
Karina masih saja berteriak di ruang Dokter Indra. Dirinya belum sadar juga meskipun Farrel terus memanggilnya.
“Karin, sadarlah ...” ucap Farrel menampilkan wajah yang sangat khawatir.
Dokter Indra berasumsi bahwa wanita yang ada di hadapannya sedang mengalami phobia.
“Pak Farrel, biarkan Bu Karina seperti itu saja. Meskipun beberapa kali Anda memanggilnya hasilnya akan tetap sama, hanya Bu Karina yang bisa mengontrol dan membuat dirinya segera tersadar,” tutur dokter itu kepada Farrel.
“Tapi dok, bagaimana nantinya kondisi Karin?” tanya Farrel sembari manik matanya berkaca-kaca.
Dokter Indra memegangi pundak lelaki yang jauh lebih muda dibandingnya.
“Tidak masalah, Pak Farrel. Istri saya juga pernah mengalami phobia ini sewaktu tahu dirinya sedang hamil.”
“Phobia?” Farrel bingung akan tutur yang di lontarkan Dokter Indra.
Lelaki itu mengangguk, kemudian dokter tersebut menjelaskan secara detail.
Mungkin saja Karina sedang mengalami tokophobia primer, yang merupakan rasa takut dan cemas secara berlebihan pada wanita yang belum pernah hamil atau melahirkan. Umumnya phobia ini bisa dialami saat usia remaja, tetapi bisa juga dialami oleh wanita dewasa yang sudah menikah.
“Phobia ini terjadi mungkin karena traumatis masa lalu Bu Karina, misalkan akibat pelecehan seksual atau semacamnya,” lanjut Dokter Indra.
Farrel terdiam dan menunduk, ia bermonolog, ‘Apakah ia mengalami pelecehan dari Dimas?’
Pok! Pok!
Dokter Indra menepuk-nepuk pelan bahu anak muda itu yang sangat terlihat cemas akan kondisi Karina.
“Tapi tenang saja Pak Farrel, Bu Karina akan segera siuman. Phobia ini tidak akan terjadi lama, jika Anda bisa segera mengobatinya.”
Farrel memiringkan kepala, ia masih bingung dengan ucapan dari dokter yang memiliki sifat begitu ramah itu.
Melihat suami dari pasiennya tampak kebingungan, Dokter Indra kembali berbicara.
“Maksudnya, Anda sebagai suami harus tahu apa yang dibutuhkan istri Anda. Yaah, seperti jaga pola makan, memberikan perhatian penuh kepadanya dan jika melakukan hubungan badan, Anda harus bisa menjaga emosi. Mainnya pelan-pelan saja ya ...” gurau Dokter Indra.
__ADS_1
Farrel mengangguk dan tersenyum tipis.
Tujuan dokter tersebut sedikit mewarnai suasana, supaya calon ayah juga tidak ikut stress atau bahkan frustasi memikirkan sang istri.
Jika sampai hal itu terjadi, sang istri tidak akan mendapatkan perhatian khusus. Malah makin memperkeruh kondisi dan situasi.
Farrel menoleh ke arah Karina, wanita cantik ini sudah tidak berteriak lagi dan hal itu membuat dirinya sedikit lega.
Hah!
Dokter Indra menghela napas, ia kembali tersenyum kepada Farrel.
“Entah mengapa ketika saya melihat Anda, saya mengingat diri sendiri sewaktu muda.”
“Ketika istri saya mengalami tokophobia primer ini, saya sangat cemas dan menangis beberapa hari. Akibatnya kondisi istri saya bukan malah membaik tapi semakin memburuk, karena saya yang stress memikirkannya juga. Bagaimana tidak stress, karena istri saya merupakan cinta pertama saya sewaktu SMP dulu. Selama 12 tahun saya menantinya, meski ia telah berganti kekasih beberapa kali tetap saja akhirnya saya adalah takdirnya.”
Entah mengapa Dokter Indra begitu terbuka dengan Farrel, padahal mereka baru pertama kali bertemu.
“Eeh, maafkan saya ya Pak Farrel. Saya malah bercerita masa lalu dengan Anda.” Dokter tersebut menundukkan kepalanya.
Farrel tersenyum dan menundukkan kepala juga.
Lelaki yang sudah pernah melewati masa seperti ini hanya bisa tersenyum.
“Sabar ya Pak Farrel, kita sebagai lelaki hanya bisa pasrah dengan hati seorang wanita. Sungguh sulit jika dipahami,” dokter itu menggelengkan kepalanya.
Farrel tersenyum lepas, ia berpikir ternyata masih ada juga lelaki yang menunggu wanitanya lebih lama dibanding dirinya.
“Tapi tidak perlu khawatir Pak Farrel, jika Bu Karina memang takdir Anda maka ia akan tetap berada di sisi Anda!” lanjut Dokter Indra.
Beberapa menit kemudian Karina tersadar.
Hah!
Ia seperti terbangun dari mimpi buruknya.
__ADS_1
Manik mata Karina membesar dan ia mencoba mengatur napas yang tidak karuan itu.
Detak jantungnya berdebar-debar, tapi dalam hati ia merasa lega.
‘Ternyata tadi semua hanya lah mimpi!’
“Karin ...” panggil Farrel lembut.
Karina menoleh ke arah Farrel lalu ia memejamkan mata beberapa detik, mencoba kembali menghela napas.
Setelahnya ia membuka mata indah itu dan tersenyum kepada Farrel.
“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Farrel begitu cemas.
Wanita ini hanya menggelengkan kepala saja, ia tidak ingin menceritakan apa yang sudah ia mimpikan tadi mengenai Dimas.
Karina kembali di periksa oleh Dokter Indra, semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah.
Mereka pun berpamitan kepada dokter ramah itu, sebelumnya Dokter Indra melontarkan perkataan. “Saya sangat senang melihat kalian berdua Bu Karin dan Pak Farrel, semoga kalian bisa berbahagia dalam ikatan rumah tangga yang kuat.”
“Terima kasih banyak atas doanya, dok,” ucap Farrel sembari menundukkan kepala.
Sedangkan Karina tidak mengatakan apa pun, ia hanya memberi hormat dengan menundukkan kepala juga.
Karina tersadar, semua yang Dokter Indra tuturkan seharusnya bukan untuk Farrel tapi Dimas.
Di lorong rumah sakit, Karina sengaja memelankan langkah kakinya sampai ia tertinggal jauh dari Farrel.
Namun, Farrel segera menyadari, bahwa Karina tidak lagi mengikuti dirinya.
Ia menoleh dan bertanya, “Ada apa Karin? Jika ada hal yang membuat pikiranmu kacau atau hatimu seperti terbelenggu coba ceritakan kepadamu.”
Karina menundukkan kepala, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kemudian, ia melihat dengan tatapan tajam ke arah Farrel Pramana.
__ADS_1
“Farrel, bisakah kau tidak menemuiku lagi?”
Bersambung.