
Dimas terkejut dengan apa yang dikatakan wanita penjilat itu.
Bola matanya membesar dan ia menunjuk kepada Nadia. “Jangan sembarangan kau berbicara ya, Nad! Aku tidak akan percaya dengan apa yang kau ucapkan, aku tahu tujuanmu melihatkan hasil tes itu agar kau bisa menikahiku kan?”
Heh!
Bukannya geram dengan perkataan sinis yang terlontar dari Dimas. Nadia malah tersenyum hambar sambil memalingkan pandangannya.
‘Pintar juga kau Pak, tapi aku tidak akan menyerah untuk membuatmu jatuh dalam perangkapku!’ Nadia bermonolog.
“Benar Pak Dimas, anakmu ada dalam rahimku. Saat kita melakukannya, aku berada pada masa subur,” jelas Nadia sembari tersenyum palsu kepada Dimas.
Lelaki ini tidak akan mudah percaya dengan Nadia!
Dimas menggelengkan kepalanya yang terasa pusing dan begitu berat. Belum saja masalah mengenai merebut cinta Karina terselesaikan, kini ia mendapatkan masalah baru yang dibuat-buat oleh Nadia, sekretarisnya itu.
“Bohong! Kau jangan berbohong kepadaku ya Nad. Aku yakin anak yang kau kandung itu bukan anakku, tapi anak pria lain. Sudah aku jelaskan sejak awal kepadamu, aku sama sekali tidak ada rasa denganmu, semuanya hanyalah kesalahpahaman!” teriak Dimas.
Heh!
Nadia membuang napas.
‘Dasar keras kepala!’
“Oke baik lah, jika Pak Dimas tidak mau bertanggung jawab, aku akan memberitahu direktur utama yaitu Papa Anda. Nanti aku akan menceritakan semua mengenai ...”
Nadia mengatakan hal itu karena ia tahu, kelemahan lelaki ini selain Karina adalah ayahnya.
Aarrgg!
Dimas berteriak kencang, ia beberapa kali menarik rambutnya, karena ia bingung harus berbuat apa dan ia tidak bisa menahan emosi.
Semua yang dilakukan oleh Nadia benar-benar licik. Pertama, wanita ini mengancam Dimas dengan cara memberitahu Karina melalu video syur yang telah ia rekam. Dan sekarang ia akan memberitahu Poernama dengan melihatkan tespack bergaris dua yang telah dilakukan putranya kepada Nadia.
“Kau wanita ja****, Nadia! Tidak bisakah kau melepaskanku, hah? Gara-gara kau semuanya hancur, Karina pergi dari kehidupanku!”
“Maksudmu bagaimana, Pak? Bukannya kau yang telah menghancurkanku, aku tidak akan bisa melepaskan lelaki yang sudah meniduriku beberapa kali!”
“Sialan kau, Nadia!” teriak Dimas.
Nadia hanya melempar senyuman palsu kepada atasannya itu.
‘Sungguh malang sekali kau, Dimas! Tunggu saja kau akan kubuat hancur!’ gerutunya dalam hati sembari menatap remeh ke arah Dimas.
__ADS_1
Wanita beracun ini menyondongkan tubuh sexynya itu ke depan, seraya berbisik kepada Dimas.
“Pak, sampai jumpa di acara pernikahan kita ya ...”
Ia segera meninggalkan Dimas yang kini seperti orang gila.
“Berhenti kau wanita licik! Dasar ja****!”
Nadia tidak lagi menghiraukan lelaki itu, yang hanya ia pikirkan kini bagaimana cara untuk membuat dirinya segera menikahi Dimas, si pewaris tunggal Grub Soebono.
“Aku harus bertemu dengan Bu Maya, aku yakin dia akan membantuku.”
Sebelumnya Nadia pernah dihubungi oleh Maya, karena wanita ini sangat setuju jika Nadia yang menjadi mantunya bukan Karina.
Bahkan Maya memohon kepada Nadia untuk selalu mendekati putra kesayangannya itu. Maya ingin Karina sakit hati dan meninggalkan Dimas.
Nadia menghubungi Maya.
