
Ri Ahh memulai harinya dengan memeriksa pabrik. Dia melihat semua pekerjaan berat itu merasa kasihan. Begitulah kehidupan, mereka mencari nafkah untuk bisa bertahan. Ri Ahh memberi semangat kepada mereka dengan lantang. Awalnya itu terasa canggung, tapi mereka mulai tersenyum.
Ravi terus mengawasi sang adik dari belakang. Dia mengikuti kemanapun kaki Ri Ahn melangkah. Sama seperti Ri Ahn, Ravi juga merasakan kesedihan saat melihat adiknya. Sebgai kakak, dia tidak bisa melindungi keinginan adiknya untuk tetap tinggal bersama orang tuanya.
Ri Ahn yang merasa seperti ada yang memperhatikan, dia berbalik mendapati tatapan sedih Ravi. Perempuan itu berlari ke arah kakaknya. "Kakak baik-baik saja?" Tanya dia khawatir.
Ravi menggeleng, dia mengelus surai lembut Ri Ahn. "Kakak tidak apa-apa, Ri Ahn bekerja dengan baik." Katanya tersenyum, agar Ri Ahn tidak khawatir kepadanya.
Ri Ahn juga ikut tersenyum. Menggandeng lengan Ravi erat, kembali berjalan mengecek para karyawan pabrik. Selama sejam lamanya dia melihat-lihat, kakinya sakit di bagian tumit. Ravi meminta sang adik duduk di tembok.
Pria itu melepaskan sepatu hak yang di kenakan adik perempuannya. Dia pijat kaki Ri Ahn, lembut sehingga tidak menyakiti pemiliknya. Ri Ahn sama sekali tidak merasa canggung, justru orang-orang yang berada di sampingnya terlihat saling memberi kode. Mungkin mereka melihat perhatikan Ravi kepada Ri Ahn dengan cara yang berbeda.
Ri Ahh tersenyum lagi dengan sikap Ravi. Dia selalu kagum dengan sikap pria di depannya itu. Entah sudah berapa kali dia ucapkan dalam hati, bahwa dia menginginkan seorang kekasih yang mirip dengan Ravi, sikapnya yang manis itu tidak bisa di bentung oleh siapapun.
Sesekali, Ravi mengangkat wajahnya memandang Ri Ahn, dia ikut tersenyum saat melihat adiknya menyunggingkan senyum di bibirnya. Lalu dia melanjutkan aktivitasnya.
Beberapa karyawan yang berada di sekitar, berbisik-bisik. Mereka ikut hanyut melihat adegan romantis antara Pria dan wanita. Ketika mereka lupa status Ravi dan Ri Ahn, seseorang dari belakang mematahkan khayalan itu.
"Bukankah mereka saudara? Kenapa kalian terobsesi dengan adegan itu." Katanya.
Tidak ada yang salah, dia benar bahwa mereka adalah saudara TAPI tidak sedarah. Ravi memang di angkat oleh Cho Min Sik sebagai anak. Meskipun begitu tidak ada yang tahu, bagaimana perasaan dua insan. Begitulah pemahaman mereka terhadap hubungan keduanya.
.
Dari balik gudang baru di bangun, ada tatapan tajam yang patah ketika menyaksikan adegan-adegan manis kedua kakak beradik itu, juga telinga yang mendengar orang-orang berbisik tentang hubungan romance keduanya.
__ADS_1
Tangannya terkepal, meninggalkan bekas cat yang belum kering di dinding. Mulutnya tertutup rapat. Dia khawatir ketika itu terbuka, dia akan berteriak dengan lantang mengklaim kepemilikan dirinya pada Ri Ahn.
Tidak ingin menimbulkan keributan, dia sudahi aksi menguping dan memata-matai keduanya. Pria itu bergegas pergi dari tempat itu sebelum ada yang menyadari kehadirannya sebagian orang luar.
...🖤...
Ho Young pergi piknik dengan anaknya Yun Young. Mereka di temani oleh Dori, Sean dan Yun. Anak laki-laki itu meminta ayahnya untuk ikut piknik setelah mendengar teman-temanya memamerkan foto kedua orang tuanya sedang merayakan ulang tahun anak itu di sebuah taman.
Yun Young iri. Dia tidak pernah piknik bersama ayah dan ibunya. Memohon kepada Yun untuk memaksa ayahnya, akhirnya setelah banyak perjuangan dia berhasil berkat Yun, wanita itu.
