Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 29 : Perjanjian batal


__ADS_3

Semua orang di dalam mansion menundukkan kepalanya, suara yang datang dari sang alpha keluar begitu saja setelah menyaksikan kemalangan yang menimpa adik perempuannya.


Dia berdiri di hadapan orang-orang itu dan mengeluarkan ultimatum yang tidak bisa di tolak. Bahkan kain pel yang tidak bersalah itupun ikut terkena imbasnya. Buang kata Ravi. Pasrah kain pel beserta kerabatnya sudah berada dalam tong sampah di luar mansion.


Tidak terkecuali Ri Ahn sendiri. Dia meringis sakit di tubuhnya dan harus diam-diam menutup telinganya yang sudah di penuhi omelan dari Ravi. Kata-kata yang berjejer terbang dari mulut Ravi itu terhalang oleh benteng dan terjatuh di lantai.


Ri Ahn butuh pertolongan, dia melirik Yooju yang tertawa tanpa suara melihat telinga Ri Ahn sudah memerah. Pelototan Ri Ahn menyudahi aksinya itu. Ri Ahn memberi kode Yooju untuk naik ke kamarnya setelah ceramah itu selesai dengan damai.


Segera Ri Ahn mengangguk ketika Ravi memintanya untuk berhati-hati di kemudian hari, tidak butuh waktu lama dia bergegas naik ke kamarnya menarik Yooju yang baru berdiri tegak setelah memberi hormat kepada Ravi.


Pria itu menggeleng, melihat tingkah Ri Ahh yang terkadang seperti anak kecil. Dia kembali ke ruangannya di ikuti beberapa orang. Ravi lebih sibuk dari pada Ri Ahn. Karena dia tidak pernah menyerahkan hal-hal berbahaya untuk di tangani oleh adiknya.


"Besok pagi, kita akan menemui Gu Myung Jin."


"Lalu bagaimana dengan Ketua, tuan muda?"


"Tidak perlu, Gu berbahaya. Jika dia sampai tahu wajah Ri Ahn dia akan dalam bahaya."


Mereka mengangguk.


...🖤...


Keesokan harinya, Yooju bergegas masuk ke kamar Ri Ahn.


"Apa nona sudah tahu?"


"Tahu apa?" Ri Ahn baru selesai dengan aktivitas mandinya, dia mengeringkan rambut menggunakan Hair dryer sembari bercermin.


Yooju mengambil Hair dryer itu lalu membantu Ri Ahn mengeringkan rambutnya. "Tuan muda akan berangkat menemui Gu Myung Jin. Nona bisa menggunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Tuan Ho Young."


Mata Ri Ahn berbinar. "Benarkah? Berapa lama dia pergi?"


Yooju menggeleng, dia tidak tau berapa lama. "Mungkin seharian."


Rasa senangnya tertimpa oleh keraguan. Dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran karena sikap Ho Young sebelumnya. Ri Ahn tertegun melihat pantulan dirinya di cermin, jelas bukan untuk memuji dirinya. Dia hanya berhenti begerak dan di tarik ke dalam pikirannya.


Lama terdiam seperti itu, Yooju mengerutkan keningnya. Dia melihat wajah wanita di depannya dengan seksama. Lalu dia menggoyangkan bahu Ri Ahn pelan sembari memanggil nama wanita itu.


Ri Ahn mengedipkan matanya. "Hah?"


"Apa yang anda pikirkan?"


"Aku sedang berpikir,"


Yooju menunggu.


"Hubungan dia dan istrinya tidak baik kan? apa dia cukup tua?" Dari cermin Ri Ahn melihat Yooju. Dia berusaha menggali informasi. Jika dia pikirkan lebih jauh, ukuran rumah tangga yang baik-baik saja tidak mungkin salah satunya mencari kesenangan diluar.


Gadis yang di lihat dengan tatapan penasaran itu tidak berkutik. "Saya tidak begitu tahu urusan pribadi tuan Ho Young."


Ekspresi tidak percaya Ri Ahn terlihat jelas.


"Saya benar-benar tidak tahu hubungan mereka. Dari perkataan orang-orang yang telah lama mengikuti tuan, dia wanita cantik, lemah lembut dan perhatian. Tuan bisa meninggalkan pekerjaan yang penting hanya untuk menemani istrinya berjalan di taman. Sesimpel itu."