“Bu Maya, apakah saya bisa bertemu dengan Anda saat ini?”
Setelah mendapat jawaban dari Maya, senyum licik Nadia kembali terpancar.
“Aku akan mengatakan semuanya kepada Papamu, Dimas! Kau pikir aku adalah barang bekas yang bisa kau pakai sesuka hati, lalu setelah bosan kau bisa membuangku begitu saja, hah!’ geramnya dalam hati.
Namun, setelah mendapatkan perlakukan yang tidak enak dari Dimas, ia kesal. Ia merasa dibuang setelah dilecehkan beberapa kali, meskipun Nadia yang memintanya.
Ia bergegas menuju ke mansion mewah orang tua Dimas Wijaya.
Sampainya di rumah besar yang di tinggali oleh Maya dan Poernama, ia di sambut dengan pelayan muda atas perintah nyonya besarnya itu.
“Apakah kau Nona Nadia?” tanya pelayan tersebut.
Dengan begitu angkuh dan sombong, ia hanya mengangguk.
Lalu Nadia di antar oleh pelayan tersebut ke ruang keluarga. “Kemari Nona, ikuti saya.”
Sampainya di ruang keluarga, pelayan itu menundukkan kepalanya kepada Maya dan berkata, “Maaf Nyonya karena telah mengganggu waktu Anda. Saya kemari membawa Nona Nadia untuk menemui Anda.”
Maya menoleh ke belakang, raut wajahnya seperti pucat dan matanya lebam.
Sepertinya ia habis menangis sejak tadi.
Dengan berpura-pura simpati Nadia segera memeluk Maya dan bertanya, “Anda kenapa Bu Maya?”
__ADS_1
Maya kembali menangis.
“Dimas, ia di penjara selama 2 minggu karena wanita murahan, Karina,” jawab Maya memberitahu Nadia.
“Saya juga sudah tahu bahwa Pak Dimas di sel dan saya dapat menjenguknya tadi serta membawakannya makanan.”
Mendengar hal itu membuat Maya bahagia. “Terima kasih ya Nadia, tidak hanya cantik kau juga berhati baik. Kau benar-benar cocok menjadi istri Dimas nantinya.”
“Saya tidak bisa menjenguknya karena Papa Dimas tidak mengizinkan saya untuk ke sana,” lanjut Maya.
Nadia menaikkan alisnya. ‘Tunggu saja Nyonya, putramu akan menyesali perbuatannya kepadamu!’
Mendengar ada orang yang datang, Poernama yang baru saja ingin beristirahat karena baru sampai dari pengadilan agama menuruni anak tangga.
Poernama terkejut melihat sekretaris putranya datang ke rumahnya. “Berani sekali Nadia kemari! Apa maunya lagi?”
Namun, Poernama terlihat tenang. Ia tidak akan mengusir wanita itu.
Lelaki yang memiliki kharisma itu pun mendekati wanita licik itu.
“Ada perlu apa kau kemari, Nadia?”
Di posisi ini, Nadia tidak tahu bahwa Poernama telah mengetahui perbuatan jahatnya bersama Dimas.
Nadia segera menundukkan kepala memberikan hormat kepada direktur utama di tempatnya bekerja.
“Maaf direktur utama, karena telah mengganggu Anda. Saya kemari ingin mengatakan sesuatu hal penting.”
“Berkaitan dengan Dimas?” sahut Poernama sebelum Nadia menyelesaikan pembicaraannya.
Sontak hal ini membuat manik mata Nadia membesar, ia bergumam dalam hati.
‘Apa Pak Poernama tahu mengenai hubunganku dengan putranya? Aah tidak mungkin, ia mengatakan hal itu pasti karena aku merupakan sekretaris Dimas.’
Nadia hanya tersenyum.
Poernama mengarahkan Nadia untuk duduk.
“Silahkan duduk dulu, kau bilang ingin mengatakan hal penting kan. Tidak sopan jika masih berdiri.”
Poernama tidak henti menatap tajam ke arah Nadia. Seperti ia sudah mengetahui tujuan wanita itu kemari.
“Begini Pak, saya telah mengandung anak dari putra Anda.”
__ADS_1
Bersambung.