
Ri Ahn memicingkan matanya, bibirnya komat kamit tidak jelas mengatakan apa. Dia di usir, tubuhnya enggan bergerak.
"Dompetku tidak ada," Katanya sembari menunjukkan wajah melas. Dia buka tasnya dan diperlihatkan kepada Ho Young isi tas tersebut.
Ho Young nampak cuek, dia hanya menatap Ri Ahn tanpa ekspresi.
"Aku benar-benar harus turun?" Tanya Ri Ahn lagi. Dia berharap pria di depannya mengubah keputusan membiarkan dirinya naik bus.
Ho Young mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar uang kertas. Dia memberikan kepada Ri Ahn. "Ini cukup. Tidak usah di kembalikan." Ucapnya.
Ri Ahn cemberut, dia pasrah. Menghela nafas pendek dan dia turun dari mobil Ho Young, tanpa mengambil uang yang diberikan kepadanya.
Melihat Ri Ahn tidak mengambil uangnya, Ho Young menaikkan alisnya. Tapi dia tidak mengatakan apapun, ia menyimpan kembali uang itu dan pergi dari sana. Meninggalkan Ri Ahn yang menunduk.
Perempuan itu diam di trotoar, melirik mobil yang pergi sudah agak jauh darinya. Ujung sepatunya di seret ke kanan-kiri. Sudut bibirnya bergerak turun.
Dia berpaling melihat hotel yang masih terlihat gedung tinggi. Ri Ahn buka kembali tasnya. Mengecek dompet dan uang yang mungkin terselip di antara ruang. Tapi dia benar-benar lupa memasukkannya ke dalam tas sebelum pergi.
Melihat sekeliling, dia berjalan ke arah seberang agar lebih nyaman. Angin menerpa wajahnya, dingin itu membuat hidungnya berair. Di eratkan jaket membungkus tubuh mungilnya.
Kembali ke hotel, melihat apakah orang-orang kakaknya masih berada di sana. Sekitar 5 menit dia sampai. Matanya terus mencari, tapi tetap tidak menemukan keberadaan pengawal yang menunggunya tadi.
Salahkan dirinya, dia meminta pengawal itu untuk kembali menjemputnya 3 jam lagi. Dia berencana menemui Ho Young dan kembali ke hotel tapi belum sejam dia sudah kembali.
Satu-satunya pilihan adalah menunggu di lobi hotel. Dia bisa duduk di sofa dengan nyaman darp pada menunggu di depan halte.
Ri Ahn segera duduk, dia mengambil tisu sebelumnya dan membersihkan air hidungnya. Dia bisa flu jika masih berada di jalan.
"Untung saja ponselku tidak ketingalan."
Jadilah sibuk dengan game favoritnya.
Sebelum lewat 1 jam, seorang pria duduk di depannya. Ri Ahn tidak melihat wajahnya dan hanya melirik kaki jenjang pria dengan balutan setelah jas berwarna senada biru.
Dia gerakkan kepalanya ke kanan sekali dan kembali fokus bermain game. Dia tidak peduli.
Gerakan tangan Ri Ahn cepat mengubah bola-bola berwarna yang juga senada untuk di gabungkan.
Suara gamenya mungkin terdengar oleh pria itu hingga dia berdehem. Ri Ahn mengangkat kepalanya. Tidak asing, seperti pernah bertemu. Sahut Ri Ahn dalam hatinya.
Namun, dia tidak mengenal pria itu. Siapa ya? Kata dia lagi. Ketika dia berusaha mengingat, suara gamenya mengingatkannya untuk kembali fokus. Dia baru akan melihat ponselnya tapi pria itu sudah berbicara.
"Ho Young tidak mengantarmu pulang?" Ujarnya santai.
__ADS_1
Ri Ahn berhenti dan menatap pria tadi. Dia kenal Ho Young? Hah!!!!
Ekspresi jelas terlihat, matanya meneliti pria didepannya. Dan satu adegan terlintas di kepalanya. Ahh dia ingat, pria yang berada di lift tadi.
"Ah! Dalam lift, anda bersama Ho Young."
Pria itu mengangguk. "Ho Young tidak mengantarmu? Aku pikir kau sudah berada di dalam mobilnya."
Ketahuan, Ri Ahn menutup matanya sembari komat kamit. Dia tertangkap basah.