__ADS_1


"Kalau itu cinta, kenapa dia memilih mencari wanita lain." Sindiran itu keluar dari mulut Ri Ahn. Terlihat kesal di mata Yooju, gadis kecil itu menyipitkan matanya sekilas.


"Saya juga tidak tahu, tapi mereka bilang tuan rutin mengunjungi istrinya. Rumahnya ada banyak, orang kaya."


"Dia mafia, kaya juga karena meras uang orang!" Ri Ahn mengeluarkan sindiran yang lebih pedas dari sebelumnya.


Yooju menggeleng. "Hal seperti itu bukankah bagian dari kerjaan ayah anda? Sudah lama tuan Ho Young tidak pernah melakukan kejahatan dan kekerasan. Jika bukan karena ayah anda memulai perang, tuan Ho Young tidak mungkin bereaksi berlebihan. Dia tidak sama seperti Ho Young yang dulu."


Dia mengatakannya dengan lantang tanpa bermaksud menyindir tapi tanpa dia sadari kalimat itulah yang keluar dari mulutnya. Mendapat sindiran yang lebih keras, Ri Ahn terdiam. Benar, Cho Min Sik.


"Aku tidak bisa membantah." Ucap Ri Ahn lalu dia berdiri mengambil ponselnya dan menghubungi Ho Young.


Dia duduk karena lelah berdiri, saking lamanya dia mengulang panggilan itu beberapa kali. Hasilnya masih sama, pria itu tidak menjawab. Ri Ahn tidak putus asa, dia mencoba kesekian kalinya, hampir saja lewat dan panggilannya diterima.


Raut wajahnya berubah, dia sedikit tersenyum dan mulai berbicara. Tapi sapaan setelahnya membuat dia terdiam, sudut bibirnya yang terangkat ke atas jatuh menjadi datar. Suara wanita di seberang sana terdengar merdu di telinga Ri Ahn.


"Siapa anda? Bukankah ini telepon Ho Young?" Tanya Ri Ahn.


Terdengar suara seorang pria dari belakang. Ri Ahn mendengar pria itu bertanya siapa yang meneleponnya lalu wanita tadi menjawab tidak tahu. Ri Ahn menunggu sampai pria itu menjawab panggilannya. Namun, 5 menit tidak ada yang berbicara padahal mereka masih tersambung.


Ri Ahn memberanikan diri. Dia berbicara agak sedikit keras. "Halo! Anda siapa? Bukankah ini telepon Ho Young?"


"Ada apa?"


Ho Young.


"Kakakku tidak di rumah, bisa kita bertemu?"


"Ada masalah apa? Lalu bagaimana dengan bisnis kelompok HARI?"


"Tidak perlu khawatir, aku akan menepati janjiku."


"Sebenarnya ada apa?"


"Seharusnya kau senang, bukannya kau menolak menikah denganku sejak awal?"


Terdengar suara helaan nafas Ri Ahn.


"Aku gila jika setuju sejak awal. Kau dimana, aku akan menemuimu."


"Tidak sekarang, aku sedang sibuk."


Cih, ejek Ri Ahn.


"Iya sibuk. Tidak usah bohong, kirimkan aku alamatnya!"


"Aku bila--"


Ri Ahn memutuskan sambungan telepon itu. Di belakang Yooju memberikan jempol pada Ri Ahn karena sudah berani memutuskan sambungan lebih dulu. Dia bisa menebak, bosnya pasti marah besar.


Dia sudah selesai ketika meminta Yooju mengecek sang kakak di bawah. Saat Yooju kembali memberi kode lampu hijau, dia segera berjalan dengan cepat ke arah gerbang yang sedang kosong karena berada dalam pergantian shift. Yooju memberinya acungan jempol dari atas melalui jendela besar.


Ri Ahn berlari sekencang mungkin dengan lihai mengelabui semua CCTV yang ada. Berjalan cukup jauh sampai ke pemberhentian bus. Tidak menunggu waktu lama, bus datang. Tidak banyak orang di sana, Ri Ahn memilih duduk di bagian belakang seorang diri.

