
Keesokan harinya, Farrel membantu Karina ke pengadilan agama untuk mengurus segala proses gugatan cerai.
Wanita ini menceritakan segala masalah rumah tangganya kepada hakim.
Sebenarnya Karina sudah menyimpan bukti foto mengenai wajahnya yang memar akibat tamparan dan pukulan dari Dimas.
Hal ini untuk memperkuat bukti agar ia bisa terlepas dari kekejaman lelaki bajingan itu.
Setelah keluar dari ruang hakim. Karina menghela napas panjang.
Hah!
‘Aku yakin, apa yang kulakukan saat ini adalah yang terbaik,’ Karina bermonolog.
Ia melihat ke atas langit yang cerah sambil tersenyum paksa. Namun sayang, sekuat apa pun dirinya, Karina hanya seorang wanita yang memiliki hati lemah.
Pastinya Karina begitu sedih akan kehancuran bahtera rumah tangga yang sudah dibina selama 3 tahun.
Apalagi Dimas merupakan lelaki pertama yang mampu meluluhkan hati dingin Karina.
Tanpa sadar, linangan air mata wanita cantik ini menetes. Ia mengusap-usap matanya.
Farrel yang berada disamping Karina merasa begitu iba dan sedih.
‘Aku tahu, masalah ini sangat berat bagimu, Karin. Bagaimanapun kau harus bahagia ya.’ Farrel membatin.
Farrel memberikan sentuhan lembut pada punggung, Karina. Ia menepuk-nepuk dengan pelan sembari berkata, “Sabar ya, Karin. Kau pasti bisa melewati semuanya. Jangan khawatir, ada aku yang akan selalu berada disampingmu.”
Ucapan itu berasal dari hati Farrel yang tulus.
Karina hanya bisa melempar senyuman dan mengangguk, “Terima kasih ya, Farrel.”
Melihat kondisi Karina yang sedang tidak baik-baik saja. Farrel paham, ia harus segera mengantar pulang Karina ke rumah.
Sampainya di depan rumah, Karina menoleh Farrel, “Sekali lagi aku ucapkan terima kasih padamu, Farrel.”
Lelaki ini tersenyum seraya mengangguk pelan, “Jangan sungkan bila kau membutuhkan bantuanku lagi ya, Karin. Selamat beristirahat.”
Setelah itu Karina melangkahkan ke dalam rumah, namun tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang berpakaian glamor menatap sinis ke arah dirinya.
“Ma, sejak kapan ...”
Plak!
Belum saja menyelesaikan pembicaraannya, Karina sudah mendapatkan tamparan kuat dari wanita yang merupakan Ibu Dimas.
“Dasar, wanita murahan!” bentak Maya kepada mantu satu-satunya itu.
__ADS_1
Begitu terkejut, Karina memegangi pipinya yang dirasa sangat sakit.
Setelah Maya berteriak, Dimas muncul dari balik pintu. Ia pun menatap sinis istrinya itu.
Dimas telah menceritakan apa yang terjadi kemarin malam. Tentu saja ia membeberkan keburukan sang istri kepada Maya.
Maya yang sejak dulu sudah sangat membenci Karina begitu murka mendengar berita, bahwa mantunya berani menyelingkuhi putra kesayangannya ini.
“Berani sekali kau, Karin melakukan hal itu! Wanita yang memiliki pendidikan rendah sepertimu tidak pantas bersanding dengan putraku!”
Karina seperti paham yang terjadi, pastinya Dimas menceritakan hal tidak-tidak mengenainya.
Wanita malang ini mencoba menjelaskan apa yang terjadi, “Ma, dengarkan Karin dulu. Semua yang dikatakan Mas Dimas hanya dari sudut pandangnya saja tapi ...”
“Tidak! Aku tidak butuh penjelasan dari wanita rendahan sepertimu!” elak Maya sambil melotot mengerikan.
Karina seperti tidak bisa berkata-kata apalagi. Ia dipojoki dan direndahkan dengan Maya serta Dimas.
Maya telah menyiapkan pakaian Karina, ia membuang kasar satu-persatu dan kembali memaki mantunya itu, “Tidak tahu diri kau ya, Karin. Kau telah mencoreng martabat keluarga Soebono! Seharusnya sejak dulu sekalian saja kau menjadi pelacur!”
Perkataan Maya benar-benar membuat hati Karina teriris sangat sakit.
