
Sebenarnya Karina sudah menatap Farrel sebagai lelaki yang memiliki kehangatan.
Hal ini ditunjukan semenjak beberapa hari dirinya bersama Farrel, Karina merakan hal aneh.
Namun, wanita cantik ini terus mencoba sekuat hati agar dirinya bisa menjaga rasa yang tidak ia mengerti, terhadap lelaki yang merupakan sahabat dari mantan suaminya.
Binar mata Karina berkaca-kaca ketika melontarkan ucapan seperti itu.
Hah!
Farrel merasa ada yang salah, ia mengkerutkan dahi sembari tangannya di gerakkan, “Ada apa ini, Karin kenapa kau tiba-tiba?”
Huuuh!
Dada Karina sesak, ia terpaksa mengatakan hal itu karena ia tidak ingin membebani Farrel. Terlebih dirinya kini sedang mengandung anak dari mantan suaminya itu.
Menurut Karina, masih pantaskan wanita seperti dirinya di cintai oleh seorang lelaki yang hampir sempurna layaknya Farrel Pramana?
Dengan tegas ia berkata kembali. “Tinggalkan aku Farrel, kau lelaki yang sangat baik. Kau pantas mendapatkan wanita yang setara denganmu.”
Heh!
Farrel menarik rambutnya menggunakan sela-sela jari, lalu ia meletakkan tangan di pinggang sembari menggelengkan kepalanya.
Setelahnya, ia menyempitkan mata dengan menatap tajam ke arah Karina.
“Apa yang kau bicarakan itu, Karin? Apa maksudmu dengan wanita yang setara denganku?”
Farrel melangkahkan kaki mendekati wanita yang sangat dicintainya itu.
Glek!
Ia menelan saliva dan memejamkan mata sejenak.
Sepertinya kali ini ia sulit untuk mengatakan sesuatu kepada Karina.
Manik mata Farrel berkaca-kaca menatap Karina Mustika.
“Coba jelaskan apa yang kau maksud tadi? Meskipun kau belum menerimaku, tapi aku akan selalu mencintaimu, Karina!” ucap Farrel.
“Tapi saat ini aku sedang mengandung anak Dimas, Rel? Aku tidak mau ...” jawab Karina dengan mimik wajah begitu sedih.
__ADS_1
Belum sempat menyelesaikan tuturnya, Farrel sudah memotong ucapan Karina.
“Cukup! Aku tidak ingin mendengar hal itu lagi. Apakah kau pikir ketika kau memiliki anak dari Dimas, aku akan meninggalkanmu? Apa kau juga pikir rasa cintaku ini akan pudar untukmu, Karina Mustika?”
“Semua tidak akan berubah, dari awal aku mencintaimu sampai detik ini dan kapanpun itu, rasa yang kumiliki kepadamu tetap sama! Aku akan selalu menjagamu dan anak dari Dimas!”
Mendengar perkataan dari Farrel membuat Karina meneteskan air mata.
Entah, ia tidak paham akan rasa yang di alaminya saat ini.
Apa yang harus ia lakukan?
Dengan spontan Farrel memeluk erat tubuh Karina. Dan memberikan ciuman di kepala wanita cantik itu.
“Aku mohon kepadamu, jangan pernah mengucapkan hal itu lagi. Aku akan selalu ada untukmu, Karin,” pinta lelaki tampan ini.
“Tapi Farrel ...” elak Karina.
“Aku tahu yang kau rasakan. Memang apa salahnya aku mencintai wanita sepertimu? Anak yang kau kandung itu adalah anugerah, dia adalah hadiah terindah yang diberikan kepada Tuhan atas pernikahanmu bersama Dimas. Jadi tugasku saat ini adalah menjaga kalian berdua.” Farrel membelai lembut rambut panjang Karina.
Di posisi ini bukannya Karina munafik atau naif, ia hanya tidak ingin Farrel menyesal mencintai wanita sepertinya.
Karina sadar, bahwa dirinya kini berstatus janda dengan mengandung anak dari Dimas, suami yang menyia-nyiakannya.
Meskipun banyak badai yang menghalangi cinta Farrel untuk Karina, tapi lelaki ini tetap tidak akan pernah menyerah.
“Asal kau tahu, Karin. Aku tidak pernah merasakan hal ini, hanya kau satu-satunya wanita yang ingin aku cintai di dunia!”
Farrel, lelaki yang hampir tidak pernah menangis kini meneteskan air mata.
Ia kembali memeluk lebih erat tubuh Karina.
“Kali ini biarkan aku yang menjagamu ya Karin, aku mohon!” pinta Farrel.
Farrel menangis begitu terisak, sampai ia susah untuk bernapas.
Mereka berdua saling memberi pelukan hangat satu sama lain. Setelah itu, Karina melepas pelukan Farrel.
“Kita pulang yuk, aku sungguh lelah,” ajak Karina.
Huum!
__ADS_1
Farrel mengangguk pelan, matanya sangat merah karena habis menangis.
‘Aku bisa gila, jika dia tidak ada di sisiku!’ gerutu Farrel dalam hati mengekori Karina.
Seperti biasa, Farrel selalu memberikan perhatian kepada Karina. Ia membukakan pintu mobil untuk wanita ini.
“Terima kasih Farrel.” Karina tersenyum kepada mantan kakak kelasnya ini.
2 minggu berlalu ....
Setiap pagi Farrel selalu on time berada di depan kamar Karina. Ia membawakan makanan bergizi untuk Karina dan bayi yang dikandung wanita cantik ini.
Tok! Tok!
“Iyaa, masuk saja Farrel pintunya tidak di kunci,” teriak Karina dari dalam.
“Good morning, Karin. Ayoo makanlah, aku membuatkanmu sup ikan salmon. Ini sangat bernutrisi untuk anak kita,” lontar lelaki ini sangat bahagia.
Karina melihat mata Farrel, dari tatapannya memang jelas tersirat ketulusan.
Dengan bangganya ia mengakui anak yang dikandung oleh Karina adalah anaknya juga.
Meskipun pernah ada rasa sedikit sakit dalam hati lelaki ini mengenai Karina tengah mengandung anak dari lelaki lain. Tapi hal itu tidak akan menyurutkan niatnya yang begitu mencintai Karina.
Ia bahkan memutuskan untuk membesarkan anak Dimas sebagai anaknya sendiri.
“Mau makan sendiri atau aku suapi?” tanya Farrel sembari tersenyum kepada Karina.
Sebelum-sebelumnya Karina tidak pernah mau disuapi oleh Farrel, entah berapa ratus kali lelaki ini menanyakan hal yang sama.
Karina terdiam, ia masih menatap mata indah Farrel Pramana.
“Kau kenapa, Karin? Apakah di wajahku ada benda aneh?” tanya Farrel kembali.
“Tidak.” Karina menggelengkan kepalanya pelan.
“Pagi ini aku sungguh lemas, bisa aku minta tolong kepadamu,” ucap Karina.
Sontak hal ini membuat Farrel sangat bahagia.
Karena Farrel sangat suka jika direpotkan dengan wanita yang sangat ia sayang, “Tentu saja Karin, apa pun yang kau pinta aku akan lakukan.”
__ADS_1
“Bisakah kau menyuapiku, Farrel?”
Bersambung.