
Ho Young menatap komputernya tanpa berkedip, dia tidak bisa menghilangkan bayang-bayang perkataan Yun kepadanya saat di taman.
Dia hempaskan tubuhnya pada sandaran kursi, menghela nafas pendek. Kepalanya mengadah ke atas, memori kebersamaan dia dan Yun berputar bak kaset film.
Wanita bernama asli Jiang Xu Wei itu sudah bersama Ho Young sejak lama, dia salah orang yang mengenal Ho Young luar dalam. Karena itu dia ditempatkan langsung di bawah Ho Young mengurus semua bisnis pria itu.
Dia tidak pernah meminta pendapat jika mengambil keputusan, sebab setiap keputusan itu selalu sama dengan apa yang Ho Young inginkan. Sepercaya itu Ho Young padanya. Bahkan ketika ada Dori dan Sean yang berada di dekatnya.
Nama Yun juga merupakan nama pemberian Ho Young, bahkan anaknya pun bernama sama dengannya. Selalu berterima kasih pada wanita ini, tapi dia tidak tahu jika yang dibicarakan menyangkut perasaannya.
Tidak ada wanita yang membuatnya nyaman sebanyak Yun lakukan. Namun, apakah perasaan itu menjurus pada cinta sebagai lawan jenis atau persahabatan dan persaudaraan yang erat. Dia bimbang.
Tidak sengaja, dia menyenggol salah satu dokumen di pinggir meja. Dokumen yang berada di map itu berhamburan keluar dan terjatuh di lantai beludru. Ho Young mengambilnya sedikit membungkuk.
Di antara kertas-kertas itu terdapat satu foto berukuran kecil terbalik, di ambil dan dia balik. Urat-uratnya terasa di tarik, dia kaku dan terdiam sejenak. Perasaan yang baru saja dia rasakan ini juga tidak biasa. Bimbang yang tadi menyapanya kini menjadi ragu. Skeptis pada perasaannya sendiri.
Kemudian ketika masa lalu menerobos dinding pertahanannya dia runtuh. Ho Young melepaskan foto itu hingga tergeletak di meja dengan sembarangan. Ragunya lalu berubah menjadi api amarah.
Untuk siapa dia ragu dan untuk siapa dia bimbang lalu untuk siapa lagi dia memulai membakar menggunakan api amarah. Di kepal erat jari membentuk batu.
.
Aku tidak mencintaimu bukan karena masa lalu. Jika bukan karena dirimu, maka masa itu tidak akan pernah menjadi masa lalu. Tapi akan menjadi masa sekarang dan masa depanku. Aku hanya bisa mencacimu lewat angin yang terbang ketika malam datang. Karena esok paginya pura-pura padamu sungguh melelahkan.
Ada yang mendengar suara dalam kesunyian malam terbang bersama angin dingin yang bertiup kencang, samar suaranya menggelitik telinga.
.
Keesokan harinya Ho Young terbangun di kursi kerjanya. Bunyi seseorang yang mengetuk pintu menjelaskan posisinya, dia bangun.
Suara rendah bangun tidur, sedikit serak. "Ya masuk." Pintanya. Lalu tidak berapa lama datang Dori, tidak lupa dia membungkuk sekilas lalu berbicara kepada Ho Young.
"Tuan, anda punya tamu." Katanya.
__ADS_1
Sepagi ini? Wajah Ho Young menunjukkan kebingungan.
"Siapa?" Kata dia.
"Dia hanya menyebutkan bahwa namanya tidak perlu di sebutkan, anda akan tahu."
Saat itu Ho Young meminta Dori membawa orang itu ke kantornya. Tanda bertanya lebih lanjut, dia berbicara denga cepat.
Dori lebih bingung, biasanya bosnya tidak akan menemui siapapun di pagi hari. Apalagi ketika dia sedang berada di rumah.
Dia hanya berbicara dalam pikirannya. Tidak ingin membuat bosnya menunggu, segera dia laksanakan perintah.
Pria yang tidak disebutkan namanya itu masuk lalu duduk di salah satu sofa di dalam ruangan. Pandangannya lurus, dia dududk dengan tegap. Matanya fokus.
Mendekati pria itu dan duduk di sisi lainnya. Ho Young berdehem. "Apa yang kau dapatkan?" Ujarnya pelan.
