Rayuan Sang Penggoda

Rayuan Sang Penggoda
Mimpi Buruk


__ADS_3

Semua yang selama ini ia tunggu-tunggu apakah akan menjadi nyata?


Tapi kenapa setelah rasa sakit dan perpisahan yang di alaminya, kini Tuhan memberikan anugerah yang sudah ia dan Dimas nanti-nanti sejak lama?


Glek!


Karina menelan saliva sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


Meskipun ia belum tahu kebenaran apa yang terjadi, tapi wanita cantik ini meyakinkan bahwa ia sedang mengandung.


Keringat Karina bercucuran keluar tiada henti, wajahnya begitu pucat.


Farrel yang masih memapang tubuh Karina begitu cemas dan khawatir.


“Karin, apakah kau sedang tidak enak badan? Atau kita ke rumah sakit saja sekarang ya?” ajak Farrel membawa Karina ke dalam mobil.


Farrel bergegas menuju ke rumah sakit terdekat, ia tidak ingin melihat wanita yang sangat di cintainya ini kenapa-napa.


Beberapa kali Farrel menoleh ke arah Karina karena merasa sangat khawatir, tapi mantan istri Dimas ini hanya memejamkan matanya.


‘Ya Tuhan, apa yang harus aku perbuat saat ini?’ Karina bermonolog.


Di sisi lain jika memang benar ia dianugerahkan seorang anak, Karina akan sangat bahagia sekali. Namun, Karina juga sangat sedih ketika anak ini lahir nantinya dia tidak akan bisa di rawat oleh ayah biologisnya.


Begitu berat jalan hidup yang ditempuh wanita baik seperti Karina Mustika.


Sampainya di rumah sakit, Farrel segera berlari menuju ke sisi samping karena ingin membukaan pintu mobil.


“Ayo, Karin,” ajak Farrel sambil siap-siap untuk memapang tubuh wanita cantik ini.


Karina tersenyum. “Farrel, aku masih kuat berjalan sendiri.”


Farrel hanya mengangguk saja, ia selalu menghormati apa yang di pinta Karina.


Mereka berdua kini berada di bagian resepsionis, Farrel meminta Karina untuk duduk sementara lelaki itu mengurus semua administrasi terlebih dahulu.


“Karin, tunggu sebentar di sini ya ...”

__ADS_1


Karina tersenyum tipis sembari mengangguk.


Pada saat menunggu, wanita yang sejak dulu mendambakan seorang anak dari pernikahannya bersama Dimas sedang melihat ada wanita yang seusianya hamil besar.


“Sayang, anak kita bergerak-gerak. Aku sudah tidak sabar menjadi seorang ayah,” ucap lelaki yang merupakan suami dari wanita yang ada di samping Karina, sembari memegangi perut bunting sang istri.


Karina melihat ekspresi wanita yang tengah senang itu. Raut wajahnya dipenuhi akan kebahagiaan tiada tara.


Dimas pernah berkata kepadanya dulu di tahun pertama pernikahan mereka.


“Tidak ada yang lebih membahagiakan, ketika sepasang suami istri dianugerahkan seorang anak.”


Wanita cantik ini masih fokus kepada sepasang suami istri yang tengah dipenuhi kebahagiaan itu. Sampai ia tidak sadar, sejak tadi Farrel sudah ada di depannya.


Farrel seakan tahu, ia tidak akan memanggil Karina sebelum wanita ini yang menyadari keberadaannya terlebih dahulu.


Merasa seperti ada bayangan di depan, Karina menoleh luruh.


Dengan manis Farrel memberikan senyuman hangat kepada wanita yang sangat berharga baginya dari dulu dan sampai kapanpun.


“Kita ke ruang Dokter Indra, yuk Karin,” ajak Farrel sembari menggerakkan tangannya mengarah ke sisi ruangan dokter spesialis.


“Selamat malam Bu, bisa ceritakan keluhan apa yang sedang Anda alami?” tanya dokter itu begitu ramah.


Karina berbicara to the point, “Dok, saya merasa mual. Kepala saya pusing tak karuan dan saya juga sudah telat kurang lebih hampir 10 hari.”


Dokter tersebut memeriksa detak jantung Karina.


Sedangkan Farrel menunggu di kursi yang berada masih dalam ruangan dokter tersebut.


Setelah menyelesaikan tahapan pemeriksaan, Karina dan dokter itu mendekati Farrel.


“Bu Karina, silahkan duduk dulu,” suruh dokter Indra sembari mengarahkan Karina mengenakan tangan kanannya.


Lelaki setengah baya yang mengenakan jas putih itu tersenyum kepada Farrel.


“Pak, apakah Anda suami Bu Karina?”

__ADS_1


Tanpa ragu lagi Farrel mengangguk dan menjawab pertanyaan Dokter Indra, “Iya dok, saya suami Karina.”


Karina repleks menoleh ke arah Farrel, begitu pula dengan lelaki tampan ini.


Dokter itu menjulurkan tangan sembari kembali tersenyum. “Selamat, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah!”


Sontak hal ini membuat netra mata Farrel Pramana membesar, ia benar-benar terkejut dengan pernyataan yang diucapkan oleh dokter tersebut.


‘Karina hamil?’ Farrel bertanya dalam hati.


Karina hanya bisa menghela napas dan apa yang ia kira memang benar adanya.


Tiba-tibanya kepalanya kembali pusing, ia mengepal kedua tangannya begitu kuat. Karena tidak bisa menahan emosi yang ada dalam dirinya, kini ia pun jatuh pingsan.


Buurrghh!


“Karina ...” teriakan Farrel tidak dapat menyadarkan wanita cantik ini.


“Karin, sadarlah!”


Beberapa jam berlalu.


Karina melihat samar-samar bayangan seorang lelaki. Ia terbangun seraya memegangi kepalanya yang masih begitu sakit.


“Kenapa aku ada di sini? Tempat apa ini?” gumam Karina, sambil melihat ke sekeliling.


Ia tidak melihat cahaya sedikitpun, kecuali wajah lelaki itu saja.


“Mas Dimas? Kenapa kau ada di sini?” tanya Karina begitu terkejut setelah melihat jelas siapa seseorang yang ada di hadapannya.


Dimas hanya terdiam.


“Mas, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Karina kembali.


“Karin, kau pernah mengatakan kepadaku jika kau hamil maka pertama kali yang akan kau beritahu adalah diriku dan kau akan memelukku dengan erat. Tapi kenapa ... kenapa kau malah bersama Farrel?” Dimas mencekik leher wanita itu.


“Tidaaaaaaak!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2