan elegan.


Ia pun segera berpamitan dengan Bagus, “Pak, saya keluar sebentar dulu ya. Ada acara yang harus saya datangi.”


“Nyonya, sejak tadi di luar ada mobil yang menunggu Anda.”


“....”


Karina segera melangkahkan kakinya.


Ia disambut dengan dua orang lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam. Tersenyum mengarah Nyonya Muda dari keluarga Soebono ini.


“Silahkan, Nyonya. Kami akan mengantar Anda ke Pantai Ria Kenjeran.”

__ADS_1


Sepertinya mereka berdua adalah orang suruhan dari si pengirim hadiah.


Bersambung.


__ADS_2