Maya memang wanita yang tidak sengan-sengan mengatai-ngatai mantunya ini. Ia sama sekali tidak memiliki welas asih kepada Karina.
Menurut Maya, Karina hanya benalu yang tinggal dikeluarganya.
‘Mas, jadi ini yang kau mau?’ Karina membatin.
“Keluar! Cepat keluar dari sini! Jangan pernah kembali lagi!” suruh Maya menunjuk tangannya ke arah pintu keluar.
Namun, di saat yang bersamaan Dimas mengucapkan sesuatu kepada sang ibu, “Ma ... tapi Dimas masih ingin Karina ada ...”
“Sudah! Karina adalah seorang pelacur yang kau nikahi, apakah kau tidak malu, hah? Kau adalah pewaris dari Grub raksasa milik Papa, Dimas. Sudah biarkan saja agar wanita ini bisa merayu semua lelaki kaya raya diluaran sana,” sindir Maya sembari menatap sinis ke arah Karina.
Tidak banyak bicara lagi, Karina memunguti semua pakaian yang terjatuh di lantai.
Satu-persatu ia masukkan ke dalam tas.
“Sekarang juga pergi dari sini!” teriak Maya.
Karina harus lapang dada mengadapi kejadian yang membuatnya perih dan begitu sakit.
Ia menatap dengan pandangan nanar ke arah lelaki yang dulu pernah ia cintai serta wanita arogan itu.
Karina segera melangkahkan kakinya menuju ke luar.
Namun, beberapa saat Maya berkata, “Eeh tunggu dulu.” Ia mendekati Karina sembari mengambil tas jinjing milik mantunya.
__ADS_1
Ia merampas semua isi tas itu. “Semua ini adalah harta dari keluarga kami, aku tidak akan membiarkan wanita murahan sepertimu membawa atm, handphone, atau uang sepersenpun dari kami!”
Tidak ada barang berharga yang ia bawa. Di dalam tas hanya ada tiga pasang pakaian.
Hatinya benar-benar sakit dan sesak!
Tidak akan ada lagi seseorang yang mampu membuat hati Karina luluh.
Cukup! Cukup Dimas lah yang terakhir.
‘Ya Tuhan, cobaan apa yang kau berikan kali ini. Rasanya sungguh menyakitkan,’ Karina mengusap matanya seraya segera meninggalkan kediaman Dimas Wijaya.
Ia bingung, entah ia harus pergi kemana saat ini? Tidak ada kerabat siapapun yang bisa Karina datangi.
Karina berusaha mencari pekerjaan apa pun. Mengingat ia tidak membawa uang sedikitpun.
Wanita malang ini menyusuri jalan, dari pasar hingga pertokoan.
Ia bertanya dari mulut ke mulut, apakah ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan.
Haripun mulai gelap. Ia belum juga mendapatkan pekerjaan ataupun tempat tinggal.
Namun, hal ini tidak membuatnya menyerah. Ia kembali melangkah meski kakinya sudah terasa begitu sakit, perutnya lapar, dan tenggorokannya kering.
“Tidak apa-apa, Karina. Kau bisa, kau akan segera mendapatkan pekerjaan,” gumamnya untuk memperkuat diri.
Pada saat ia berjalan, ada seorang wanita sebayanya sedang bersiap-siap menutup kedai soto sapi.
Karina memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita itu, “Permisi, Mbak. Maaf mengganggu, saya mau tanya apakah kedai ini sedang membutuhkan tenaga tambahan?”
Wanita itu menoleh ke arah Karina dengan terkejut.
“Astaga, Mbak. Ku kira siapa.” Ia mengelus-elus dadanya.
Ia melihat kondisi Karina yang sembrautan. Wanita itu tersenyum ramah, “Kebetulan sekali, anak buah saya lagi pulang kampung. Mbak bisa membantu saya di kedai. Hmm, tapi masalah gaji ...”
Karina menggelengkan kepalanya, “Tidak, Mbak. Saya tidak akan menuntun soal gaji, berapapun saya dibayar saya akan tetap bekerja.”
“Besok, Mbak sudah bisa bekerja ya ...” suruh wanita itu.
Keesokan harinya, karena tidak memiliki tempat tinggal. Karina memutuskan untuk tertidur di depan kedai.
“Mbak, bangun, Mbak!”
‘Apakah aku sedang bermimpi?’
Bersambung.
__ADS_1