Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 1: Kehidupan Ri di Vietnam


__ADS_3

"Ibu!" Panggil Ri dari lantai 2.


Ibunya yang berada di halaman sedang menjemur pakaian mendongak ke atas. "Kenapa nak?" Teriak dia balik kepada Ri yang sedang melihatnya dari balkon.


"Baju kemeja Ri mana bu? Kok aku cari tidak ketemu." Kata dia. Terlihat lelah, dia sandarkan dagunya di pembatas.


Sang ibu menggeleng, kemudian dia simpan pakaian yang berada di tangannya kembali ke keranjang pakaian. Ibu naik ke lantai 2 menuju kamar Ri. "Ibu simpan di lemari, masa kamu tidak lihat. Awas kalau ibu yang dapat." Ibunya mengomel. Sesaat setelah mengatakan itu, baju kemeja yang tidak Ri temukan tadi dikeluarkan sang ibu dari dalam lemari.


Melotot matanya melihat baju tadi dengan gantung yang masih terpasang. Ri sudah melihat wajah mengejek ibunya. "Tadi cari dimana? Ri, Ri ibu sudah bilang kalau cari barang tuh yang tenang. Kalau baju ini berubah jadi ular kamu sudah di gigit, depan mata begini."


Ri menggaruk lehernya. Biasanya dia harus segera meminta bantuan sang ayah untuk menolongnya dari panjang omelan sang Ibu. Namun, ayahnya tidak berada di rumah. Dia sedang bekerja. "Iya iya, aku lapar bu." Mengalihkan.


Ibu yang tidak tega membiarkan anaknya kelaparan itu turun sembari sesekali mengomel walau dengan suara kecil. Di atas Ri mengintip lewat pintu, memastikan ibunya sudah benar-benar turun. "Ah syukur, membiarkan ibu mengomel artinya aku harus berdiri di sini terus menerus hingga ayah pulang."


Beberapa menit, Ri turun dengan baju kemeja dan rok kain berwarna hitam miliknya. Hari ini, Ri akan menghadiri wawancara kerja sebagai guru di Sekolah Menengah Pertama di dekat rumahnya. Sarapan sudah tersedia di meja dan sepatunya sudah siap di depan pintu keluar. Ibunya pasti telah menyiapkan semuanya. Dia tersenyum lebar.


"Wow, makanan ibu memang selalu yang terbaik." Acungan jempol Ri di depan wajah sang ibu membuat wanita itu ikut tersenyum, senyum lebar.


Ri tidak sabar mencicipi masakan sang ibu, terburu-buru duduk dan mengambil nasi goreng hingga lauk pendamping. Ibu memperingatkan dia agar lebih sabar. "Pelan-pelan nak, kamu bisa tersedak." Dia mengangguk tetapi kemudian tersedak juga. Ibunya mengambilkan air putih dan mengelus punggung sang putri.


"Ibu sudah bilang pelan-pelan. Tidak ada yang akan mencuri makanan kamu." Ri hanya tersenyum menanggapi omelan wanita itu karena kecerobohan dirinya.


Setelah sesi makan dia berangkat ke sekolah. Di jalan dia bertemu dengan teman satu tesnya bernama Tam. Kemarin mereka bersama ikut tes tahap awal, dan sekarang dia akan ikut tes wawancara. Secara pribadi Ri berharap Tam bisa lolos dan menjadi guru di sana.


Dia mendengar cerita Tam dari seorang teman. Tam sudah lebih dulu lulus darinya, dia telah mencari pekerjaan di berbagai tempat tetapi selalu gagal karena universitasnya yang tidak terkenal. Kalaupun berhasil masuk, dia hanya bertahan selama beberapa bulan dan harus meninggalkan organisasi. Tam juga seorang yatim-piatu dan harus menghidupi adik laki-lakinya seorang diri.

__ADS_1


Mendengar cerita seperti itu membuat hati Ri pedih. Dia selalu bersyukur memiliki orang tua. Ri tidak pernah memiliki masalah keuangan seperti yang dia alami Tam. Ri merasa bangga walau bukan keluarga Tam, bagaimana wanita itu dapat bertahan dengan berbagai kesulitan. Patut di acungi jempol.


Merasa di tatap oleh Ri, Tam berbalik menatap balik Ri. "Kenapa?" Tanya Tam.


"Tidak apa-apa, aku berharap kau lulus." Tatapan dan ucapan tulus Ri membuat Tam tersenyum dan berterima kasih.


