
"Tuhan, aku sudah tidak sanggup," lirih Karina dengan mata yang telah berkaca-kaca.
Perbuatan Dimas kali ini sudah melebihi batas. Karina masih sabar ketika mengetahui Dimas memiliki hubungan terlarang dengan sekretarisnya, tapi ketika Dimas berani membawa selingkuhannya ke rumah, Karina sudah tidak tahan lagi.
Hatinya sungguh sesak dan sakit menerima kenyataan ini.
“Cinta tulusku ini tidak ada artinya lagi untuk dia sekarang!”
Huuh!
Karina menghela napas untuk menguatkan diri, meski kemungkinan nanti ia tetap akan jatuh pingsan jika kembali melihat hal menjijikkan yang seharusnya tidak patut dilakukan Dimas. Apalagi kali ini Dimas melakukannya di tempat tidur mereka.
Manik mata wanita cantik ini terlihat penuh dengan kesedihan. Air matanya berlinangan ketika membayangkan Dimas tengah mengayuh kenikmatan di dalam sana.
Apa yang dipikirkan kedua orang itu? Mengapa mereka harus melakukannya di sini? Masih banyak tempat lain, mengapa harus ranjang tidur Karina?
Cklek!
Karina membuka pintu, entah Dimas lupa mengunci atau memang sengaja dibiarkan begitu saja, Karina tidak tahu.
Di atas ranjang, Dimas dan Nadia tampak sedang bergumul dengan panas. Tubuh pasangan selingkuh itu penuh dengan keringat, meski kamar ini memiliki pendingin udara.
“Apa yang kalian berdua lakukan?” teriak Karina.
Suaranya pecah, menggema memenuhi kamar besar tersebut.
Kekecewaan di hati Karina sudah tidak terbendung lagi, dia berlari mendekati Dimas dan memukulinya sekuat tenaga.
“Keterlaluan kamu, Mas! Kenapa kau berzina di kamarku!”
Melihat Karina seperti orang kesetanan, Nadia dengan cepat menjauh dan mengenakan pakaiannya kembali.
“Mau kemana kau, dasar wanita tidak tahu diri!” Karina menoleh ke arah Nadia dengan tatapan membunuh.
Kemarahannya sudah di luar kendali.
Dunia Karina benar-benar hancur, dia tidak tahan lagi dengan perlakukan sang suami dan sekretaris barunya itu.
“Tega sekali kalian berdua melakukan hal ini padaku!”
Karina menunjuk Dimas dan Nadia dengan tangan gemetar.
Dia mengusap wajah sendiri dengan kasar, lalu meraung, “Kalian tidak memiliki perasaan sama sekali!”
Dimas turun dari ranjang.
__ADS_1
“Nadia, keluar sekarang! Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan istriku!” suruh Dimas sembari menunjuk ke arah pintu.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum licik. Semakin kacau rumah tangga Dimas, semakin senang pula hatinya.
‘Sebentar lagi kalian pasti akan berpisah, dan akulah yang akan menjadi Nyonya Muda di Keluarga Soebono,' Nadia bermonolog dengan begitu percaya diri.
Karina yang sudah terbawa emosi, tidak membiarkan Nadia lolos begitu saja. Tidak untuk kali ini, Karina merasa perlu memberi pelajaran pada wanita perebut suami orang tersebut.
Wanita itu telah berani mengotori ranjangnya, bukankah itu sama saja dengan menginjak-injak harga dirinya?
“Aaaaww!” rintih Nadia kesakitan ketika tangan Karina menjambak rambutnya.
Dimas yang melihat kejadian itu segera melepaskan tarikan Karina, “Lepaskan, Karin! Dia tidak tahu apa-apa!”
Sreek!
Karina melepas tarikan di rambut Nadia, hingga membuat wanita rendahan itu hampir tersungkur di lantai.
“Tidak tahu apa-apa? DIA TIDAK TAHU APA-APA KATAMU?” Mata Karina melotot besar.
Dia benar-benar kecewa pada suaminya.
Pada saat yang sama, Nadia segera berlari keluar, sebelum Karina kembali melakukan hal gila, yang mungkin bisa membuat tubuh mulusnya terluka.
‘Dasar wanita gila! Pantas saja Pak Dimas bosan padanya!’ Sembari melangkah, Nadia melirik Karina dengan sorot mata sinis.
Tiba-tiba saja Dimas mencengkeram lengan Karina kasar.
“Lepaskan aku, Mas. Sakit!” rintih Karina.
Alih-alih sadar akan kesalahan, Dimas malah mengalihkan pembicaraan, “Ke mana kau tadi, hah? Apa kau baru saja menemui Farrel untuk bersenang-senang?"
“Tidak!” bantah Karina tegas.
