
"Kau seorang pria beristri, aku tidak perduli seberapa banyak kau melakukannya dengan wanita lain, tapi aku berbeda!"
"Apa bedanya? Mereka melakukan karena uang, bukankah kau juga melakukan pernikahan ini karena uang? Bisnis HARI."
Ri Ahn berdiri. Dia tidak akan menandatangani kontrak itu. Dia merasa jijik dengan dirinya. Namun, ketika ingin pergi tangannya di tahan. Mata tajam itu kembali lagi. "Jangan berani meninggalkan apartemen ini tanpa izinku. Aku beri kesempatan, tanda tangani sekarang juga atau kau kehilangan kehormatanmu di hadapan banyak orang!"
Kalimat terakhir Ho Young menghancurkan diri dan hatinya. Ri Ahn menatap berganti orang-orang di depannya yang tidak terpengaruh dengan perkataan pria itu. Mereka seperti biasa hanya menatap kertas di depannya.
"Ibuku benar, orang-orang seperti kalian tidak perduli dengan keluarga." Ri Ahn mengambil pulpen dan memberikan capnya pada kertas kontrak itu. Setelahnya dia meninggalkan ruangan itu masuk ke dalam kamar. Di dalam dia menangis sejadi-jadinya.
Ravi pernah mengatakan padanya jika Ho Young adalah orang seperti itu. Tidak ada yang bisa menyentuhnya, dia jahat, semuanya benar.
.
Tim Hukum pamit pada Ho Young, salah satu dari mereka tinggal. Ho Young mengerti dan membiarkan orang itu tetap duduk di sofa. "Kau serius?"
"Apa?"
"Perempuan itu berbeda.."
"Berbeda? Benarkah?" Santai Ho Young sembari menyerap sejuk minuman dingin di gelas kaca. Lagi dan lagi.
"Kau benar-benar ingin melakukannya?"
"Melakukan apa? Kau ini sudah seperti anak baru saja banyak tanya."
"Kau tahu maksudku! Jangan jadi buta Ho Young, aku tahu perasaannmu tapi itu bukan salahnya."
__ADS_1
"Kalau bukan lalu salah siapa?"
Pria dari tim hukum itu adalah teman Ho Young, dia pemilil firma hukum yang selalu menangani masalah Ho Young, keluarga juga bisnisnya pria itu.
"Terserah kau saja, jangan sampai besok lusa kau menangis karena jatuh cinta padanya." Dia berdiri dan keluar dari apartemen.
Ho Young terdiam mendengarnya lalu dia menggeleng. "Tidak akan." Katanya, dia menjawab pertanyaan temannya yang telah pergi.
...🖤...
Ri Ahn bersandar sambil duduk di lantai dingin depan pintu. Air matanya kering menimbulkan bekas-bekas yang mengeras di pipinya. Jam di dinding berdetak menimbulkan suara khas memenuhi ruangan yang terasa kosong.
Dia terdiam cukup lama lalu menangis lagi. Menghilangkan bekas air mata denga air mata baru turun deras di pipinya. Baju depannya sudah basah karena kejatuhan air mata. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dia mendadak rindu orang tuanya. Ri Ahn ingin pulang.
Pukul 12 AM. Ri Ahn belum makan malam, dia terus menangis hingga lupa waktu. Pria yang membuatnya menangis juga tidak muncul untuk sekedar memeriksa. Badannya dingin, dahinya panas. Dia memeluk dirinya erat. Jika datang sakit, ayah dan ibunya akan menemani dirinya sampai tertidur. Ibunya mendendangkan alunan lagu yang dia juga asing tapi terasa hangat. Sang ayah akan memeriksa suhu tubuhnya terus menerus hingga keadaannya membaik.
Langkah kakinya ringan, matanya tidak fokus. Keringat membanjiri badannya, dia terus berjalan sampai di depan balkon. Di geser pintunya dan dia keluar. Angin berhembus kencang, tidak ada hujan. Tangan mungilnya memegang pagar pembatas, Ri Ahn menatap lampu jalan di bawah gedung. Masih ada beberapa orang yang lalu lalang melintas.
Langit malam di penuhi bintang-bintang yang bersinar terang. Ri Ahn mengangkat wajahnya mendongak menatap terang di langit. "Ibu, apa kau bahagia hidup bersama Cho Min sik? Apa disana kau juga bertemu dengannya? Aku-- anakmu bertemu dengan orang yang mirip dengannya, aku tidak ingin sepertimu. Terkurung dalam sangkar emas, tidak berarti tidak berguna."
