
"Aku memang agak cepat, tapi bukannya dia harus lebih cepat? Semoga saja Baren belum bangun saat aku tiba di rumah."
"Apa Yooju baik-baik saja? Ah aku khawatir." Dia terus berbicara sendiri walau pelan. Jantungnya tidak baik-baik saja. Dia belum pernah mengalami hal ini jadi dia sangat gugup.
Tepat, waktu menunjukkan pukul 02.00. Dia belum melihat keberadaan Ho Young, menunggu memang membosankan walau hanya beberapa menit.
"Lama sekali!" gerutu Ri, kakinya bergerak-gerak hingga menimbulkan suara bising dari gesekan heels dan lantai.
"Jangan menggerutu, kau bisa cepat tua!" Ho Young berdiri gagah di belakangnya.
"Aku tidak bisa lama, mereka pasti mencariku, kenapa kau memintaku kemari?" Serunya dengan cepat.
"Naik dulu, kita bicara!"
"Hanya bicara!"
"Memangnya apa yang bisa kulakan jika bukan bicara?"
"Mana aku tahu, kau kan pria berengsek!"
Ri, menjulurkan tangan kedepan meminta kartu kamar yang Ho Young pegang. Tanpa basa-basi, Ho Young menyerang kunci kamarnya dan mengikuti wanita itu naik.
Banyak orang di dalam lift, posisi Ri berada di belakang Ho Young, sempit. Ho Young memberikan batas jarak agar mereka tidak saling bersentuhan tapi hal yang akan terjadi tidak bisa dihindari saat di dalam lift. Saat lift menunjukkan angka 10, pintunya terbuka dan menampilkan beberapa pelanggan, mereka naik. Otomatis, Ho Young harus mundur.
Dia berbalik menghadap Ri, menjadikan tangan kirinya sebagai tumpuan pada dinding agar tubuh besar miliknya tidak menghimpit wanita kecil ini. "Makan yang banyak, kau bisa terbang dibawa angin."
Kata-kata Ho Young itu walau pelan tapi mereka yang berada dalam lift mendengarnya. Tidak tahu sopan santun, kata Ri dalam hati. Semua orang di dalam lift menertawakan perkataan Ho Young.
Celetuk cewek pirang yang dikepang itu membuatnya geli. "Suaminya baik sekali, kalau saja suami ku yang kerjanya hanya judi itu berhenti mencari masalah!"
Curhat ya bu.
Belum lagi ibu-ibu yang bercengkrama tadi berhenti dari urusan mereka dan ikut nimbrung menyampaikan aspirasi nya. "Di syukuri saja dek, lihat ibu, suaminya sudah tidak ada."
"Ih, kalau suami suka judi siapa yang mau mending tidak ada sekalian." Kata ibu-ibu seosialita kedua.
"Benar bu," Lift itu tampak seperti ruangan untuk bergosip.
Sementara Ho Young tersenyum kecil, Ri memutar bola matanya jengkel.
"Apa urusanmu!" bisik Ri, dia menendang kecil kaki Ho Young, yang mendapat tendangan itu tersenyum tanpa merasa marah.
Pintu Lift terbuka, Ho Young turun di ikuti Ri. Lorong kamar hotel itu tampak mewah dengan karpet merah sepanjang jalan. Ri melihat kebawah sampai kepalanya menambrak badan Ho Young yang berdiri di depan kamar.
"Masuk." Katanya pada Ri.
__ADS_1
Ri melihat sebentar pintu yang sudah terbuka lalu masuk ke dalam. Sesampainya di sana, dia dikejutkan oleh segerombolan orang memakai kemeja, baju kerja. Berada di sofa ruang tamu kamar hotel presiden suit itu.
Ri berdiri di tempatnya dengan matanya berkedip beberapa kali. Ho Young melihat wanita itu membeku lalu menepuk tangannya di udara depan wajah Ri.
"Kenapa?" Tanya Ho Young sembari berjalan ke arah banyak orang. Dia meninggalkan Ri yang tidak paham dengan keadaan.
"Bagaimana?" Ho Young diberikan laptop dan satu orang menjelaskan panjang lebar.
Ri di sana tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua pria itu. Lalu tidak lama, seorang wanita memakai pakaian ketat dengan rok dibawah lutut mendatanginya. "Anda sudah makan?" Tanya dia dengan senyum merekah di wajahnya.
Ho Young berbalik dan tersenyum melihat interaksi Ri dengan karyawannya. "Tolong jaga dia." Kata Ho Young.
Karyawan wanita itu mengangguk, sedangkan Ri mengejeknya dengan lidah yang dikeluarkan. Ho Young melebarkan senyumnya.