Dia tahu, mereka saingan memperebutkan posisi masing-masing tetapi Ri adalah satu-satunya orang yang tulus mendoakan dirinya. Dalam hati Tam juga berharap jika mereka berdua bisa lolos dan menjadi teman baik.


Bel berbunyi, semua murid masuk ke kelas masing-masing. Sementara Ri dan Tam berjalan di koridor menuju ruang wawancara di gedung administrasi. Berjalan di koridor membangkitkan ingatan Ri terhadap sekolahnya dulu. Di depan sana ada beberapa peserta wawancara, mereka menunggu waktu untuk di panggil.


"Silahkan duduk, kalian akan di panggil sesuai dengan nomor urut registrasi." Ucap petugas administrasi itu, dia memanggil salah satu diantara mereka.


Ri dapat melihat semua orang gugup. Tam saja yang punya banyak pengalaman meremas tangannya erat. Dia tidak tahu mengapa, tidak merasakan apapun saat sampai di sekolah.


Tam menangguk sebagai jawaban. Dia mengeratkan pegangan tangan sebelum di lepaskan, kemudian dia masuk ke ruang tes. Tidak berapa lama menunggu akhirnya giliran dia yang masuk. Di dalam penguji melihat Ri dari bawah hingga ke atas, tetapi dia tidak gugup. Matanya langsung menatap mata penguji bergantian.


"Anda belum memiliki pengalaman, ini pertama kali anda melamar pekerjaan?" Salah satu dari mereka bertanya.


Ri mengangguk. "Ya bu, saya baru saja lulus tahun lalu."


"Apa yang menarik dari sekolah ini sehingga anda memutuskan mendaftar? Saya yakin dengan nilai ini anda bisa mendaftarkan di sekolah negeri." Tanya dia lagi.


Ri mengangguk, dia banyak mendengar pertanyaan seperti itu dari tetangga hingga teman-temannya. Dia tarik nafasnya dan menghembuskannya pelan.


"Saya selalu melewati sekolah ini untuk berangkat kuliah, saat itu dari depan saya tidak melihat adanya perbedaan dengan sekolah lainnya di daerah ini. Suatu hari, baliho terpajang di depan gerbang. Saya masih ingat tulisannya, Jangan malu melakukan kesalahan karena itu bisa membuat orang belajar dan jangan pula merasa tidak malu dan menutup mata pada tindak buruk yang merugikan orang lain, karena hal itu bisa membawa rasa sakit,"

__ADS_1


"Setelah itu saya banyak membaca forum online tentang sekolah di daerah ini. Di dalam sana tidak ada satupun pembahasan negatif soal perekrutan guru tetap atau guru kontrak di sini. Bahkan ada komentar dari seseorang yang mengklaim dirinya sebagai mantan guru kontrak yang telah bekerja di salah satu universitas memuji sistem perekrutan sekolah ini. Saya rasa ini menarik."


"Menarik? Bukan karena anda menyukai mengajar anak-anak atau mencari pengalaman?" Ujar Penguji yang berada di tengah.


"Ketertarikan saya ini bisa digunakan untuk mengajar anak-anak dan mencari pengalaman. Saya harus tertarik untuk bekerja dengan baik."


Penguji terkejut mendapat pendapat seperti itu. Ada dari mereka yang kurang setuju dan menyepelekan dengan menutup resume Ri, ada juga yang tersenyum mendengar jawaban jujur peserta wawancara.


Ri hanya berharap pada takdir, dia tidak tahu apakah jawaban jujurnya itu bisa menghantarkan dia masuk ke sekolah atau malah menjadi bumerang yang tak terlihat akan menyudahi rasa ketertarikannya pada sekolah itu. Dia permisi keluar setelah sesi wawancara selesai.


.


Diluar langit mendung menunjukkan keinginan untuk hujan, tetapi gelap itu lama menetap dan tak kunjung hujan. Ri berlari keluar dari sekolah, dan masuk ke gang kecil di depan sana. Sebelum hujan benar-benar membasahi bajunya dia sudah masuk ke dalam rumah.


Ri membuka pagar, dia masuk dan memanggil sang ibu, beberapa lama sahutan dari dalam tidak terdengar lalu dia memeriksa jam di tangan. "Ah, ibu mungkin sedang di restoran." Kata Ri.


Diambil kunci pintu di dekat pot kecil di sebelah kursi taman. Hal itu di lakukan ibu ketika dia sedang membantu sang suami di restoran atau orang tuanya keluar. "Sendiri lagi,"


Restoran itu tutup hingga malam, jadi Ri akan sendiri sampai keduanya pulang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2