
“Kakak benar-benar kecewa kepadamu, Nadia! Dengan apa yang kau perbuat!” lirih Sarah masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan adiknya.
Deruan air mata Nadia menetes tak henti-henti, “Kak Sarah jahat! Kakak lebih percaya dengan perkataan wanita murahan itu daripada aku!” bentak Nadia kepada kakaknya sendiri.
Sarah menggelengkan kepala, ia sungguh pusing dengan situasi seperti ini.
“Kakak sudah menyekolahkanmu tinggi-tinggi, agar kau bisa menjadi orang yang bermanfaat, tapi apa? Apakah kau sangat senang melihat penderitaan orang lain di atas kebahagiaanmu?”
Tatap Sarah kepada Nadia dengan binar menyedihkan.
“Karina adalah wanita yang membuat hidup kakak berarti dan ia selalu menguatkan kakak dalam situasi terpuruk!” lanjut Sarah memberitahu Nadia.
“Aku menyukai suaminya, kak!” teriak Nadia tidak tahu diri.
Manik mata Nadia membesar, ia begitu kesal karena sejak tadi Sarah selalu membicarakan kebaikan Karina.
Ia masih tidak terima bila sang kakak membela wanita yang sangat ia benci.
‘Brengsek kau, Karina! Apa yang kau perbuat sampai kak Sarah membelamu sedemikian rupa!’ Nadia bermonolog.
Mendengar teriakan tersebut, Sarah memijat dahinya, “Suka? Apakah kau benar menyukai Pak Dimas atau hanya sekadar ingin merebut hartanya saja?”
Nadia tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan Sarah kepadanya.
Sarah mengatakan hal itu karena ia tahu apa yang disukai oleh adiknya. Nadia memang sangat kagum dengan lelaki yang memiliki jabatan tinggi dan kekuasaan, menurutnya ketika mendapatkan lelaki seperti itu ia akan bahagia.
Namun, kali ini tindakan Nadia sudah diluar batas. Ia malah merebut suami dari sahabat kakaknya sendiri.
“Kakak akan membantu Karina, ini demi kebaikanmu dan juga dia,” ucap Sarah lalu meninggalkan Nadia di kamar sendirian.
Nadia mengamuk, ia melempar semua bantal dan merobek sprey kasurnya.
“Kak Sarah jahat! Kenapa kakak mau membantu wanita murahan itu. Dia yang salah kak, dia tidak becus menjadi istri. Dia wanita yang tidak bisa melayani suami dengan baik dan ia juga sakit mandul!” teriak Nadia.
Di sisi lain, Karina dan Farrel masih berada di dalam mobil untuk kembali ke resort.
“Karin, maafkan tadi aku mengatakan bahwa sekarang kau adalah milikku dihadapan Dimas. Semua itu tidak ada maksud apa- ...”
“Tidak masalah. Terima kasih sudah mau menolongku dari Dimas.” Karina memotong langsung pernyataan dari sahabat suaminya itu.
‘Keputusan ini sudah bulat, Mas Dimas. Aku tidak bisa bersamamu lagi. Cinta yang memisahkan kita berdua,” batin Karina berucap.
“Bagaimana, apakah Sarah mau membantu?” tanya Farrel yang penasaran dengan kejadian tadi.
Karina mengangguk dan tersenyum tipis, “Hu’um.”
__ADS_1
Wanita ini menceritakan apa yang terjadi pada saat mereka bertemu dalam jamuan makan malam di kediaman Sarah.
“Aku baru saja mendapatkan pesan dari Sarah, mengenai urusan perceraianku dengan Mas Dimas akan diproses secepat mungkin,” tutur Karina memberitahu Farrel.
Lelaki yang memiliki senyum manis ini menghela napas lega, “Syukurlah, Karin. Aku senang mendengarnya, aku harap kau selalu bahagia ya.”
Karina menoleh ke arah Farrel, ia melihat tatapan mantan kakak kelasnya itu berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Ia melihat dari netra mata Farrel ada ketulusan. Namun, Karina menepis itu semua.
Hah!
‘Farrel hanyalah lelaki yang menyukai banyak wanita tanpa perasaan,” celetuknya dalam hati sembari melihat fokus ke depan dan menyandarkan tubuhnya.
