Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Wanita Paling Spesial


__ADS_3

Karina tidak tahu ke mana Farrel akan membawanya, sampai akhirnya mobil mewah pemuda tersebut berbelok memasuki sebuah gerbang besar.


"Kita di mana?" tanya Karina.


"Rumahku!" jawab Farrel.


“Mengapa kau mengajak ke rumahmu, Farrel?” tanya Karina heran.


Lelaki itu tersenyum sembari memarkirkan mobil sportnya di halaman mansion yang begitu luas.


“Bertemu calon mertuamu, Karin!”


Karina melotot sembari mencebik. "Jangan mengada-ada, Rel!"


Karina berpikir kali ini candaan Farrel sudah kelewatan. Dia baru saja bercerai, dan sama tidak berpikir akan menikah lagi, apalagi dalam waktu dekat.


Begitu turun dari mobil, mereka disambut oleh pelayan keluarga Pramana.


“Selamat datang kembali, Tuan Muda,” sambut pelayan wanita setengah baya yang paling dekat dengan Farrel.


Farrel menganggukkan kepala, lalu bertanya kepada wanita tersebut, “Bi Asih, apa Mama sama Papa ada di rumah?”


“Nyonya ada di ruang keluarga, Tuan. Sedangkan Tuan Aji ada urusan di luar kota,” jawab wanita yang sudah Farrel anggap bibi sendiri tersebut.


“Baiklah, aku akan menemui Mama sekarang. Ayo, Karin!” ajaknya seraya menarik tangan wanita cantik itu ke dalam mansion.


Melihat hal tersebut, bi Asih mengerutkan dahinya. Ekspresinya ini ditanggapi Farrel dengan tersenyum tipis. “Kenapa, Bi? Apa ada yang salah?"


Asih segera menggelengkan kepala. “Tidak, Tuan."


Jelas saja wanita paruh baya ini keheranan. Kelakuan Farrel yang suka berganti-ganti pasangan merupakan rahasia umum bagi semua orang yang bekerja pada keluarganya. Namun, selama itu tidak sekali pun Farrel membawa wanitanya ke rumah.


Jadi jelas jika wanita yang satu ini adalah yang paling spesial.


Tanpa berbasa-basi lagi, Farrel segera masuk untuk menemui wanita yang paling ia cintai di dunia ini.


Farrel melepas genggamannya di tangan Karina. Meski sudah berusia 27 tahun, tapi dia masih sangat suka menjahili ibunya.

__ADS_1


Pemuda ini mengendap dengan berlahan-lahan, memastikan agar suara langkahnya tidak terdengar oleh Nyonya Alana yang sedang fokus membaca buku. Lalu dia menutup mata wanita setengah baya itu dari belakang.


Sontak hal ini membuat Nyoya Alana terkejut. “Siapa ini?”


“Ayo tebak siapa?”


Mendengar suara yang sangat dikenalinya, Alana segera tahu siapa yang tengah menjahilinya.


“Farrel!”


Lelaki itu segera melepas tangannya dan memeluk hangat ibunda tercinta.


“Sayang, kenapa kamu tidak pulang-pulang?" Nyonya Alana memasang raut wajah sedih.


"Bukannya sekarang ini aku ada di rumah?" Farrel terkekeh menggoda ibunya.


"Iya, baru sekarang!" sungut Nyonya Alana.


"Hehe!"


Farrel tertawa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Siapa wanita ini? Pacarmu ya?" tanya Nyonya Alana.


Sontak saja pertanyaan itu membuat Karina terkejut, dan melambaikan tangannya di depan dada. "Bu-bukan, Tante. Aku dan Farrel hanya berteman."


Farrel menyeringai seraya berbisik di telinga ibunya, "Calon menantu Mamah!"


Jawaban yang berbeda dari keduanya membuat Nyonya Alana mengernyit heran. Dia lantas menatap putranya lekat-lekat, tampan, gagah, dan sepertinya tidak memiliki kekurangan apa pun. Tapi mengapa wanita yang satu ini tidak mau diakui sebagai kekasih Farrel?


"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Nyonya Alana.


Karina salim pada wanita paruh baya yang terlihat sangat awet muda itu. "Namaku Karina, Tante.”


"Karina?"


Ada ekspresi terkejut yang tergambar jelas di wajah wanita berlesung pipi ini saat mendengar nama itu.

__ADS_1


Tatapannya lantas beralih pada Farrel. "Rel, jadi dia ini?


Farrel tidak menjawab pertanyaan itu, dan malah menggaruk tengkuknya.


"Kenapa, Tante?" tanya Karina keheranan.


"Tidak ada, Nak. Silakan duduk!" suruh Nyonya Alana.


Karina mengangguk.


"Mah, temanin Karin ngobrol ya. Aku mau mandi dulu." Farrel lantas meninggalkan keduanya.


Kini di sofa mewah yang super empuk itu tinggal Karina bersama ibunya Farrel. Wanita setengah baya ini meminta pelayan membuatkan minum, sebelum duduk di samping Karina.


Wanita ini tersenyum manis sambil menatap Karina. "Akhirnya tante bisa ketemu juga sama gadis yang selalu diceritain Farrel!"


"Maksudnya, Tante?" Dahi Karina berkerut karena bingung.


"Dulu, waktu masih sekolah, Farrel itu sering carita sama tante. Dia bilang lagi suka sama adik kelasnya yang bernama Karina, tapi katanya gadis itu malah gak mau dekat-dekat sama dia."


'Siapa juga yang mau dekat-dekat sama playboy,' Karina membatin.


“Farrel sering curhat galau, tapi tante cuek aja, karena tante tahu pacarnya Farrel itu banyak. Paling-paling sama yang namanya Karina itu juga cuma main-main, tante pikir gitu. Tapi nih, Karin ... sampai Farrel kuliah di luar negri, dia masih tetap ngomongin kamu kalau lagi nelpon."


"Dan asal kamu tahu, sebelum ini Farrel tidak pernah membawa teman wanitanya ke rumah!"


Karina terdiam, apakah itu sebabnya pelayan di luar tadi tampak keheranan?


Banyak kata yang Karina dengar dari mulut Farrel saat di mobil tadi, tapi tidak sedikit pun yang ia percaya.


Namun, Karina merasa ada yang lain saat tahu Farrel sering bercerita tentang dirinya pada Nyonya Alana. Ditambah dia juga adalah wanita pertama yang Farrel bawa ke rumah.


Se-spesial itukah dirinya bagi Farrel?


Karina tersenyum hambar, dia tidak ingin berharap banyak meski semua itu memang benar. Karina cukup sadar diri, dia hanyalah seorang wanita yang dibuang suami. dia merasa tidak pantas untuk Farrel.


“Hei Karina, kenapa kamu melamun, Nak? Nyonya Alana melambaikan tangan tepat di depan wajah Karina.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2