"Jadi ini yang namanya piknik." Yun Young bergembira seharian. Tidak lepas tawa renyahnya. Dori dan Sean menemaninya bermain menangkap bola
Cuaca hari ini cerah, udaranya segar dan hangat. Sama seperti perasaan Yun Young. Lalu bagaimana dengan Ho Young? Pria itu duduk di bangku taman, dia memperhatikan anaknya yang senang tertawa bersama kedua orang kepercayaannya.
Dan Yun yang duduk di sebelahnya juga ikut bahagia, bagaimana tidak. Akhirnya dia bisa punya waktu bersama Ho Young setelah beberapa bulan tidak pernah melihat pria itu. Jangan tanya karena apa? Kalian pasti lebih tahu.
"Terima kasih, karena selalu ada untuk Yun tahun terakhir ini. Aku selalu sibuk tidak punya banyak waktu untuknya tapi kau selalu menemaninya. Dia juga takut padamu dari pada takut padaku. Terima kasih sekali lagi."
Panjang ucap Ho Young hingga membuat Yun yang biasanya garang, tersipu malu. Dia tidak bisa menahan senyumnya. Rona merah di pipinya juga terlihat jelas.
"Tidak masalah, aku melakukannya karena suka."
Ho Young tidak mungkin tidak mengetahui maksud dari perkataan Yun, tetapi jika boleh jujur tentang perasaan, dia juga tidak begitu jelas. Wanita yang berada di hatinya kini telah tiada, tempat itu tidak juga jelas kosong atau sudah terisi. Lalu beberapa bulan lalu sempat ada yang lewat, entah perasaan seperti apa dia untuk wanita bernama Ri Ahn itu.
Dia ragu memberikan statment untuk ucapan Yun. Dia tidak memberi harapan dan selalu seperti ini sampai Yun harus menunggu dalam harapan yang mungkin akan datang selama beberapa tahun.
__ADS_1
"Ho Young," Panggil Yun.
Nada itu terasa asing di telinga Ho Young. Tidak pernah dia gelisah ketika mendengar siapapun berbicara kepadanya. Tapi kali ini dia merasa ada yang mengganjal.
"Aku, telah berada di sisimu bertahun-tahun lamanya. Tidak pernah meminta banyak padamu atau sesuatu yang akan menyulitkan dirimu. Bagiku berada di sisimu adalah kehormatan dan kebahagiaan untukku," Yun berhenti sebentar, dia memperhatikan Ho Young.
Perasaan gelisah itu bertambah dan Yun dapat merasakannya. Dia melihat tatapan mata Ho Young dari samping, seakan tidak nyaman dengan arah tujuan dia berbicara. Namun, pria itu tidak memintanya untuk diam, tidak juga memotong kalimatnya. Dia hanya menunggu.
"Aku benar-benar tidak ingin menyulitkanmu TAPI, bolehkah aku meminta perasaanku di balas?"
Satu kalimat yang keluar itu terasa mengecam seluruh tubuh Ho Young. Yun tipe yang berani dan blak-blakan. Dia bisa meminta apapun dengan santai. Bagaimana dia harus menjawab sedangkan perasaannya kepada Yun tidak bisa dia artikan dengan bahasa cinta. Akan tetapi dia tidak bisa menolak dengan kata, dia cemas wanita itu akan merasakan sakit.
Bagaimanapun Yun adalah orang yang selalu berada di sisinya sejak lama. Ketika dia berada dalam kesulitan setelah istrinya meninggal. Membantunya mengurus binis yang hampir hancur, dia kembali membawa kemakmuran untuk kelompok KOM. Begitupun dengan urusan Yun Young. Dia berhutang banyak hal kepada wanita itu.
.
Dari jauh Yun Young memperhatikan interaksi keduanya. Dia tidak tersenyum juga tidak merasa kesal. Anak laki-laki itu sedang berpikir apa hingga dia berekspresi seperti itu. Bisa merasakan ada atmosfer aneh yang menerpa sang ayah, dia berlari ke arah keduanya.
Tiba-tiba menubruk ayahnya. "Ayah aku lelah, ayo pulang!" Katanya.
"Yun tidak ingin main lagi?" Lembut Ho Young.
Yun Young menggeleng. "Aku lelah, mau makan! LAPARR!!"
Ho Young kaget, dia merasa di selamatkan. Dengan pelan dia mengangkat anaknya dan meminta pengawalnya untuk bersiap.
__ADS_1
Maaf kak, tapi ayahku harus selamat dulu. Kata Yun Young dalam hati.
.