__ADS_1


Ri Ahn sempat berpikir, apakah orang tuanya tidak memberi izin karena itu Ho Young marah padanya. Tapi apa iya? Dia ragu, memikirkan karakter Ho Young. Sebelum dia kembali berpikir, bus itu berhenti di depan halte, beberapa orang turun dan menyeberangi jembatan. Dia melihat pemandangan itu.


Dreeett dreeett


Getar ponsel di saku mengalihkan pandangannya, dia merogoh kantong dan melihat siapa yang mengirimkan dia pesan. Ho Young.


Ri Ahn mengetuk kepalanya ketika dia sadar, tidak memiliki alamat Ho Young. Pesan pria itu menyadarkan dirinya. "Astaga, bodohnya!"


Isi pesan Ho Young


Tunggu saja di terminal, kau terburu-buru seperti itu untuk apa?


Eh? Tapi bagaimana dia tahu?


Saat itu juga Ri Ahn melihat sekelilingnya. Dia mengira Ho Young atau anak buahnya sedang mengikutinya.


Dia turun setelah sampai di terminal, banyak bus dan banyak orang. Ri Ahn duduk di anatara orang-orang yang sedang menunggu keberangkatan bus. Dia melihat ponselnya, dan memastikan pesan Ho Young yang memintanya menunggu di terminal.


"Aku takut salah membaca pesan, ini benar terminal." Katanya pada diri sendiri.


Menunggu, 10 menit kemudian. Semua orang yang berada di sekitarnya sudah berangkat ke tujuan masing-masing, sementara dia masih duduk di temani ponselnya yang menampilkan game. Dia bosan.


Matanya sesekali melirik kanan-kiri, lalu kembali fokus pada permainan di ponselnya. Game itu terlihat seru setelah beberapa kali mendapat kemenangan. Dia terus memainkannya hingga sebuah kaki jenjang berdiri di depannya.


"Nona Ri Ahn?" Sapa dia.


"Ya? Oh ya."


"Silahkan."


Tanpa curiga, Ri Ahn mengikuti pria itu keluar dari terminal dan menaiki sebuah mobil. Dia terus memperhatikan jalan. Sebelum jembatan, mobil itu berbelok ke jalan tanpa aspal. Sempat bingung, Ri Ahn tetap diam.


"Dimana ini?" Tanya Ri Ahn akhirnya, ketika mobil itu berhenti di sebuah rumah sederhana di tengah lahan luas.


Mereka tidak menjawab, Ri Ahn mengikuti keduanya berjalan sembari melihat sekeliling. Dia di antar sampai ke depan kamar, pria tinggi besar tadi mengetuk pintu lalu dia beranjak pergi meninggalkan Ri Ahn dan pintu yang baru saja terbuka.


Mata Ri Ahn terbelalak ketika melihat pemandangan di depan. Seorang wanita yang tidak dia kenali duduk di pangkuan Ho Young. Dress navy yang wanita itu kenakan tidak layak lagi di pakai, robek di beberapa bagian. Salah satu yang paling mencolok yaitu tali di bagian kiri bahunya lepas tergeletak di punggung.


Mata Ri Ahn dan Ho Young saling bertemu. Lama setelahnya barulah Ri Ahn berbicara. "Seolah-olah aku akan kecewa melihat pemandangan ini, sayang sekali." Ri Ahn masuk ke kamar tanpa memperdulikan keduanya. Dia duduk di sofa tunggal dekat dengan jendela.


"Pemandangan di sini bagus, tenang dan damai. Sayang sekali, harus kotor karena seseorang." Sembari memalingkan wajahnya dari pemandangan di luar ke dua orang yang masih dalam posisinya.


"Aku pikir kau ingin mempertemukan aku dengan istrimu, ternyata..."


"Kenapa kau yakin dia bukan istriku?" Tanya Ho Young.


Wanita yang berada di pangkuannya tersenyum sinis. Dia memeluk leher pria itu erat.


Ri Ahn memperhatikan setiap gerak keduanya. Tiba-tiba datang kesedihan dalam hatinya, kesedihan ini tidaklah terjadi karena perasaannya kepada Ho Young tetapi karena simpati kepada istri pria itu.


Ada apa dengan pria ini, katanya dalam hati.


.

__ADS_1


__ADS_2