Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Hamil?


__ADS_3

Nadia pikir Poernama bisa dibodohi juga sama seperti Dimas, ternyata tidak!


Ia bahkan tidak mengetahui yang dilakukan Poernama, pertama lelaki ini membuat dirinya bahagia lalu kemudian menjatuhinya.


Otomatis Nadia berteriak seperti orang gila, ketika Pak Cipto dan anak buah kepercayaan Poernama berusaha menariknya.


“Tidak! Kalian tidak boleh menyentuhku!”


“Sudah saya katakan, anak yang saya kandung ini adalah perbuatan dari putramu!”


Poernama tetap tenang dan santai, ia bahkan hanya mengangguk pelan sembari berucap, “Iya, saya paham semua maksudmu itu Nadia. Pak Cipto akan membawamu ke kantor polisi, di sana kau akan mendapatkan hukuman.”


Lelaki ini memberikan Nadia senyum palsu, kini wanita muda licik itu tidak akan bisa berbuat apa-apa.


“Nak, kau masih muda lho, apalagi kau memiliki penampilan menarik dan otakmu pintar. Kenapa kau harus mencari perkara seperti ini? Saya tidak akan menghukummu, tapi negara ini memiliki hukum. Seperti yang kau katakan tadi kepada saya, semuanya harus ada pertanggung jawaban dan kau harus menerima semua ini, Nadia!”


“Tidak! Pak Poernama, mohon lepaskan saya. Saya janji tidak akan mengganggu kehidupan Anda maupun putra Anda.”


Tidak bisa ditoleransi lagi!


Poernama menggerakkan tangannya, menyuruh Pak Cipto dan anak buah lain membawa Nadia segera ke kantor polisi.


“Kau akan menerima balasan dariku, Pak Poernama Soebono. Tunggu saja!” teriak Nadia.


Hah!


“Ada-ada saja tindakan anak zaman sekarang!” gerutu Poernama seraya memijat kepalanya yang hampir pecah.


Ketika lelaki itu ingin menuju ke kamar, Maya memanggilnya sambil memegangi lengan sang suami. “Sayang.”


Poernama menoleh sang istri dengan tatapan hambar.


“Ada apalagi, Maya?” tanya Poernama lembut.

__ADS_1


Maya tidak bisa mengatakan apa pun, ia menangis tak tahu entah kenapa.


“Maya, dari dulu aku tidak pernah mengatakan hal kasar kepadamu apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan. Tapi kenapa kau mendukung Dimas melakukan hal itu kepada Karina? Kini aku mohon kepadamu, aku ingin kau kembali menjadi Maya yang pernah aku kenal dulu, memiliki kelembutan dan kehangatan.”


Maya mengusap-usap air matanya.


“Aku menikah denganmu bukan karena aku mencintaimu. Ada hal yang membuat hatiku tertuju waktu itu kepadamu. Pada saat Papa mengalami kebangkrutan besar dan kau menjadi pelayan kesayangan Mama, semua pelayan pada kabur dan tidak lagi ingin bekerja dengan tuan yang tidak bisa menggaji mereka. Tapi kau berbeda, kau masih saja ada di keluarga kami. Namun, aku tidak habis pikir ketika kini ada harta yang mengelilingimu, kau menjadi gelap mata. Bahkan kau tega sampai mengusir Karina seperti binatang!” lanjut Poernama.


Tangisan Maya pecah kembali, ia seperti menyesali apa yang diperbuatnya kepada Karina.


“Dimas sudah besar, Sayang. Seharusnya kau mengajari tindakan yang benar bukan malah mendukungnya melakukan tindakan salah seperti itu. Tapi tidak masalah, mungkin di sini aku lah yang salah menjadi seorang Papa yang belum becus merawat putra satu-satunya,” tutur Poernama yang begitu menyentuh.


Maya menggelengkan kepala, lalu ia memeluk hangat tubuh sang suami.


“Tidak Sayang, aku lah yang salah! Aku lupa, jika dulu aku hanyalah seorang pelayan yang dinikahi dengan majikannya. Karena harta aku menjadi iblis tak berperasaan!”


Poernama menyentuh rambut Maya dengan lembut dan ia memohon agar istrinya itu meminta maaf kepada Karina.


Di sisi lain, Karina begitu bahagia ia tertawa lepas karena tingkah laku Farrel.


“Lihat Ma, seperti ini yang dilakukan seorang anak kecil!” ucap Farrel yang bergaya layaknya badut di depan Alana dan Karina.


“Sudah ... sudah Sayang, kau jangan membuat Mama dan Karin tertawa lagi. Sakit perut ini Mama,” pinta Alana kepada putra yang selalu memberi warna dihidupnya.


Beberapa jam kemudian, Karina dan Farrel meminta izin untuk pamit dan mereka akan menuju ke resort kembali.


“Maa, sudah sore aku balik ke resort yaa ...” kata Farrel sembari menciup tangan Alana.


Begitu pula Karina, “Terima kasih Tante atas semuanya, Karin pamit dulu ya ...”


Alana mengangguk, tidak lupa ia berpesan.


“Farrel, nanti main-main lah ke rumah yaa Nak ajak Karin lagi.”

__ADS_1


Farrel menganggukkan kepala seraya menaikkan tangannya, “Baik Ma, sebentar lagi dia juga akan jadi mantu Mama.”


Plak!


Karina memukul pelan bahu lelaki tampan yang sangat senang bergurau itu.


“Sampai kapan kau bercanda seperti ini, Rel!”


“Sampai kau bisa menerimaku dan aku bisa menjadi suamimu.” Farrel memberikan senyum hangat kepada Karina.


Namun, berbeda dengan wanita cantik ini. Ia hanya melihatkan ekspresi datar, lalu ia segera menuju ke dalam mobil.


Farrel tetap tersenyum, sembari menaikkan kedua alisnya dan menghempuskan napas panjang.


“Jika eskpresinya tidak datar, yaa bukan Karina Mustika namanya,” gumam Farrel seperti ia sudah sangat akrab dengan sikap dingin wanita cantik itu.


Dalam perjalanan, seperti biasa Farrel selalu berbincang apa pun. Suasana tidak pernah sepi, ia bisa saja membuat Karina tersenyum.


Namun, tiba-tiba Karina merasa mual. Kepalanya sangat pusing, “Farrel, tolong hentikan mobilnya sebentar!”


Kemudian Karina segera keluar dan mengeluarkan isi perutnya.


Uweek!


Farrel begitu cemas, ia memberikan sentuhan lembut di bagian punggung wanita yang sangat ia cintai ini.


“Apakah kau tidak apa-apa, Karin?”


Manik mata Karina membesar, ia seperti memikirkan sesuatu.


‘Aku sudah telat hampir seminggu, apakah aku sedang ....?’


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2