Pandangan orang-orang yang berada di ruangan tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Senyum itu dan ekspresi Ho Young memandang wanita di sana. Mereka bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan wanita itu hingga dia diajak ke pertemuan rahasia ini.
Namun, rasa penasaran itu hanya sampai batas mereka berbicara dalam hati masing-masing. Tidak ada yang berani mengeluarkan statemen. Apalagi sampai bertanya pada Ho Young.
.
Ri duduk di depan meja tinggi depan dapur bersih. Wanita yang mengajaknya itu sedang berdiri membelakanginya, dia sibuk dengan wajan dan spatula. Sesekali Ri melirik Ho Young dengan ekspresi seriusnya berbicara pada pria pria di sana. Terkadang, dia tampak marah kemudian mengangguk lalu sesi paling dia benci, pria itu merokok.
"Egois." Kata Ri yang dapat di dengar oleh Wanita tadi. Dia berbalik menatap Ri lalu ikut memperhatikan arah pandang dari Ri.
"Kenapa Egois?" Tanyanya.
"Oh, tapi mereka semua perokok."
"Tapi kita berdua tidak."
Wanita itu tertawa menaggapi kekesalan Ri terhadap bosnya.
"Sepertinya rasa kesal anda ini lebih ke arah siapa yang merokok, benar?"
"Tidak," Ri membantah. "Itukan berbahaya apalagi buat kita perokok pasif."
Wanita di depannya mengangguk. Dia mengambil piring lalu meletakkannya di depan Ri. Wajannya yang di hiasi steak sudah siap. Karyawan wanita itu memindahkan steak untuk Ri. "Silahkan,"
Wanita itu pergi tapi Ri menahannya. "Anda mau kemana?"
"Jam kerja saya sudah selesai, waktunya pulang." Ucapnya.
Tinggallah Ri seorang diri duduk bersama steak yang sudah siap di santap. Meski sudah makan, steak di depannya sangat menggoda. Dia mengambil garpu dan juga pisau, memisahkan daging itu kecil-kecil. Barulau dia makan dengan lahap.
Tidak lama menunggu steak di piringnya sudah habis. Ri terkejut melihat bertapa memalukan dirinya tidak sadar menghabiskan steak berukuran besar seorang diri.
__ADS_1
Gelas yang terisi penuh air di teguk pelan, barulah dia mengambil tisu membersihkan sudut bibirnya. Piring kotor itu dia bawa ke wastafel lalu di cuci bersih.
"Itu tidak perlu, besok seseorang akan datang membersihkan kamarku."
Ri berbalik ketika sudah selesai. "Aku tidak pernah di ajarkan untuk merepotkan orang lain, selama masih bisa dikerjakan sendiri." Kata Ri.
Dia menengok ruanga tamu, kosong." Mereka kemana?"
Ho Young ikut melihat ruang tamu. "Sudah pulang, kamu sibuk makan."
Malu, Ri menutup wajahnya lalu duduk di kursinya tadi. Ho Young juga duduk disampingnya. "Mana kontraknya? Aku tidak bisa lama. Mereka akan cepat sadar kalau aku tidak dirumah."
"Kontrak? Kontrak apa?"
"Ya, kontrak. Apalagi, bukannya aku sudah bilang aku butuh kontrak untuk memastikan kalau kamu tidak berbohong. "
"Belum aku siapkan," Dengan santai.
"Lalu!? Untuk apa aku kesini kalau kontraknya belum siap? Ah, seharusnya bilang dari tadi."
"Untuk apa lagi, untuk ketemu."
Ri berdiri, menatap tajam Ho Young. Ho Young ikut melihatnya dengan tatapan berbeda. Ho Young bingung. "Aku tidak pernah bilang bertemu untuk membahas kontrak."
"Ihs!" Kesal lagi.
Ho Young menghela nafas lalu menelepon seseorang. "Kembali, buat satu kontrak untukku. Sekarang!"
Ri mengerutkan alisnya saat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Wanita itu menutup matanya, apa dia tega melihat karyawan yang sudah ingin beristirahat datang lagi karenanya. Ayahnya, Pham selalu berpesan tidak boleh menyulitkan orang.
"Tidak perlu, nanti saja." Akhir perkataan Ri.
Ho Young mendengarnya lalu membatalkan perintahnya untuk kembali, tentu karyawannya senang luar biasa dalam hati tentunya.
Pria itu menatap Ri. Ri yang masih kesal mengambil jaketnya yang sempat dia buka saat akan makan, lalu dia berjalan sembari berkata pada Ho Young. "Aku pulang!"
"Hati-hati dijalan." Singkat pria itu menjadikan Ri terdiam di samping sofa, dia berhenti dan berbalik menghadap Ho Young.
"Apa?"
"Hati-hati dijalan." Ulang Ho Young.
"Kau bercanda!"
.
__ADS_1
.
.