
Karina menggelengkan kepalanya, membuyarkan lamunan mengenai lelaki playboy itu.
Lalu ia tersenyum manis kepada wanita cantik yang ada di depannya. “Maaf Tante, aku hanya memikirkan sesuatu.”
Entah dari mana datangnya Farrel, ia menyauti apa yang dikatakan Karina tadi, “Dia pasti sedang memikirkan aku, Ma.”
Farrel tersenyum sembari mengkedipkan salah satu matanya.
Karina seperti biasa, ia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi sekalipun.
Meskipun Farrel sudah banyak berubah, ia masih saja selalu bertingkah genit kepada Karina.
“Kau sudah selesai mandi Sayang? Kalau begitu ayo kita makan siang sekarang,” ajak Alana.
“Tunggu sebentar ya, Tante mau ke dapur dulu,” ucap Nyonya Alana sembari menyentuh lembut bahu Karina.
“Tipemu luar biasa, Sayang. Mama sangat suka,” bisik Alana seraya tersenyum seperti anak kecil kepada putranya.
Farrel pun tidak henti tersenyum, tapi Karina masih menatap Farrel dengan wajah datar.
Lelaki tampan itu segera mendekati Karina dan ia duduk di samping, wanita yang sangat ia cintai.
“Bagaimana? Apakah sudah akrab dengan calon mertuamu, Karin?” tanya Farrel mengganggu Karina.
“Kenapa tiba-tiba begini, Farrel?” tanya balik Karina.
“Memang kenapa? Aku ingin kau cepat membuka hati untukku, Karin.”
“Tapi kan ...”
Farrel memberikan sentuhan lembut ke kepala Karin. Ia mengerti bahkan sangat memahami isi hati Karina saat ini.
Tidak mungkin seseorang langsung bisa membuka hati, apalagi Karina baru saja dirundung masalah perceraian dengan orang yang sangat dicintainya.
Farrel tersenyum seraya berkata, “Aku janji akan selalu mencintaimu.”
Karina melihat dalam netra putra Alana. Ada ketulusan yang benar-benar tersirat.
Alana pun muncul dari dapur, melihat putranya dan Karina saling tatapan ia malah salah tingkah.
‘Astaga, aku harus memberikan mereka kesempatan.’
Alana berlari kecil bersembunyi di sofa mewahnya, lalu tanpa sadar Farrel berucap, “Ma, kenapa bersembunyi di sana.”
“Waah ketahuan ya, lanjut saja Farrel.” Alana tersenyum bahagia, ia ingat pada saat dirinya beradu asmara dengan ayah Farrel.
Mereka pun mengarah ke ruang makan makan untuk.
Hidangan sudah tersedia memenuhi meja makan keluarga Pramana.
“Ayo Nak Karin, ini.” Alana menyendokkan nasi dan beberapa makanan.
“Sudah cukup Tante, ini saja.”
__ADS_1
Mereka kembali berbicara hal yang belum tuntas. Tiba-tiba Alan menanyakan hal ini kepada Farrel.
“Jadi kapan acara pernikahan kalian akan diselenggarakan?”
Bola mata Karina membesar, sontak ia begitu terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut ibu Farrel.
Uhuk! Uhuk!
Heh!
Farrel menutupi bibirnya yang naik ke atas, ia tersenyum melihat ekspresi wajah Karina yang begitu menggemaskan.
“Kenapa Karin? Ini minum.” Alana memberikan segelas air minum kepada calon mantunya itu.
Sedangkan Farrel tidak bisa menghentikan senyum bahagianya itu.
“Dia hanya terkejut, Mama menanyakan hal ini,” sahut Farrel.
Mereka kembali berbincang, Alana sangat penasaran dengan wanita yang selalu diceritakan Farrel sejak dulu.
Di sisi lain, pada saat Karina mulai menemukan kebahagiaanya, Nadia masih begitu benci akan perbuatan Karina kepadanya waktu itu.
Ia ingin merebut apa yang belum dirinya dapatkan.
“Awas saja kau, Karin! Aku akan membalas perbuatanmu nanti, begitu pula dengan mantan suami!”
Wanita licik yang memiliki racun berbahaya ini tidak akan pernah bisa melepaskan Dimas, sebelum ia meraup kekayaan lelaki itu.