“Jangan bohong, Karina! Kau pasti habis bermain gila juga dengannya 'kan!” seru Dimas memojokkan istrinya.
Karina mencoba berontak, berharap cengkeraman Dimas pada lengannya bisa terlepas.
Namun, cengkeraman Dimas begitu kuat, dan tenga Karina tidak ada apa-apanya dibanding suaminya itu.
Mersa usahanya sia-sia, Karina hanya bisa berkata dengan suara merintih, “Mas, apa kamu hal paling menyakitkan saat hati ini tulus mencintai? Jawabannya adalah pengkhianatan!”
Karina melihat Dimas bukan lagi seperti suami yang dulu sangat ia cintai, melainkan sosok asing yang tidak ia kenal.
“Jangan berakting seolah dirimu adalah korban, Karin! Aku tahu kau juga sudah melakukan hal gila dengan Farrel, jangan pikir aku ini bodoh!”
__ADS_1
Karina menggeleng, hebat sekali manusia satu ini. Dia memvonis Karina berselingkuh demi menutupi kesalahannya sendiri.
“Mas, sebelum kita menikah. Aku pernah berjanji tidak akan ada yang namanya pengkhianatan, dan sampai detik ini aku masih memegang teguh janji itu. Kau juga mengucapkan janji yang sama, tapi yang terjadi kau malah membawa seorang wanita murahan ke tempat tidurku!"
Tidak peduli semua yang dikatakan Karina itu benar, Dimas tetap bersikeras dengan apa yang ia pikirkan.
Dimas mendorong tubuh lemah Karina sampai terhempas ke dinding, lalu jemarinya yang kasar mencengkeram rahang istrinya tersebut.
“Mulutmu ini pandai bersilat lidah, Karin ... tapi aku, Dimas Wijaya Soebono tidak akan semudah itu kau bodohi! Sadar, Karin. Kau ini hanya wanita berpendidikan rendah, jadi jangan berpikir bisa menipuku!"
"Satu lagi, kau ini juga wanita cacat yang tidak bisa memberi keturunan. Jadi jangan banyak tingkah!"
“Jika aku wanita yang cacat, mengapa kau tidak mau menceraikanku?"
Wanita ini mengangkat dagunya, kali ini dia sudah berada di titik lelah. Dia ingin bisa lepas dari semua penderitaan ini.
Bruuuggh!
Dimas meninju dinding tepat di samping Karina, sampai punggung tangannya berdarah.
Karina tetap diam, bahkan sebelumnya dia sudah pasrah jika yang menjadi hantaman tinju itu adalah wajahnya.
“Tidak, Karin! Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun!” Dimas melepaskan Karina, lalu mengacak-acak isi kamarnya seperti orang yang kehilangan akal sehat.
Karina yang jengah melihat semua itu, beranjak meninggalkan Dimas tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Ketika tiba di pintu, Karina Karina dibuat terkejut. Ternyata Nadia masih berdiri di sana, mengintip semua yang terjadi antara dirinya dan Dimas.
Mereka saling menatap dengan sinis. Karina menampilkan wajah kesalnya, “Sudah puas kau, Nadia? Apa kau senang telah berhasil menghancurkan rumah tanggaku?”
Nadia menjawab dengan tidak tahu diri, “Iya, tentu saja aku puas. Aku menyukai suamimu, Bu Karina ... dan sebentar lagi dia sepenuhnya akan menjadi milikku!"
Karina mengangkat tangan, ingin memberikan tamparan. Namun, berhasil ditahan oleh Nadia.
Wanita tidak tahu diri ini menghempaskan tangan Karina, sambil menatap sinis. “Jangan harap tangan rendahan itu bisa menyentuh wajahku, tidak akan!"
“Kau harus ingat ini, Nadia. Apa yang kau tanam, itulah nantinya yang akan kau petik. Tuhan tidak tidur!"
Setelah mengatakan ini, Karina pun meninggalkan wanita ular tersebut. Dia sudah terlalu lelah menghadapi semuanya.
Keesokan harinya, Karina masih enggan bicara dengan Dimas. Dia bahkan pura-pura tidak melihat ketika hendak keluar dengan membawa koper besar.
“Karin, mas mau berangkat ke Malaysia untuk mengurus proyek.”
Karina tersenyum kecut, dia tahu proyek tersebut baru akan dimulai sekitar seminggu lagi. “Kau tidak usah repot-repot berbohong, Mas. Bilang saja kau sengaja pergi cepat-cepat karena kau ingin bersenang-senang bersama Nadia, iya kan?”
__ADS_1
Dimas tidak peduli disindir seperti itu, dia juga tidak membantah, dan malah pergi begitu saja meninggalkan Karina.
Bersambung.