He he he
Tawa canggung itu keluar begitu saja, dia tidak berniat menjawab. Akan tetapi Darren selalu membuat seseorang yang tidak ingin berbicara akhirnya berbicara secara detail.
"Dia bukan pria jahat."
Bukan pria jahat katanya. HA HA HA. Tawa Ri Ahn dalam kepalanya. Dia mengejek penilaian pria itu kepada Ho Young.
"Anda sudah berteman dengannya berapa lama? Kenapa penilai kita berbeda."
Darren tersenyum kecil. "Penilaian saya dan anda itu bukan mencerminkan diri orang tersebut tapi sudut pandang kita padanya. Saya bisa bilang dia baik, anda bilang dia tidak baik. Itu wajar."
"Wajar?"
"Oh, tapi dia benar-benar jahat. Masa saya di turunkan di halte."
"Kalau itu memang salah Ho Young, dia perlu minta maaf." Ungkap Darren.
Ungkapan yang baru saja keluar dari mulut Darren membuat Ri Ahn mengangguk keras. Dia membenarkan perkataan Darren.
"Mr. Lee? Benar?" Kata Ri Ahn. Dia hanya tahu fam keluarga pria itu. Seingatnya, Ho Young menyebutkan namanya Mr. Lee.
Darren memgangguk.
"Anda dan Ho Young sudah lama kenal?"
"Ya sejak umurku 7 tahun, jika tidak salah ingat."
Hah?
"Serius? Waw. Baiklah, penilaian anda pasti benar. Jika sudah selama itu pasti anda mengenalnya dengan baik."
"Tidak juga."
__ADS_1
Darren melihat ponselnya yang sejak tadi bergetar. Sekilas lalu kembali dia melihat Ri Ahn.
"Kakakmu tidak marah tentang hubungan kalian? Atau itu disembunyikan?" Dia sudah menebak sejak awal. Jika Ravi sampai tahu, HARI dan KOM tidak akan menemukan kedamaian lagi.
"Ho Young tidak cerita? Aku pikir anda sudah tahu semuanya." Heran Ri Ahn.
Sudut bibit pria itu naik. "Hanya yang penting saja."
"Oh.. Tapi anda tahu kakakku?"
Dia baru sadar.
Darren lagi-lagi mengangguk. "Ya!"
"Anda juga seorang gengster?"
Ri Ahn beranggapan seperti itu karena Darren juga mengenal kakaknya. Tidak ada orang yang bekerja di tempat biasa yang mengetahui orang-orang seperti Ho Young dan Ravi.
Senyum Darren tiba-tiba berubah menjadi tawa kecil. Pandagan mata dia alihkan ke luar lobi melalui kaca pembatas. Melihat banyak sekali pengunjung yang baru memasuki hotel. Lalu dia kembali melihat Ri Ahn.
"Apa terlihat seperti itu?" Tanya pria yang tadi tertawa.
Ri Ahn berpikir sejenak, dia menilai penampilan serta tutur bahasa pria itu. "Hmm, Ho Young juga gengster tapi penampilannya berbeda dari kebanyakan gengster. Jadi aku tidak tahu."
Darren mengangguk, dia membenarkan perkataan Ri Ahn. "Benar, menilai orang dari penampilan luar itu tidak adil."
"Jadi apa pekerjaan anda?" Penasaran Ri Ahn bertanya.
"Hanya pekerjaan biasa."
"Aku rasa tidak."
"Jadi kau bisa menebak?"
Darren berbicara cukup banyak dengan Ri Ahn, dia terlihat seperti adik kecil yang penasaran dengan banyak hal. Dia bertanya tanpa membuat Darren merasa tidak nyaman.
"Pekerja biasa tidak mungkin membeli setelan seperti yang anda kenakan. Itu pasti mahal. Lalu, anda mengenal Ho Young dan kakakku."
Pria itu menganggap Ri Ahn berbeda dengan ayahnya, Cho Min Sik. Dia anak yang cerdas juga ramah. Tidak seperti yang dia pikirkan. "Aku pernah bertemu dengan Cho Min Sik. Beberapa kali, bahkan saat dia sudah dikabarkan meninggal."
Mendengar nama Ayah kandungnya, raut wajahnya berubah. Dia mendadak diam dengan ekspresi datar. Darren menemukan ekspresi itu.
Dia mengerti bagaimana hubungan ayah dan anak, dengan melihat ekspresinya.
__ADS_1
.