Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Penyesalan


__ADS_3

Deg! Deg!


‘Suara apa itu, jantungku mengapa berdebar kencang? Astaga jarak kita sungguh dekat.” Karina bermonolog.


Tubuhnya kaku seketika dan tidak bisa digerakkan. Bola mata Farrel yang berwarna coklat sungguh indah, hal itu membuat Karina tidak bisa memalingkan pandangannya.


Sontak membuat mereka berdua saling beradu tatap.


“Kau tidak apa-apa, Karin?” tanya Farrel kembali.


Wajah Karina tiba-tiba pucat seperti kekurang darah. Dengan repleks ia mendorong tubuh Farrel begitu kuat.


Farrel terkejut dan membuat lelaki itu terpeleset, namun ia masih mendekap Karina dengan kuat.


Byyuurr!


Mereka berdua terjatuh ke kolam.


Haaah!


Karina berusaha muncul kepermukaan dan ia segera mengatur pernapasan. Mulutnya terbuka beberapa kali karena ingin menghirup udara.


Farrel mendekat dan menyentuh wajah Karina dengan lembut, “Kau tidak apa-apa kan, Karin?” tanya Farrel sangat cemas dengan kondisi wanita yang begitu dicintainya.


Lagi-lagi Karina merasa ada yang aneh dari netra mata Farrel.


Gleek!


Karina menelan salivanya, dengan cepat ia menepis tangan Farrel yang masih menyentuh wajah cantiknya itu.


“Iya, aku tidak apa-apa, Farrel,” ungkapnya sembari berenang ke tepian.


Namun, Farrel tidak membiarkan Karina kabur begitu saja.


Ia memeluk Karina dari belakang, tubuh mungil wanita ini terselubung oleh otot padat Farrel Pramana.


Tentu saja hal ini membuat Karina Mustika sangat terkejut. Manik matanya membesar dan tangannya gemetaran, entah karena dinginnya air kolam atau sentuhan sensitif dari sahabat suaminya.


“Biarkan aku seperti ini sebentar saja ya, Karin. Lima menit saja,” pinta Farrel dengan suara lembut.

__ADS_1


Karina masih terdiam, tanpa bisa mengatakan apa pun.


“Maaf jika kau risih atau tidak suka dengan apa yang kulakukan saat ini. Tapi percayalah kepadaku Karin, aku menunggu hal ini terjadi sudah sangat lama. Aku tidak bisa menahannya lagi.”


Wanita ini menghela napas, ia memejamkan mata sebentar. Kemudian dengan begitu pelan ia melepas tangan Farrel yang berada di bagian bawah lehernya.


Karina menggerakkan tubuhnya menghadap lelaki yang merupakan sahabat dari suaminya ini.


Ia melihat sorot mata Farrel jauh, “Maafkan aku, Farrel. Aku tidak bisa melakukan hal itu.”


Karina segera meninggalkan Farrel, ia menjauh.


Namun, lelaki ini tidak henti untuk memperjuangkan cinta yang sejak dulu ia pendam untuk Karina.


Ia menarik tangan wanita itu, “Tolong, Karin. Berikan aku sedikit ruang untuk mengisi hatimu. Aku sangat ...”


“Sudah kukatakan kepadamu, Farrel. Aku tidak bisa melakukan hal ini. Aku harap kau mengerti dengan kondisiku saat ini,” jelas Karina.


Tiba-tiba ia meneteskan air mata, dan ia segera mengusapnya sembari melangkah kaki cepat untuk menuju ke kamar.


“Kenapa, kenapa aku menangis? Apakah ada yang salah jika aku menolak Farrel?” gumamnya setelah meninggalkan lelaki itu.


Hah!


Kedua sudut bibir Farrel terangkat, ia memegangi dahinya yang tidak sakit. Baru pertama kali lelaki seperti Farrel merasa malu ketika dekat dengan wanita.


Tanpa henti ia senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang dilakukannya tadi terhadap Karina, “Benar apa yang dikatakannya tadi, aku harus mengerti dengan kondisinya saat ini. Sembilan tahun masih mencintai orang yang sama, apakah aku terlalu cepat untuk mendekatinya?”


Di sisi lain, Dimas Wijaya begitu kesal dengan apa yang dilakukan Farrel terhadapnya tadi.


Kepalanya sangat pusing sampainya di rumah dan ia berceletuk, “Tidak akan kubiarkan kau mendapatkan Karina, Farrel!”


Setelah berucap seperti itu, ia masih diam di depan pintu, Bagus menghampiri majikannya dengan menundukkan kepala dan sedikit membungkuk.


“Tuan Dimas, apakah ada yang bisa saya bantu?”


Dimas terdiam, tatapannya begitu kosong dan tidak ingin mengatakan sepatah kata pun.


Bayangan Karina terngiang dalam lamunannya. Dimas mengingat sang istri yang selalu menyambutnya dengan penuh bahagia ketika pulang kerja.

__ADS_1


Istrinya itu selalu membuka pintu sembari melemparkan senyuman ceria dan selalu berucap, “Selamat datang, Mas Dimas Sayang. Aku sudah masak makanan favoritmu.”


Karina selalu menanyakan tentang, “Bagaimana harimu, Mas? Apakah ada hal yang ingin kau ceritakan?”


Kemudian Dimas kembali melihat tas yang ia bawa. Biasanya tas itu akan diambil dengan cepat dengan Karina sembari berkata, “Tasnya biar aku saja yang bawa, Mas. Kau mandi dulu sana, aku tunggu di ruang makan ya, Sayang.”


Hah!


Ia menghela napas begitu dalam, dadanya tiba-tiba sesak.


Senyuman hangat dan keceriaan Karina tidak pernah ia bisa lupakan.


“Tuan Dimas, perlu saya membawakan tas Anda,” tawar Bagus kepada tuannya.


Dimas hanya menatap Bagus dan menggeleng lemas. Tanpa berkata, ia masuk ke dalam.


Ia begitu terkejut, tiba-tiba ada kedua orang tuanya yang sudah menunggunya sejak tadi.


Bola mata Dimas membesar, ‘Kenapa Papa ada di sini?’ tanya dalam hati.


Ia merasa ada yang salah saat ini.


Poernama mengangkat dagunya sambil duduk menyilangkan kaki. Tampaknya lelaki yang belum genap berusia 60 tahun itu tahu apa yang dilakukan putra semata wayangnya.


Dimas melirik ke arah Maya, ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya membawa sang ayah jauh-jauh kemari.


Namun, Maya hanya menunduk ia enggan mengatakan apa pun.


Berlagak bingung dan segera hormat kepada Poernama Soebono, Dimas menunduk.


“Pa ... Ma ada perlu apa kalian kemari?” tanya Dimas begitu sopan kepada lelaki yang sangat ia takuti itu.


Tatapan Poernama sangat tajam.


Glek!


‘Apakah Papa sudah tau apa yang terjadi?’ Dimas membatin sembari menelan salivanya sejak tadi.


“Dimas! Kau lelaki atau banci, hah?” teriak Poernama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2