Pandangannya buram, dia oleng dan terjatuh di kursi kayu untuk bersantai. Kepalanya di tarik ke atas, dia merasa semakin pusing. Air matanya mengalir deras, sakit membuatnya tidak bisa menahan suara. Saat dia merasa tubuhnya akan limbung sebuah tangan menahannya agar tidak jatuh ke lantai balkon.
Ri Ahn bahagia akhirnya melihat sang ayah. "Ayah! Ri Ahn sakit." Lalu gelap.
.
Di dalam kamar Ho Young memperhatikan wajah Ri Ahn yang tertidur dengan wajah yang memerah. Dahi wanita itu panas dan sebagian lagi dingin. "Kau mengigau memanggil ayahmu, apa aku sangat merindukan orang tuamu?"
__ADS_1
"Brengsek!" Teriak Ri Ahn. Membuat Ho Young membentuk garis di antara alisnya.
"Kau memanggilku?" Tanya dia pada orang yang tertidur sembari menendang selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Dia berteriak marah lagi dan menyebut nama Ho Young. "Bagaimana bisa Cho Min Sik memilikimu sebagai anak?" Tanya dia lagi. Setelahnya dia keluar dari kamar, meninggalkan Ri Ahn.
...🖤...
Dibawah jembatan seorang pria dan Wanita berbicara serius di samping mobil. Sang pria memberikan informasi secara lisan kepada wanita itu. Kacamata hitam bertengger di atas hidungnya, menyamarkan diri sebagai seorang istri yang menangkap suaminya sedang berselingkuh, itu alasannya pada sang pria di depan.
Pria itu memakai baju biru dengan rompi warna senada bertuliskan kurir X home. Informasi pertama yang diberikan adalah kebenaran perselingkuhan suami wanita itu. Dia membenarkan ada seorang wanita di apartemen dan seorang pria yang ciri-cirinya sudah diberitahukan kepadanya adalah benar.
Bahkan ucapan Pria pemililk apartemen kepadanya bahwa wanita itu bukanlah pembantu melainkan istrinya juga terungkap. Wanita yang memakai kacamata tentu saja tidak senang, dia meremas tas tangan yang dia bawa dengan erat. Ngeri, tubuh kurir tadi mendadak merinding. Dia bergegas pergi, setelah diberikan segepok uang dalam amplop coklat panjang.
Sementara suasana buruk telah menerpa wilayah itu setelah kepergian kurir tadi yang membawa informasi mengenai pria yang dia sukai sejak dahulu. Badannya di sandarkan di samping mobil. Dia berpikir kembali, jauh sebelum prianya dekat dengan wanita ini. Ada banyak wanita sebelumnya dan dia tidak pernah merasa kalah.
Bahkan saat Ho Young memutuskan menikahi ibu Yun Young, dia tidak sesedih mendengar infomasi barusan. Bayangan-bayangan hitam berterbangan di kepalanya melewati sela-sela terdalam disana. Informasi bahwa dia akan kehilangan sang pria telah muncul kembali. Ada getaran dari dalam dirinya yang membunyikan alarm berbahaya.
Kemarin, dia bertekat untuk bersaing secara terbuka dan adil tapi Ho Young telah menetapkan batas untuk dirinya maju lebih dulu. Dia kecewa berat pada sikap tidak adil pria itu setelah sekian tahun yang dia korbankan untuk tetap bersamanya, tidak berkhianat dan tidak pernah meninggalkan pria itu sendiri.
Setelah cincin yang Ho Young terima darinya, apa masih belum cukup pria itu mengerti perasaannya. Atau memang dirinya hanya di jadikan tempat pelarian. Benar, tidak pernah sekalipun Ho Young mendekati dirinya lebih dulu, selalu dia yang memulai. Juga benar, pria itu tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekedar berjabat tangan, menepuk-nepuk pundaknya dan memeluknya. Tapi, apa benar Ho Young tidak memiliki rasa padanya. Sedikitpun.
Dia bertanya-tanya pada kesepian di bawah sana, ada pandangan rendah diri menembus jiwanya. Yun terlihat lemah untuk pertama kalinya. Dia kembali ke dalam mobil dan memacu mobil itu pergi meninggalkan kenangan di kolong jembatan tadi. Namun, benarkah kenangan tadi bisa menghilang hanya karena dia meninggalkan tempatnya mendengar informasi?
.
.
.
__ADS_1