Ia mencari informasi keberadaan Dimas Wijaya yang di penjara akibat keributannya dalam proses perceraian.
Namun pada saat di sel, Dimas sedang berbicara dengan Poernama.
Dan juga ditemani Sarah yang ada di belakang, ayah Dimas.
Poernama hanya menatap putranya yang sangat membuatnya kecewa.
Hah!
“Sekarang apa yang kau mau, Dimas?”
Dimas terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam pikirannya saat ini hanya fokus ingin merebut cinta Karina kembali.
“Sekecewanya Papa kepadamu, Papa juga akan tetap peduli. Namun, kali ini Papa tidak akan membantumu Dimas. Papa akan menyerahkan semua dengan kuasa hukum!”
Mata Dimas berkaca-kaca. “Tapi Pa, Dimas masih mencintai Karina. Waktu itu Dimas hanya khilaf, lagian dia juga selingkuh dengan Farrel!”
Poernama hanya bisa menggelengkan kepala saja. “Intinya, kau harus menerima semua yang kau perbuat. Intropeksi diri lah selama dua minggu di sini!” ucap Poernama sembari meninggalkan putra semata wayangnya di dalam sel.
“Pa, tolong keluarkan Dimas dari sini!” teriak Dimas.
Namun, seperti apa yang dikatakan Poernama sebelumnya. Ia tidak akan membantu sang putra kali ini. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Dimas, putra yang sangat ia sayangi.
‘Semua ini Papa lakukan untuk membuatmu sadar dan mengerti mengenai menghargai serta mencintai seseorang, Nak.’
__ADS_1
Dimas seperti orang gila, ia mengamuk di dalam jeruji besi.
Sarah menatap iba kepada lelaki yang telah membuat sahabatnya sakit dan hancur. Kemudian ia ikut keluar, tapi ia melihat Nadia ada di pintu depan sedang membawa bingkisan.
Wanita cantik itu terkejut melihat ada sang adik di sini.
“Nadia? Kenapa kau di sini?”
Nadia hanya tersenyum.
Tanpa diberitahu, Sarah sudah mengetahui tujuan adiknya kemari.
‘Pasti ia menjengguk mantan suami, Karin.” Sarah bermonolog.
Hah!
Sarah memegangi bahu Nadia, ia menatap mata adik perempuannya dengan penuh kasih berharap Nadia tidak akan melanjutkan rencananya untuk mendekati Dimas lagi.
“Nadia, kakak benar-benar sayang kepadamu. Maka dari itu kakak ingin kau tidak berhubungan lagi dengan mantan suami, Karin.”
“Apakah kau tau, lelaki yang sekali sudah melakukan kesalahan berupa selingkuh, maka dia akan perbuat begitu lagi. Kau nantinya akan sakit. Kau masih muda, banyak lelaki yang mengejarmu,” lanjut Nadia.
“Tidak kak Sarah, aku akan tetap ingin menikah dengannya!”
Nadia kepala batu itu berlari, tanpa mempedulikan kata kakaknya.
“Tunggu Nadia ...”
Benar yang dikatakan Poernama, mungkin Sarah juga harus bersikap tidak peduli lagi dengan adik perempuannya itu. Agar ia menerima segala penyesalan dan karma yang telah dilakukan.
“Pak Dimas ...” panggil Nadia.
Dengan sinis Dimas menatap wanita yang telah membuat hidupnya hancur.
“Mau apa kau ke sini?”
“Kenapa kau tidak menyambutku dengan ramah Sayang, aku membawakanmu makanan.”
Nadia ingin menampilkan kebaikan yang pura-pura itu agar Dimas luluh karenanya.
“Pak, aku tahu sekarang Bu Karina tidak lagi menjadi istrimu. Tapi kau tidak perlu khawatir Pak, aku akan ada selalu bersamamu.”
Tentu saja perkataan itu bohong.
Dimas mengkerutkan dahinya. Sedikitpun Dimas tidak ada rasa cinta dengan wanita licik ini.
“Keluarlah dari sini, aku tidak butuh perhatianmu!”
Namun, Nadia masih memiliki cara untuk bisa membuat Dimas jatuh ke tangannya.
Ia menunjukkan hasil tespack kepada lelaki itu.
“Aku sedang menggandung anakmu, Pak!”
__ADS_1
Bersambung.