Karina iseng menanyakan hal ini kepada lelaki yang ada di sampingnya, “Farrel, kenapa kau belum menikah juga? Padahal lelaki sepertimu tidak sulit mencari wanita yang didambakan.”
Hehe!
Farrel tertawa tipis seraya menoleh ke arah Karina yang terlihat begitu kelelahan.
“Tumben sekali kau begitu penasaran dengan kehidupanku, Karin.”
Sejujurnya Farrel sangat bahagia ketika Karina melontrakan pertanyaan itu kepadanya. Ia merasa Karina secara perlahan telah melihatnya sebagai seorang lelaki.
Sambil fokus menyetir, lelaki ini menjawab, “Ada seseorang yang sedang aku tunggu, ia ada disampingku saat ini.”
Heh!
“Kau selalu berucap manis ya, Farrel. Pantas saja banyak wanita yang luluh kepadamu,” elak Karina yang sudah terbiasa mendapatkan gombalan dari lelaki ini.
“Apakah kebiasaanmu mengejar wanita-wanita cantik masih terlaksana?” lanjut Karina.
Farrel menggelengkan kepala, “Bukan! Bukan aku yang mengejar mereka, tapi mereka yang mengerjarku.”
Karina menyudutkan bibirnya, ia tidak percaya dengan perkataan lelaki casanova itu.
Di sampainya di resort, Farrel mengajak Karina untuk berenang.
“Apakah tidak salah kau mengajakku berenang malam-malam begini?” heran Karina.
“Tidak, maksudku temani aku berenang ya. Kau cukup duduk manis saja di sana,” pinta Farrel kepada Karina.
Sebenarnya wanita ini ingin menolak ajakan dari sahabat Dimas. Namun, ia merasa harus berhutang budi karena sedikitpun Farrel tidak pernah mengatakan “tidak” bila Karina meminta bantuan.
Karina mengangguk pelan, “Baiklah, Farrel.”
__ADS_1
Wanita cantik ini membuntuti Farrel yang mengajaknya ke kolam renang.
Tidak ada siapa-siapa!
“Ini kolam untuk umum atau?”
“Kolam pribadiku,” jawab Farrel dengan melemparkan senyuman manis.
Karina duduk dan ia melihat Farrel di depannya sedang membuka kemeja. Wanita ini segera memalingkan pandangannya.
Celetuknya dalam hati, ‘Apa ia sengaja mengajakku kemari untuk memperlihatkan otot liatnya itu?’
Karina meletakkan tangannya di dahi, ia tidak ingin melihat Farrel dengan hanya mengenakan celana pendek.
Byyur!
Farrel sesekali melirik Karina yang tampak begitu canggung dan malu. Lelaki ini tanpa henti senyum-senyum sendiri.
“Wajah Karin sangat menggemaskan,” gumamnya di dalam air.
Melihat Karina seperti itu membuat Farrel ingin mengganggunya, “Hey Karin, kenapa kau tampak canggung?”
“Tidak, aku sedikit lelah saja,” jawab Karina bohong, padahal ia masih membayangkan otot padat Farrel.
‘Gawat! Aku harus pergi dari sini, jika tidak Farrel bisa saja akan berbuat diluar kendalinya.” Karina bermonolog.
Farrel menyelesaikan renangnya dan muncul kepermukaan. Ia memainkan rambutnya dan mulai mendekati Karina.
Gleek!
Otot yang masih basah berbentuk kotak-kotak membuat Farrel tampak terlihat begitu maco, hal ini membuat Karina bingung harus melakukan apa.
Belum saja didekati Farrel, Karina segera beranjak dan menundukkan kepala. “Farrel, aku ke kamar duluan yaa. Aku sangat ngantuk.”
Ia berlari kecil, tapi pada saat menghindari Farrel, sisi jalan yang ia hendaki basah. Hal itu membuat kaki Karina terpelesat.
Sontak Farrel dengan cepat merangkul tubuh wanita yang sangat ia cintai.
Otot liat Farrel mendekap Karina, bola mata wanita cantik ini membesar.
Karina terkejut dan ia merasakan hal aneh ketika berada di dekat Farrel dengan jarak dekat seperti ini.
“Apakah kau tidak apa-apa, Karin?”
Bersambung.
__ADS_1