Pria tanpa nama tersebut mulai memberikan informasi yang dia ketahui selama beberapa minggu terakhir. Selama transfer data itu, Ho Young di selimuti oleh banyak ekspresi. Dan yang paling terlihat jelas adalah raut marah.
"Siapa dia?" Katanya, jelas tahu apa maksud dari aktivitasnya tadi.
"Seseorang dengan latar belakang biasa, hanya saja dia tidak terlihat normal."
"Tidak normal? Jelaskan!" Suruh Ho Young, dia merasa cerita ini menarik untuk didengar.
Pria itu menceritakan kondisi ketika dia secara tidak sengaja bertemu dengan YANG TIDAK NORMAL itu ketika sedang menjalankan tugas.
Secara detail tanpa di kurang atau di tambah. Sebelumnya keadaan seperti biasa, tetapi beberapa hari ini dia terus bertemu dengan YANG TIDAK NORMAL itu. Terus mengikuti, hingga dia beranggapan bahwa YANG TIDAK NORMAL tersebut adalah musuh.
Ketika dia dekati dengan jarak yang masih terbilang aman. Dia mendapati tatapan antusias berlebihan. Juga saat matanya memancarkan kilauan tajam. Pria itu tersenyum aneh saat bibirnya naik ke atas, ada unsur Kreepy.
Dia hanya memastikan bahwa YANG TIDAK NORMAL, punya tujuan kepada titik pointnya.
Semua aktivitas dari titik point juga dikabarkan kepada Ho Young. Bahkan hal kecil termaksud saat titik point menjadi ramah kepada beberapa orang. Dengan bibir yang tertarik keatas serta suara tawa yang berlebihan.
__ADS_1
Setelah selesai melapor, dia pamit melanjutkan pengamatan. Ketika kakinya melangkah keluar dari pintu besar, Dori berpapasan dengannya. Pria itu tidak melihat Dori dan langsung pergi, fokus matanya lurus kedepan.
Dori mengerutkan niatnya. Dia masuk tanpa brbicara kepada Ho Young dan berdiri di sebelah pria itu.
"Dori!" Panggil Ho Young.
"Ya tuan." Jawabnya.
"Tolong sampaikan pada Yun, aku menugaskan dia pergi ke selatan."
Terkejut Dori menjadi jawaban dari perkataan bosnya. Bagian selatan, adalah bagian yang paling tidak ingin di datangi oleh Yun. Juga merupakan bagian yang jauh dari mansion.
Wanita itu baru saja pulang dan sekarang dikirim ke selatan? Bukankah bosnya memberi masalah kepada dirinya sendiri. Dia ragu apakah Yun akan setuju dengan keputusan mendadak Ho Young. Lagipula di selatan tidak ada masalah apapun, untuk apa Yun di butuhkan disana.
Adalah sebagian dari pikiran Dori yang mengambang ingin keluar. Dia menahannya. Segera dia pergi menemui Yun dan menyampaikan perintah dari Ho Young.
1 jam berlalu. Dari luar pintu kantor Ho Young terbuka lebar dengan bunyi keras. Yun datang dengan marah. "Inikah jawabanmu?" Kata Yun.
Ho Young masih terlihat santai, dia duduk sembari melihat Yun. "Aku memberimu tugas mengawasi orang-orang di bagian selatan."
"KAU PIKIR AKU TIDAK DENGAR!!! Kau tahu bagian selatan adalah bagian yang paling tidak ingin kudatangi. Aku diminta pergi apa karena menyatakan perasaan padamu?"
"Tidak ada yang seperti itu"
"Lalu kenapa? Bagian selatan aman tidak ada masalah disana, jadi untuk apa aku pergi? Bukankah sudah jelas kau memintaku pergi menjauh dari rumah."
Ho Young tidak menjawab langsung, dia diam sebentar lalu memperbaiki posisi duduknya. "Aku mempercayaimu, karena itu urusan Geng selalu aku berikan padamu."
Yun tidak percaya. Dia mencemooh Ho Young. "Kau pengecut!" Dia pergi sembari membanting pintu, suara bergema.
Dori sendiri mengerti kekesalan Yun.
.
__ADS_1